ArtikelOpiniPratama Media News

Jangan Berkaca di Air Keruh

Jangan Berkaca di Air Keruh – Sesungguhnya  di antara sifat yang melekat pada diri manusia adalah meniru dari informasi yang didengar, dilihat, dan diserap oleh inderanya. Sejak kecil manusia telah disebut sebagai peniru terbaik sebagaimana ungkapan yang sering dilontarkan seperti “children see children do” atau “like father like son” –  idiom yang menunjukkan bahwa manusia memiliki sifat meniru atau mimesis, sebagaimana disebutkan oleh Aristoteles bahwa manusia adalah homo mimesis (makhluk peniru).

Meski pun pada mulanya mimesis ini merupakan pemaknaan dalam seni yang mengekspresikan keadaan alam sebagai objeknya. Namun, pada faktanya manusia hampir mempraktikkan segala cara dalam hidupnya dengan meniru apa yang diserap oleh inderanya. Sesuatu yang diserap secara terus menerus dan berulang-ulang maka kemudian akan membentuk kebiasaan. Sebagaimana anak kecil yang belajar berbicara dengan meniru apa yang diucapkan oleh orang dewasa maka tanpa disadari setiap praktik itu lambat laun akan teraplikasikan dengan sendirinya.

Manusia dianugerahi pikiran sebagai  alat untuk menangkap dan merespon apa yang diterima oleh indera. Menurut para ahli, kerja pikiran manusia terbagi menjadi dua segmen yaitu pikiran sadar dan pikiran bawah sadar.

Pikiran sadar menuntut manusia untuk melakukan analisis, pengamatan, dan menentukan pilihan. Sementara pikiran bawah sadar menyerap apa pun yang diterimanya (Joseph Murphy :1997). Pikiran bawah sadar membentuk emosi, kepribadian, kebiasaan, memori, prinsip, dan nilai sesuai dengan respon dan informasi yang diterima.

pikiran manusia
Ilustrasi: Pikiran manusia (Sumber: journalpsyche.org)

Jika manusia terbiasa menerima stimulus positif maka kemungkinan output yang dihasilkannya pun adalah positif. Pun sebaliknya, jika manusia terbiasa menerima stimulus negatif maka output-nya pun kemungkinan adalah negatif. Sebagaimana perumpamaan yang disampaikan oleh salah satu ustad kenamaan bahwa teko yang berisi air teh akan mengucurkan air teh. Gelas yang berisi air susu dapat dipastikan keluar dari teko yang berisi air susu.

Mimesis berbeda dengan plagiat. Namun, mimesis merupakan dasar dari terciptanya plagiasi. Manusia akan selalu membutuhkan contoh riil dalam kehidupan untuk dijadikan sebagai panutan. Pikiran bawah sadar manusia mendorong untuk mencari dan menemukan sosok yang dicarinya. Pikiran sadar mengonfirmasinya kemudian. Oleh karena itu, sebagai homo mimesis manusia perlu mendapatkan objek percontohan positif agar tidak menjurus ke arah negatif. Pengetahuan mengenai positif dan negatif.

Kemajuan teknologi merupakan sebuah perubahan yang tidak akan bisa dihindari. Apakah perubahan ini merupakan kemajuan ataukah kemunduran tidak bisa diukur dengan  kasat mata. Meski begitu, ada saja ungkapan yang menyebutkan “teknologi semakin berkembang, tapi akhlak semakin mundur ke belakang”. Hal ini tentu bukan isapan jempol semata, tetapi merupakan warning untuk memperhatikan lebih dekat pertarungan riil di dunia nyata dan dunia maya.

Aktivasi media sosial yang memborbardir seluruh rangkaian keseharian manusia menjadi salah satu gambaran kehidupan manusia masa kini. Hampir dipastikan mayoritas manusia telah terjaring dalam dunia media sosial. Oleh karena itu dunia maya pun membangun sendiri standarnya terkait dengan kondisi masyarakat hari ini.

Media sosial
Ilustrasi: Kehidupan manusia yang berinteraksi dengan media sosial (Sumber: freepik.com)

Manusia memiliki sifat ingin diakui sebagai ejawantah dari eksistensinya. Kehadiran media sosial semakin mendorong hasrat manusia untuk menciptakan popularitasnya sendiri. Followers dan like yang kini menjadi  standar popularitas seseorang mendorong untuk menciptakan berbagai macam postingan untuk menarik perhatian, terlepas dari apa yang di post-nya itu memberikan faedah ataukah tidak.

Bagi seorang muslim, segala bentuk tingkah dan laku harus bersumber dan tertuju pada Yang Maha Abadi, sebagaimana disampaikan Rasulullah SAW bahwa setiap amal itu bergantung pada niatnya (HR. Bukhori) dan sebaik-baik niat dimulakan dan ditujukan hanya untuk kepentingan agama semata.

Sekita 73% penduduk Indonesia merupakan pengguna internet yang rata-ratanya menghabiskan waktu kurang lebih tiga jam dalam satu hari untuk berselancar di media sosial. Fakta perkembangan teknologi ini membuka batasan-batasan teritorial antar daerah maupun negara sehingga seolah tidak ada sekatnya.

Keadaan tersebut memungkinkan seseorang untuk berselancar jauh menelusuri berbagai hal dari berbagai belahan dunia. Layaknya pisau, teknologi memiliki dua sisi positif dan negatif. Perlu cara cerdas dalam menggunakan dan menyikapinya sebab ungkapan “manusia paling keren adalah yang menguasai teknologi” pada akhirnya kembali pada kebermanfaatannya.

Dalam arus teknologi, kepopuleran di tengah manusia hari ini semakin mendapatkan tempatnya. Selain menjadikan diri untuk populis, setiap orang juga mencari dan menciptakan idolanya. Standar kelayakan seseorang dijadikan sebagai idola pun tidak lepas dari popularitas. Ketika seseorang mengidolakan orang lain, kemungkinan besar segala hal yang terkait dengannya akan senantiasa diikuti perkembangannya, lambat laun setiap konsumsian informasi tersebut menjadi stimulus yang akan mempengaruhi pikir dan polahnya.

Tidak mengapa jika yang menjadi idola adalah orang yang bisa memberikan qudwah sebab bagaimana pun manusia selalu membutuhkan contoh riil dalam kehidupan untuk diikuti. Namun, akan menjadi problem ketika yang diidolakan justru sebaliknya sebab tidak sedikit generasi muslim yang keliru dalam memilih idola, terseret oleh arus fenomena dan euforia yang hanya menyuguhkan kefanaan. Lebih disayangkan lagi, ketika idola-idola itu mengalahkan kecintaannya pada sahabat- sahabat nabi yang telah memberikan qudwah yang jelas keutamaan dan peran nyatanya dalam membangun generasi dan agama.

Sesungguhnya sebaik-baik teladan adalah nabi akhir zaman, Muhammad SAW (Al-Ahzab : 21) dan para sahabatnya. Generasi pengemban risalah dakwah Rasulullah SAW sudah semestinya selektif dalam memilih idola dan mencerna informasi sebab hal itu akan mempengaruhi cara pandang dan pola perilaku. Berselancar di dunia maya merupakan aktivitas yang sangat minim sekali untuk dihindari maka memilih pilihan yang membangun kualitas dan menguatkan mentalitas diri agar menjadi generasi yang kokoh menjadi kewajiban.

Pada tahun 2045 diproyeksikan oleh para ahli sebagai bonus demografi bagi Indonesia, di mana prosentase usia produktif lebih banyak dibandingkan usia non produktif. Kabar tersebut mengandung angin segar jika generasi muda mampu mengambil porsi terbaik untuk mewujudkannya. Namun, akan menjadi bencana demografi jika tidak dipersiapkan dengan baik dan benar.

Bonus demografi tidak serta merta mewujud begitu saja tanpa persiapan yang matang dan serius sebab prosentase saja tidak menjamin masa depan yang lebih cerah. harus ada usaha yang dibangun dengan terukur dan konsisten oleh generasi. Jika generasi muda dilenakan dengan hal yang kurang bermanfaat, sementara cita Indonesia Emas begitu sangat ingin diraih maka langkah-langkah perbaikan itu harus ditempuh mulai dari personal juga komunal.

“Kita harus benar sejak dalam pikiran,” begitu Oemar Bakrie mengungkapkan sebab pikiran yang benar menuntun untuk berkata benar dan bertindak dengan benar.

***

Judul: “Jangan Berkaca di Air Keruh
Penulis: Nurulife
Editor: JHK

Sekilas Penulis:

Nurul Hikmah
Nurul Hikmah, penulis (Sumber: koleksi pribadi)

Pemilik nama asli Nurul Hikmah ini merupakan salah satu tasykil Himpunan Mahasiswi Persatuan Islam bidang Kajian Keilmuan. Wanita berdarah Ciamis ini sering menggunakan nama pena Nurulife pada tulisan-tulisannya dan kini berdomisili di Kabupaten Tasikmalaya.

Kesibukan anak bungsu dari tiga bersaudara ini, selain sebagai seorang aktivis mahasiswa,  ia juga aktif di dunia pendidikan dan literasi. Ia juga tercatat sebagai pendiri dari Rumah Qur’an Karamel.

Penulis dapat dikunjungi di lama instagram-nya @nurulight1711.

Artikel Berkaitan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button