Duka, Doa, dan Tuntutan Investigasi Tragedi Malang
Tragedi terkelam dalam sejarah persepakbolaan Indonesia yang menewaskan 131 orang
Pratama Media News, Malang – Jawa Timur, Minggu (2/10/2022) – Tragedi Malang, Minggu pagi (2/10/2022) ini sejak subuh, tempat pemukiman di sekitar rumah Devi R. Ayu di Malang Utara riuh dan penuh tanda tanya. Banyak anak-anak mereka yang rata-rata masih SMA dengan rentang usia 16-18 tahun tidak pulang ke rumah kemarin malam.
Semua remaja itu pada Sabtu (1/10/2022) kemarin berangkat pamit hendak menonton laga kandang klub sepak bola Arema di Stadion Kanjuruhan yang berada di Kabupaten Malang. Ya, kemarin malam Arema menjamu Persebaya dan menelan kekalahan dengan skor 3-2. Ketidakpuasan para supporter berujung kericuhan dan tragedi yang menewaskan 131 orang.
Devi (39) aktivis sosial yang tinggal di Malang menjawab pertanyaan awak media Pratama Media News (PMN) melalui pesan Whatsapp pagi ini.
“Suasanan di lingkungan sini muram. Dari pagi tetangga riuh bilang ada anaknya yang belum pulang, sedang sibuk cari info sana-sini,” jelas Devi menggambarkan situasi keadaan duka yang sedang menimpa lingkungannya.

Lokasi tinggal Devi beda kecamatan dengan Tempat Kejadian Perkara (TKP), sekitar 35 KM jaraknya. Namun, para remaja pendukung yang dikenal dengan sebutan “Aremania” ini bersemangat mendukung klub asal kotanya.
Devi mengaku kemarin malam tidak mengetahui situasi di lingkungannya. Suasana semalam sepi dan hujan turun sangat deras. Ia hanya melihat kejadian lewat siaran televisi. Pada paginya baru keributan terjadi dari para orang tua yang mencari keberadaan anaknya.
“Subuh baru riuh karena anak-anak banyak yang enggak pulang,” kata perempuan beranak satu ini dengan nada prihatin.

Devi menambahkan, dari informasi berita di televisi, para remaja perempuan dan laki-laki ini banyak yang menjadi korban, “Bahkan usia balita juga ada yang menjadi korban meninggal.”
Para korban meninggal karena sesak napas dan terinjak-injak. Para supporter ditembak gas air mata oleh para polisi dengan tujuan menghalau mereka dari area lapang. Untuk jumlah pasti korban jiwa asal dari daerah tempat tinggal Devi ini belum ada kepastian dan masih simpang siur.

“Biasanya mereka janjian dengan teman-teman satu sekolahnya,” kata Devi.
Menurut Devi, suasana muram dan duka sangat terasa. Kemudian ia menghubungi kerabatnya untuk menghilangkan kekhawatiran atas kejadian itu dan memastikan saudaranya tidak ada yang menjadi korban.
“Alhamdulillah tidak ada. Tadi sempat menelepon sama keluarga yang lain. Takut ada yang menonton atau di seputaran area. Insyaallah aman,” jelas Devi.
Pada petang ini, PMN juga berhasil menghubungi Arlan Siddha salah seorang pengurus Viking, bobotoh atau supporter Persib untuk diminta pendapatnya via telepon.

Sebagai pengurus viking, Arlan mengungkapkan keprihatinannya atas tragedi kemarin malam, “Kami turut berdukacita mendalam untuk para Aremania yang menjadi korban. Kami juga tadi siang menggelar doa bersama dan ada beberapa orang yang melaksanakan solat gaib.”
Ketika ditanya tentang pernyataan resmi dari Viking atas tragedi tersebut, selain menyebut bahwa beberapa distrik sudah mengeluarkan pernyataan bela sungkawa yang dimuat di Instagram.
“Viking Karawang, Viking Sumedang juga yang lainnya menyatakan turut berdukacita atas tragedi yang menelan korban ratusan jiwa ini,” tambah Arlan.
Pengurus Viking tersebut juga menekankan jika Viking akan mengawal terus kasus ini sampai ada pihak yang bertanggung jawab.
“Kami mendesak kasus ini diusut tuntas. Yang utama dan terdekat adalah ada institusi yang bertanggung jawab mengingat banyaknya korban yang jatuh,” tegas Arlan.
Saat ditanya jika liga ditunda, apa alternatif yang bisa dilakukan bobotoh? Arlan menjelaskan saat ini para supporter menerima putusan yang keluar dari Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) dan memahami atas kondisi akibat tragedi yang terjadi.
Membahas soal Aremania yang masuk ke lapangan usai pertandingan, Arlan mengungkapkan jika supporter tidak bisa disalahkan, “Kekecewaan adalah wajar, ada rasa kesal dan marah akibat kekalahan timnya. Teman-teman Malang saat itu kecewa karena harapannya tidak terpenuhi,” lalu dia melanjutkan, “Tidak bisa dibenarkan dan tidak perlu juga pendukung masuk ke lapangan karena pertandingan pun sudah usai.”
Arlan juga menyesalkan polisi yang menggunakan gas air mata untuk menghalau para supporter.
“Sangat jelas FIFA mengeluarkan aturan soal larangan penggunaan gas air mata. Aturan ini keluar dilatarbelakangi oleh banyaknya korban yang jatuh akibat penggunaan gas air mata di Eropa pada waktu lalu,” jelas Arlan.
Terbukti tragedi yang terjadi pada Sabtu malam di Stadion Kanjuruhan adalah akibat tembakan gas air mata. Prosedur pengamanan demonstrasi di area terbuka dan jalanan sangat memudahkan gas yang ditembakkan menyebar dan menguap ke udara bebas sehingga para pelaku aksi bisa berlari menjauh. Kondisi ini tentu saja sangat berbeda dengan kondisi stadion olahraga.
Bentuk bangunan stadion olahraga yang melingkar penuh dengan arah dinding tinggi melengkung ke dalam membuat gas yang ditembakkan justeru tetap berada dalam stadion. Hal ini juga diperparah dengan pintu keluar yang sempit sehingga jumlah banyaknya penonton yang berebut keluar ingin menyelamatkan diri menyebabkan kondisi ricuh dan sling berdesakan. Hal inilah yang membuat banyak orang terinjak-injak dan sesak napas karena kehabisan oksigen.
Terkait surat himbauan pihak Polda Jatim pada penyelenggara yang menyarankan pertandingan digelar pada sore pukul 15.00 WIB bukan malam hari, Arlan melihat dari sisi tensi yang tinggi, “Kita paham untuk pertandingan dengan tensi tinggi seperti antara Arema dan Persebaya juga antara Persib dan Persija idealnya pertandingan dilakukan siang hari,” tandasnya.
Arlan menjelaskan pertandingan yang dilakukan pada siang hari memudahkan koordinasi antar supporter. Kondisi cuaca juga susana yang masih terang lebih mudah untuk mengantisipasi keadaan. Sangat berbeda jika pertandingan digelar malam yang kondisinya gelap dan lebih sulit untuk mengendalikan keadaan seperti yang baru saja terjadi.
Arlan Sidha juga sangat menyayangkan tragedi ini terjadi justru ketika persepakbolaan tanah air sedang bangkit.
“Ini tidak bisa dibiarkan, investigasi harus sampai tuntas. Jatuhnya ratusan korban jiwa sangat menciderai dunia olahraga kita. Ya kami menunggu dan memastikan ada institusi yang bertanggungjawab atas insiden ini,” pungkasnya menutup wawancara via telepon tadi malam.
Redaksi PMN turut menyampaikan rasa bela sungkawa yang mendalam atas meninggalnya ratusan korban di Stadion Kanjuruhan Malang. Semoga pihak keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan dan kekuatan yang luar biasa menghadapinya. Juga bagi para korban luka berat dan ringan yang tengah dirawat segera sembuh dan pulih. (Imas Nurhayati/PMN)
***
Judul: Duka, Doa, dan Tuntutan Investigasi Tragedi Malang
Penulis/reporter: Imas Nurhayati
Editor: JHK











