ArtikelPratama Media NewsReligi

Bank Nyata Versus Bank Gaib

Oleh: Vicky Jmd Alipradja

Banyak sekali pemahaman tentang bank gaib. Sebagian orang sering mengartikan bank gaib adalah bank harta karun secara gaib dan mengambilnya pun melalui cara gaib yang disedot dengan menggunakan ilmu tertentu atau menggunakan media gaib, seperti : Batara Karang (BK), jenglot, Rantai Babi (RB), Merah Delima (MD), Kantung Macan (KM), Jala Sutera (JS), Anti Cukur (AC), dan sebagainya. Namun, materi yang akan dibahas di sini bukan itu, tetapi sesuatu yang berbeda.

Ketahuilah, dalam hidup ini ada dua bank. Pertama bank nyata dan kedua, bank gaib. Apa itu bank nyata? Yaitu bank yang biasa kita gunakan dalam kehidupan nyata dan harus mendaftarkan diri, serta mengikuti aturan administratif lainnya, sampai bisa mendapatkan akun atau nomer rekening. Kita bisa menabung (saving) dan atau menarik dana, baik secara manual ke teller atau secara virtual (m-banking) atau menggunanakn Anjungan Tunai Mandiri (ATM).

Ilustrasi transaksi bank online (sumber freepik.com)

Orang-orang yang diberikan banyak materi, mereka sering memperbanyak dana di bank nyatanya, baik berupa tabungan, depisito, surat berharga, atau simpanan emas. Hal itu sah saja untuk pengamanan dan pengembangan dananya.

Ilustrasi proses kerja di bank nyata (sumber: freepik.com)

Selain bank nyata ada juga bank gaib. Apa itu bank gaib? Adalah tabungan amal kebaikan kita. Ada kisah menarik tentang tiga orang yang terjebak dalam goa yang tertutup batu. Kemudian batunya terbuka setelah mereka berdoa dengan menyebutkan amal baik mereka. Berdasarkan sebuah hadis, inilah kisah mereka:

Dari Abdullah bin Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhuma, katanya: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

انْطَلَقَ ثَلاَثَةُ رَهْطٍ مِمَّنْ كَانَ قَبْلَكُمْ حَتَّى أَوَوُا الْمَبِيتَ إِلَى غَارٍ فَدَخَلُوهُ ، فَانْحَدَرَتْ صَخْرَةٌ مِنَ الْجَبَلِ فَسَدَّتْ عَلَيْهِمُ الْغَارَ فَقَالُوا إِنَّهُ لاَ يُنْجِيكُمْ مِنْ هَذِهِ الصَّخْرَةِ إِلاَّ أَنْ تَدْعُوا اللَّهَ بِصَالِحِ أَعْمَالِكُمْ

“Ada tiga orang dari orang-orang sebelum kalian, berangkat bepergian. Suatu saat mereka terpaksa mereka mampir bermalam di suatu goa. Kemudian mereka pun memasukinya. Tiba-tiba jatuhlah sebuah batu besar dari gunung lalu menutup gua itu dan mereka di dalamnya. Mereka berkata bahwasanya tidak ada yang dapat menyelamatkan mereka semua dari batu besar tersebut kecuali jika mereka semua berdoa kepada Allah Ta’ala dengan menyebutkan amalan baik mereka.”

فَقَالَ رَجُلٌ مِنْهُمُ اللَّهُمَّ كَانَ لِى أَبَوَانِ شَيْخَانِ كَبِيرَانِ ، وَكُنْتُ لاَ أَغْبِقُ قَبْلَهُمَا أَهْلاً وَلاَ مَالاً ، فَنَأَى بِى فِى طَلَبِ شَىْءٍ يَوْمًا ، فَلَمْ أُرِحْ عَلَيْهِمَا حَتَّى نَامَا ، فَحَلَبْتُ لَهُمَا غَبُوقَهُمَا فَوَجَدْتُهُمَا نَائِمَيْنِ وَكَرِهْتُ أَنْ أَغْبِقَ قَبْلَهُمَا أَهْلاً أَوْ مَالاً ، فَلَبِثْتُ وَالْقَدَحُ عَلَى يَدَىَّ أَنْتَظِرُ اسْتِيقَاظَهُمَا حَتَّى بَرَقَ الْفَجْرُ ، فَاسْتَيْقَظَا فَشَرِبَا غَبُوقَهُمَا ، اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتُ فَعَلْتُ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ وَجْهِكَ فَفَرِّجْ عَنَّا مَا نَحْنُ فِيهِ مِنْ هَذِهِ الصَّخْرَةِ ، فَانْفَرَجَتْ شَيْئًا لاَ يَسْتَطِيعُونَ الْخُرُوجَ

Salah seorang dari mereka berkata, “Ya Allah, aku mempunyai dua orang tua yang sudah sepuh dan lanjut usia. Aku tidak pernah memberi minum susu (di malam hari) kepada siapa pun sebelum memberi minum kepada keduanya. Aku lebih mendahulukan mereka berdua daripada keluarga dan budakku (hartaku). Kemudian pada suatu hari, aku mencari kayu di tempat yang jauh. Ketika aku pulang ternyata mereka berdua telah terlelap tidur. Aku pun memerah susu dan aku dapati mereka sudah tertidur pulas. Aku pun enggan memberikan minuman tersebut kepada keluarga atau pun budakku. Seterusnya aku menunggu hingga mereka bangun dan ternyata mereka barulah bangun ketika Subuh dan gelas minuman itu masih terus di tanganku. Selanjutnya setelah keduanya bangun lalu mereka meminum minuman tersebut. Ya Allah, jikalau aku mengerjakan sedemikian itu dengan niat benar-benar  mengharapkan wajah-Mu maka lepaskanlah kesukaran yang sedang kami hadapi dari batu besar yang menutupi kami ini.” Batu besar itu tiba-tiba terbuka sedikit. Namun, mereka masih belum dapat keluar dari goa.

قَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « وَقَالَ الآخَرُ اللَّهُمَّ كَانَتْ لِى بِنْتُ عَمٍّ كَانَتْ أَحَبَّ النَّاسِ إِلَىَّ ، فَأَرَدْتُهَا عَنْ نَفْسِهَا ، فَامْتَنَعَتْ مِنِّى حَتَّى أَلَمَّتْ بِهَا سَنَةٌ مِنَ السِّنِينَ ، فَجَاءَتْنِى فَأَعْطَيْتُهَا عِشْرِينَ وَمِائَةَ دِينَارٍ عَلَى أَنْ تُخَلِّىَ بَيْنِى وَبَيْنَ نَفْسِهَا ، فَفَعَلَتْ حَتَّى إِذَا قَدَرْتُ عَلَيْهَا قَالَتْ لاَ أُحِلُّ لَكَ أَنْ تَفُضَّ الْخَاتَمَ إِلاَّ بِحَقِّهِ . فَتَحَرَّجْتُ مِنَ الْوُقُوعِ عَلَيْهَا ، فَانْصَرَفْتُ عَنْهَا وَهْىَ أَحَبُّ النَّاسِ إِلَىَّ وَتَرَكْتُ الذَّهَبَ الَّذِى أَعْطَيْتُهَا ، اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتُ فَعَلْتُ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ وَجْهِكَ فَافْرُجْ عَنَّا مَا نَحْنُ فِيهِ . فَانْفَرَجَتِ الصَّخْرَةُ ، غَيْرَ أَنَّهُمْ لاَ يَسْتَطِيعُونَ الْخُرُوجَ مِنْهَا

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, lantas orang yang lain pun berdo’a, “Ya Allah, dahulu ada puteri pamanku yang aku sangat menyukainya. Aku pun sangat menginginkannya. Namun, ia menolak cintaku. Hingga berlalu beberapa tahun, ia mendatangiku (karena sedang butuh uang). Aku pun memberinya 120 dinar. Namun, pemberian itu dengan syarat ia mau tidur denganku (alias: berzina). Ia pun mau. Sampai ketika aku ingin menyetubuhinya, keluarlah dari lisannya, ‘Tidak halal bagimu membuka cincin kecuali dengan cara yang benar (maksudnya: barulah halal dengan nikah, bukan zina).’ Aku pun langsung tercengang kaget dan pergi meninggalkannya, padahal dialah yang paling kucintai. Aku pun meninggalkan emas (dinar) yang telah kuberikan untuknya. Ya Allah, jikalau aku mengerjakan sedemikian itu dengan niat benar-benar mengharapkan wajah-Mu, maka lepaskanlah kesukaran yang sedang kami hadapi dari batu besar yang menutupi kami ini.” Batu besar itu tiba-tiba terbuka lagi. Namun mereka masih belum dapat keluar dari goa.

قَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – وَقَالَ الثَّالِثُ اللَّهُمَّ إِنِّى اسْتَأْجَرْتُ أُجَرَاءَ فَأَعْطَيْتُهُمْ أَجْرَهُمْ ، غَيْرَ رَجُلٍ وَاحِدٍ تَرَكَ الَّذِى لَهُ وَذَهَبَ فَثَمَّرْتُ أَجْرَهُ حَتَّى كَثُرَتْ مِنْهُ الأَمْوَالُ ، فَجَاءَنِى بَعْدَ حِينٍ فَقَالَ يَا عَبْدَ اللَّهِ أَدِّ إِلَىَّ أَجْرِى . فَقُلْتُ لَهُ كُلُّ مَا تَرَى مِنْ أَجْرِكَ مِنَ الإِبِلِ وَالْبَقَرِ وَالْغَنَمِ وَالرَّقِيقِ . فَقَالَ يَا عَبْدَ اللَّهِ لاَ تَسْتَهْزِئْ بِى . فَقُلْتُ إِنِّى لاَ أَسْتَهْزِئُ بِكَ . فَأَخَذَهُ كُلَّهُ فَاسْتَاقَهُ فَلَمْ يَتْرُكْ مِنْهُ شَيْئًا ، اللَّهُمَّ فَإِنْ كُنْتُ فَعَلْتُ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ وَجْهِكَ فَافْرُجْ عَنَّا مَا نَحْنُ فِيهِ .7 فَانْفَرَجَتِ الصَّخْرَةُ فَخَرَجُوا يَمْشُونَ »

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, lantas orang ketiga berdo’a, “Ya Allah, aku dahulu pernah memperkerjakan beberapa pegawai, lantas aku memberikan gaji pada mereka. Namun, ada satu yang tertinggal yang tidak aku beri. Malah uangnya aku kembangkan hingga menjadi harta melimpah. Suatu saat ia pun mendatangiku. Ia pun berkata padaku, ‘Wahai hamba Allah, bagaimana dengan upahku yang dulu?’ Aku pun berkata padanya bahwa setiap yang ia lihat itulah hasil upahnya dahulu (yang telah dikembangkan), yaitu ada unta, sapi, kambing dan budak. Ia pun berkata, ‘Wahai hamba Allah, janganlah engkau bercanda.’ Aku pun menjawab bahwa aku tidak sedang bercanda padanya. Aku lantas mengambil semua harta tersebut dan menyerahkan padanya tanpa tersisa sedikit pun. Ya Allah, jika aku mengerjakan sedemikian itu dengan niat benar-benar mengharapkan wajah-Mu maka lepaskanlah kesukaran yang sedang kami hadapi dari batu besar yang menutupi kami ini”. Lantas goa yang tertutup sebelumnya pun terbuka, mereka keluar dan berjalan. (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari no. 2272 dan Muslim no. 2743)

Inilah contoh bank gaib yaitu tabungan kebaikan yang bisa menjadi bukti berdasarkan hadis tersebut. Bisa dipergunakan untuk suatu kebutuhan atau kesusahan. Jika selama ini, kita menganggap harta simpanan di bank nyata yang bisa menolong atau dalam menghadapi kesusahan, mari mulai mereset ulang cara berpikir bahwa tabungan amal kebaikan pun bisa membantu.

Ilustrasi bank gaib berupa amalan sedekah (sumber: muslimaid.org)

Uang memang bukan segalanya, tapi segalanya butuh uang. Demikian ungkapan yang sering terdengar. Oleh karena itu orang berlomba mengumpulkan uang. Ada yang dengan cara halal dan tidak melanggar aturan. Tidak sedikit juga dengan cara haram dan melanggar aturan. Namun, sesungguhnya ada fakta lain selain hal itu. Uang bukan segalanya untuk mencapai tujuan dan mendatangkan harta. Ada cara lain, yang sepertinya jarang terpikirkan, dengan cara sedekah misalnya.

Ada kisah tahanan yang saat itu satu sel tidak diberi makan oleh sipir (penjaga tahanan). Ada salah satu tahanan yang mempunyai roti. Kemudian dia melihat semut di sel itu, lalu menyedekahkan sebagian dari rotinya ke semut, sambil berkata,  “Hei semut! melalui roti ini saya bersedekah supaya kami satu sel ada yang memberikan makan”.

Tidak lama kemudian, sipirnya datang dan memberi makan ke sel tersebut. Luar biasa ternyata sedekah ini. Tidak dengan uang pun, tujuan bisa tercapai.

Ajengan Ridwan Mukhtar, salah satu guru saya. Almarhum. Allohumma yarham. Beliau sering menyampaikan dalam pengajiannya, “Jika kita menanam padi, rumput pasti tumbuh. Jika kita menanam rumput, belum tentu padi tumbuh”.

Artinya, jika kita menanam kebaikan untuk akhirat dengan ikhlas, dunia pasti mengikuti. Namun, jika kita beramal untuk tujuan dunia saja, akhirat tidak akan terbawa.

Ilustrasi amal kebaikan yang dapat menolong umat manusia dari kesusahan (sumber: muslimaid.org)

Amal Kebaikan Penuntas Masalah dan Pencapai Tujuan

Ada dua cara minimal untuk mencapai hal itu yaitu amal habluminallah, langsung kepada Allah dan habluminannaas, kepada sesama manusia dan makhluk lain.

Amalan hablumminallah yang langsung kepada Allah, di antara pertama, perbanyaklah beristighfar, sebagaimana dalam sebuah hadis disebutkan :

“Barangsiapa memperbanyak istighfar maka Allah SWT akan menghapuskan segala kedukaannya, menyelesaikan segala masalahnya, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka.” (HR. Ahmad, Abu Daud, an-Nasa’i, Ibnu Majah dan al-Hakim dari Abdullah bin Abbas ra)

Istighfar adalah amal kebaikan, yaitu pengakuan dosa dan mohon pengampunan kepada  Allah. Dosa saya ibaratkan seperti gumpalan sampah di sungai. Semakin banyak sampah maka aliran sungai menjadi tersumbat. Demikian juga dengan aliran rezeki kita. Semakin banyak dosa, aliran rezeki kita jadi tersumbat.

Kedua, menjauhi dosa sebagaimana sabda Rasulullah,”… dan seorang lelaki akan diharamkan baginya rezeki karena dosa yang dibuatnya.” (HR. at-Tirmizi). Ini berkaitan dengan istighfar di atas, bahwa dosa menghalangi rezeki.

Ketiga, selalu menjaga wudu atau kesucian. Rasulullah bersabda, ”Senantiasa berada dalam keadaan bersih (dari hadas) niscaya Allah akan memurahkan rezeki.” (HR. Sayidina Khalid al-Walid).

Keempat, perbanyak salat tahajud dan duha. Allah SWT berfirman, “Daripada sebahagian malam, lakukanlah salat tahajud olehmu sebagai ibadah tambahan,  semoga Tuhan engkau mengangkatmu ke tempat terpuji.” (QS. Al-Isra:79)

Juga pada hadis disebutkan, “Wahai anak Adam, jangan sekali-kali engkau malas mengerjakan empat rakaat pada waktu permulaan siang (salat Duha), nanti pasti akan Aku cukupkan keperluanmu pada petang harinya.” (HR. al-Hakim dan Thabrani)

Kelima, memperbanyak syukur. Allah berfirman, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku tambahkan nikmat-Ku, dan sesungguhnya jika kamu  kufur, sesunguhnya azab-Ku amat pedih.” (QS. Ibrahim:7). Syukur bisa berarti menerima nikmat dari Allah, berterima kasih dan menjalankan nikmat tersebut sesuai dengan aturan Allah atau syariat.

Keenam, perbanyak dzikir dan berdoa. Firman Allah SWT, “ Orang-orang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. ar-Ra’du:28).

Ketenangan adalah kunci keberhasilan. Menyerahkan segala urusan kepada Alloh adalah bukti keimanan dan ketakwaan. Perbanyak dzikir bisa mengundang peluang rezeki. Orang yang tidak mau berdoa kepada Allah adalah orang yang sombong, sebab Allah telah berfirman, “Ud’uuni fastajib lakum”, artinya berdoalah kepada Ku, niscaya akan Aku kabulkan.

Orang yang tidak mau berdoa, seolah dia tidak butuh Allah dalam hidupnya. Orang yang mau berdoa cirinya dia membutuhkan Allah dalam mencapai tujuannya.

Ketujuh, Tawakal. Allah SWT berfirman, “Barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah mencukupkan (keperluannya).” (QS. at-Thalaq:3).

Tawakal secara bahasa artinya bersandar, atau menggantungkan. Setiap selesai urusan, fatawakkal’alallah. Bersandarlah kepada Alloh.

Dalam sebuah keterangan disebutkan, barang siapa yang bertawakkal akan dibukakan jalan rezekinya.

Amalan yang berhubungan dengan manusia

Pertama, berbuat baik kepada orang tua. Sebagaimana sabda Rasulullah, ”Siapa berbakti kepada orangtuanya maka kebahagiaanlah buatnya dan Allah akan memanjangkan umurnya.” (HR. Abu Ya’ala, at-Tabrani, al-Asybahani, dan al-Hakim).

Ini jaminan Alloh untuk yang berbuat baik kepada orang tua. Kebahagiaan adalah termasuk melimpahnya rezeki dan terhindar dari bencana. Sebagian orang ada yang mengundang rezeki dengan sedekah dan mencium tangan orang tuanya, sebelum beraktivitas.

Kedua, menjalin silaturrahmi. Sabda rosul:, “Barangsiapa ingin dilapangkan rezekinya dan dilambatkan ajalnya maka hendaklah dia menghubungi sanak saudaranya.” (HR. Bukhari). Silaturahmi adalah mempertemukan rahmat atau kasih sayang. Silaturrahmi bukan hanya berjabat tangan, tetapi silaturahmi bisa berarti saling berbagi rezeki, berbagi informasi bisnis, saling dukung untuk kemajuan usaha.

Ketiga, saling tolong menolong. Berbuat baik kepada makhluk Allah merupakan perbuatan yang akan mendatangkan kebaikan untuk dirinya, sebagaimana sabda Rasulullah, ”Tidaklah kamu diberi pertolongan dan diberi rezeki melainkan karena orang-orang lemah di kalangan kamu.” (HR.i Bukhari)

Pada hadis lain juga disebutkan, ”Siapa yang menunaikan hajat saudaranya maka Allah akan menunaikan hajatnya…” (HR Muslim)

Pada suatu ayat Allah berfirman, “Ta’awanuu ‘alalbirri wataqwa.” Tolong menolonglah dalam kebaikan dan ketaqwaan. Perintah tolong menolong itu begitu jelas. Menolong atau memberi bantuan bisa secara finansial atau tenaga atau doa.

Keempat, memperbanyak sedekah.

Rasulullah bersabda pada Zubair bin Awwam, ”Hai Zubair, ketahuilah bahwa kunci rezeki hamba itu di atas Arsy yang dikirim oleh Allah Azza wajalla kepada setiap hamba sekadar nafkahnya maka siapa yang memperbanyak sedekah kepada orang lain, niscaya Allah memperbanyak baginya dan siapa yang menyedikitkan, niscaya Allah menyedikitkanya.”

Kehebatan sedekah itu luar biasa. Seringkali mendatangkan keajaiban dan terbebas dari bala bencana. Saya sudah membahasnya pada tulisan kehebatan sedekah yang lalu dan kita nanti akan banyak berbicara tentang sedekah pada waktu lain.

Kelima, berbisnis atau berniaga. Allah SWT berfirman, ”Apabila telah ditunaikan sembahyang maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS. al-Jumuah: 10).

Hidup kita tidak boleh berpangku tangan kewajiban kita adalah berikhtiar. Bagaimana Allah akan memberi rezeki, jika tanpa washilah atau perantara. Melalui berdagang, bertani, jadi pegawai, bisnis jaringan, dan sebagainya.

Wabtaghu ilaihil washilah. Carilah olehmu washilah (perantara). Demikian juga dengan rezeki Allah akan memberikannya lewat washilah.

Ada hadis yang mengatakan, “Sebaik-baiknya pekerjaan adalah pekerjaan seorang pria dengan tangannya dan setiap jual beli yang mabrur.” (HR. Ahmad, Al Bazzar, Ath Thobroni dan selainnya, dari Ibnu ‘Umar, Rofi’ bin Khudaij, Abu Burdah bin Niyar dan selainnya). Ada pula ungkapan, sembilan dari sepuluh pintu rejeki adalah berniaga.

Kesimpulan akhir. Mari kita perbanyak bank gaib kita, dengan melakukan amal kebaikan dan ketaatan kepada Allah, serta berbakti kepada orang tua dan berbuat baik pada sesama.

***

Vicky Jmd Alipradja adalah seorang pemerhati budaya, sejarah, pendidikan, terapis,  dan spiritualis

Editor: JHK

Artikel Berkaitan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button