
Cerpen Jamingun dan Kuburan Tua
Cerpen Karya Sarkoro Doso Budiatmoko
PRATAMA MEDIA NEWS (PMN), Sabtu (01/06/2024), Rubrik Sastra – Cerita pendek (cerpen) berjudul “Jamingun dan Kuburan Tua” hasil buah pikiran tanggal 31 Mei 2024 di Purwokerto ini merupakan karya Sarkoro Doso Budiatmoko, alumni Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Iowa State University, Amerika Serikat.
***
Di sore yang cerah ini, Mamo tidak sabar lagi menunggu datangnya malam. Semburat cahaya merah di ufuk barat memberinya tambahan harapan kala tidak ada mega menutup malam. Dia tidak ingin kehilangan kesempatan menikmati bulan purnama.
Mendung pada musim hujan beberapa waktu ini telah menelan bulat-bulat bulan dan sinarnya purnamanya. Kalaupun bulan nongol, perilakunya seperti gadis pemalu yang mengintip lelaki pujaannya dari balik jendela rumah. Sebentar muncul, sebentar tenggelam.
Di mata Mamo, sinar bulan purnama yang muncul sebulan satu kali itu sungguh sangat indah dan mempesona. Dia berusaha tidak sekalipun terlewat memandangnya, sampai-sampai dia punya tempat favorit untuk menikmatinya, yaitu di tepi kebun bambu. Kebun yang berisi rumpun-rumpun beberapa jenis bambu.
Meskipun di tepi kebun bambu, tempat itu bersih karena pada siang dan sore hari biasa menjadi tempat bercengkerama anak-anak. Tidak tua, tidak muda, bermain di bawah rumpun bambu memang adem.
Bentang kebun bambu itu sendiri memang bagus. Di bawahnya ada belik yang airnya tidak pernah kering. Perakaran rumpun-rumpun bambu yang kokoh selain mencengkeram tanah dan memperkuat tebing ternyata mampu menahan air hujan dan menghasilkan belik.

Belik menjadi salah satu tempat penduduk bertemu untuk mandi, cuci dan bercengkerama. Di situ banyak ibu-ibu mencuci sambil ber-gosip segala macam persoalan. Ibu-ibu tidak pernah kehabisan bahan gossip.
Suatu sore di belik, misalnya, seorang ibu berbadan gemuk ngomong: “Untung kebun bambu ini tidak jadi kebun bangunan yaaa… kita bisa nyuci dan ciblon di sini setiap saat”.
Ibu yang memakai daster menyahut: “Betul, kalau kebun bambu ini jadi kebun beton, kemana lagi kita ngegosip dong…”.
“Haha…, kamu tuh apalagi di belik, di mushola saja kamu suka ngegosip…” kata wanita berkain basah sambil menggilas cuciannya.
“Hahaha betul, dia memang hobi bikin gossip….”, ujar wanita dengan kain melilit tubuh setinggi dada.
“Tetapi ngegosip emang gurih kan…” kata si ibu berdaster.
Suara kecipak air dan tawa para wanita itupun meledak, sejenak mereka lupa hutang dan keruwetan urusan rumah tangga. Ritual sore itu diakhiri dengan mandi basah.
Lalu, satu-satu beranjak pulang berbaris sambil menggendong keranjang cucian. Menjelang maghrib keriuhan itu pelahan berubah menjadi sepi. Saat hari semakin gelap belik dan kebun bambu berganti suasana menjadi sunyi-senyap.
Kesenyapan terasa agak berbeda. Kesenyapan yang kadang mengundang rasa takut. Sedikit saja angin bertiup, hembusannya semribit mendirikan bulu roma. Entah apa sebabnya, tetapi kebun bambu dengan beliknya memang bersisian dengan pekuburan.
Dua tempat itu dipisahkan oleh jalan setapak yang hanya cukup untuk dua orang berpapasan. Pekuburan sudah kuno, banyak nisan yang tidak utuh lagi, kusam dan terkesan tidak terawat.

Di salah satu sudutnya berdiri pondok kecil tanpa dinding tempat menyimpan keranda dan perlengkapan gali kubur. Ada pacul, sekop, payung dan dua batang bambu panjang.
Di kalangan penduduk banyak beredar cerita dari mulut ke mulut yang membuat kuduk pendengarnya terasa dingin. Salah satunya cerita tentang terdengarnya bunyi gludak-gluduk dari keranda atau batang bamboo yang bergerak sendiri.
Ada lagi cerita tentang suara binatang mengaum, juga suara berisik daun-daun bergesekan padahal tidak ada angin maupun petir. Lebih mistis lagi cerita merebaknya bau harum bunga kanthil hingga ke pinggiran kebun bambu.
Cerita-cerita seram yang tidak jelas ujung pangkalnya itu membuat pada malam hari sebagian orang takut lewat dan tidak berani mendekat.
Meskipun begitu, ada juga yang menganggap tempat itu cocok untuk menyepi, merenung dan menikmati bulan purnama. Mereka tidak peduli dengan cerita serem yang beredar. Salah satunya Mamo yang rumahnya hanya beberapa depan dari kebun bambu.
Bagi pria lajang yang piawai bermain gitar ini, berada di kebun bambu saat purnama bisa mendatangkan sensasi pesona alam yang indah tiada duanya. Keindahan itu mengalahkan rasa takut yang meski sedikit masih ada di benak Mamo.

Mamo kadang tampak bengong saat terpesona pada pancaran sinar bulan purnama di atas rumpun bambu. Pancaran tata cahaya karya yang Maha Agung menghasilkan silhoute gambar hidup batang-batang bambu berdaun panjang meruncing layaknya sendratari gerak gemulai gadis-gadis cantik.
Mamo semakin terpesona saat terdengar suara tenggoret mengiringi sendratari yang dinamis dan romantis. Daya khayalnya yang tinggi membuat pria ini semakin menunggu datangnya purnama.
Bagusnya, pria yang umurnya belum 30 tahun tidak ingin menikmati sinar purnama sendirian. Dia butuh teman.Tetapi mencari teman tidak gampang. Hingga menjelang mangrib belum satu orang juga yang bersedia menemaninya. Banyak orang termakan cerita seram yang beredar di kampung.
“Kenapa harus aku Mo? Cari yang lain saja. Terus terang aku takut…”, kata Darno, lelaki muda, kekar dan bertato. Beberapa orang yang diajak, menolak dengan halus.
Joko, umpamanya, dia menolak dengan alasan: “Maaf Mo, aku gak bisa, aku sudah janji mau ngopi-ngopi sama teman…”.
Lain lagi kata Oji si guru ngaji. Dia juga menolak ajakan Mamo. Katanya: “Hahaha Mo, daripada bulu romaku merinding, aku milih kelonan sama istri…”.
Sedangkan Mitro, menolak dengan dalih: “Aku ada order nganter pelanggan kondangan keluar kota…”
Otak Mamo terus berputar, siapa lagi yang bisa diajak. Dia tidak mau terlewat purnama lagi hanya karena tidak ada teman. Dalam hati Mamo agak heran di jaman modern ini masih ada orang percaya cerita misteri dan takut hantu.
Lalu dia ingat pada Jamingun, tetangganya, anak muda yang sedang minta diajari main gitar. Jamingun ingin mengganti alat ngamennya dari kotak betot dengan gitar supaya tampak canggih.
Ketika itu Mamo tanya: “Untuk apa kamu latihan main gitar Ngun…?”
“Biar orang ngasih uangnya lebih banyak Mo”, jawab Jamingun ringan.
“Heheeh bener juga kamu Ngun…” kata Mamo lalu disambung: “Tapi kamu harus latihan sunggh-sungguh yaa…”
“Siiaaap Mo…”, jawab Jamingun.
Mamo dalam hati berkata: “kamu harus mau menemaniku Ngun…, atau aku berhenti melatihmu main gitar…”.
Hati Mamo agak tenang setelah mendapat jalan keluar. Didatanginya Jamingun di perempatan jalan ketika sedang ngamen dengan kotak betotnya.
Disampaikannya keinginannya untuk mengajak menikmati bulan purnama di tepi kebun bambu yang juga tepi pemakaman.
“Aku takut Mo, jangankan malam hari, sore-sore saja aku aku gak berani lewat situ…”, kata Jamingun menolak.
Mamo tahu betul, tidak mudah mengajak orang ini, apalagi Jamingun memang penakut. Sebelum kartunya dikeluarkan, Mamo terus melakukan pendekatan hati.
“Apa sih yang kamu takutkan Ngun…?”
Lalu Jamingun cerita tentang komplek pemakaman dan keseramannya dengan lengkap. Juga tentang pengalamannya mendengar suara-suara aneh dan merebaknya bau bunga yang aneh.
“Masa’ kamu gak tahu Mo…?” kata Jamingun heran.
“Bukannya gak tahu, cuma heran kok pada takut dengan cerita begituan…”
“Lhoo, kita kan harus percaya bahwa yang ghoib itu memang ada Mo…”
“Percaya boleh, tapi tidak boleh takut Ngun….” kata Mamo menasehati rekannya lalu disambung dengan: “Kamu mah lebih takut sama setan daripada takut ke Tuhan….”
“Hehe…, iya juga yaaa” kata Jamingun setuju dengan omongan Mamo, sholatnya memang masih bolong-bolong dan malah sering minum sampai mabok.
Tapi Jamingun tetap keukeuh tidak mau.
Merasa sudah mentok, Mamo lalu memperagakan kedua tangan dan jari-jarinya sedang bermain gitar seolah memberi pilihan: ikut menemani aku atau berhenti latihan gitar.
Melihat isyarat itu, Jamingun pun menyerah: “Aaah, kamu Mo…. Okey aku mau menemani, tapi boleh gak aku ngajak temenku?”
“Gak boleh, kita berdua saja. Aku gak mau suasana hening nanti rusak oleh obrolan dengan temenmu…” jawab Mamo.
“Yaaah nasiiiib…” keluh Jamingun.
Mamo bahagia bukan main. Dikepalkan tangan kanannya dan ditinjukannya ke udara. Sebelum pergi dia minta Jamingun ketemu di mushola setelah isya.
Beberapa menit setelah isya mereka berdua berjalan berdampingan ke tempat favorit Mamo. Mereka menuju suatu titik untuk memandang langit.

Keberuntungan berpihak ke Mamo. Malam itu langit bersih biru cerah tanpa awan yang akan menghalangi purnama. Apalagi bintang-bintang di atas kepala terlihat terang berkerlap-kerlip indah.
Langit bagai sudah siap dijamah penduduk bumi sepuasnya. Tapi tidak banyak yang menyambut. Banyak yang lebih memilih minum kopi di kafe dan ngobrol dengan teman atau kekasih di bawah temaram sinar lampu dan iringan alunan lagu berisik.
Manusia yang mengaku modern itu melewatkan kesempatan bermandi sinar bulan purnama. Sepertinya mereka sudah terpuaskan bermandi panas sinar matahari yang menggelantang di siang hari. Mereka merasa tidak perlu lagi siraman sinar bulan.
Satu-dua ekor kalong mendesis terbang kesana-kemari menyambut malam. Bersama Jamingun, pria kurus berambut lurus duduk beralaskan koran bekas di atas tanah. Mereka berdua duduk berdampingan tapi tidak saling bicara.
Setiap kali Jamingun mengajak ngomong selalu dijawab Mamo dengan: “Ssttt…”.
Jari telunjuk Mamo ditempelkan ke bibir minta Jamingun diam, lalu menunjuk ke langit, ke sinar bulan yang mulai terang.
Jamingun tidak bisa berbuat apa-apa selain diam dan mencoba menikmati pemandangan di sekelilingnya. Dilihatnya beberapa meter di depannya batang bambu yang saking panjangnya hingga ujungnya melengkung naik turun menyentuh tanah pekuburan.
Detak jantung Jamingun mulai berdegup agak keras. Dilihatnya Mamo menatap rembulan di langit tanpa berkedip.
Jamingun menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Saat menggeleng ke kiri, dilihatnya batang bambu muda yang daunnya bergerak-gerak sendiri padahal tidak ada angin.
Belum lagi jantungnya kembali normal, didengarnya daun-daun kering bergesekan seperti disered langkah-langkah kaki.Malam semakin larut dan Jamingun tampak mulai berpikir bahwa cerita yang selama ini dia dengar itu benar adanya. Bagaimana mungkin batang dan daun bambu bergerak-gerak sendiri.
Kuduknya merinding dan kakinya mulai terasa dingin. Ditekuknya lutut kakinya lalu didekap dengan kedua tangannya. Belum lagi hilang merindingnya, tiba-tiba mereka dikagetkan munculnya beberapa kali suara benda jatuh ke belik dan menimbulkan suara deburan air. Jamingun tambah merasa ngeri lalu didekatkan tubuhnya ke Mamo.
Sementara Mamo asik sendiri memandang ke atas dengan bibir komat-kamit seolah mengajak rembulan berbincang tentang bumi dan isinya yang semakin tua. Berbincang tentang manusia yang semakin keminter dan tentang peradaban luhur yang semakin ditinggalkan.
Jamingun semakin gelisah tetapi Mamo semakin asik masuk dengan dirinya. Beberapa kali Jamingun memberi isyarat untuk pulang tetapi tidak digubris. Pengamen ini menyesal kenapa mau menemani Mamo dalam kengerian begini.
Tangan Jamingun memegang erat ujung baju Mamo… sambil berbisik: “Mo, ayooo pulang, aku gak tahan lagi…”
Kali ini Mamo menjawab lirih: “Sebentar lagi Ngun…, sebenarnya bulan lagi bagus banget…, tapi aku juga mendengar langkah-langkah kaki diseret…”
Jamingun pun pasang telinga dan: “Bener Mo… iihh, ayooo Mo…”
Mamo mencoba bertahan meskipun juga merasakan kengerian yang dirasakan Jamingun. Rupanya rasa ngeri, takut, khawatir dan gelisah lebih cepat menular daripada keberanian.

“Ayoolah kalau begitu Ngun, kita pulang….”, lalu Mamo beberes tempatnya duduk. Melipat koran alas duduknya dan bangkit hendak berdiri. Belum lagi mereka berdiri dengan sempurna, didengarnya suara gludag-gludug dan suara keras benda berat jatuh….
Tanpa ba-bi-bu mereka berdua bersicepat lari. Ditinggalkannya semua bawaannya. Koran bekas, sandal, peci, dan handphone.
Esok harinya ketika matahari sudah agak naik, mereka kembali untuk mengambil handphone. Ternyata hanya Koran bekas yang ada. Disapukan pandangan mata ke sekelilingnya. Berputar-putar sampai di podok kecil di sudut kuburan.
Didapatkannya keranda, pacul dan sekop berantakan di lantai. Lalu dengan agak terkejut mereka temukan pakaian dalam pria dan wanita berserakan, semakin terkejut ketika ditemuainya alat kontrasepsi di sana.
Berdua mereka saling pandang dengan kesimpulannya sendiri-sendiri. Bumi memang semakin tua.

***
Judul: Jamingun dan Kuburan Tua
Penulis/Pengarang: Sarkoro Doso Budiatmoko
Editor:Rose Mariadewi
——————————————————————————————————–
Tentang Penulis/Pengarang
Sarkoro Doso Budiatmoko lahir di Purbalingga, Jawa Tengah dari pasangan almarhum Bapak dan Ibu Pranoto. Pendidikan formal hingga tingkat SLTA dijalaninya di kota kelahirannya ini, sedangkan pendidikan tinggi ditempuhnya di IPB, Bogor dan Iowa State University, Ames, Iowa, Amerika Serikat.
Pengalamannya menjalani berbagai penugasan selama bekerja di Perum Perhutani memperkaya wawasan dan pemikirannya yang sering dituangkan dalam tulisan. Topik tulisannya tidak terbatas pada latar belakang pendidikan dan pekerjaannya saja, tetapi juga menyangkut bidang ekonomi, sosial, politik, budaya, dan humaniora.
- Cerpen “Ini Bukan Nepotisme, Godes”
- Cerpen “Salamun dan Harga Dirinya”
- Cerpen “Dimun dan Legenda Becak Warisan”
- Cerpen “Surya Si Buaya Air”
- Cerpen “Kania, Tunggu, Aku Datang”
- Cerpen “Farid Terperangkap Purbasangka”
- Cerpen “Aku Anak Emak, Anak Merdeka”
- Cerpen “Orang Dalam”
- Cerpen “Rudy dan Palupi”
- Cerpen “Tommie Rungkad”
- Cerpen “Hore, Emak Pulang”
- Cerpen “Wanita misterius dengan Empat Nama”
- Cerpen “Monica Si Wanita Misterius”
- Cerpen “Jumadi dan Si Wanita Misterius”
- Cerpen “Sebilah Pisau dan Sekeping Wungkal Kang Mukhari”
- Cerpen “Bram Terbelenggu Rasa”
- Cerpen “Kelingking Membawa Fadhil dan Kamila Terbang”
- Cerpen “Baskoro 27 Hari Tanpa Kopi”
- Cerpen “Fadhil Masih Sabar Menunggu”
- Cerpen “Samsuri Ogah Mudik Sekarang”
- Cerpen “Samsuri Mengapa Engkau Harus Minggat?”
- Cerpen “Fadhil, Dunia Tak Seindah Rembulan”
- Cerpen “Samsuri Muadzin yang Menghilang”
- Cerpen “Kardi Portal”
- Cerpen “Daster Emak”
- Artikel “Jembatan Putus dan Pertanda Zaman”
- Artikel “Wisata Literasi, Wisata Hati”
- Artikel “Kado Buku untuk Pengantin Baru”
- Artikel “Sudah Baca Apa Hari Ini?”
- Artikel “Sedia Aplikasi Sebelum Beli-Beli”
- Artikel “Orang Tangguh yang Tetap di Kampung”
- Artikel “Wabah Buru-Buru”
- Artikel “Kicau Burung di Bengkel Mobil”
- Artikel “Cabut Udelnya”
- Artikel “Aku Bukan Kucing”
- Artikel “Lupa Bahagia”
- Artikel “Fenomena Bola Bekel”
- Artikel “Keledai dan Roller Coaster”
- Artikel “Bermimpi Menghilangkan Korupsi”
Sebagian dari tulisan-tulisannya telah dibukukan dengan judul: “NAH…mengambil makna dari hal-hal kecil”, diterbitkan oleh SIP Publishing, Purwokerto, 2021. Tulisan-tulisan lainnya juga sedang disiapkan untuk dibukukan, termasuk kumpulan cerita pendeknya.
Pengalaman, pergaulan, dan wawasannya bertambah luas semenjak menjalani profesi sebagai staf pengajar dari 2016 di Language Development Center (LDC), Universitas Muhammadiyah Purwokerto, UMP.
Penulis dikaruniai tiga orang anak dan beberapa cucu saat ini menetap di Purwokerto. Aktivitasnya, selain menulis dan mengajar, juga mengikuti berbagai seminar dan webinar, serta memenuhi undangan sebagai narasumber di beberapa event, termasuk dari RRI Pro-satu Purwokerto 14 Juli 2023 lalu.









