ArtikelFeaturesPratama Media News

Euforia Tahun Baru 2023

Memeriahkan tahun baru di Masjid Raya Terapung Al-Jabbar Kota Bandung

Pratama Media News, Euforia Tahun Baru 2023 – Beberapa hari sebelum tiba 31 Desember 2022, hampir semua manusia dibelahan muka bumi ini ikut andil dalam rencana kegiatan malam pergantian tahun baru. Mereka berharap bisa berkumpul bersama-sama pada malam tahun baru ini dan merayakannya.

Seperti diketahui, selama dua tahun belakangan ini dunia dilanda pandemic virus corona 19 atau biasa disingkat covid-19. Menurut Centers for Disease Control and Prevention atau disingkat CDC (Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat), kata covid-19 merupakan singkatan dari kata “co” yang berarti “corona“, “vi” adalah “virus“, dan “d” adalah “disease” alias “penyakit”. Sementara angka “19” menunjukkan tahun ditemukannya varian virus tersebut, yaitu 2019 (sumber: kominfo.go.id).

Covid-19 adalah penyakit menular yang disebabkan oleh SARS-CoV-2, salah satu jenis virus corona. Penderita covid-19 dapat mengalami demam, batuk kering, dan kesulitan bernapas.  Tindakan pencegahan untuk mengurangi kemungkinan infeksi dengan cara tetap berada di rumah, menghindari beraktivitas di tempat umum, sering mencuci tangan dengan sabun dan air, serta tidak menyentuh mata, hidung atau mulut dengan tangan yang tidak di cuci. Oleh karena itu pemerintah  mengambil kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sebagai langkah untuk mengurangi atau memutuskan rantai penyebaran covid-19.

Happy new year 2023
Ilustrasi perayaan pergantian tahun baru 2023 – (sumber: nationaldayreview.com)

Namun, berbeda dengan pergantian tahun 2023 ini. Masyarakat sedikit lebih leluasa dan antusias untuk mengadakan kegiatan tahun baru, baik di dalam kota maupun di luar kota, apalagi  dengan dicabutnya aturan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PKM) pada Desember 2022 lalu oleh Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, hingar bingar persiapan tahun baru sangat terasa sekali.

Kita bisa jumpai beberapa pasar swalayan dan toko-toko menyediakan perlengkapan tahun baru seperti arang, tusuk sate, alat pembakaran, dan lain sebagainya. Bahkan, tidak sedikit para pedagang dadakan yang menjual berbagai macam jenis makanan olahan siap saji, di antaranya: jagung manis, kacang-kacangan, sosis bakar, ketan bakar, dan lain-lain.

Senyuman penuh kegembiraan dan rasa rindu terhadap kebersamaan yang selama dua tahun ini mereka pendam akibat pandemic covid-19, tidak terkecuali dengan penulis, juga ikut merasakan kegembiraan tersebut. Namun, kali ini ada yang berbeda. Pada malam pergantian tahun baru kali ini. Penulis tidak merayakannya dengan membakar petasan atau kembang api, melainkan bersama keluarga merayakannya di Masjid Raya Terapung Al Jabbar yang baru saja diresmikan oleh Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil.

Masjid Raya Terapung Al-Jabbar
Masjid Raya Terapung Al-Jabbar – (sumber: Hutama Karya/Kompas.com)

Bermalam tahun baru di masjid raya yang baru diresmikan tersebut, masyarakat terlihat begitu antusias, khususnya warga Bandung Timur. Lautan manusia tertumpah ruah di sana. Penulis mengikuti Program Muhasabah Tahun Baru bersama Syekh Muhammad Al Jaber dan menjadikan hal tersebut sebagai pengalaman yang paling berkesan dan tak akan terlupakan.

Esti Prihanti
Penulis (ketiga dari kiri) saat mengikuti Program Muhasabah Tahun Baru bersama Syekh Muhammad Al Jaber di Masjid Raya Terapung Al-Jabbar pada 31 Desember 2022 kemarin – (sumber: Esti Prihanti)
Suasana dalam Masjid Raya Terapung Al-Jabbar
Suasana dalam Masjid Raya Terapung Al-Jabbar saat acara muhasabah pergantian tahun baru 2023 – (sumber: Manda/PMN)

Selama kegiatan muhasabah berlangsung, tidak lupa Satuan Tugas (Satgas) selalu  mengingatkan seluruh masyarakat Jawa Barat agar tetap mematuhi protokol kesehatan untuk memutus mata rantai sebaran covid-19 karena masih banyak masyarakat yang belum sadar terhadap pentingnya protokol kesehatan. Ingat, kita semua wajib menerapkan 4M, yaitu memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, dan menghindari kerumunan.

Pada kesempatan ini penulis juga ingin berbagi sedikit pengetahuan tentang tujuh fakta tentang Masjid Raya Terapung Al-Jabbar, yaitu: pertama, Ide pembangunan masjid tersebut sudah ada sejak 2016 yang merupakan hasil diskusi antara Wali Kota Bandung saat itu, Ridwan Kamil dengan Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan.

Suasana dalam Masjid Raya Terapung Al-Jabbar
Suasana dalam Masjid Raya Terapung Al-Jabbar saat acara muhasabah pergantian tahun baru 2023 – (sumber: Esti Prihanti)

Kedua, Masjid Raya Terapung Al-Jabbar bisa menampung 33.000 jamaah; Ketiga, masjid tersebut menghabiskan biaya sebesar Rp 1 Triliun; Keempat, arsitekturnya mengusung filosofi Asmaul Husna “Al Jabbar”; Kelima, terdapat museum Rasulullah dan Al-Quran di dalamnya; Keenam, pembangunnya sempat terhenti akibat covid -19, dan; Ketujuh, terkenal sebagai masjid terapung di tengah danau.

Melalui berbagai fenomena di atas, kita dapat mengambil hikmah dan pelajaran berharga. Dengan adanya pandemic covid-19, pergantian tahun baru 2023, dan peresmian Masjid Raya Terapung Al-Jabbar, bahwasanya kita sebagai makhluk ciptaan-Nya, harus senantiasa selalu bersyukur dan semangat dalam menjalani apa-apa yang  telah  diatur oleh-Nya.   Semoga kita selalu dalam lindungan Allah SWT. Amin. (Esti Prihanti)

***

Judul: Euphoria Tahun Baru 2023
Penulis: Esti Prihanti
Editor: JHK

Artikel Berkaitan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button