ArtikelPratama Media NewsReligi

Sajadah Bisu, Masjid Tuna Rungu

Sajadah Bisu, Masjid Tuna Rungu – Di masjid, sajadah-sajadah berjejer setiap waktu. Tentu sebelum corona datang bertamu. Namun, lama kelamaan, corona keterlaluan bertamu. Sajadah yang lelah karena telah terlalu lama diam membisu, lalu digulung kembali.  Padahal jauh sebelumnya, sajadah-sajadah itu selalu terhampar, memenuhi barisan-barisan calon penghuni surga.

Sejak mesjid berdiri sampai hampir roboh, sajadah-sajadah setia membisu. Menerima ceramah ustad silih berganti di atas mimbar dari Jum’at ke Jum’at. Bahkan,  kadang juga menampung sisa keringat manusia yang singgah berulang kali dalam sehari, hingga yang datang hanya sekali dalam sepanjang usia untuk kemudian di hantar ke pemakaman.

Namun, pada bulan ini, beda sekali dengan bulan-bulan yang lainnya. Sajadah bisu menjadi begitu ramai sekali disinggahi. Ia menjadi tempat segala tumpahan keluh kesah dan air mata, serta ucapan syukur atas nikmat yang tak terkira dari-Nya. Diduduki pesakitan yang merindu kasih Tuhan dan seorang selengean yang hanya mencari makanan.

Bagaimana pun manusia datang dan pergi. Musim silih berganti, dari masjid masih berdiri kokoh hingga hampir menjumpai usia roboh. Sajadah-sajadah tetap saja bisu. Namun, sebisu-bisunya, sajadah tetap menjadi yang paling setia menerima segala luah tanpa mencerca. Apalah jadinya, jika si Bisu, ia yang tuna rungu terus dibiarkan tetap begitu.

Masjid yang sepi
Ilustrasi masjid yang sepi jemaah akibat corona (Sumber: aa.com.tr)

Masjid. Aktif sekali melakukan panggilan. Lima kali sehari pasti berkumandang. Tak peduli ada yang menyambut atau membiarkan. Panggilan akan terus dilakukan selama ada yang masih sedia menyuarakan, karena memang begitulah tugasnya.

Suatu hari kemudian, ia tak hanya melakukan panggilan. Namun, berbagai informasi mengenai dirinya ia sampaikan, seperti amply yang hilang, kotak amal yang digondol pulang, sampai suara-suara tentang simpanan uang sebagai kas terus dikabarkan dari Minggu ke Sabtu, dari Sabtu kembali lagi ke Minggu.

Percantikan diupayakan agar yang roboh kembali kokoh. Namun, sekokohnya ia bersuara, masih saja tuna rungu.

Suatu hari, seorang pesakitan mengadu habis-habisan. Mengadunya di atas sajadah bisu. Di rumahnya hanya ada sebutir beras yang harus ia bagi untuk semua anak istri. Itu pun harus cukup untuk makan sekian kali. Tengah malam sekali, ia merengkol di atas sajadah bisu ditemani air mata yang membantunya mengadu. Pulang ia enggan, sebab tak ada sebutir nasi lagi yang harus ia bagi. Tidur di sana ia takut dikira menggondol kotak amal yang amalnya terkotak-kotak.

Di lain sore, Bapak tua yang bajunya compang camping dan bau karena karung sampah menggemblok di punggungnya memilih bersendar di teras terjauh dari masjid tuna rungu. Ia malu melangkah lebih jauh untuk ikut berwudu, kemudian salat dan rukuk di dalam sana. Jadilah langkahnya tak sedikitpun terdengar oleh si tuna rungu. Bahkan, si Bisu tak mampu menerima bisiknya.

berdoa di masjid
Ilustrasi seorang sedang salat di masjid (Sumber: Assajidin.com)

Melihat panorama itu, seorang petangguh yang terjatuh pada  cahaya pun enggan untuk mengadu di atas sajadah yang berjejer. Malu karena ia pernah dikenal sebagai pengacau. Tato di sekujur tubuh pun menghalangi ia untuk berjalan masuk lebih dalam. Ia harus mati-matian membangun masjidnya di dalam dirinya sendiri.

Ah, na’as benar. Padahal di dalam sana banyak sekali manusia sujud dan ruku. Takbir sebagai hamba Tuhan, dan mengucap salam sebagai indikasi untuk memperhatikan sesama di sekitar. Apakah berdirinya masih saja sendirian meskipun berjajar bersamaan setiap kali memenuhi panggilan.

Sering sekali kematian dikabarkan dari dalamnya, tapi masih tuli untuk mendengar kabar penyebab kematian; kelaparan.

Katanya, manusia mampu bertahan hidup tiga minggu tanpa makanan dan tiga hari tanpa air. Setelah itu, mati kemudian. Namun, kematian moral dan akidah, seberapa lama kelaparannya dibisutulikan.

Masjid-mAsjid masih berdiri kokoh. Bahkan, jejerannya semakin banyak di setiap tempat. Namun, kematian-kematian pun tak henti berseliweran. Bahkan, korbannya terus berjatuhan. Mereka mati di usia 20-an, tetapi dikubur menjelang 70-an.

Soal slogan, semacam “Dari Masjid ke Peradaban”, kita memang pandai sekali membuat istilah, tapi membawa masalah ke dalam masjid untuk menghaturkan solusi masih saja begitu enggan. Membiarkan sajadah tetap bisu dan masjid tetap tuna rungu meskipun tiang-tiangnya terus menjulang dari tahun ke tahun.

Dicatat di mesjid tanpa bangunan, 22 April 2021, 10 Ramadhan 1442 Hijriah.

***

Penulis: Nurul

Editor: JHK

Artikel Berkaitan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button