Pemain Trapeze
Oleh: Syafril Riza
Trapeze adalah hiburan akrobatik yang menggunakan ayunan sebagai alat utamanya. Dalam atraksi ini pemain akan menunjukkan kebolehannya dengan melayang dari satu ayunan ke ayunan lainnya dari ketinggian 20 meter. Kalau pengen lebih menantang, ketinggiannya bisa lebih dari 20 meter.
Satu hal yang tak boleh terlewat dari permainan ini adalah jaring pengaman di bawah ayunan yang siap menerima kapan pun si pemain trapeze jatuh. Sebenarnya, jaring pengaman ini bukan untuk menerima pemain trapeze yang tidak sengaja jatuh karena tak bisa merain ayunan, tapi memang karena ingin menjatuhkan dirinya dengan sengaja karena pertunjukkan telah berakhir. Ketimbang, turun lewat tangga, mending menjatuhkan diri ke jaring pengaman.
Ngobrolin tentang pemain trapeze, tak semuanya berprofesi sebagai artis sirkus. Namun, banyak yang memang memilih peranan jadi pemain trapeze dalam kesehariannya. Menjatuhkan dirinya pada seseorang dan meninggalkan seseorang tersebut kapan pun dia mau. Mirip pemain trapeze yang tak peduli lagi pada jaring pengaman setelah digunakan. Namun, akan kembali pada jaring pengaman saat dibutuhkan.

Mengapa hal ini terjadi?
Alasan utama dari sekian banyak alasan dari analisa dangkal saya adalah ketakutan untuk sendiri dari si pemain trapeze. Pemain trapeze ini tak benar-benar mengincar jaring pengaman. Akan tetapi, lebih cenderung mengincar ayunan. Fokusnya adalah mendapatkan perhatian dari ayunan. Saat tak mendapatkan perhatian dari ayunan, dia tahu akan sendirian. Dia gak sanggup untuk ditinggalkan ayunan sehingga lebih baik mencari jaring pengaman untuk menemani kesendiriannya.
Beberapa pemain trapeze yang merasa dibutuhkan oleh jaring pengaman, memanfaatkan jaring pengamannya sebaik mungkin. Pemain trapeze ini memahami bahwa ada seseorang yang akan bahagia saat pemain trapeze datang pada orang tersebut. Pemain trapeze ini memahami kelemahan jaring pengamannya yang sudi menerimanya kapan saja. Kapan saja si pemain trapeze ini tak dibutuhkan oleh ayunan, si jaring pengaman akan membuat si pemain trapeze dibutuhkan. Ujung-ujungnya, si pemain trapeze takkan pernah merasakan kesendirian. Tak diterima oleh ayunan, jaring pengaman pun akan menerimanya.

Beda saat si pemain trapeze tak punya jaring pengaman. Saat tak mendapatkan ayunan yang sangat dicintainya, dia akan terhempas deep down under ground. Terjebak dalam kesepian dimana tak ada seorang pun yang menemaninya. Dia tak sanggup untuk ini.
Anda boleh menyebut si pemain trapeze sebagai opportunist. Akan tetapi, saya takkan menyalahkan si pemain trapeze sepenuhnya. Saat ada orang-orang yang bersedia menjadi jaring pengaman, disanalah pemain trapeze berani berayun-ayun. Ini hanya masalah hukum permintaan dan penawaran. Ada orang yang meminta jaring pengaman dan ada orang yang menawarkan waktunya, tenaganya, dirinya, dan hatinya untuk jadi jaring pengaman. Klop kan?
Berminat menjadi pemain trapeze?
***
Penulis: Syafril Riza (Penulis, dosen, dan anggota Komunitas Penulis Kreatif)
Editor: JHK








