Doa untukmu Eril
Sebuah tulisan apik dari Heni Anggraeni untuk mengenang kepergian almarhum Emeril Khan Mumtadz, putra Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil
Doa untukmu Eril – Aku seorang ibu dari jutaan ibu yang mendoakanmu. Aku juga seorang ibu dari jutaan ibu yang merasakan hancurnya hati orang tuamu, saat kehilanganmu, padahal aku adalah bagian dari jutaan ibu yang tak pernah mengenalmu, tapi aku seperti jutaan ibu yang ingin tahu tentang keberadaanmu.
Sesaat setelah kamu menghilang di balik sungai, saat itu pula aku dan jutaan ibu mengurai asa, berdo’a penuh harapan, berharap kamu segera diketemukan dalam keadaan sehat, tanpa kekurangan suatu apapun.
Aku dan jutaan ibu, melihat senyum terpaksa dengan raut muka yang khawatir. Bersembunyi dibalik ketegaran orang tuamu hingga aku dan jutaan ibu lainnya tak bisa menahan air mata karena aku dan jutaan ibu diluar sana tahu bagaimana orang tuamu bergulat dengan duka yang terus menyesakkan dada, seperti sesaknya dada kami yang ikut merasakan bagaimana kedua orang tuamu begitu menanti, kapan kau kembali.

Aku juga tahu, papa dan mamamu ingin berteriak di balik hatinya yang hancur lebur, di tengah penantian yang dengan sabar mereka terus menunggu isyarat darimu. Entah isyarat apa pun itu agar mereka semua bisa tahu, di bagian sungai mana kamu tengah berada dan mengharapkan kamu berteriak sambil berkata, ”Papa, mama, adik, aku ada di sini.”
Sayangnya, tak ada isyarat apa pun darimu. Apalagi menampakkan diri, meski oleh isyarat dari sesuatu yang kamu pakai agar mereka yang mencarimu bisa mengerti ke arah mana mereka harus mencari, padahal papa, mama, dan juga adikmu, setia menunggumu di depan sungai sambil menata hati yang tengah rindu, seraya sesekali menatap arus sungai yang tak jua reda.
Saat itu aku dan jutaan ibu kembali menangis sambil mencoba bertanya, ”Mengapa sungai tak mau memberitahu di mana kamu berada?”
Sungguh betapa teririsnya hati ini, saat menyaksikan papamu bersandar di bahu pria yang mencoba menenangkannya, tanpa bisa berpura-pura menyembunyikan kesedihannya, walau tak ada air mata yang terjatuh. Namun, wajahnya isyaratkan rindu dan rasa pilu. Saat itu pula aku dan jutaan ibu menangis, menangis, dan menangis. Apalagi saat separuh badan papamu dibiarkan basah menyusuri tepian sungai dengan harapan bisa menemukanmu.
Aku dan jutaan ibu pun tahu bahwa hatinya begitu resah, rindu ingin sekali memelukmu dan saat itu pun aku dan jutaan ibu kembali menangis.
“Sungai, kembalikan Eril kepangkuan mereka, ” Itu doa kami.

Saat papa, mama, dan adikmu dengan ikhlas pulang tanpa dirimu. Saat pesan indah tertulis dengan rangkaian kata yang sempurna. Saat kamu dititipkan pada sungai sebagai makhluk Allah SWT agar kamu dijaganya, saat itu pula aku dan jutaan ibu lainnya kembali menangis. Sampai akhirnya, setelah empat belas hari menunggu lama, kamu muncul, walau dengan tubuh yang sudah terbujur kaku dan menampakkan diri pada seorang ibu.
Walau sedih dan berat, tetapi hati papa, mama, dan adikmu, serta semua orang terkasihmu sudah belajar ikhlas melepasmu. Aku dan jutaan ibu kembali menangis karena kami tahu keikhlasan dan ketegaran mereka adalah cara sayangnya mereka terhadapmu.
***
“Andai saat ini aku menulis dengan pena, mungkin sudah banyak huruf yang tak bisa kubaca karena selalu ada air mata yang ikut terlibat bersama rasa hingga memudarkan seluruh kata yang sudah kutulis, terkikis habis oleh tangis.”
“Andai saat itu, kau tidak mengawalku sampai ke tepian, mungkin kau tak akan pergi sendirian. Kita akan pergi bersama sama hingga kau tak kesepian. Namun, sungai lebih menginginkanmu dan Allah lebih menyayangimu, sebagaimana kamu yang tak menginginkan sesuatu terjadi padaku hingga kau antar aku sampai ke tepi dan kau pergi sendiri tak lagi kembali. Sampai di situ aku semakin paham dan mengerti, kakak yang seperti apa dirimu sehingga nyeri di dada ini semakin sakit Kak Eril.”
Mungkin itulah kata-kata yang diucapkan oleh adikmu dengan isaknya yang tertahan hingga sejuta kesedihan di hatinya, membuatnya seakan bungkam dalam nestapa hingga aku dan jutaan orang yang menyayangimu kembali menangis, masih dengan air mata yang tak berwarna, seperti halnya hati adikmu yang sejatinya masih belum siap untuk kehilanganmu, kakak yang baik hati dan penyayang.
***
“Aku harus siap tersakiti oleh rasa rindu yang setiap saat membelenggu. Aku juga harus siap bertahan oleh rasa kehilangan yang berkepanjangan. Tak ada sesal mencintaimu hingga ajal. Tak ada kecewa menyayangimu hingga akhir hayatmu. Yang aku sesali hanyalah seringnya aku cemburu saat kamu menyayangi sesama manusia, melebihi sayangmu padaku. Namun, ternyata semua itu adalah pesan yang terlambat kusadari bahwa sejatinya kebaikan yang telah kau lakukan membuat dirimu harum sepanjang masa.”
“Ril, selamanya kamu akan tetap menjadi pelangi di hati aku, sekali pun senja sudah tak nampak untuk menyambut hadirmu. Kamu telah memilih bahagia disisi-Nya, Allah Yang Maha Esa.”
Ungkapan hati itu, hanya secuil rasa yang aku wakili, dari ribuan rasa yang berkecamuk dalam diri orang terkasihmu, Nak Eril karena aku dan jutaan ibu yang menyayangimu tahu, seberapa banyak kata yang ingin diungkap, walau hanya disamping jenazahmu dia bisa mengadu. Aku dan jutaan ibu yang menyayangimu tahu apa yang dirasakan oleh orang-orang terkasihmu, hingga aku dan jutaan ibu lainnya kembali menangis.
***
Masih teringat saat jutaan orang menyambut kedatanganmu. Semesta pun ikut menangis dalam dekapan hujan yang membasahi, seakan turut mengucapkan terima kasih atas kebaikan yang kamu tebarkan, hingga banyak doa yang dipanjatkan untukmu.
Aku dan jutaan ibu bertanya, “Rahasia kebaikan apa yang kamu sembunyikan hingga doa tak berhenti dipanjatkan setiap hari dari seluruh pelosok negeri? Pada akhirnya kami tahu, kebaikan itu muncul satu persatu memperlihatkan siapa dirimu, Emeril Khan Mumtadz.”
Aku dan jutaan ibu bangga padamu dan kembali menangis dalam haru yang membiru.
***

“Hari ini, 25 Juni 2022 adalah hari ulang tahunmu. Mama bahagia telah melahirkanmu dan telah ikhlas melepas kepergianmu meski hanya 22 tahun, sebelas bulan dalam kenangan. Meskipun kau pergi saat mimpi baru dimulai, cita-cita baru hendak digapai. Namun sejatinya, cita-cita sesungguhnya sudah kau capai.”
“Nak, katakan pada mama agar jangan bersedih, walau itu hanya dalam sebuah mimpi. Karena akan ada saat dimana mama tak bisa berpura-pura yaitu saat rindu ingin memelukmu. Saat kata ingin menyapa. Saat kenangan manis tentangmu terasa mengoyak kalbu. Saat itu, air mata tak akan bisa lagi mama simpan, akan terjatuh perlahan lahan karena akan datang setiap saat rasa rindu yang rasanya begitu sakit Nak.”
Kembali aku dan jutaan ibu mencoba menerka isi hati mamamu walau dengan kata-kata yang tak sempurna. Namun, aku seorang ibu yang tahu dan merasakan orang tua mana yang siap ditinggal anaknya pergi hingga saat kedua orang tuamu tegar Nak Eril. Aku dan jutaan ibu kembali menangis karena kami tahu, remuk redamnya hati mereka Nak.
Hari ini, aku dan jutaan ibu, tepat dihari ulang tahunmu, turut sematkan doa untukmu Nak Eril. Semoga Allah SWT tempatkan dirimu ditempat terbaik-Nya. Amin ya rabbal alamin.
***
Judul: Doa untukmu Eril
Penulis: Heni Anggraeni
Editor: JHK
Profil penulis:
Heni Anggraeni saat ini bekerja sebagai karyawan di PT Perdana Firsta Garment. Sudah lama dia memiliki keinginan kuat untuk menjadi seorang pengarang. Meskipun usianya sudah bukan remaja, tetapi semangat menulisnya luar biasa. Sudah beberapa cerita pendek lahir dari tangan dinginnya.








