ArtikelPratama Media NewsReligi

Salat adalah Kunci Ketenangan

Oleh: Vicky Jmd Alipradja

Dalam alquran Surat Thohaa ayat 14 Allah berfirman:

أَنَا۠ فَٱعْبُدْنِى وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ لِذِكْرِىٓ

Arti terjemahannya, ”Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah salat untuk mengingat Aku”.

Makna ayat ini adalah, pertama Allah SWT mengaku bahwa Dia adalah satu-satunya Tuhan yang wajib disembah atau diibadahi.  Kedua, Allah memerintahkan kita untuk mendirikan salat sebagai tanda bahwa kita selalu ingat/eling/sadar sebagai hamba atau berzikir.

Mendirikan atau menegakkan salat, tidak hanya berarti mengerjakan saja. Sebab, selain dikerjakan, salat juga harus bisa direfleksikan dalam hidupnya, seperti tertuang dalam Firman Allah, Innasholata tanhaa ‘anilfahsyaa i wal munkar. Artinya, salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Ada kata fahsya di sini yang sering dikaitkan dengan perbuatan buruk, mengenai perkataan dan perilaku yang mendatangkan dosa atau maksiat, serta kata mungkar.

Menurut Muhammad Ali Ash-Shabuni dalam kitab tafsirnya (1997:220), munkar adalah perbuatan yang dilarang oleh syara’ (ajaran Islam) dan dianggap jelek oleh akal sehat, sedangkan menurut Al-Maraghi (2006:170), munkar adalah perbuatan yang diingkari oleh akal seperti rasa marah yang kuat, memukul, membunuh, dan bersikap congkak di hadapan orang lain.

Tidak menghargai pendapat dan tata cara ibadah orang lain yang berbeda, secara berlebihan sampai menimbulkan permusuhan dan perpecahan, merampas atau mengambil milik orang lain tanpa hak. Perbuatan ini sudah barang tentu semuanya ditolak oleh akal sehat dan tidak dibenarkan oleh agama. Inilah refleksi dari salat. Ada nilai-nilai kebaikan yang harus diterapkan dalam hidup.

Bisa disimpulkan bahwa salat itu bukan hanya serangkaian perbuatan dan ucapan yang dimulai dari takbiratul ihram sampai salam, tetapi ada refleksinya dengan hidup kita. Harus bisa mencegah dari fahsyaperbuatan dosa – dan mungkar – ingkar dari perintah Allah. Jadi harus aamanuu wa ‘amilushsholihat. Beriman dan beramal saleh kepada sesama dan semua makhluk. Sebab, kata iman yang secara bahasa adalah percaya sangat berkaitan erat dengan kata aman – tanpa ada yang mengganggu.

Selanjutnya akan timbul amanah yang berarti lurus menjaga apa yang dipercayakan, tidak menipu atau berkhianat kepada apa yang diamanatinya. Misalnya amanah dari Allah SWT, sebab agama Islam dan Alquran adalah amanah untuk umat muslim.

Juga amanah dari sesama manusia dan amanah dari alam. Sesungguhnya alam itu beramanah kepada kita agar kita tidak menggunduli hutan karena dampaknya bisa menimbukan banjir sehingga membahayakan manusia dan makhluk hidup lainnya.

Demikianlah jika kita kaji lebih mendalam tentang salat dan iman. Berat tidak berat untuk dilaksanakan, tetapi harus kita terapkan sehingga kita bisa menjadi bagian dari rahmatan lil’alamiin. Rahmat bagi seluruh alam semesta.

Banyak orang beranggapan hanya cukup dengan melaksanakan gerakan salat lima kali sehari, sudah bisa masuk surga. Hanya dengan melaksanakan yang syariat saja sesuai Alquran dan hadis, selesai sudah. Padahal dalam konsekwensi syariat adalah adanya amal saleh. Karena tadi,  setelah beriman, harus melakukan amal saleh atau berbuat baik.

Sering sekali kita temukan orang yang rajin salat, tetapi perlakuannya kepada manusia sangat buruk. Misalnya suka membuka aib orang, menyebarkan kebencian dan permusuhan, tidak melaksanakan hak pegawai dengan baik, menipu, berbohong, memitnah, tidak mau membayar hutang, dan tidak mau bersedekah.

Ilustrasi orang yang arogan. Bertindak arogan merupakan sebuah perbuatan yang tidak disukai Allah (sumber: httprelationship365.space)

Dalam tulisan saya tentang kehebatan sedekah, dikisahkan ada wanita yang rajin salat dan suaminya  sudah rida, tetapi tidak mau sedekah maka tempatnya di neraka. Ini kisah yang disadur dari Kitab Durratun Nasihin berdasarkan sebuah hadis.

Salat saja tidak cukup untuk mencapai surga. Kalau mau masuk surga harus ditunjang dengan refleksi amal saleh dalam hidup kita, terutama kepada sesama manusia. Hutang kita yang tidak dibayar di dunia akan ditagih di akhirat dan mungkin bayarannya diambil dari timbangan amal kebaikan kita, misalnya dari pahala salat. Kenapa ini bisa terjadi? Karena haqul adami atau kewajiban antar sesama manusia tidak dituntaskan di dunia.

Salah satu perbuatan baik seorang muslim adalah bersedekah (sumber: Freepik.com)

Inilah refleksi dari iman, dari syahadat. Kita percaya bahwa hidup itu dua kali. Pertama, hidup di dunia untuk berbuat amal. Kedua, hidup di akhirat untuk menuai amal. Perbuatan berupa amal kebaikan yang kita lakukan di dunia ini akan menghasilkan pahala dan kenikmatan. Sementara amal buruk akan menghasilkan dosa dan siksaan.

Salat dan Zikir

Zikir berasal dari kata zakaro yang artinya ingat – sadar terhadap sesuatu. Ketika mendengar suara azan, kita teringat atau tersadar untuk melaksanakan salat. Orang yang masih mempunyai iman akan terpanggil untuk melaksanakannya. Misalnya saat melihat kalender, kita teringat dengan cicilan bulan ini yang harus dibayar. Inilah zikir secara bahasa.

Dalam ajaran Islam terdapat beberapa hal tentang zikir. Pertama, zikir bilqolbi yaitu zikir di dalam kalbu atau pikiran terdalam. Ini adalah zikir yang tidak dilisankan – mulut tidak beraktifitas atau bergerak, tetapi jiwa yang beraktifitas menyebut atau memanggil nama/asma Alloh. Jika dilakukan secara pasrah dan ikhlas,  serta menyerahkan diri secara sesungguhnya maka akan terwujud ketenangan (tathmainnul qulubu).

Ilustrasi zikir (sumber: gomuslim.co.id)

Zikir dengan hati erat juga berkaitan dengan kesadaran (awareness) terhadap perbuatan baik dan buruk. Contoh ketika kita dihadapkan kepada pilihan yang berkaitan dengan jabatan kita, apakah kita mau melakukan korupsi atau tidak, melakukan pungli atau tidak, dan sebagainya. Itulah fungsi zikir. Sadar dengan prilaku kita, apakah akan memilih perbuatan yang baik atau buruk.

Kedua, zikir bilisan atau melalui ucapan yatu mulut melafazkan kalimat thoyibah, seperti istighfar, subhanalloh, hamdalah, tahlil, takbir, atau salawat. Ini adalah pekerjaan atau aktivitas mulut, tetapi harus disertai kesadaran hati. Jika hanya mulut yang bergerak, kalimat keluar, tapi hati tidak sadar, mungkin itu hanya sekedar bergumam – kata-kata yang diucapkan tanpa sadar.

Ketiga, berzikir dengan tindakan atau action. Salat adalah bentuk zikir dengan tindakan. Salat bukan hanya sekedar gerakan, tetapi dengan lisan dan hati. Selain salat perbuatan baik/amal saleh yang dilakukan dengan kesadaran kepada perintah Allah, juga termasuk zikir. Berbakti kepada orang tua dengan didasari sadar bahwa itu perintah Allah, itu juga berzikir atau hal sejenisnya.

Salat dan Ketenangan

Sebagaimana sudah dijelaskan di atas bahwa mendirikan salat adalah bentuk zikir atau eling/sadar kepada Allah. Sementara yang sadar/zikir kepada Allah akan menimbulkan ketenangan (tathmainnul qulub). Zikir seperti apa yang akan menimbulkan ketenangan dan seperti apa wujudnya?

Ada rumusan ketenangan dalam Alquran yaitu walaa khoufun ‘alaihim walaahum yahzanuun. Tidak ada ketakutan dan kecemasan dalam diri mereka menghadapi masa depan atau kehidupan. Manusia seringkali dihinggapi dengan ketakutan dan kecemasan dalam menghadapi kehidupan. Takut tidak makan, takut tidak mempunyai uang, stress atau depresi dengan kenyataan yang dihadapi, dan sebagainya.

Salat membuat jiwa menjadi tenang (sumber muslimvillage.com)

Memang salat tidak langsung menghasilkan beras atau uang, tetapi dengan ketenangan banyak masalah bisa diselesaikan. Jiwa yang tenang bisa menimbulkan pikiran dan perasaan jiwa  cerah dan jernih dalam melihat masalah. Bahkan, bisa merumuskan kembali yang jadi masalah serta solusinya. Jiwa tenang banyak menimbulkan ide-ide positif yang solutif.

Salat yang tenang adalah yang tidak tergesa-gesa seperti mengejar target waktu sehingga tidak sadar dengan apa yang dibaca dan diperbuatnya. Salatnya seperti otomatis dan tanpa makna yang penting kewajiban terpenuhi. Ini mungkin salat mirip robot yang mampu mengerjakan, tetapi tidak tahu atau tidak sadar dengan apa yang dilakukan. Makna sadar/zikirnya berkurang sehingga tidak khusyu.

Salat yang khusyu adalah salat yang dilakukan dengan ikhlas dan pasrah kepada yang mengatur hidup. Dengan kepasrahan kepada Allah adalah kekuatan jiwa tertinggi manusia.

Kepasrahan dan melepaskan diri secara mendalam terhadap ketakutan dan angan-angan kehidupan akan menimbulkan gelombang pikiran rendah pada tingkat theta sehingga kelenjar pembawa pesan kebahagiaan di otak (three happy massanger) seperti serotonin, dhopamin dan noradrenalin mengeluarkan hormon ketenangan. Pikiran dan jiwa berkaitan erat, ketika kelenjar mengeluarkan hormon ketenangan, jiwa menjadi tenang.

Salatlah dengan tenang dan tidak tergesa-gesa. Lakukan dengan penuh perasaan dan kepasrahan karena hanya orang yang ikhlas yang tidak akan terkena godaan Iblis. Sesuai janji Iblis kepada Allah, “Sungguh akan Aku goda Adam dan keturunannya dari depan dan belakang, illaa min ‘ibadikash sholihin, kecuali hamba Allah yang ikhlas.”

***

Keterangan:
Penulis adalah pemerhati budaya, sejarah, pendidikan, terapis,  dan spiritualis

Editor: JHK

Artikel Berkaitan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button