Geliat Pelukis di Selasar Seni Kota Cimahi
Ajang seni para pelukis ini juga menjadi sarana penting dalam bersilaturahim antar sesama seniman
Geliat Pelukis di Selasar Seni Kota Cimahi – Dua tahun pandemi menghantam, Indonesia termasuk negara yang agak terlambat untuk bisa masuk ke kancah new world. Beberapa negara Eropa, Amerika juga Asia sudah lebih dulu membuka sabuk pengaman.
Kebijakan taat prokes sudah dilonggarkan. Kerumunan mulai muncul di sana-sini, walau tidak secepat negara lain. Indonesia akhirnya bisa menghirup udara bebas saat libur lebaran tahun ini. Arus mudik dan balik kembali hiruk pikuk. Pun memasuki masa libur sekolah, para orang tua sudah tidak takut lagi memilih tujuan wisata untuk menghibur anak-anak mendapatkan penyegaran usai setahun penat di sekolah.
Pusat-pusat keramaian mulai terisi pun juga alun alun atau pusat kota. Cimahi tempat penulis tinggal saat ini termasuk yang bergairah menyongsong dibukanya keran lock down. Selain kota yang aktif dalam dunia niaga, kota ini juga menyimpan banyak potensi aktif di bidang kebudayaan.

Banyak talenta yang muncul dan diakui di tingkat nasional hingga ke mancanegara. Dunia melukis di antaranya. Kesenian melukis sudah lama dikenal di Cimahi. Penulis sendiri pun mengenal dunia ini karena kebetulan pernah menjadi tetangga seberang rumah, seorang Pelukis Naga yang sudah senior saat ini yaitu Pak Priyadi.
Ya, saat penulis masih kelas tiga SD, pernah tidak sengaja masuk ke studio Pak Priyadi. Di situlah cita cita penulis bertambah, tidak hanya menjadi dokter dan penulis, tapi juga pelukis. Sayang untuk jadi dokter seperti harapan sang ibu, penulis tidak kesampaian karena waktu SMA terpaksa mengambil jurusan ilmu sosial karena terbentur nilai lima pada mata pelajaran kimia dua semester berturut-turut.

Beruntung saat ini penulis sudah merasakan jadi wartawan (dulu Tintin adalah idola masa kecil) juga masih aktif menulis dan untuk melukis masih dilakukan bersama anak-anak penulis.
Kembali ke Kota Cimahi, penulis beruntung diundang oleh Forkis (Forum Pelukis) Cimahi yang telah lama berdiri di kota ini untuk hadir di acara melukis on the spot bertempat di Taman Alun-alun Kota Cimahi pada Minggu (29/5/2022) kemarin.
Acara yang digelar dari pukul delapan pagi hingga sore itu menghadirkan puluhan seniman pelukis yang tergabung dalam Forkis, juga pelukis dari daerah lainnya seperti Kota Bandung dan Kabupaten Bandung Barat. Selasar Seni dimaksudkan penulis sebagai arena, tempat luas di luar bangunan yang memiliki akses bagi publik untuk ikut terlibat.



Pemilihan taman alun-alun sebagai lokasi kegiatan yang digelar mandiri ini rupanya cukup berhasil dan semarak. Ya alun-alun yang telah dipercantik dengan tugu nol kilometer menjadi tempat yang cocok bisa diakses oleh warga Kota Cimahi untuk sekedar berjalan-jalan melemaskan kaki usai dua tahun menahan diri untuk tidak sembarang keluar rumah.
Selasar Seni bisa digelar di mana saja, tanpa memerlukan perijinan yang rumit pun akomodasi yang sulit. Cukup datang dan kita bisa melakukan aktivitas seni yang dipilih, pun kegiatan lain yang disenangi. Syaratnya cukup mudah, ada tempat cukup luas, akses jalan yang mudah, juga terbuka dan ramah lingkungan.
Taman Alun-alun Kota Cimahi menurut penulis cocok untuk dijadikan selasar seni. Bersyukur agenda melukis on the Spot yang rencananya akan digelar setiap bulan sekali sudah mendapat tanggapan positif dari Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disbudparpora) Kota Cimahi, Budi Raharja. Beliau sangat mengapresiasi kegiatan mandiri yang dilakukan oleh para pelukis tersebut.
Penulis yang walaupun datang pada tengah hari dengan bersepeda dari rumah bisa ikut merasakan kegembiraan yang dihadirkan para pelukis. Beberapa sepeda ontel terparkir di tengah lapangan, seorang model cantik, Silvana Citra Maharani (artis penyanyi, penari, dan juga pembawa acara) dihadirkan untuk menjadi obyek lukisan yang menarik. Bahkan, beberapa pelukis anak terlibat juga di situ. Mereka tak ragu menyatukan luasnya dengan warna-warna yang berani.

Ajang seni para pelukis ini juga menjadi sarana penting dalam bersilaturahim antar sesama seniman. Penulis yang baru bergabung beberapa hari di Forkis, tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Empat seniman senior berbincang banyak dengan penulis dalam suasana yang akrab dan hangat. Mereka adalah Bahar Malaka, Soni Sanjaya, Jumari Haryadi, dan Vicky Alipraja.
Menarik berdiskusi dengan para seniman yang memang unik dan otentik. Penulis belajar banyak dari mereka. Beruntung percakapan terakhir berlangsung seru dengan pelukis eksentrik Bahar Malaka dengan menggunakan Bahasa Inggris. Dipandu Kang Sony, percakapan kami mengalir lancar mengiringi gairah semangat yang jadi hari itu dalam aktivitas kesenian.
Kang Bahar menyiratkan mestakung semesta mendukung, dengan cuaca yang bersahabat, sinar mentari yang romantis membelai hangat di antara dedaunan pohon-pohon besar di sekeliling alun-alun. Penulis juga menyampaikan keinginannya jika acara seperti ini bisa digelar rutin dimana saja. Bisa jadi tidak hanya melukis, bisa bermain musik, teater, pembacaan sajak dan puisi, juga lainnya di ruang publik.
Yuk mari kita geliatkan Kota Cimahi sebagai kota yang berbudaya dan agamis dengan kegiatan kesenian yang mencerahkan dan memberi alternatif bagi publik dalam beraktivitas di luar rumah. Tetap jaga prokes.
Imas Nurhayati, Cimahi 020622@1105.
***
Judul: Geliat Pelukis di Selasar Seni Kota Cimahi
Penulis: Imas Nurhayati
Editor: JHK
Sekilas Penulis

Imas Nurhayati (45) penulis dengan dua anak. Lulusan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran (Fikom Unpad) Bandung. Dia pernah dua tahun menjadi wartawan, terakhir di TEMPO. Juga aktif sebagai anggota Perhimpunan Amatir Foto (PAF) Bandung.
Penulis yang memiliki hobi mengambil menggambar ini cukup lama berkecimpung di dunia aktivis lingkungan. Terakhir dia bekerja sebagai editor publikasi Greenpeace Indonesia. Usai bercerai dengan mantan suaminya, saat ini ia tinggal dengan dua anaknya di Kota Cimahi.








