Berita (News)Seni dan Budaya

10 Perupa DKKC Gelar Karya Bersama di Pendopo DPRD Cimahi

Pratamamedia.com, Cimahi Masih dalam rangka ikut mendukung acara Festival Air 2020, 10 perupa Kota Cimahi yang terdiri dari Achmad Kusnadi alias Encus Kusumah, Agus Hamdani, Bahar Malaka, Deden Maulana, Hamdani, Kefri Yos, Moh. Sobirin, Nur Libiana Ma’ruf, Simon, dan Syahriel Fathah beraksi bersama menuntaskan karya lukis yang pernah mereka buat di Rumah Kreasi Cimahi seminggu lalu (Sabtu, 10/10/20). Kali ini mereka melakukan proses finishing lukisan di Pendopo DPRD Kota Cimahi, Jalan Dra Hj. Djulaeha Karmita No.5, Kota Cimahi. Hasilnya, karya mereka terlihat semakin indah dan sempurna.

Acara yang berlangsung sejak pukul 09.00 WIB hingga 11.00 WIB tersebut merupakan rangkaian dari Festival Air 2020 yang mendapat support dari Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Kepemudaan, dan Olahraga (Disbudparpora) Kota Cimahi dan Bidang Kebudayaan Direktorat Jenderal (Ditjen) Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) Republik Indonesia. Semuanya berjalan sesuai rencana dan berjalan lancara dan sukses. Beberapa media ikut meliput kegiatan melukis bersama on the spot tersebut. Para perupa terlihat begitu antusias menyelesaikan karya mereka.

Daftar 10 peserta melukis bersama di Pendopo DPRD Kota Cimahi pada Minggu, 18 Oktober 2020 (Sumber: J.Haryadi)

Setiap Karya Lukisan Mempunyai Makna

Sepuluh perupa yang hadir di Pendopo DPRD Kota Cimahi merupakan seniman yang tergabung di Komite Seni Rupa Dewan Kebudayaan Kota Cimahi (KSR-DKKC).  Ketua KSR-DKKC, Deden Maulana yang juga Dosen FDKV Universitas Widyatama sangat bangga melihat kekompakan rekan-rekannya. Dia berharap kebersamaan ini terus berlanjut sehingga seniman Cimahi semakin produktif melahirkn karya-karya baru, meskipun kondisi negara saat ini masih di bawah bayang-bayang pandemi covid-19.

Pendopo DPRD Kota Cimahi tempat berlangsungnya melukis bersama para seniman KSR-DKKC (sumber: J.Haryadi)

“Demi menjaga kesehatan bersama dari wabah pandemi covid-19, kami melukis bersama di tempat terbuka, seperti di Pendopo DPRD Kota Cimahi ini. Namun, kegiatan ini tertutup untuk umum, kecuali panitia, awak media, dan undangan terbatas. Meskipun demikian, kami tetap semangat untuk sukseskan Festival Air 2020,” jelas Deden sambil sesekali menyapukan kuasnya ke atas kanvas.

Lukisan karya Deden Maulana (sumber: J.Haryadi)

Dalam kesempatan tersebut Deden melukis dengan pendekatan dekoratif abstaksi untuk bisa mewakili menjerjemahkan tentang fenomena air. Deden juga mencoba mengimplementasikannya dengan pendekatan dekoratif ekspresif.

“Kenapa dekoratif? Barangkali kedekatan diri saya untuk hal-hal yang sifatnya estetika, penyusunan sebuah komposisipada medium kanvas. Lalu saya berikan tekstur-tekstur untuk menegaskan daripada komposisi itu agar memberi nilai harmoni yang didukung oleh warna, oleh sapuan, dan noktah-noktah yang sifatnya tekstur dengan bahan silikon,” ujar Deden menjelaskan konsepnya berkarya.

Alasan Deden memilih tema “dekoratif abstraksi”, menurutnya supaya adanya keragaman dalam bidang gaya-gaya seni rupa, khususnya seni lukis. Dia mencoba untuk memberikan hal-hal yang sifatnya bukan baru, tetapi menjadi satu alternatif dalam berkarya dalam bidang seni rupa khususnya seni lukis.

“Dalam mengekspresikan sesuatu tentang sebuah gagasan atau pikiran, setiap perupa silahkan bebas saja. Cuma sebaiknya bebeapa fundamental yang harus tetap dijaga, terutama tentang bagaimana menggunakan komposisi, bagaimana menggunakan warna, bagaimana menggunakan tekstur, bagaiman melihat format bidang sehingga dalam ruang tersebut akan terjadi sesuatu yang dianggap bisa harmoni secara keseluruhan,” pungkas Deden.

Lukisan karya Agus Hamdani (sumber: J.Haryadi)

Perupa lainnya, Agus Hamdani yang juga Ketua Forum Pelukis (Forkis) Cimahi justru melukis dengan gaya yang berbeda. Gambar tiga wanita cantik yang tengah membawa kendi berisi air cukup menggelitik untuk dikupas maknanya.

“Ini melambangkan bahwa setiap daerah mempunyai kekhasan adat budayanya, termasuk dalam hal ini adalah air sebagai sumber kehidupan. Hidup adalah air. Air adalah hidup. Kalau tidak ada air, tidak ada kehidupan,” ujar Agus Hamdani menjelaskan konsep karyanya.

Agus menambahkan, karya lukisnya bahwa ada simbolisasi dari tiga orang gadis yang lagi membawa bejana berisi air. Tujuannya agar air itu anntinya disatukan.

“Tiga gadis mewakili tiga wilayah yang ada di Cimahi yaitu Cimahi Utara, Cimahi Tengah, dan Cimahi Selatan. Gadis yang elok dan cantik itu juga mencerminkan ibu pertiwi yang menjadi incaran negara-negara lain. Oleh karena itu kita harus mau menjaga dan merawatnya dengan baik,” tutur Agus.

Menurut Agus, setiap kecamatan di Kota Cimahi mempunyai wadah inspirasi yang disatukan dalam satu kesatuan yaitu Kota Cimahi. Konsep dan aspirasi semuanya harus disatukan, tidak bisa terpisah.

“Dalam lukisan ini ada aneka warna yang melekat pada selendang para gadis pembawa bejana. Ada warna merah, hijau dan biru yang melambangkan perbedaan di setiap kecamatan. Namun, semua keanekaragaman itu justru menjadi warna yang indah dan jika dipadukan bisa menjadi sebuah kekuatan,” ujar Agus berfilosofis.

Sementara itu Achmad Kusnadi alias Encus Kusumah atau akrab disapa Kang Encus melukis dengan judul “Mahkota Air Dalam Kehidupan”. Menurut pemilik Studio & Gallery “CUS Eruption’s” ini, makna yang tersirat dalam lukisan itu adalah air itu sangat bermanfaat sekali bagi kehidupan yang ada di bumi ini, seperti manusia, hewan, dan tumbuhan.

Kang Encus Kusumah dengan karyanya (sumber: J.Haryadi)

“Air itu sendiri melambangkan kesucian, kenyamanan, ketenangan, dan lain-lainnya. Melalui gambar yang saya tuangkan melalui media kanvas itu, saya sengaja mengarah ke ekspresi terhadapa air. Ekspresi di sini dalam arti ungkapan dari para pelaku seni itu sendiri terhadap makna air dalam kehidupan. Air harus dijaga kelestariannya karena semua makhluk hidup membutuhkannya,” ungkap Kang Encus.

Menariknya, di antara 10 perupa yang berkarya bersama tersebut terdapat satu-satunya perupa wanita yaitu Nur Libiana Ma’ruf atau akrab disapa Bunda Nur. Founder Rumah Kreasi Cimahi ini ikut melukis dengan konsep warna serba hitam dengan judul “Hutan Larangan Kampung Adat Cirendeu”. Dalam lukisan tersebut terdapat sebuah mata air yang diapit duah buah patung di dalam sebuah hutan yang lebat, yaitu Patung Ganesha dan Patung Putri Ende.

Lukisan karya Bunda Nur (sumber: J.Haryadi)

“Kalau yang lain bicara soal airnya, tapi saya bicara bagaimana air itu agar tetap ada yaitu dengan memelihara keberadaan hutan larangan itu sendiri. Bahkan kalau perlu itu dikaitkan dengan pendidikan. Salah satunya seperti sekolah yang ada ospeknya. Saya ingin opspek itu sekarang ‘one tree one student. Jadi anak harus menanam satu pohon dan memeliharanya sampai ia lulus. Minimal diterapkan pada lahan-lahan yang tidak produktif, supaya ketersediaan air untuk Cimahi tetap terjaga,” urai Bunda Nur serius.

Bunda Nur mempertanyaan makna Cimahi kalau tidak ada airnya. Hal itu menjadi sesuatu yang menurutnya kronis kalau itu sampai terjadi dan mungkin saja Cimahi perlu ganti nama nantinya.

“Banyak orang yang berpikir fungsi air atau manfaat air, tapi saya hanya ingin berpikir bagaimana agar air itu tetap ada,” jelas Bunda Nur.

Berkaitan dengan warna lukisannya yang berwarna hitam, Bunda Nur menjelaskan bahwa hitam itu dipilih untuk menguatkan keberadaan tempat itu sendiri karena tempat itu belum diketahui orang, terutama warga Cimahi. Bukan berarti tempat tersebut dirahasiakan.

“Bukan dirahasiakan, tetapi orang Cimahi banyak yang tidak tahu. Hitam itu simbol tidak diketahui atau misteri. Warna hitam itu untuk menampilkan misterinya dan hutan larangan itu mungkin ada konotasi untuk menjaga supaya orang juga tidak sembarangan bersikap terhadap lingkungan yang memang harus dilestarikan,” ungkap Bunda Nur.

Bahar Malaka dan lukisannya (sumber: J.Haryadi)

Pelukis eksentrik Bahar Malaka pun turut berekspresi dengan kanvasnya. Dengan rambutnya yang gimbal berguntai, peria kharismatik ini melukis dengan gaya surealis. Lukisan yang menggambarkan seorang pria gendut (bos) sedang menikmati air dalam sebuah kolam berbentuk love. Sementara itu di bawahnya terdapat urang yang betubuh kurus dan lusuh sedang menanti tetesan air yang jatuh dari kolam pemandian tersebut. Sisi kiri lukisan terdapat sehelai gorden teater yang bisa dibuka dan ditutup kapan saja.

“Pemandangan yang sering kita jumpai dalam keseharian yaitu kesenjangan sosial sehingga kita ini tidak menjadi jengah dan kaget. Menjadi sesuatu yang biasa, padahal ini sesungguhnya tidak benar. Kondisi ini miris, tapi ini adalah kehidupan dimana yang kuat itu pasti akan mengonsumsi yang lebih lemah. Semacam hukum rimba,” ujar Bahar menjelaskan makna karya lukisannya kepada awak Pratama Media News.

Menurut Bahar, Kehidupan di Indonesia ini sudah seperti sinetron, banyak adegan teaterikal. Kolam renang berbentuk love tersebut merupakan simbol kasih atau cinta. Para aktor kehidupan itu memberikan senyum dan memberikan harapan palsu kepada masyarakat ketika ada momen-momen tertentu.

“Ada saat ketika para aktor kehidupan itu tersenyum dan memberikan hal-hal yang positif, dibuka gordennya dengan teori kasihnya itu. Mereka mengundang media untuk mengekspos kedermawanannya dan di sisi lain kemasan yang akan diberikan kepada masyarakat diberi label sebagai bentuk eksistensinya. Namun ketika naluri hewannya keluar, dia tutup gordennya sehingga kebusukannya tidak terlihat oleh siapapun,” ujar Bahar Malaka prihatin.

Pelukis berikutnya yang sempat menjelaskan makna lukisannya kepada Pratama Media News adalah Moh. Sobirin. Pelukis kelahiran Cirebon dan alumni Fakultas Seni Rupa ITB ini melukis dengan tema “Air Limbah” dengan alasan karena di Cimahi itu banyak industri yang membuang limbahnya ke sungai.

Lukisan karya Moh. Sobirin (sumber: J.Haryadi)

Menurut Sobirin, sudah seharusnya perusahaan industri tersebut menerapkan Wastewater Treatment Plant atau yang lebih dikenal dengan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) – merupakan struktur yang dirancang khusus untuk membuang limbah industri, baik biologis maupun kimiawi dari air.  Tanpa menerapkan IPAL maka air tidak memenuhi syarat untuk dibuang ke aliran sungai.

“Ditemukan di sungai-sungai itu airnya masih berwarna, baik dari industri tekstil, industri baja, dan sebagainya. Bahkan, ada juga orang membuang sampah sembarangan, misalnya industri perumahan seperti bekas oli. Tentu hal tersebut dapat membahayan masyarakat di sekitar aliran air. Jadi tema yang saya usung itu air limbah,” ujar Sobirin.

Limbah itu ibarat lelehan air yang tidak jernih sedangkan background lukisan berwarna merah merupakan simbul berbahaya.

“Jadi, efek dari limbah itu akan berbahaya,” pungkas Sobirin.

Perupa beraliran realis, Hamdani yang juga mantan Ketua Forkis pada kesempatan ini berkenan juga menjelaskan seputar karya lukis yang dibuatnya.

Lukisan karya Hamdani (sumber: J.Haryadi)

“Kenapa saya menciptakan lukisan temanya air, tapi dengan objek utamanya adalah tanaman Janda Bolong. Karena sebelum berkarya, saya melakukan survei pasar dulu dan ternyata saat ini yang sedang digandrungi masyarakat adalah tanaman Janda Bolong. Saya berharap dengan melukis sesuai selera pasar, mudah-mudahan lukisan saya mudah diapesiasi oleh penikmat seni dan bisa mudah terjual,” ujar Hamdani terus terang.

Dalam lukisan tersebut, Hamdani menampilkan warna-warna kontras yang ceria. Menurutnya, itu melambangkan pikiran yang senang dan tidak terbelenggu oleh apapun.

“Apa yang kita punya kita tampilkan. Biru adalah harapan agar semua penikmat seni menyukai karya kita dan mau membelinya, sedangkan warna coklat melambangkan wibawa dalam berkarya. Kita semua di DKKC ini punya wibawa untuk berkarya, terutama pribadi pribadi kita sendiri harus punya wibawa,” jelas Hamdani kepada awak Pratama Media News.

Karya Kefri Yos, Syahriel, dan Simon (sumber: J.Haryadi)

Karya Seniman Cimahi Mampu Bersaing

Terakhir yang diwawancarai awak Pratama Media News adalah Hermana HMT, S.Sn.Founder  Bandoengmooi yang juga Ketua Dewan Kebudayaan Kota Cimahi (DKKC).

“Pada hari ini adalah rangkaian dari Festival Air 2020 yang semula sudah dilaksanakan adalah seni pertunjukan, kemudian berlanjut dengan melukis bersama dan pameran seni rupa yang dilaksanakan sejak kemarin tanggal 10 Oktober 2020 dan hari ini tanggal 18 Oktober 2020. Insya Allah hasil kegiatan ini akan dipamerkan pada tanggal 25 Oktober 2020 pada acara ‘Ngalokat Cai’ di Plasa Rakyat Cimahi,” ujar Hermana menjelaskan.

Hermana berpandangan bahwa seni rupa memang erat kaitannya dengan air. Sejak Zaman Renaissance media air itu sudah menjadi bagian penting dalam perkembangan seni rupa di dunia. Terbukti dengan munculnya cat air sebagai bahan untuk melukis. Jadi, air menjadi kebutuhan utama dari seni lukis.

Hermana HMT, founder Bandoengmooi dan Ketua DKKC (sumber: J.Haryadi)

“Secara simbolis, air digunakan untuk simbol-simbol kekaryaan dimana di sana juga melambangkan keheningan, ketenangan, dan keindahan. Di sini kita bisa lihat dimana karya-karya muncul simbol-simbol, misalnya karya pak Hamdani, Bunda Nur, dengan karya realisnya dan Yos dengan ekpresionismenya tentang air yang menjadi rebutan manusia,” urai Hermana.

Hermana juga menyoroti karya Bahar malaka yang melukis seseorang bos sedang mandi di kolam susu di atas cangkir besar, sementara itu orang yang di bawahnya hanya menunggu tetesan-tetesan air yang sangat kecil. Menurutnya simbol-simbol itu sangat kuat. Simbol air melambangkan kehidupan.

“Makanya seni rupa dan air itu betul-betul suatu satu kesatuan. Dalam seni itu tidk terpisahkan, baik untuk simbol maupun dalam bentuk secara material sangat dibutuhkan,” Ujar Hermana.

Sehubungan dengan kualitas karya para seniman Cimahi, Hermana berpendapat bahwa karya mereka bisa bersaing dengan seniman-seniman lainnya, bukan hanya di Jawa Barat, tapi juga di Indonesia. Bahkan, bisa disejajarkan dengan seniman dunia.

“Karena seniman-seniman Cimahi kalau dikompetisikan itu selalu masuk nominasi. Misalnya kemarin ada kawan kita yang di seni rupa, masuk tiga besar pembuat topeng nusantara. Itu kan artinya punya nilai cukup diperhitungkan dalam tingkat nasional,” papar Hermana bangga.

Hal yang tak kalah pentingnya menurut Hermana adalah membantu mengekspos para seniman tersebut agar karya-karyanya lebih dikenal luas oleh masyarakat. Dengan demikian orang lain bisa menikmati karya mereka dan bisa terjual.

“Namun, ada juga seniman yang secara mandiri sudah memiliki kolektor dan pasar tersendiri sehingga karyanya sudah dipastikan ada pembelinya. Melalui DKKC mudah-mudahan ke depannya karya para seniman Cimahi lebih terekspos lagi dan apresiasinya lebih banyak lagi,” harap Ketua DKKC ini dengan penuh optimis.

Berkaitan dengan even kirab budaya “Ngarak Cai” yang akan diselenggarakan pada 24 Oktober 2020 nanti, Hermana menganjurkan kepada masyarakat Cimahi yang ingin menyaksikan kegiatan tersebut bisa menyaksikannya di kelurahan terdekat dengan mematuhi standar protokol kesehatan.

“Jadi, ada kegiatan-kegiatan yang dilakukan di 15 kelurahan yaitu tanggal 24 Oktober 2020. Itu kirab Ngarak Cai. Nah, nanti air yang dikirabkan itu, besoknya pada tanggal 25 Oktober 2020 dibawa oleh lurah-lurah untuk disatukan dalam acara Ngalokat Cai. Penyatuan air ini dilakukan di Plasa Rakyat Cimahi yang menunjukkan bahwa kita adalah satu wilayah, satu kota, dan satu tanah air,” ujar Hermana panjang lebar.

Hermana mengajak masyrakat Cimahi untuk sama-sama menjaga tanah, menjaga air, dan menjaga budaya.

“Mudah-mudahan nanti Bapak Walikota Cimahi berkenan hadir karena Walikota akan menjadi pelaku dalam acara Ngalokat Cai. Air yang berasala dari kelurahan itu akan ditampung dalam tiga wadah, itu lambang tiga kecamatan. Nanti Walikota menyiramkan air yang dibawa itu ke pohon sebagai simbol bahwa pemerintah kota itu menaungi, menyejukkan, memberi kemakmuran untuk masyarakatnya,” pungkas Hermana.

***

(JHK)

Artikel Berkaitan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button