Sopi, Jadi Penyanyi Dangdut Demi Membantu Kedua Orang Tuanya
Selain mampu bernyanyi, cucu seorang pesinden ini ternyata mampu juga menari jaipong
Sopi, Jadi Penyanyi Dangdut Demi Membantu Kedua Orang Tuanya – Wanita bernama lengkap Rukmini Ardiani atau biasa di sapa Sopi ini menjadi seorang artis penyanyi dangdut bukan karena cita-citanya, melainkan karena ingin membantu kedua orang tuanya. Maklum, ia dilahirkan dari keluarga sederhana yang setiap hari banting tulang demi menafkahi keluarganya.
Saat itu Sopie remaja sering sekali ditinggal pergi kedua orang tuanya bekerja mencari nafkah. Terkadang ia terpaksa tidak masuk sekolah karena harus menjaga adik-adiknya. Akibatnya sekolahnya pun jadi berantakan dan hanya bertahan sampai kelas dua di sebuah Sekolah Menengah Pertama (SMP) PGRI di Kota Cimahi.
“Mamah dan papah kerja. Sopi punya adik banyak. Jadi, Sopi fokus ngurusin adik-adik sehingga sekolah jadi terbengkalai,” ungkap Sopi menceritakan masa lalunya.

Setelah keluar SMP, Sopi berusaha membantu perekonomian keluarganya dengan bekerja sebagai buruh pabrik pembuatan kripik. Gajinya cukup lumayan untuk menambah penghasilan keluarganya.
Dalam perjalanan hidupnya yang penuh warna, Sopi sempat menjadi penari jaipong. Keterampilan menari ini menurun dari ibunya yang merupakan seorang seniman tari jaipong. Bahkan, Nenek buyutnya adalah seorang sinden yang cukup ternama di kampungnya.
Setelah menjadi penari jaipong, Sopi beralih profesi menjadi artis penyanyi dangdut. Profesi tersebut dijalaninya secara tidak sengaja.
“Awal mulanya jadi penyanyi, kalau ada acara hajatan, iseng-iseng nyumbang lagu karena Sopi memang hobi menyanyi. Terus akhirnya Sopi jadi tertarik dengan dunia musik. Kemudian ada tawaran dari para pemain keyboard untuk menjadi penyanyi. Sopi pikir kayaknya asyik juga jadi penyanyi. Alhamdulillah tak terasa sudah empat tahun Sopi jalani,” ungkap Sopie menjelaskan kisah awal perjalanan karirnya di dunia hiburan.
Sofie sempat merasa lelah dan jenuh bernyanyi ke sana sini, karena penghasilannya bernyanyi tidak menentu, belum bisa mencukupi kehidupan keluarganya. Sebagai seorang wanita single parent, ia harus menafkahi seorang anaknya yang sebentar lagi memasuki usia sekolah.
“Jika dibandingkan dengan profesi menyanyi, lebih baik penghasilan waktu Sopi masih bekerja sebagai buruh pabrik deh,” ungkap Sopi jujur.
Apalagi sejak terjadinya wabah pandemi covid-19 yang membuat kehidupan para seniman terpuruk. Sopi sempat merasakan bagaimana susahnya untuk mendapatkan job. Aturan pemerintah yang membatasi kegiatan masyarakat dan melarang berkumpul membuat para seniman kehilangan pekerjaan, padahal sebelumnya ketika kondisi masih normal, ia sering sekali mendapatkan tawaran manggung. Bahkan, dalam seminggu bisa empat kali tampil di berbagai acara yang berbeda.

Honor yang diterima Sopi pun semula relatif lumayan untuk dipakai menghidupi keluarganya. Tarif manggungnya jika diundang pada acara hajatan di gedung sekitar Rp 250.000- 300.000. Bisanya ia tampil berdua dengan penyanyi lainnya selama empat jam (pukul 10.00-14.00 WIB).
Sejak awal menyanyi, Sopi sering membawakan lagu-lagu melayu yang berirama dangdut. Menurutnya, hal tersebut karena memang dia berada dilingkungan orang-orang yang suka menyanyi dangdut. Meskipun begitu, ia juga bisa membawakan lagu-lagu lain yang berirama pop atau rock. Namun, jiwanya lebih ke arah musik dangdut.
“Saya sudah menjiwai musik dangdut,” ujar Sopi jujur sambil tertawa renyah.
Selama menjadi artis penyanyi dangdut, Sopi sudah berpengalaman bermain di luar kota, utamanya di seputar Provinsi Jawa Barat. Namun, ia juga pernah bernyanyi di Yogjakarta, Jawa Tengah. Job tersebut diperolehnya dari temannya yang merupakan seorang pendatang asal Kota Gudeg tersebut yang merantau ke Kota Cimahi.

Selama Sopi menyandang status sebagai artis penyanyi dangdut, cukup banyak lagu yang sudah dihapalnya di luar kepala. Jika ada satu atau dua lagu yang belum dihapalnya, ia selalu memanfaatkan handphone-nya sebagai panduan bernyanyi sambil membaca lirik yang diperolehnya dari mesin pencari Google.
Bicara soal pengalaman bernyanyi, tentu banyak suka dukanya. Sedihnya kalau penghasilan yang diperolehnya kurang mencukupi atau pas-pasan. Bahkan, terkadang jatuh sakit karena terlalu lelah. Akibatnya uang yang sudah diperoleh dengan susah payah pun harus punah dipakai untuk biaya berobat.
Sukanya menjadi penyanyi saat mendapatkan apresiasi dari masyarakat. Misalnya ketika ia manggung dalam sebuah acara dan mendapatkan apresiasi dari para pengunjung berupa saweran. Penghasilan dari saweran merupakan bonus dari job-nya bernyanyi sehingga menambah penghasilannya.
“Kebanyakan penyanyi mengandalkan dari saweran. Bahkan, saya pernah dapat Rp 2,5 juta dari salah seorang peserta gathering. Belum lagi dari anggota lainnya yang ikut nyawer. Pokoknya lumayanlah hasilnya,” ungkap artis penyanyi dangdut yang mengidolakan Lesti Kejora tersebut menutup pembicarannya.
***
Judul: “Sopi, Jadi Penyanyi Dangdut Demi Membantu Kedua Orang Tuanya”
Penulis: J. Haryadi
Editor: JHK
Profil penulis:
J. Haryadi adalah nama pena dari Jumari Haryadi. Pria kelahiran Kotabumi, Lampung Utara yang akrab disapa Edi Kohar atau Arie ini merupakan anak dari pasangan Kohar bin Kadis (Kediri, Jawa Timur) dan Djasiah binti Hasim (Baturaja, Ogan Komering Ulu – Sumatera Selatan). Dia mulai serius menekuni dunia tulis menulis sejak 2007.
Selain sebagai penulis, jurnalis, dan blogger, pria yang kini berdomisili di Bandung Barat ini juga sedang menekuni dunia fotografi, dan aktif sebagai pegiat pariwisata, seni, dan budaya di Kota Cimahi. Saat ini J. Haryadi sedang merintis usaha di bidang media dengan sahabatnya Adrie Noor. Salah satu media yang dikelolanya adalah media online “Pratama Media News“.








