ArtikelFeaturesPratama Media News

Catatan Perjalanan Didin Tulus: Sebuah Petualangan Sastra di Yogyakarta

Ditulis oleh: Didin Tulus, seorang penulis produktif dan penggiat perbukuan yang tinggal di Kota Cimahi

PRATAMA MEDIA NEWS (PMN), Rubrik OPINI/ARTIKEL/FEATURE, Kamis (06/02/2025) – Tulisan esai berjudul “Catatan Perjalanan Didin Tulus: Sebuah Petualangan Sastra di Yogyakarta” ini ditulis oleh Didin Kamayana Tulus yang merupakan seorang penulis produktif dan penggiat perbukuan yang sarat pengalaman. Kini ia  tinggal di Kota Cimahi, Provinsi Jawa Barat.

Setelah menempuh perjalanan malam dari Bandung, kami tiba di Stasiun Yogyakarta dengan perasaan bahagia. Kereta yang kami tumpangi mendarat dengan lembut di rel, dan begitu kami menginjakkan kaki di platform, kami merasa seperti anak kecil yang menemukan taman bermain. Sebuah perjalanan penuh rasa ingin tahu dan semangat yang membara.

Kami tak memperhatikan keadaan badan yang lelah. Dengan semangat, kami melangkah keluar dari stasiun dan merasakan udara pagi yang segar. Udara Yogyakarta selalu memiliki kehangatan yang khas, seolah-olah menyambut siapa pun yang datang dengan pelukan hangat. Kami memutuskan untuk berjalan menuju Malioboro, pusat kehidupan kota ini yang selalu ramai oleh wisatawan dan penduduk lokal.

Marioboro Yogyakarta
Menikmati suasana di Yogyakarta bersama teman-teman seperjalanan – (Sumber: Koleksi pribadi)

Di Malioboro, kami menemukan bangku kayu yang nyaman di pinggir jalan dan duduk untuk menikmati secangkir kopi. Suasana pagi yang mendukung, tidak terlalu panas, membuat kami merasa betah. Sambil menyeruput kopi, kami memperhatikan lalu lalang orang-orang di sekitar. Wisatawan yang sibuk mengabadikan momen dengan kamera, pedagang kaki lima yang menawarkan dagangannya, serta suara bising kendaraan yang menjadi harmoni kehidupan kota.

Tiba-tiba, dari kejauhan terdengar suara sekelompok santri meneriakkan “Bebaskan Palestina!” Mereka bergerak menuju alun-alun untuk berorasi. Kami hampir tersedak kopi mendengar teriakan mereka, tetapi dengan tenang menelannya. Aksi solidaritas yang penuh semangat itu menjadi salah satu warna dalam petualangan kami hari ini.

Tidak lama kemudian, seorang pengamen lewat di depan kami. Ia tidak meminta uang, hanya memainkan gitar dengan penuh perasaan. Kami merasa terdorong untuk memberi sesuatu, dan akhirnya memberikan nasi yang kami bawa ke dalam kotak musiknya. Dalam momen itu, kami merasakan kebahagiaan sederhana, merayakan keindahan sastra dan seni bersama teman-teman lama.

Kami melanjutkan perjalanan kami menyusuri Malioboro menuju selatan. Kami melewati Benteng Vredeburg yang kokoh berdiri sebagai saksi sejarah, serta Keraton Yogyakarta yang megah dan penuh dengan cerita masa lalu. Sambil berjalan, kami menikmati segelas es dawet yang menyegarkan tenggorokan. Kenikmatan sederhana ini menambah kebahagiaan kami.

@jumariharyadi

Minum kopi yuuuk

♬ suara asli – Jumariharyadi – Jumariharyadi

Destinasi berikutnya adalah Taman Sari, sebuah tempat yang indah dengan arsitektur yang memukau. Kami merasa seperti terlempar ke masa lalu, menjelajahi lorong-lorong yang penuh dengan cerita. Keindahan Taman Sari membuat kami terpana, setiap sudutnya menyimpan keindahan yang tak terkatakan.

Menjelang sore, kami melanjutkan perjalanan ke Balai Budaya Karangkitri. Di sana, kami akan merayakan 100 tahun karya Pramoedya Ananta Toer, Sitor Situmorang, AA. Navis, dan Franz Kafka. Perayaan ini adalah puncak dari petualangan sastra kami di Yogyakarta. Kami berkumpul bersama para penulis dan pecinta sastra lainnya, berbagi cerita dan inspirasi.

Acara tersebut penuh dengan diskusi menarik, pembacaan puisi, dan pertunjukan seni. Kami merasakan kehangatan dan kebersamaan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Setiap kata dan kalimat yang diucapkan di panggung menjadi sumber inspirasi bagi kami. Kami merasa terhubung dengan para penulis besar ini melalui karya-karya mereka yang abadi.

Malam itu, di bawah langit Yogyakarta yang cerah, kami merenung tentang perjalanan kami hari ini. Dari seruputan kopi pagi di Malioboro, hingga diskusi mendalam tentang sastra di Balai Budaya Karangkitri, semuanya terasa begitu berharga. Kami menemukan makna dalam setiap langkah, setiap pertemuan, dan setiap momen sederhana yang kami alami.

Perjalanan ini bukan hanya tentang mengunjungi tempat-tempat indah atau merayakan karya sastra. Ini adalah tentang menghidupkan kembali semangat dan gairah kami akan kehidupan, tentang menemukan kebahagiaan dalam hal-hal kecil, dan tentang merayakan keindahan seni dan budaya bersama teman-teman lama.

Yogyakarta memberikan kami lebih dari sekadar pengalaman, ia memberikan kami kenangan yang akan selalu terpatri dalam ingatan. Kami akan selalu mengingat perjalanan ini dengan senyum dan rasa syukur, karena di sinilah kami menemukan kembali makna kebahagiaan dan inspirasi. (Didin Tulus/PMN).

***

Judul: Catatan Perjalanan Didin Tulus: Sebuah Petualangan Sastra di Yogyakarta
Reporter: Didin Kamayana Tulus
Editor: JHK

Artikel Berkaitan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button