Single Prayer
Masjid kecil itu bukan satu-satunya masjid di Indonesia dengan single prayer seperti bapak itu di masjid kampungnya.
Single Prayer – Aku sedang otewe menuju Jakarta. Melalui jalan alternatif Pelabuhanratu-Cibadak. Jalan alternatif ini tidak terlalu lebar. Namun, pemandangan di sebagian kawasan yang dilaluinya cukup mengasyikkan. Kondisi jalannya berkelok-kelok dan bertanjakan, serta turunan. Di beberapa lokasi, belokannya sangat tajam dan terjal, serta curam. Kebun sawit dan karet menghampar di sebelah-menyebelah jalan. Jauh di arah Barat membentang Gunung Halimun.
Masuk waktu Zuhur ketika tiba di sekitar daerah Cikidang. Tampak sebuah masjid kecil yang memiliki halaman parkir cukup luas. Suasananya terihat nyaman. Aku berhenti disana.
Tak lama setelah aku turun dari kendaraan, datang tergopoh-gopoh seorang bapak agak tua. Setidaknya lebih tua dariku. Langsung saja dia menuju pintu masjid, lalu masuk. Kemudian kedengaran suara pengeras suara disetel. Lalu azan pun berkumandang. Oh, dia muazin rupanya, batinku.

Usai berwudu, aku masuk masjid. Salat sunah qobliyah, pra Zuhur kutunaikan. Bapak muazin itu juga ikut melakukannya. Lalu aku tolah-toleh, mencari-cari barangkali ada jamaah lain datang kemudian. Rupanya tak ada. Hanya ada kami berdua di dalam masjid. Sementara itu pak sopirku masih di luar.
Tiba-tiba bapak muazin itu menoleh ke arahku, lalu katanya, “Sudah Pak?”
Aku tak langsung menjawabnya. Dalam tempo yang sesingkat-singkatnya aku berpikir keras mecoba menerka apa maksud pertanyaan bapak itu. Sudah apa?
Aku berusaha mengulur waktu untuk menjawab, “Punteun Pak…”.
“Sudah?” Dia mengulang pertanyaannya.
Aku masih agak bingung dengan maksud pertanyaannya.
Ah, tapi biar dia lega, spekulasi saja kujawab, “Ya, sudah Pak.”
Tanpa banyak bicara, bapak itu lalu berdiri dan melangkah maju ke arah tengah. Lalu memulai salat Zuhur. Kok tanpa ikamah? Sebodo ah… Kuikuti saja. Kujadikan dia imam salat. Tak lama kemudian pak sopirku bergabung menjadi jamaah di sampingku.

Mengawali salat sambil pikiranku bekerja. Kenapa dia tidak mau mengumandangkan ikamah agar aku tahu salat Zuhur akan dimulai? Walaupun dia juga yang jadi imamnya. Apakah ini memang kebiasaannya? Ah, barangkali dia melafalkan ikamah sambil berbisik halus dan saking halusnya hingga aku tidak mendengarnya. Atau pertanyaan “Sudah Pak?” tadi itu sebagai sinyal salat akan dimulai? Pengganti ikamah?
Duh, kekhusyukan salatku jadi terganggu. Ya, gimana, wong sambil mengawali salat aku tersenyum dalam hati mengingat apa yang barusan terjadi.
Tak cuma itu. Dalam salatku, aku menyusun rencana. Nanti usai salat aku ingin bertanya kepada bapak itu. Apakah situasi seperti ini sering terjadi yaitu bapak itu menjadi single prayer? Dia yang membuka pintu masjid, dia yang azan, dia yang ikamah, dia yang jadi imam, dan dia barangkali nanti dia juga yang mengunci masjid.
Usai salat Zuhur, sengaja aku memperpajang zikir sambil menunggu pas bapak itu juga selesai berzikir.
Setelah itu kuberanikan bertanya to the point, “Kok sepi ya Pak?”
Sambil bertanya begitu aku membayangkan seandainya tadi aku tidak singgah salat di masjid itu, berarti bapak itu benar-benar single prayer. Jamaah tunggal. Sendirian.
Sebelum bapak itu merespon ucapanku, kudahului berkomentar, “Barangkali jamaah lain sedang ke kebun atau ke ladang ya pak?”.
Hanya agar bapak itu merasa nyaman dan tak merasa bersalah atas pertanyaan pertamaku. Dia pun mengiyakan.
“Kalau siang ya memang seperti ini Pak,” jawab bapak itu
Ya, aku maklum dan aku pun berbasa-baai lagi, “Kalau magrib dan isya, mungkin lebih ramai ya Pak?”
Agak masygul bapak itu menjawab, “Ya lumayan Pak. Ada juga nambah jamaahnya.”

Duh, aku merasa bersalah menanyakan itu. Bapak itu pasti tidak nyaman menjawabnya. “Lumayan”, itu bahasa diplomatis untuk tidak mengatakan yang sebenarnya. Bisa berarti memang tidak banyak atau bisa juga banyak, tapi dia merendah. Namun, ya untuk apa merendah kalau memang sesungguhnya banyak. Ah, sudahlah…
Untuk menetralkan suasana, aku pun berkomentar, “Setidak-tidaknya masih ada yang memakmurkan masjid ini Pak. Pastinya sangat membantu bagi orang yang sedang dalam perjalanan mampir salat.”
Masjid An-Nur di daerah Cikidang, Sukabumi itu tak terlalu besar, tapi terkesan rapi, bersih, dan terurus. Tempat berwudunya pun bersih dan terawat. Jangan-jangan pengurusnya pun tunggal, batinku bercanda.
Masjid kecil di pinggir jalan Cikidang itu bukan satu-satunya masjid di Indonesia yang menghadapi problematika yang kurang-lebih sama. Di daerah lain, aku beberapa kali menjumpai masjid dengan single prayer seperti bapak itu di masjid kampungnya.
Aku berusaha mendamaikan perasaanku sendiri. Setidak-tidaknya warga kampung di seputar situ memiliki sebuah tempat yang layak dan suci untuk bersujud bersama-sama, walaupun sering sepi saat waktu salat lima waktu. Namun, melihat kebersihan dan kerapiannya, aku berprasangka masjid ini terawat baik dan sesekali juga ramai jamaahnya. Paling tidak ketika jumatan.
Teriring doa menyertai keberangkatanku melanjutkan perjalanan. Semoga situasi seperti siang itu tidak sering atau sekali-sekali saja terjadinya agar masjid kecil di pinggir jalan itu tetap memancarkan nur atau cahaya bagi warga sekitar dan siapa saja yang memanfaatkannya. Menjadi tanda dimakmurkannya rumah Allah.
***
Penulis: Yusuf Iskandar
Profil penulis:
Yusuf Iskandar adalah seorang Independent Mining Consultant yang pernah bekerja di Mining Company dan Minimarket. Alumni SMA Negeri 1 Kendal ini tinggal di Yogyakarya dan mempunyai hobi traveling, blusukan, petualangan, dan menulis apa saja yang bermanfaat. Dalam tagline halaman akun Facebook-nya, dia menulis “Selalu ada cerita dan inspirasi tiap hari”.
Editor: JHK








