ArtikelPratama Media NewsReligi
Tren

Ruuhi Chip Illahiah Wakil Tuhan di Dalam Diri Setiap Manusia

Saya kali ini mulai menulis dengan mengutip pepatah, “Jadilah tajam tanpa melukai, cepat tanpa mendahului, pintar tanpa menggurui, dan berani tanpa mengalahkan.” Namun, sebagai khalifah Tuhan dengan sebutan manusia dalam tilikan teologi Al-Quran, menggelitik pikiran saya untuk menorehkan pena, lalu menulisnya sebagai perenungan. Siapakah hakikatnya diri ini?

Pikiran saya berjalin kelindan ketika membaca firman Tuhan dalam ayat Al-Quran (Surat Al-Baqarah (2):30) yang terjemahannya, “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, Aku hendak menjadikan khalifah di bumi…”

Diksi khalifah dalam kamus Bahasa Indonesia mengandung makna atau pengertian wakil, pemimpin, penguasa, atau pengelola. Bila demikian dalam pahaman takwil saya bahwa eksistensi manusia ada dimuka bumi untuk maksud dan tujuan yang sangat mulia, saling bermanfaat untuk sesamanya dan semesta alam. Begitulah visi Tuhan mengadakan manusia di muka bumi. Tentu saja ini sesuatu yang sangat fenomenal, ajaib, dan penuh misteri.

Berdasar pemahaman saya, bahwa diri ini terdiri dari tujuh entitas, daya, dan atau energi, yaitu: 1) Entitas Jasmani; 2) Entitas Akal, Pikir, dan Otak; 3) Entitas Jiwa (Nafs); 4) Entitas Hati (Qalb); 5) Entitas Malaikat; 6) Entitas Iblis, dan; 7) Entitas Ruuhi.  Ketujuh entitas tersebut sebagai eksistensi adikodrati, anugerah hidup dari Tuhan Yang Maha Kuasa.

Siapakah Ruuhi didalam diri setiap manusia itu?

Ruuhi merupakan entitas, daya, dan satu-satunya sumber energi kehidupan pada setiap diri manusia. Apapun etnis, suku, dan bangsanya. Bahkan, apapun imannya.

Entitas Ruuhi adalah energi penggerak yang tidak bergerak. Diamnya adalah gerak bagi manusia. Diamnya juga bisa menjadi diamnya manusia. Gerak gerik manusia juga bersumber dari Ruuhi. Ketidakbergerakan manusia juga berdasar darinya. Peta jalan kehidupan manusia tercetak dengan baik dan disimpan Allah dengan sempurna di dalam Ruuhi. Ia adalah agen tunggal dan paling mengerti atas apa yang dilakukan manusia, juga apa yang tidak seharusnya dilakukan.

Saya mentakwil diksi Ruuhi, berdasar tilikan teologi Al-Quran (Surat Sad (38): 72) sebagaimana rumusan ayat di bawah ini.

فَاِ ذَا سَوَّيْتُهٗ وَنَفَخْتُ فِيْهِ مِنْ رُّوْحِيْ فَقَعُوْا لَهٗ سٰجِدِيْنَ

Fa izaa sawwaituhuu wa nafakhtu fiihi mir ‘ruuhii’ faqo’uu lahuu saajidiin.

“Kemudian apabila telah Aku sempurnakan kejadiannya dan Aku tiupkan Ruh-Ku kepadanya; maka tunduklah kamu dengan bersujud kepadanya.”

Pada ayat Al-Quran tersebut di atas, Allah meniupkan Ruuhi  kedalam satu kesatuan entitas khalifah manusia pertama bernama Adam maka paripurna dan sempurnalah jasmani dan ruhaninya.

Adapun untuk istri, anak, dan keturunan khalifah Adam maka Allah menjelaskan seperti rumusan ayat Al-Quran (Surat As-Sajdah (32): 9) di bawah ini.

ثُمَّ سَوّٰٮهُ وَنَفَخَ فِيْهِ مِنْ رُّوْحِهٖ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَا لْاَ بْصَا رَ وَا لْاَ فْــئِدَةَ ۗ قَلِيْلًا مَّا تَشْكُرُوْنَ

Summa sawwaahu wa nafakho fiihi mir ‘ruuhihii’ wa ja’ala lakumus-sam’a wal-abshooro wal-af`idah, qoliilam maa tasykuruun.

“Kemudian Dia menyempurnakannya dan meniupkan Ruh-Nya ke dalam (tubuh)nya dan Dia menjadikan pendengaran, penglihatan, dan hati bagimu, (tetapi) sedikit sekali kamu bersyukur.”

Saat akal, pikiran, jiwa, dan hati mengalami kebingungan, ketakutan, kehawatiran,  keraguan, dan bertanya-tanya keputusan apa yang mesti saya ambil? Maka penuntun batin yang akan memandu dan mengarahkan di dalam setiap langkah, mengungkapkan rencana yang sempurna, dan menunjukkan jalan yang mesti saya tempuh.

Saya mempercayai ini sebagai tuntunan Tuhan di dalam diri, Ruh Kudus, Spirit Guides, Kecerdasan Tak Terbatas, Yang Illahi, Guardian Angels, dan atau Ruuhi. Kecerdasan tak terbatas yang berada di dalam pikiran bawah sadar merespon terhadap permintaan diri saya. Respon ini mungkin saya kenali sebagai perasaan batin dan firasat yang sangat kuat. Memandu saya ke tempat yang tepat di waktu yang tepat, meletakkan kata-kata yang tepat di mulut saya.

Bagaimana saya mesti berbicara dan menyebabkan saya melakukan hal yang tepat dengan cara yang tepat pula? Maka tidak heran saya akan mendapati seseorang itu penuh Hikmah Ruuhi dan mengetahui persis langkah apa yang perlu diambil didalam hidupnya, karena saya hidup dengan tuntunan itu dari waktu ke waktu.

Bila saya merasa bahagia, bersyukur, percaya diri, dan suka cita, biasanya saya akan mudah mengenali kilasan-kilasan tuntunan yang datang kepada saya. Selanjutnya saya juga akan merasakan dorongan hati, untuk menindak lanjuti inspirasi, intuisi, dan petunjuk batin yang datang kepada saya.

Untuk mengalami dan merasakan keberadaan dan eksistensi Ruuhi didalam diri ini, maka saya membangun sikap dan karakter sadar diri, tahu diri, dan jujur diri. Juga Saya akan senantiasa menerima, menjalani, dan mensyukuri anugerah hidup ini dengan selalu dalam limpahan energi bahagia.

Menutup tulisan ini, tentu saja kita boleh berbeda pandangan dan pendapat. Boleh jadi argumentasi saya keliru. Namun, kekeliruan saya bukanlah sesuatu yang mesti dipersalahkan. Adapun bila argumentasi saya benar, bukan pula sesuatu yang mesti saya akui. Toh, kebenaran hakiki tetaplah milik Allah.

***

Kembangan, 11 September 2020

Penulis: Umar Usman

Artikel Berkaitan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button