Fadhil, Dunia ini Tak Seindah Rembulan
Sebuah cerpen karya Sarkoro Doso Budiatmoko, alumni Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Iowa State University, Amerika Serikat
Pratama Media News, cerita pendek (cerpen) berjudul “Fadhil, Dunia ini Tak Seindah Rembulan” ini merupakan karya Sarkoro Doso Budiatmoko, alumni Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Iowa State University, Amerika Serikat.
“Ah, asem tenan nih,” Keluh Fadhil sambil membanting pantatnya di bangku taman yang terbuat dari besi, persis di bawah pohon kenari.
Fadhil pantas mengeluh karena sudah lebih dari 15 menit duduk menunggu seseorang. Itu bangku ketiga yang didudukinya. Dia tidak tahan menunggu lebih dari lima menit duduk sendiri di satu bangku besi yang sama. Lama-lama terasa benar kerasnya.
Ada lebih dari selusin bangku besi di halaman masjid kampus. Pada siang hari itu ada dua bangku yang diduduki orang, selebihnya kosong. Oleh karena itulah Fadhil bisa leluasa duduk berpindah-pindah.
Bagi Dosen muda seperti Fadhil, memiliki waktu 15 menit dari 40 menit yang dimilikinya sebelum masuk mengajar lagi merupakan sesuatu yang sangat berharga. Oleh karena itu dia sudah wanti-wanti kepada Kamila agar datang tepat waktu, sesuai janji untuk ketemu di bangku taman itu.
Dua kali janji ketemu sebelumnya, Kamila bisa datang tepat waktu. Namun, kali ini entah ada apa, sudah sekian menit lewat ternyata gadis itu belum datang juga. Dia hanya berharap, bermohon, dan berdoa mudah-mudahan tidak ada sesuatu yang serius yang menghalangi. Memadukan dua kesempatan dari dua orang yang sama-sama sibuk tidaklah mudah.
Kamila adalah seorang mahasiswi yang pernah diajar Fadhil dua semester sebelumnya. Semester sekarang adalah saat yang tepat bagi Fadhil untuk melakukan pendekatan. Tidak ada lagi konflik kepentingan baginya. Tidak ada kewajiban lagi baginya untuk memberi nilai kepada mahasiswi yang berparas manis itu.

Selama ini, sebelum ketemu Kamila, sebenarnya sudah lama Fadhil menutup hati untuk menyukai atau disukai cewek. Bagi Fadhil, terlalu membingungkan dan kadang menyakitkan ketika harus membangun hubungan istimewa dengan cewek yang disukainya. Dia tidak mampu secara lugas berkomunikasi dengan cewek idamannya.
Fadhil yang biasa memaknai hitam sebagai hitam dan putih itu putih, tidak bisa mengerti dengan mudah ketika yang dia dengar merah, ternyata yang dimaui cewek itu putih. Dia juga kurang memahami ketika cewek bilang terserah dan ketika dituruti ternyata salah.
Begitu bingungnya, Fadhil pernah bertanya kepada cewek, “…, salahku di mana?”
“Pokoknya salah!” Jawab si cewek.
“Oo, ya sudah, terserah,” sahut Fadhil.
Bagi lelaki muda ini, kalau sudah main kata pokoknya, itu berarti sudah berada di ujung jalan buntu. Anda sebaiknya berhenti dan segera ganti haluan. Belum lagi ditambah intonasi, nada, dan cengkok saat bicara.
Satu potong kata bisa mempunyai beragam makna jika diucapkan dengan cengkok berbeda. Untuk orang lain mungkin bukan sesuatu yang sulit, tetapi bagi Fadhil ini jauh lebih rumit dari rumus kimia yang selama ini dipelajarinya.
Dalam diri Fadhil saja terkadang terjadi pertentangan. Antara kepala dan dadanya, sering tidak harmonis. Dalam membuat janji ingin bertemu Kamila sekarang ini saja telah didahului dialog “internal” yang melelahkan.
Kepala bilang, kalau dia sudah menjawab Iya Bang, yaa itu artinya dia setuju untuk ketemu Bro.
Dadanya ngomong, tapi jawaban itu terasa tidak bersemangat ya?” Itu sebuah jawaban ogah-ogahan, seperti, ayo, boleh-boleh saja.
Kepala menyahut, ha ha ha, inginmu dia harus menjawab apa Bro? Itulah cewek, kamu harus selalu siap menjadi ahli jiwa untuk menafsirkan apa yang ada di balik setiap kata-kata.
Namun kemudian, ketertutupan Fadhil berbalik setelah ketemu Kamila. Pintu hatinya sekarang terbuka lebar. Bahkan, jendela hatinya juga ikut menganga. Terbukti dari nafasnya menjadi bertambah sesak karena Kamila tidak kunjung datang dan tidak kunjung ada berita.
Mungkin betul, Fadhil membatin, aku harus mulai banyak baca-baca buku tentang makna kata-kata.
Beberapa kali Fadhil memang merasa mentok saat mendekati cewek dan lantas lebih memilih mundur teratur. Pelariannya kemudian baca buku, menulis, dan jalan-jalan. Healing yang mengasyikan.
Daya juang dan kegigihannya memang rendah makanya hingga umur hampir 30 belum punya calon pasangan hidup. Hanya saja kali ini sepertinya akan berbeda. Kamila bagi Fadhil memiliki daya tarik besar untuk membuatnya terus maju mendekati. Belum ada niat mundur. Dia melihat ada yang berbeda dan istimewa pada diri cewek satu ini. Tidak ada kesan sikap perilakunya yang individualis, egois, dan mau menang sendiri.
Di mata Fadhil, Kamila ini seperti makhluk yang terlambat dihadirkan Tuhan ke dunia. Dia mestinya lahir beberapa puluh tahun lalu, ketika unggah-ungguh, tata krama, budi pekerti, dan pergaulan masih sangat diagungkan.
Fadhil merasakan pada zaman sekarang ini sikap “siapa loe-siapa guwe” begitu kental. Gempuran budaya asing memang tidak tertahankan. Virus perilaku individualis, kata-kata kasar, memaki kanan kiri, emosi gampang terbakar, merasa bangga melanggar aturan, dan banyak lagi contoh lain sangat mudah menular, melebihi daya tular virus covid-19.
Pernah terjadi, Fadhil ketemu mahasiswa yang pernah mengikuti mata kuliahnya dan dia lebih dulu menyapa. Si Mahasiswa malah balik bertanya, “Anda siapa ya?” Tentu saja hal ini bikin hatinya mangkel.
Itu terjadi beberapa kali dan kini Fadhil ambil sikap, hanya akan merespon kalau disapanya lebih dulu. Muncul sedikit sikap angkuhnya. Dalam hatinya, emang loe siapa?
Di tengah masyarakat, kini rasanya hanya sedikit budi pekerti luhur yang masih tersisa. Yang tersisa itu ada di Kamila. Itulah yang membuatnya jatuh hati. Sederhana saja ceritanya.
Ketika kelas Fadhil sudah selesai dan mahasiswa satu persatu pulang, Kamila keluar belakangan sambil membawa buku dan diberikannya ke Fadhil.
“Maaf ini buku Bapak, ketinggalan di kursi di belakang sana,” kata Kamila dengan ramah dan sopan.
Kamila tahu itu buku Fadhil dari tulisan namanya yang tertera di sampul dan coretan-coretan tangan dengan ballpoint warna-warni yang entah apa bunyinya. Buku itu pasti penting bagi seorang pengajar.
Fadhil berterimakasih sekali dan memintanya menunggu sebentar untuk nanti keluar ruang kelas bareng. Mereka berdua lalu berjalan bersama di sepanjang koridor gedung sambil ngobrol. Di persimpangan antara menuju parkiran dan kantin mereka berpisah.
Saat berjalan bareng itulah Fadhil langsung terkesan dengan Kamila. Terkesan dari nada dan cara bicaranya, mimik mukanya, bahasa tubuhnya, cara membawa bukunya, tatapan matanya dan aroma parfumnya.
Mimik wajahnya tampak jujur apa adanya. Fadhil merasa sangat mudah membaca ekspresi wajah seseorang. Kemampuanya itu didapat dari pengalaman selama ini dalam menghadapi ratusan wajah yang dihadapinya di kelas. Tidak heran, dengan beberapa saat saja dia merasa tahu siapa Kamila.
Memang begitulah, kalau orang sudah jatuh hati, kibasan rok panjangnya dan warna tali sepatunya pun menarik untuk dikenang.
Dari sederetan daya tarik itu, tampaknya Fadhil akan berjuang lebih keras untuk mendapatkan hatinya. Tidak seperti sebelumnya, tidak pernah lama tertarik pada seseorang.
Fadhil terhenyak. Dilihat jam tangannya, sudah 25 menit menunggu Kamila. Dilihatnya juga jam besar di dinding luar masjid, ya, benar, sudah hampir 30 menit menunggu. Hatinya agak mulai kesel. Angan-angannya bahwa pertemuan ini akan penuh arti dan romantis terancam gagal.
Dengan tidak sabar, Fadhil merogoh saku kiri celananya. Diambilnya handphone dan segera dibukanya. Siapa tahu ada pesan Kamila yang masuk. Ternyata nihil. Tidak ada!
Fadhil kembali membanting lagi pantatnya lebih keras di bangku besi yang lain. Sekarang terasa sekali sakitnya benturan besi bangku dengan tulang pantatnya yang hanya dibalut daging tipis. Dia mencoba menambah porsi kesabarannya. Kepalanya seperti dipenuhi keju panas yang sedang meleleh, susah berpikir jernih.
Pada menit ke-38 hape Fadhil berbunyi. Ada pesan dari Kamila yang memohon maaf dan meminta pertemuan di-pending. Dia masih di fakultas sedang menyelesaikan beberapa urusan adminitrasi perkuliahan.
Fadhil jawab singkat, “Okay.”
Sebenarnya mudah saja bagi Fadhil untuk mengetahui benar tidaknya isi pesan yang diterimanya itu. Namun, hal itu diabaikannya. Menurutnya, kalaupun Kamila berbohong, biarlah dia nikmati kebohongannya sendiri. Fadhil sekarang hanya butuh beberapa saat untuk kembali segar untuk kembali masuk ke kelas.
Fadhil berusaha untuk tetap sabar. Dia berjalan gagah, langkah panjang, dan mata menatap ke depan. Saat berjalan itulah dia berpapasan dengan cowok dan cewek berjaket memakai helm berboncengan erat naik sepeda motor.
Sepeda motor dan pengendaranya tampak biasa-biasa saja, sampai ketika pandangan mata Fadhil tertumbuk pada tali sepatu cewek yang membonceng. Tali sepatu itu persis dengan tali sepatu yang dipakai Kamila ketika ketemu pertama dulu.
Kalau benar itu tali sepatu Kamila, dia kini merasa seperti terbanting-banting di lantai Ring Smack-Down. Babak belur atas-bawah, tertipu luar-dalam. Dia benar-benar tidak siap menghadapi keanehan dunia. Sungguh menyeramkan, apa yang dia pikir, dia perkirakan, dan dia simpulkan ternyata terbolak-balik semua.
Dasar Fadhil, sudah begitu pun dia masih berharap matanya salah lihat. Berharap itu bukan tali sepatu, itu hanya tali bendera.
Kini kepala Fadhil nyeletuk, begitulah Bro, dunia ini tidak seindah rembulan.
Dada Fadhil menjawab, sudah lama aku tidak melihat rembulan. Belakangan ini sering tertutup awan.
Purwokerto, 9 April 2023
Sarkoro Doso Budiatmoko.
***
Judul: Fadhil, Dunia ini Tak Seindah Rembulan
Penulis: Sarkoro Doso Budiatmoko
Editor: JHK
Tentang Pengarang:
Sarkoro Doso Budiatmoko, lahir di Purbalingga, Jawa Tengah dari pasangan almarhum Bapak Pranoto dan almarhumah Ibu Fari’ah. Pendidikan hingga SLTA dijalaninya di kota kelahirannya ini, sedangkan pendidikan tinggi ditempuhnya di IPB (1984), Bogor dan pascasarjana di Iowa State University (1996), Amerika Serikat.

Pengalamannya menjalani berbagai penugasan di Perum Perhutani memperkaya wawasan dan pemikirannya yang sering dituangkan di media massa. Topik tulisannya tidak terbatas pada latar belakang pendidikan dan pekerjaannya saja, tetapi juga menyangkut bidang ekonomi, sosial, budaya, dan sumberdaya manusia. Aktifitasnya menulis tidak surut meski sudah purna-tugas beberapa tahun lalu.
Penikmat buku dan bacaan ini juga dipercaya mengasuh rubrik Kolom di Majalah “Bina Media Berita Kehutanan & Lingkungan” yang diterbitkan oleh Perum Perhutani Unit II Jawa Timur. Tulisan Sarkoro Doso berjudul “Setelah PHL, Lalu?” pernah terbit di Majalah Duta Rimba Edisi 42 (Mar-April 2012) – Penerbit Perum Perhutani, Jakarta, Indonesia.
Kini rimbawan berpengalaman yang berasal dari Perum Perhutani Unit II Jawa Timur aktif menulis blog di Kompasiana. Beberapa tulisannya di platform asuhan Kompas online tersebut di antaranya artikel berjudl “Bijak Memilih: Orang, Pasangan, dan Pemimpin” yang terbit pada 20 Mei 2021 dan artikel berjudul “Hidup Akal Sehat” yang terbit pada 31 Mei 2021.
Penulis dikaruniai tiga orang anak. Saat ini dia menetap di Purwokerto dengan kesibukan menulis dan menjadi staf pengajar di Language Development Center (LDC), Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP).
***









Baru kali ini saya baca cerpen ikut geregetan
Kesian amat nih pak dosen.
(berharap ada sambungannya, fadhil jilid 2)
Wkwkwk…