CerpenPratama Media News

Antara Mbok Tumini dan Tuhan (Bagian 1)

(sebuah cerpen tentang kehidupan yang diangkat dari kisah nyata)

Antara Mbok Tumini dan Tuhan  – Tahun 2011 usahaku jatuh, kolaps, dan terpuruk karena salah urus. Yo wis (redaksi: bahasa Jawa, artinya “ya sudah”), pokoknya begitu. Panjang ceritanya. Usaha itu semula kupasrahkan untuk dikelola orang lain dan berjalan baik-baik saja. Tahu-tahu aku dilapori kalau ada beberapa proyek gagal sehingga meninggalkan banyak hutang.

Mulanya nilai hutang terebut dalam jumlah kecil. Namun, belakangan tagihan hutang datang sambung-menyambung menjadi satu sehingga totalnya menjadi ratusan juta rupiah. Semua sudah telanjur terjadi.

Seiring dengan berjalannya waktu, akhirnya tanggung jawab masalah kuambil alih untuk kuselesaikan. Tidak ada gunanya lagi marah, menyesal, atau menuntut ini-itu. Semua urusan kukembalikan kepada Tuhan.

Awalnya, hutang-hutang itu masih bisa diatasi dengan cara tutup sana, tutup sini, tambal sana, tambal sini. Namun, ujungnya mentok juga. Sumber dana dan sumber dayaku sudah terkuras tandas.

hutang, Tumini
Ilustrasi: Hutangku ada dimana-mana (sumber: lifeplanresource.com)

Ini usaha pribadiku, bersama teman lain. Pribadi dalam pengertian tak melibatkan sumber daya dan sumber dana keluarga. Aku masih punya usaha keluarga lain, yaitu sebuah toko yang dikelola Ibunya anak-anak sehingga ekonomi keluarga praktis tidak terganggu. Aku juga tidak mau mengganggu usaha keluarga itu.

Sudah menjadi tekadku kalau Aku tak mau mengganggu usaha toko Ibunya anak-anak. Semua hasilnya, dia yang mengelola. Hasil usaha toko saat itu cukup bagus. Mau diapakan pun hasilnya, aku sering tidak mau turut pusing memikirkannya. Terserah dia. Aku percaya dia. Ibunya anak-anak adalah orang yang bijak dalam mengelola keuangan.

Pendek cerita, untuk menyelesaikan beban tanggungan hutangku, akhirnya aku harus berurusan dengan perbankan untuk menurunkan pinjaman. Sialnya yang diterima bank sebagai agunan adalah tokoku. Ya, itu usaha keluarga yang tertulis atas nama Ibunya anak-anak. Tentu hal ini menjadi dilema bagiku.

Terpaksa aku harus melibatkan Ibunya anak-anak dalam soal ini. Sebab, pihak bank membutuhkan tanda tangannya. Aku tahu Ibunya anak-anak tidak senang dengan urusan ini. Bukan marah atau kecewa. Hanya merasa tidak nyaman dengan urusan pinjam-meminjam. Namun, apapun itu, aku sangat bisa memahami suasana hati dan perasaannya.

Ketika itu aku ada di posisi yang tidak punya pilihan lain. Aku butuh dana sangat besar menurut ukuranku ketika itu, untuk keluar dari jeratan masalah itu. Aku hanya bisa berjanji padanya, pembayaran cicilan bulanannya menjadi tanggung jawabku. Aku akan berusaha keras suatu saat nanti akan menebus semua pengorbanannya.

bank, tumini
Ilustrasi: Terpaksa aku meminjam uang di bank untuk menyelesaikan hutang usaha (Sumber: depositphoto.com)

Tahun itu adalah periode hidupku, padahal aku sering tidak pegang uang lebih. Memang masih ada sumber pemasukan sampingan, tetapi tidak pasti dan tak seberapa nominalnya. Ada kalanya aku terpaksa minta uang kepada ibunya anak-anak ketika aku sedang sangat membutuhkan.

Hal yang paling tidak enak adalah kalau aku minta dibelikan rokok. Dia tidak marah atau ngedumel (redaksi: bahasa Jawa, artinya “mengomel”). Justru sebaliknya, aku dikasih uang sambil dienjebi (redaksi: bahasa Jawa, artinya “disenyumi”). Ini jenis senyum yang paling menyebalkan. Sama sekali tidak dapat kunikmati indahnya, yaitu antara senyum manis, tapi sinis atau sebaliknya, sinis, tapi manis. Entahlah. Aku tak sanggup memandangnya lama-lama. Sekilas saja kupandang, lalu kucuekin aja.

Kalau di dompetku masih ada lembaran biru atau apalagi merah, aku merasa aman dan nyaman. Sudah cukup membuatku bahagia ketika itu. Namun, jika sedang melompong, aku harus bisa menahan perasaan. Pasalnya, ketika ada orang yang meminta bantuanku, tetapi ternyata aku tidak bisa memberinya, sedih sekali rasanya.

Lembaran merah, biru, ungu, dan coklat, silih berganti datang dan pergi. Tugasku sebagai sopir bagi ibunya anak-anak kutunaikan dengan penuh tanggung jawab. Penuh rasa hikmat dan kebijaksanaan. Penuh rasa syukur diluar waktu-waktuku untuk tetap berusaha menyusun kekuatan mencari sumberdaya pengganti.

Sejak awal masalah ini datang, aku tidak pernah meyesali dan menggerundeli kalau mau disebut ini musibah. Aku masih bisa tersenyum, nyruput kopi, makan enak, tidur nyenyak, dan biyayakan (redaksi: bahasa Jawa, artinya “ugal-ugalan”) sesukaku.

Dalam doa-doaku, aku hanya bilang kepada Tuhan begini, “Tuhan, jika semua ini adalah ujian-Mu bagiku, maka aku ikhlas menerimanya. Namun, aku mohon beri aku kemampuan untuk keluar dari keadaan ini dan menyelesaikan dengan cara yang benar.”

Ada doa andalanku yang sudah kuamalkan sejak jauh tahun sebelumnya. Doa ini sering kubaca dalam situasi apapun, baik dalam suka dan suka, dalam panas dan hujan, atau dalam perang dan damai. Doa itu tertulis di dalam Al-Qur’an surat Al-Isra’ ayat 80 (QS.17:80). Hingga kini doa ini masih terus kuamalkan siang dan malam.

(BERSAMBUNG)

***

Penulis: Yusuf Iskandar

Profil penulis:

Yusuf Iskandar adalah seorang Independent Mining Consultant yang pernah bekerja di Mining Company dan Minimarket. Alumni SMA Negeri 1 Kendal ini tinggal di Yogyakarya dan mempunyai hobi traveling, blusukan, petualangan, dan menulis apa saja yang bermanfaat. Dalam tagline halaman akun Facebook-nya, dia menulis “Selalu ada cerita dan inspirasi tiap hari”.

 

Editor: JHK

Artikel Berkaitan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button