Rudy Farid, Dosen Fakultas DKV Widyatama yang Luar Biasa
Rudy juga dikenal sebagai perintis skate park pertama di Kota Bandung
Drs. Rudy Farid, C.P, M.Ds., merupakan salah satu dosen di Fakultas Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Widyatama, Bandung yang kini menjabat sebagai Ketua Program Studi (Prodi) Desain Grafis D4. Pria kelahiran Bandung, 26 Juni 1967 ini mengajar di Jurusan Desain Grafis untuk mata kuliah Grafis Informasi, Grafis Identitas, dan Grafis Persuasi, serta Brending dan New Media.
Selain mengajar di Widyatama, ayah dua orang anak ini juga mengajar di beberapa universitas lain seperti Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Institut Teknologi Nasional (ITENAS) Bandung. Tidak hanya sebagai dosen, Rudy juga mempunyai studio creative sendiri yaitu “Makna” yang biasa mengerjakan persoalan branding.
Awal mula Rudy Farid terjun ke dunia desain grafis, ketika dia lulus SMA. Saat itu dia baru tahu kalau ada bidang keilmuan tentang desain grafis. Lalu dia bertanya kepada temannya yang berkuliah di Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ITB. Ternyata di fakultas tersebut tidak hanya ada seni rupa, tetapi ada juga ilmu tentang desain grafis yang membuat tentang poster, logo, dan iklan.

Seketika Rudy langsung berkata dalam hati, ini yang saya cari! Ini dunia saya! Saat itu dia merasa telah menemukan cita-citanya. Alasan lainnya karena dia merasa kurang cocok dengan ilmu pasti yang terkesan kaku seperti matematika, fisika, dan kimia. Akhirnya dia mendapatkan kesempatan belajar yang terkait dengan visual atau gambar, tanpa harus menjadi seniman.
Sekitar sembilan atau sepuluh tahun lalu, Rudy diajak oleh teman-temannya yang telah terlebih dahulu menjadi dosen di Widyatama untuk mengajar di Fakultas Desain Komunikasi Visual dan juga ikut dalam penyempurnaan kurikulumnya. Fakultas tersebut dianggap sangat luar biasa karena memiliki Jurusan Desain Grafis yang merupakan satu-satunya jurusan yang pengelompokan mata kuliahnya sangat jelas, seperti apa yang akan dituju, dilatih, dan dicapai, juga proyeknya apa saja. Dapat dikatakan bahwa ini merupakan satu-satunya Jurusan Desain Grafis di Indonesia yang mempunyai mata kuliah yang jelas pengelompokannya dan terperinci.
Selain menjadi dosen, Rudy juga pernah dipercaya sebagai juri Skateboard Asian Games 2018 di Indonesia. Semua berawal dari kecintaannya terhadap skateboard. Sejak masih di Sekolah Dasar (SD) dia telah bermain skateboard. Hobi tersebut terus berlanjut hingga dia kuliah di perguruan tinggi.

Rudy juga dikenal sebagai perintis skate park pertama di Kota Bandung. Bahkan, skate park pertama di Indonesia yaitu di Taman Lalu Lintas, Bandung. Itulah sebabnya dia dianggap senior di dunia skateboard Indonesia dan ditunjuk sebagai salah satu juri skateboard Asian Games 2018 mendampingi juri-juri internasional seperti dari Hongkong, Jepang, Singapura, dan Malaysia.
Dari sekian banyak pengalaman yang dilalui Rudy, dia memiliki moto hidup yang sangat luar biasa. Dosen yang rendah hati ini selalu ingin menjadi orang yang bermanfaat bagi masyarakat. Dia mengikuti ajaran nabi yaitu ada dua perkara yang membuat orang selamat, pertama bertakwa kepada Allah dan kedua akhlak, dalam artian berbuat baik.
“Pangkat dan harta itu bukan hal yang penting karena tidak membuat orang bahagia. Bagi saya, bahagia itu ketika kita bisa berbuat baik dalam berbagai bidang yang kita mampu. Kita merasa senang berbuat baik, hingga kita tidak sadar telah berbuat baik,” pungkas Rudy.
***
Judul: Rudy Farid, Dosen Fakultas DKV Widyatama yang Luar Biasa
Penulis: Ade Putra Yogi
Editor: JHK
Sekilas tentang Penulis

Ade Putra Yogi lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat pada 10 Juli 1998. Anak kedua dari dua bersaudara ini sekarang sedang menempuh pendidikan di Jurusan Desain Grafis, Fakultas Desain Komunikasi Visual, Universitas Widyatama Bandung.
Sejak kecil, laki-laki yang akrab disapa Yogi ini suka bermain bola kaki. Namun, kini dia juga suka bermain game, dan beberapa hobi lainnya seperti camping, berenang, motoran, dan hiking (naik gunung). Sudah empat gunung yang pernah dia daki, mulai dari Gunung Talang di Solok (Sumatera Barat) , Gunung Singgalang (Bukittinggi), Gunung Marapi (Bukittinggi), dan Gunung Guntur (Jawa Barat).
Kini, putra dari Riswanto dan Siti Komariah ini tinggal di Bandung. Hanya saat liburan kuliah dia kembali ke rumah orang tuanya yang beralamat di Jalan Bukit Sungkut, Bukittinggi, Sumatera Barat.
Catatan:
Tulisan ini merupakan hasil praktik mahasiswa magang yang mengikuti program pelatihan menulis Creative Writing yang diselenggarakan oleh Fakultas Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Widyatama Bandung bekerja sama dengan media online Pratama Media News.








