Pratama Media News – Pohon Ara dan Air Hujan – Entah sudah berapa lama pohon ara ini ada di halaman rumahku. Aku membelinya karena ia mungkin adalah salah satu pohon yang disebut dalam kitab suci. Sebuah alasan yang cukup spiritual walau aku sebenarnya bukanlah orang yang terlalu spiritual.
Pohon ara juga dikenal dengan nama pohon tin atau fig dan mempunya nama latin Ficus carica L. Ara secara alami tumbuh di daerah Asia Barat, mulai dari Balkan hingga Afganistan, meski kini mulai dibudidayakan di banyak negara. Pohon berbatang lunak dengan daun bercuping tiga atau lima ini bisa tumbuh hingga 10 meter.
Saat aku membelinya, tingginya tak lebih dari 30 cm dalam sebuah pot berwarna putih. Setelah beberapa waktu, kulihat sepertinya pohon mungil ini tak mau tumbuh besar. Helai daunnya pun tak pernah lebih dari lima. Gundah hatiku rasanya.

Jangan-jangan tanah dalam pot ini sudah tak mengandung nutrisi, pikir aku. Karena aku bukanlah seseorang yang piawai bercocok tanam, satu-satunya yang terpikir adalah pupuk. Setelah menimbang-nimbang, pupuk cair organik sepertinya layak untuk merawat si pohon ara agar tumbuh besar.
Sayangnya, upaya ini tak membuahkan hasil. Meski sudah rutin kupupuk, pohonku tak juga meninggi. Jangankan meninggi, tumbuh daun baru pun tidak. Sudah kucoba untuk memindahkan pohon itu dari pot kecil tempatnya tumbuh. Mungkin bila ditanam di tanah, ia bisa lebih leluasa mendapat makanan. Sayang, ini juga tak membawa hasil.
Sore itu, hujan turun cukup deras. Tiba-tiba saja tebersit pikiran nakal. Jangan-jangan si pohon ara merindukan belaian air hujan yang turun dari langit. Dengan berbekal timba kecil, aku pun mulai menadah air hujan yang berkejaran turun dari atas talang air. Semoga air hujan ini bisa membuat pohon araku senang.
Sungguh ajaib! Keesokan harinya, kuncup daun mulai muncul. Tak berapa lama kemudian, pohon araku pun mulai meninggi dengan daun-daun baru yang mulai bertumbuhan. Ah, ternyata ia memang merindukan air hujan, sumber kehidupan yang memang ditujukan buatnya. (Fatchur)
***
Penulis: Fatchur RH Priyanto
Editor: JHK








