Disarpus KBB Bekerja Sama dengan Perpusnas RI Gelar Kegiatan Peningkatan Indeks Literasi Masyarakat
Pratamamedia.com, Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat – Kamis pagi kemarin (22/10/2020), Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Bandung Barat (Disarpus KBB) bekerja sama dengan Perpustakaan Nasional (Perpusnas) Republik Indonesia menggelar Kegiatan Peningkatan Indeks Literasi Masyarakat. Acara bertema “Inovasi dan Kreativitas Pustakawan dalam Penguatan Indeks Literasi untuk Mewujudkan SDM Unggul Menuju Indonesia maju” tersebut digelar sejak pukul 08.00 WIB dengan menerapkan Protokol Kesehatan Secara Ketat.
Kegiatan yang dihadiri sekitar 100 peserta yang berasal dari kalangan guru SD/SMP/SMA dan sederajat, pegiat literasi, komunitas baca, siswa SMA, mahasiswa, dan penulis, serta pustakawan tersebut berlangsung lancar dan sukses. Sejak pagi peserta sudah mulai mengantri untuk memasuki aula. Mereka semua diperiksa suhu tubuhnya oleh petugas menggunakan thermo gun sebelum diperbolehkan memasuki ruangan acara.
Bupati Kabupaten Bandung Barat AA Umbara Sutisna, S.IP. yang datang bersama beberapa narasumber langsung disambut oleh para penari. Mereka dipersilakan duduk sambil menikmati suguhan tarian tradisional yang dimainkan oleh para seniman.

Sebelum Bupati KBB AA Umbara menyampaikan kata sambutannya, Ketua panitia, Avira yang juga pejabat Kepala Disarpus KBB melaporkan kegiatan yang akan dilaksanakan pada hari itu. Maksud dan tujuan kegiatan adalah memasyarakatkan dan membudayakan kegiatan membaca sebagai dasar untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat Kabupaten Bandung Barat dalam mewujudkan SDM yang unggul. Ia juga menyebutkan bahwa sumber pembiayaan acara tersebut berasal dari Pembiayaan Perpustakaan Nasional Tahun Anggaran 2020.

Sambutan selanjutnya dari Kepala Perpusnas RI, Drs. Muhammad Syarif Bando, M.M. Dalam kata sambutannya, Syarif Bando menjelaskan tentang makna literasi. Menurutnya, saat Indonesia belum merdeka, angka melek aksara baru satu persen. Kini, setelah 75 tahun merdeka, angka melek aksara sudah mencapai 99 persen. Namun, apakah tambahan melek aksara berarti juga melek literasi?
Menurut Syarif Bando, jika pemahaman itu dijadikan parameter peningkatan literasi maka kondisi saat ini tidak ada bedanya dengan masa pra kemerdekaan. Artinya, kemampuan literasi kita baru sebatas kemampuan mengenal huruf, kalimat, memahami sebab akibat, dan menyampaikan pendapat.
Syarif Bando mengatakan, jika mengacu standar literasi yang disyaratkan UNESCO, setidaknya ada empat tingkatan literasi. Pertama, lietrasi adalah tersedianya akses terhadap sumber-sumber bahan bacaan yang terbaru, terpercaya, dan lengkap.
Kedua, literasi adalah memahami apa yang tersirat dari yang tersurat. Tanpa membaca mustahil bisa memahami apa yang tersirat dari yang tersurat.

Ketiga, literasi adalah kemampuan menciptakan ide baru, inovasi baru, dan kerativitas baru.
Keempat, literasi adalah soal kemampuan menghasilkan produk barang dan jasa yang bermanfaat bagi khalayak.
Pada bagian lain sambutannya, Kepala Perpusnas RI tersebut juga menyoroti tentang persoalan infrastruktur perpustakaan yang masih sangat terbatas. Tantangan selanjutnya di era digital ini adalah kebiasaan anak-anak milenial yang lebih suka membaca buku secara digital dibandingkan buku fisik. Ada rasa kekhawatiran jika kebiasaan tersebut dibiarkan begitu saja.
“Mereka akan berpotensi menjadi generasi yang miskin data dan rendah kemampuan menganalisis. Paradigma mereka terhadap penggunaan digital perlu diubah agar tidak mudah terbawa arus,” ujar Syarif Bando yang saat itu hadir bersama Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan Perpusnas RI, Drs. Dedi Kurniadi, M.Hum.
Sementara itu Bupati KBB AA Umbara sebelum membuka secara resmi acara, dalam sambutannya menjelaskan tentang pentingnya menjalankan protokol kesehatan dalam melakukan kegiatan sehari-hari karena saat ini masih dalam situasi pandemi covid-19. Ia bersyukur saat ini Bandung Barat masuk zona kuning setelah sebelumnya masuk zona merah yang membuat orang nomor satu di KBB tersebut sempat stres.

Aa Umbara juga menyinggung soal SDM yang berkualitas. Menurutnya untuk menghasilkan SDM yang berkualitas, keberadaan perpustakaan mempunyai peran penting. Keberadaan perpustakaan tidak bisa dihilangkan meski digital merajalela di hampir semua lini kehidupan.
Bupati KBB menjelaskan bahwa di KBB telah berdiri tidak kurang dari 165 perpustakaan desa dan akan terus didorong untuk menghadirkan masyarakat agar bisa merasakan manfaat dari membaca buku-buku terapan sehingga mereka bisa berdaya guna, berinovasi, dan berpikir kreatif.
Acara Talkshow Literasi
Setelah sambutan usai, acara dilanjutkan dengan talkshow yang dipimpin oleh Nani sebagai moderator. Acara ini menghadirkan empat narasumber yaitu Drs. Muhammad Syarif Bando, M.M. (Kepala Perpusnas RI), Dr. Dede Yusuf Macan Effendi (Wakil Ketua Komisi X DPRRI), Drs. Ir. H. Ahmad Hadadi, M.Si. (Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Provinsi Jawa Barat), dan Jumari Haryadi (Penulis dan Pengarang Buku).

Narasumber pertama, Drs. Muhammad Syarif Bando, M.M., menyampaikan materi berjudul “Inovasi dan Kreativitas Pustakawan Dalam Penguatan Indeks Literasi untuk Mewujudkan SDM Unggul Menuju Indonesia Maju”.
Narasumber kedua, Dr. Dede Yusuf Macan Effendi (Wakil Ketua Komisi X DPRRI) menyampaikan materi berjudul “Peranan Legislatif dalam regulasi dan Anggaran untuk Mendukung Program Prioritas Nasional Transpormasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial”.

Narasumber ketiga, Drs. Ir. H. Ahmad Hadadi, M.Si. (Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Provinsi Jawa Barat) menyampaikan materi berjudul “Pengembangan Perpustakaan Daerah untuk Mendukung Peningkatan Indeks Literasi Masyarakat”.

Narasumber keempat, Jumari Haryadi alias J.Haryadi (Penulis dan Pengarang Buku) menyampaikan materi dengan judul “Best Practice Menumbuhkan Budaya Baca dan Literasi masyarakat”.
Menurut J.Haryadi, membaca merupakan kegiatan penting yang harus dibudayakan. Tanpa membaca, manusia akan terbelakang. Ilmu seseorang semakin berkembang karena banyak materi yang dipelajarinya melalui bahan bacaan yang penuh gizi.
“Apakah saat ini minat baca masyarakat kita rendah? Ternyata tidak! Buktinya, hampir setiap hari kita tak terlepas dari smartphone. Mesin pintar ini selalu saja menaruh perhatian masyarakat. Bahkan, mulai dari bangun tidur sampai kembali ke kasur, tangannya selalu memegang benda ajaib tersebut,” ujar founder Komunitas Penulis Kreatif (KPKers) Indonesia tersebut dengan penuh bersemangat.
J.Haryadi mempertanyakan, kalau benar budaya baca kita tinggi, mengapa perusahaan koran dan majalah banyak yang gulung tikar? Ternyata menurutnya, penyebabnya bukan karena masyarakat tidak membaca, tetapi pilihan membacanya yang bergeser dari media cetak ke media digital. Hal tersebut tak terlepas dari dampak pesatnya kemajuan di bidang teknologi informasi.
“Kalau pun masyarakat sudah gemar membaca, apakah apa yang dibaca sudah benar dan tepat? Apakah bacaannya tersebut benar-benar bemanfaat? Belum tentu! Justru kebanyakan apa yang dibaca bukan informasi yang valid. Namun, justru menyesatkan. Masyarakat masih mudah tertipu dengan hoax. Hal tersebut tidak terlepas dari kemampuan literasinya yang rendah,” urai penulis buku best seller “Dahsyatnya Sabar, Syukur, dan Ikhlas Muhammad SAW” ini dengan yakin.

Trainer “Writing Skill Workshop” Intermedia karya Utama ini menjelaskan bahwa cara mudah untuk mengukur kemampuan literasi seseorang adalah melalui media sosial. Misalnya ada sebuah postingan yang mampir ke sebuah grup media sosial. Umumnya, anggota grup akan langsung berkomentar, padahal dia belum membaca isinya secara lengkap. Bahkan, terkadang ada orang yang sudah berani beropini ketika ia cuma baru membaca judulnya saja. Tidak heran kalau kicauannya bisa salah arah dan tidak sesuai kontennya.
“Bisa kita bayangkan jika ada sebuah diskusi dalam sebuah grup media sosial yang didasari oleh informasi yang minim dan belum tentu kebenarannya. Tentu pembcicaraannya jadi melebar tak karuan. Akhirnya waktu tersita tak berguna dan hasilnya justru menimbulkan informai keliru yang bisa menimbulkan fitnah dan melahirkan hoax baru,” jelas J.Haryadi.
Owner Majalah Veasna ini sebelum mengakhiri paparannya memberikan beberapa tips yang bisa dilakukan dalam membangun budaya membaca masyarakat, di antaranya adalah melalui budaya mendongeng, selalu menciptakan atau merevisi cita-cita, menyediakan bahan bacaan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat, dan belajar menulis.
***







