Pergeseran Nilai Budaya Melalui Inovasi dan Kreativitas Menuju Indonesia Maju Pasca Pandemi Covid-19
Pergeseran Nilai Budaya – Gejolak dan pengaruh Covid-19 bersifat sangat sporadis terhadap perikehidupan bangsa. Seluruh komponen bangsa terlibat untuk memikirkan solusi dalam mengeliminir akibat dan pengaruh dari Covid-19, serta eksesnya terus menggurita bagaikan mesin waktu yang berlari kencang.
Pemerintah telah berusaha mencurahkan seluruh kemampuannya dengan special focus terhadap penanganan Covid-19, di antaranya: action plan dari mulai software, hardware, dan brainware, serta regulasi Petunjuk Pelaksanaan (Juklak) dan Petunjuk Teknis (Juknis). Mulai dari penyediaan masker, sarana dan prasarana, jejaring penanggulangan, serta regulasi sebagai payung hukum pelaksanaannya dengan diterbitkannya Keputusan Presiden (Kepres) Nomor 7 Tahun 2020 tentang Gugus Tugas Percepatan Penanganan Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) yang diketuai Doni Murtado dan Luhut Binsar Panjaitan untuk tingkat pusat, serta daerah dan provinsi (diwakili data dari Jawa Timur, Jawa Barat, serta DKI). Hal ini dalam rangka melindungi seluruh rakyat Indonesia.
Dalam implementasinya, diperlukan sinergi semua elemen bangsa. Padahal, pada dasarnya protokol kesehatan sangat sederhana, “Ingat pesan Ibu” , yaitu pengunaan masker, rajin mencuci tangan, dan menjaga jarak (3M). Ketiga poin ini akan menjadikan proses manajemen keluarga menjadi generasi unggul jika dilihat dari impact-nya. Kejujuran dan kesadaran terhadap hidup sehat untuk diri sendiri dan orang lain di sekitar kita, juga orang yang kita cintai.
Tentunya masyarakat harus turut serta membantu pemerintah dalam pelaksanaan law inforcement sehingga data yang dibuat secara aktual, transparan, dan bertanggung jawab akan membantu akurasi data nasional hingga BPS, Kementerian, dan Bapenas, serta BKP terbantu dalam membuat akuntabilitas secara profesional (tidak asal tembak). Out comes tersebut adalah sebagai hasil (output) dari proses yang sedang terjadi saat ini.

Berkaitan dengan hal tersebut, program dan kinerja penanggulangan Covid-19 tidak serta-merta dapat dituntaskan sekaligus. Peran budaya sebagai local wisdom perlu diikutsertakan karena bangsa Indonesia terbangun oleh berbagai perbedaan etnis budaya dan agama (Bhineka Tunggal Ika) – berbeda beda adat suku dan budaya tetapi tetap satu – seperti yang dicetuskan dalam Sumpah Pemuda, berbangsa satu bangsa Indonesia,berbahasa satu bahasa Indonesia , dan bertanah air satu tanah air Indonesia.
Paradigma ini harus tetap dijadikan sumpah suci bagi generasi masa kini dan menjadikan budaya sebagai perekat bangsa. Hal ini tidak serta-merta kita biarkan hidup tanpa perawatan (maintenance). Kita narasikan anatomi tubuh kita yang terdiri dari bagian kepala, bagian dada, dan bagian perut ke bawah. Demikian juga hidup berbangsa dan bernegara. Oleh sebab itu, pemerintah Indonesia hadir cukup intens dalam pembentukan generasi unggul penerus bangsa, dalam bentuk program pelatihan, bantuan sandang-pangan, sarana dan prasarana serta keamanan.
Untuk menciptakan generasi berkualitas ini diperlukan peta strategi dengan kunci utama “Generasi Unggul”. Kuncinya antara lain:
- Output langsung (causal);
- Persuasive (membangun kapasitas);
- Supportive (membangun sistem pendukung).
- Regulasi yang mendukung dan melindungi generasi pemuda;
- Membangun kesadaran bangga sebagai generasi (petani, nelayan, santri, pedagang, PNS, TNI, dan POLRI, ustaz, guru, dokter, perawat, pastur, tokoh masyarakat, profesional, pengrajin, penulis, olahragawan, dan profesi lainnya);
- Sosialisasi penting perannya generasi di atas dalam sektor riil;
- Mendidik generasi yang memiliki kemampuan menguasai teknologi informasi (membangun jaringan generasi sampai mancanegara), menjalin harmionisasi dengan semua pihak dalam rangka merawat kebudayaan serta persatuan bangsa. Oleh karena itu, jadilah Generasi Unggul di berbagai lapisan dengan label “AKu Generasi Indonesia” yang bertanggung Jawab.
Refleksi Tingkatan Pelatihan Berbasis Hasil
- Wow (beyond are expection) output-nya bagus, yaitu ada poin-poin yang sama dan dilakukan di pengawasan internal dengan riskanalysis;
- Luar biasa (biasa sebagai pelaksana mengetahui dalam penyusunan program sehingga menghasilkan sesuatu yang keren dalam artikulasi penyampaian materi;
- Enlightment (mencerahkan dalam banyak hal hingga refresh) sehingga akan timbul semangat sebagai proses;
- Great (beda berbasis hasil). Menggiring kata aklamasi setuju meskipun ada perbedaan. Namun, logis dan akhirnya disepakati;
- Oh begitu (terjadi proses analisis masalah) sehingga ada kesulitan setelah berbasis hasil (out come) semakin sulit. Koordinasi lintas mengalami kesulitan;
- Smart (segera dan menyenangkan) dengan pola pelatihan serius, tetapi tidak membosankan yaitu dengan game;
- Mantap (ternyata masih jauh dari biasa dilakukan);
- Solusi cepat (disiapkan untuk mendapatkan solusi cepat) meskipun berupa asumsi maka Artinya bukan hal baru, tetapi dikarenakan suasana dan tim berbeda-beda integral deferential coba selalu excited;
- Oke deh ( bergabung dengan tim untuk perencanaan yang berbasis hasil).

Karakter generasi bangsa dibangun agar memiliki rasa bangga pada negaranya serta sadar (awareness) akan kehidupan dan keberlangsungan bangsa. Hal ini akan mendorong generasi bangsa untuk beropini dan direfleksikan dengan kreativitas dan inovasi sehingga persatuan dan ketahanan bangsa otomatis terawat dengan baik.
Pada dasarnya watak bangsa Indonesia itu bersifat religius, humanis, menyukai persatuan/ kekeluargaan, suka bermusyawarah, dan lebih mementingkan kepentingan bersama. Apabila terjadi konflik sosial, misalnya terjadinya tawuran seperti adanya perang antar kampung, perang antar Rukun Warga (RW) dalam satu kelurahan dikalangan masyarakat, itu sesungguhnya tidak menggambarkan keseluruhan watak bangsa Indonesia.
Sesungguhnya masyarakat Indonesia yang rukun dan toleran itu jumlahnya jauh lebih besar dibandingkan dengan masyarakat yang tidak rukun dan intoleran. Mewujudkan kesadaran masyarakat terhadap kenyataan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang majemuk merupakan hal penting yang harus diperhatikan semua pihak. Jika kesadaran tersebut tidak dimiliki maka keragaman yang seharusnya menjadi potensi untuk maju, justru bisa menjadi masalah.
Adanya keragaman dalam kehidupan berbangsa dan bernegara semustinya tidak dilihat dalam konteks perbedaan, tetapi dalam konteks kesatuan. Analogi kesatuan itu dapat digambarkan seperti tubuh manusia yang terdiri atas kepala, badan, tangan dan kaki, yang masing-masing organ tersebut berbeda satu sama lain, tetapi secara keseluruhan organ-organ tersebut saling terkait dan saling membutuhkan dan merupakan satu kesatuan utuh tubuh manusia. Itulah gambaran utuh kesatuan bangsa Indonesia yang diikat dengan semboyan Bhinneka Tungkal Ika, meskipun berbeda-beda, tetapi tetap satu, sebagai dasar kehidupan bersama ditengah kemajemukan.
Kreativitas Pemuda dan Inovasi Dalam Penanggulangan Covid-19
Generasi muda adalah harapan bangsa. Betapa tidak, peran pemuda dari zaman ke zaman sudah tercatat dalam sejarah sebagai bagian penting yang tak terpisahkan dari keberadaan sebuah negara. Bahkan, salah satu the founding Father kita, Ir. Soekarno pernah mengatakan, “Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia”. Sebuah kalimat legenda yang kini menjadi kenyataan.
Dalam waktu dekat ini, mulai 2020-2035, Indonesia akan menikmati suatu era langka yang disebut dengan Bonus demografi. Pada periode tersebut jumlah usia produktif di Indonesia diproyeksikan berada pada grafik tertinggi dalam sejarah bangsa yaitu mencapai 64% dari total jumlah penduduk Indonesia sebesar 297 juta jiwa.

Bonus demografi menjadi windosw opportunity (peluang) tersebut tentunya memiliki peran penting bagi sebuah negara untuk dapat melakukan percepatan pembangunan di bidang ekonomi dengan dukungan ketersediaan Sumber Daya Manusia usia produktif dalam jumlah yang cukup signifikan. Oleh sebab itu perlu adanya inovasi dan kreativitas agar SDM yang ada bisa dimanfaatkan secara maksimal.
Jika kita kaitkan pidato Ir. Soekarno tersebut, maka sejatinya jumlah besar saja tidaklah cukup untuk bisa membawa bangsa ini menjadi bangsa yang maju dan diperhitungkan dalam percaturan politik internasional. Namun, Bapak bangsa Indonesia itu mengharapkan tersedianya pemuda-pemudi unggul yang memiliki kualitas dan visi yang besar untuk membangun bangsanya.
Kondisi bangsa Indonesia saat ini yang tengah dilanda pandemi Covid-19 tentunya membuat rakyat tidak berdaya. Namun, peran pemuda diharapkan tetap mampu berkarya dan berdaya dengan mengembangkan inovasi dan kreativitasnya sehingga ada solusi dalam menyikapi kondisi ekonomi yang sedang sulit. Contohnya adalah membuat platform bisnis berbasis digital, membudidayakan tanaman hias, ikan hias, perkebunan berbasis teknologi (kultur jaringan, artificial seeds), dan memanfaatkan potensi air sebagai ekowisata.
Masalah Kebangsaan dalam Kehidupan Bernegara
Masalah kebangsaan yang saat ini tengah melanda bangsa Indonesia dalam kehidupan bernegara, adalah: 1. Nasionalisme; 2. Kesejahteraan (fasilitas, sarana dan prasarana, terlupakan/akses/tidak terjangkau, kriminalitas seperti human trafficking, illegal logging, dan terrorism; dan 3. Kebijakan yang tidak aplikatif.
Solusi Penyelesaian
Langkah yang diambil dalam menghadapi berbagai masalah di atas adalah: 1. Program pemantapan nilai-nilai kebangsaan; 2. Membangun sarana dan prasarana; 3. Peningkatan pendidikan; 4. Penerapan dan sosialisasi otonomi daerah yang berkesinambungan; dan 5. Koordinasi intens antar kepentingan.
Menuju Good Government dan Good Governance
Untuk bisa mewujudkan Good Government dan Good Governance diperlukan langkah-langkah sebagai berikut: 1. Visi dan misi yang terukur; 2. Rencana strategis; 3. Regulasi yang mendukung; 4. Budget (anggaran); 5. Sumber Daya Manusia (SDM); 6. Output sebagaiFeed back; 7.Kinerja yang berbasis hasil; 8. Kontrol yang melekat; 9. Inovasi; 10.Adanya nilai jual yang tinggi; dan 11.Prinsip reformasi (efektif, efisien, transparan, dan akuntabilitas).
Pergeseran Budaya yang Berevolusi
Pergeseran budaya yang berevolusi memerlukan komponen-komponen yang kuat dan bertanggung jawab karena akan sangat berpengaruh terhadap seluruh kehidupan masyarakat dunia. Pergeseran tersebut berpengaruh pada demografi, ekonomi, law inforcement, human resources, RENSTRA, terorisme, kejahatan asimestris, agama, ras, pengangguran, pariwisata, transportasi, hoax, kejahatan transgender, cyber crime, dan pembobolan uang nasabah bank. Terlebih kondisi sekarang lebih riskan karena dihadapkan dengan epidemi Virus Covid-19.
Hampir dari seluruh hamparan bumi yang terkena Covid-19 mengalami pergeseran budaya. Baik itu budaya kerja, budaya perdagangan atau e-commerce/market place/pasar mandiri.Tentu hal ini membutuhkan kesiapan dari human resources dalam implementasinya serta mengeliminir segala permasalahan yang sedang dialami bersama.

Terbentuknya klaster masyarakat yang secara sporadis berubah cepat menunjukkan dampak globalisasi tengah berproses.Namun, perlu diantisipasi agar tidak menjadi bom waktu bagi kehidupan. Oleh karena itu, mari bersama-sama menyiapkankan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi, baik secara formal maupun nonformal.
Selain itu, pemerintah harus segera membuat Rencana Strategis (Restra) Pembangunan yang disesuaikan dengan kebutuhan (needs) dipayungi dengan regulasi. Perlu disadari bahwa perkembangan zaman sudah menuntut kita untuk berinovasi dan relevansinya dengan seluruh perangkatnya baik, software, hardware, brain ware pembangunan.

Material lain yang yang harus disikapi secara fokus serius adalah pengaruh dari pembangunan dan budaya yang sudah terlanjur terakses menggurita sebagai akibat mesin globalisasi.Adapun yang perlu kita sikapi adalah Covid-19, globalisasi, perundungan, kemiskinan, kebodohan, narkoba, kejahatan IT, terorisme, dan alkulturisasi. Itu semua disebut AGHT (Ancaman , Gangguan, Hambatan, dan Tantangan) baik bersifat intern maupun ekstern.
Salah satu cara untuk menangkal tersebut di atas, kita telah mempunyai alat yang tangguh, yaitu keimanan dan budaya yang sudah ditanamkan secara dini dalam diri kita masing-masing oleh founding father dan orang tua kita, seperti ajaran agama yang melarang berbuat jahat dan menuntun kita untuk berbuat kebaikan. Sementara itu budaya merupakan alat yang melenturkan kita dalam kehidupan bermasyarakat, seperti budaya gotong-royong, tepo seliro, dan menanamkan suri teladan.
Para santri tidak hanya belajar tentang surga dan neraka, tetapi lebih mengimplemetasikan nilai keseimbangan (eqiliubrium). Itu semua merupakan modal dasar bangsa indonesia untuk mencapai kesejahteraan sebagaimana tertuang dalam nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945.
Pergeseran Nilai Budaya Pasca Pandemi Covid-19
Dapat disejajarkan era pasca Pandemi Covid-19 pengertiannya dengan “New Normal ” atau menjemput zaman yang lebih baik. Membahasakannya lebih dimengerti oleh semua kalangan.Dalam pengertian sederhana adalah kebiasaan (habbit) yang sengaja dilakukan untuk diperoleh manfaatnya. Contohnya 3M yaitu budaya menggunakan Masker, Mencuci tangan, dan Menjaga jarak.
Pembentukan generasi unggul berkorelasi dengan meningkatnya jumlah penduduk yang sadar terhadap pentingnya pola hidup sehat, serta sadar untuk tidak menularkannya pada orang lain sehingga timbul saling menjaga satu dengan lainnya dalam kurun waktu yang telah diprogramkan pemerintah. Selain itu, sadar hukum untuk tidak melanggar aturan yang telah dibuat oleh pemerintah.
Pergeseran nilai budaya lainnya, termasuk dalam birokrasi seperti mengubah regulasi seperti Rencana Strategis (Restra) yang mengacu kepada needs (kebutuhan yang diprioritaskan rakyat) atau dalam organisasi birokrasi diterjemahkan dengan fleksibilitas yang dibutuhkan dalam kepemimpinan. Selain itu, produktivitas sangat penting dalam mengembangkan produktivitas sebagai progresnya.
Dengan terbentuknya Generasi Unggul Indonesia maka Indonesia akan sejahtera dan tentunya untuk menuju hal tersebut diperlukan persiapan dan kerja sama berbagai pihak antara masyarakat dan pemerintah.
***
Penulis: Dr. Indira Santi Kertabudi , M.Si.
Editor: JHK
Catatan:
Penulis adalah alumni S-3 Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung dan Nanyang Politeknik Singapore (NYP). Beliau adalah sorang Aparatur Sipil Negara (ASN) yang berdinas sebagai Analis Kebijakan Madya, Deputi Bidang Pengkajian Strategik di Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) Republik Indonesia (RI).








