CerpenLiterasiPratama Media News
Tren

Misteri Gitar Tua 2 (Bagian 2 dari 2 – Tamat)

Sebuah Cerbung karya Heni Anggraeni

Misteri Gitar Tua 2 – Cerita sebelumnya bisa Anda baca di tautan berikut ini.

***

Setelah mandi dan sarapan pagi mereka kembali berkumpul diteras rumah, cuaca pagi itu agak mendung,bahkan embun pagi pun masih nampak di permukaan dedaunan.

Tak ada yang diceritakan Indra tentang kejadian semalam, Indra tidak mau adik dan kedua sahabatnya menjadi tidak betah. Apalagi Elsa sudah pernah melihat sosok perempuan itu, tetai Indra melihat Elsa dan Dimas yang seakan murung tidak ceria seperti biasanya.

“Aku perhatikan dari tadi, kalian lebih banyak diam, kenapa? Kalian tidak betah?” tanya Indra sambil menoleh kearah Dimas dan Elsa.

“Aku hanya sedikit pusing saja Ndra,” jawab Dimas. Sementara Elsa hanya tersenyum kecil saja tanpa memberikan komentar.

“Aku mau lagu yang kemarin lagi Ndra, ayo kita bernyanyi lagi,” pinta Dimas berusaha ceria.

“Ya bener, aku juga suka,” ujar Elsa dengan wajah mendadak bersinar.

Tanpa banyak bicara Indra bangkit dan mengambil gitar kesayangannya.

Denting suara gitar mulai terdengar, tiba-tiba …

***

Tiba-tiba angin berembus ke arah mereka.

“Wis! Ada apa nih! Kok angin tiba-tiba berembus!” teriak Indri keheranan.

“Iya ya,aduh aku jadi merinding nih!” ujar Elsa sambil menggeser tempat duduknya.

Tanpa menghiraukan adik dan teman temannya, Indra terus saja memetik gitarnya, membawakan lagu yang kemarin dinyanyikannya.

Entah kenapa Elsa tiba tiba menangis,membuat semua keheranan,Indri dan Dimas sudah berusaha menenangkannya, tetapi tetap tak berhasil, tak ada yang tahu apa penyebab kesedihannya itu. Namun, setelah Indra berhenti, berhenti pula tangisan Elsa. Tak ada yang berusaha untuk bertanya, tak ada pula yang memaksa untuk bicara, semuanya hanya diam, hanya isak tangis Elsa yang terdengar. Begitu pun dengan Indra,dia tak berusaha untuk berhenti ketika Elsa mulai menangis,entah apa yang terjadi, sungguh pagi yang penuh misteri.

***

“Dari tadi hujan gak berhenti berhenti ya,” ujar Elsa pada Indri, usai menunaikan salat Isya sambil menyibakkan gorden kamarnya seraya melihat ke arah luar yang begitu gelap.

“Astagfirullah!” Kaki Elsa mundur selangkah seraya menutup kembali gorden kamarnya.

“Ada apa kak Elsa?” tanya Indri penasaran.

“Aku melihat perempuan itu lagi Dri,” jawab Elsa dengan muka pucat pasi.

Indri yang lagi ngutak-ngatik handphone-nya segera bangkit dan melihat ke arah luar.

“Tidak ada siapa siapa,kakak salah liat kali!” ujar Indri menenangkan Elsa. Padahal, dia pun mulai merasa takut.

“Ayo kita gabung saja sama kak Indra dan kak Dimas!” ajak Indri pada Elsa.

“Nggak ah, aku mau tiduran saja,” jawab Elsa,entah mengapa,semenjak tahu perasaan Indra yang sebenarnya, Elsa jadi merasa canggung dan malu, dia juga takut tidak bisa menyembunyikan perasaannya hingga melukai perasaan Dimas.

Elsa akhirnya merebahkan dirinya di atas kasur, cuaca yang dingin mengharuskan Elsa menutupi tubuhnya dengan selimut yang super tebal.

Rasa hangat yang dirasakannya telah berhasil membuatnya melupakan perempuan itu lagi, tidak usah menunggu lama saat Indri mengajaknya ngobrol, gadis itu sudah kedengaran mendengkur pertanda telah tertidur pulas.

“Kenapa seperti ada yang menggerayangi tubuhku? Mengapa pula angin begitu kencang hingga jendela kamar terbuka lebar?” tanya Elsa sambil membuka selimutnya.

Benar saja tangan penuh darah tengah menggerayangi tubuhnya terus menjalar ke pipinya, terlihat jelas wajah pucatnya menatap Elsa dan berkata …

“Kejar cinta kamu! Kejar cinta kamu!” Perempuan itu menarik tangan Elsa dengan kuat hingga gadis itu terjatuh dari tempat tidurnya.

Elsa berteriak sejadinya, ia hendak lari, tetapi kakinya ditarik perempuan itu,hingga gadis itu tak bisa lari, Elsa berteriak-teriak minta tolong dan berusaha memberontak untuk melepaskan genggaman perempuan itu.

“Tolong aku!tolong aku!” teriak Elsa membuat Indri yang saat itu masih terjaga,menggoyah-goyahkan tubuh Elsa dengan muka panik.

Tak lama kemudian Indra dan Dimas menghampirinya.

“Ada apa Dek! Elsa kenapa?” tanya Indra.

“Gak tahu Kak! Elsa tiba-tiba berteriak-teriak,” jawab Indri sambil menangis.

“Elsa! Sadar Elsa!” ujar Indra sambil menepuk nepuk pipi Elsa, sementara Dimas hanya diam mematung. Dia seakan tak bisa berbuat apa-apa karena merasa Indra sudah melakukan apa yang ingin dia lakukan dan setelah Elsa tersadar, dengan sigap pula Indra langsung mengambil segelas air dan diminumkannya pada gadis itu.

” Kamu mimpi apa El,Apa yang terjadi, tolong ceritakan pada kami.” Desak Indra sambil duduk disampingnya.

Semula Elsa hanya terdiam, dia hanya menatap sekeliling kamar. Setelah itu barulah dia menceritakan semua yang terjadi dalam mimpinya.

“Wanita itu terus berkata ‘Kejar cinta kamu! Kejar cinta kamu!’, Dra!” ujar Elsa sambil menangis.

Kenapa persis seperti yang menimpaku saat itu? Gumam Indra sambil mengernyitkan keningnya.

Indra tak meneruskan pertanyaannya pada Elsa pandangannya beralih pada Dimas.

“Kita tidur di sini saja Dim, kasihan Elsa dan Indri,” ujar Indra memutuskan untuk menemani Indri dan Elsa sambil merogoh handphone dari saku celananya.

Terdengar Indra menelpon Mang Jaja untuk datang kerumahnya, tak lama kemudian Mang Jaja datang dengan tergesa-gesa.

“Ada apa Nak Indra?” tanya Mang Jaja sambil melihat ke arah Elsa yang terbaring syok.

Indra menceritakan apa yang terjadi pada Elsa dan dirinya pada Mang Jaja.

“Dari hari pertama kami sudah merasakan hal yang aneh di rumah ini mang,” papar Indra pada Mang Jaja.

“Apa Mang Jaja tahu sesuatu? Kalau ada tolong ceritakan mang!” tanya Indra.

Mang Jaja tak langsung menjawab pertanyaan Indra, dia sempat tertegun sebentar.

“Apa yang nak Indra ceritakan, sama persis seperti yang Mang Jaja alami, bedanya perempuan itu hanya menampakkan wujudnya pada Mang Jaja tanpa bicara,” jawab Mang Jaja dengan sangat hati-hati.

“Kenapa Mang Jaja tidak cerita sama kami?” tanya Indra seakan menyalahkan Mang Jaja.

“Tadinya Mang Jaja berpikir ,perempuan itu hanya akan mengganggu Mang Jaja saja,” jawab Mang Jaja sambil menatap mereka berempat.

Dengan menghela napas panjang, Mang Jaja mulai menceritakan awal mula kemunculan perempuan misterius itu.

“Berawal dari kepenasaran Mang Jaja dengan gitar nak Indra malam itu,… dengan pedenya Mang Jaja menirukan gaya nak Indra sambil memainkan gitar itu.”

“Tapi tiba-tiba angin datang berembus entah dari mana datangnya, tetapi yang pasti, setelah suara denting gitar berbunyi, tak lama kemudian muncul perempuan dengan tangan berlumuran darah, mukanya pucat menatap tajam pada Mang Jaja,” ujar Mang Jaja.

“Semenjak itu Mang Jaja selalu dihantui perempuan itu.”

Penjelasan Mang Jaja seketika membuat bulu kuduk semakin berdiri.

“Mungkin karena rumah ini sudah lama kosong,dan hanya sesekali saja Mang Jaja menginap disini,” ujar Mang Jaja.

“Guru ngaji Mang Jaja bilang, rumah yang di biarkan kosong,selain akan cepat rusak juga akan dihuni oleh bangsa jin dan sejenisnya,” tambah Mang Jaja.

“Sudah sering Perempuan itu duduk di tempat tidur Mang Jaja,kalau Mang Jaja kebetulan nginap di sini atau kadang-kadang muncul di kamar mandi bahkan, sering bergelayutan di atas pohon depan rumah,” tutur Mang Jaja sambil menunjuk pohon besar di depan rumah membuat bulu kuduk merinding, apalagi setelah pintu kamar mendadak tertutup dengan sendirinya.

“Kalau Mang Jaja ceritakan, sudah tak terhitung Mang Jaja jatuh karena lari ketakutan,” ujar Mang Jaja lagi.

“Siapa dia mang, apa Mang Jaja pernah mencari tahu?” tanya Dimas.

“Mang Jaja tidak mencari tahu,tapi Mang Jaja dapat kabar dari kampung sebelah bahwa ada seorang gadis bunuh diri dengan menyayat urat nadi tangannya,” ujar Mang Jaja.

“Bunuh diri kenapa Mang?” tanya Indra penasaran.

“Kisah cinta mereka dilarang kedua orang tua gadis itu,hingga laki laki yang dicintainya jatuh sakit dan meninggal dunia.” Mang Jaja menghela napas sebentar lalu bercerita lagi.

“Orang tua gadis itu tidak setuju karena pemuda itu hanya seorang pemain gitar sebuah band di kampungnya, sementara sang gadis anak dari seorang yang kaya raya.” Kembali Mang Jaja menarik napas panjang.

“Gitar itu dihadiahkan sang pemuda, kepada gadis yang dicintainya itu sebelum mengembuskan napas terakhirnya.

“Terus, gadis itu bunuh diri mang?” tanya Indri dengan mata berkaca kaca.

“Dia mengurung diri dalam kamarnya,dan mencoba bunuh diri dengan menyayat urat nadi tangannya ,dalam keadaan tangan terluka, gadis itu terus memetik gitar itu, berharap kekasihnya hidup kembali dan datang menemuinya hingga darahnya habis dan tak tertolong lagi.” Mang Jaja mengakhiri ceritanya.tiba-tiba pintu kamar terbuka setelah tadi tertutup sendiri,seperti ada seseorang yang masuk.

Indri langsung memeluk Elsa dengan muka sangat ketakutan.

“Lantas apa hubungannya kejadian ini dengan yang menimpa aku sama Elsa mang?” tanya Indra melanjutkan kepenasarannya, seolah tidak peduli dengan kejadian kejadian aneh saat itu.

“Bukan menghubung hubungkan,tapi perempuan yang Mang Jaja, Nak Indra dan Neng Elsa lihat, memiliki persamaan dengan gadis itu,” jawab Mang Jaja.

“Atahu mungkin karena ada cinta yang belum terwujud diantara kalian?” tanya Mang Jaja sambil menatap Indra.

“Cinta yang belum terwujud?maksudnya?” tanya Indra dengan wajah yang tak mengerti.

“Apa kalian berdua saling mencintai?” tanya Mang Jaja tanpa menghiraukan pertanyaan Indra.

“Mang Jaja benar.” Tiba-tiba Dimas menyela pembicaraan.

“Cinta yang tulus akan membuat makhluk itu pergi dari rumah ini,karena hanya itu yang dibutuhkan, tidak ada hal yang lainnya,” ujar Dimas lagi.

“Apa maksud ucapanmu Dim?” tanya Indra masih tetap belum mengerti.

“Aku tahu kalian saling mencintai,dan mungkin perempuan itu menginginkan cinta kalian bersatu, walaupun kisah kalian berbeda, tetapi ada cinta yang harus kalian perjuangkan hingga perempuan itu selalu mengganggu kalian,” ujar Dimas.

“Aku sudah tahu semuanya Dra,kemarin tanpa sengaja aku melihat Elsa menangis,dan aku tahu penyebabnya, kalian sama sama menyimpan rasa yang sama kan?” tanya Dimas pada sahabatnya itu dan sukses membuat Indra diam seperti mati kutu.

“Kamu dan Elsa sedang memainkan sebuah peran untuk menjadi bintang utama, sementara aku dan yang lainnya hanya sebagai peran pembantu,jika ending-nya bahagia, aku yakin perempuan itu akan bahagia dan pergi selama lamanya dari rumah ini,” jawab Dimas

“Aku ikhlas, lagi pula ada yang bilang Elsa tak lebih cantik dari dia,” jawab Dimas sambil menoleh ke arah Indri hingga membuat Indri tersipu malu.

“Jadi tak ada yang harus kuperjuangkan lagi untuk tetap bertahan,” lanjut Dimas.

“Jika perkataanku benar, aku yakin sosok perempuan itu akan pergi malam ini juga.”

Dengan penuh keyakinan Dimas melangkah ke arah Indra dan menuntunnya pada Elsa.

“Cinta sejati kalian,bukan hanya akan membuat makhluk astral itu bahagia,tapi juga aku dan juga adikmu,” ujar Dimas sambil tersenyum.

Tak ada yang terucap dari mulut Indra dan Elsa saat itu, angin yang tiba-tiba berembus, mengalihkan perhatian mereka pada jendela kamar yang terbuka lebar dan terdengar suara benda jatuh dari ruang tengah.

Mang Jaja yang berlari duluan mendapati gitar Indra terjatuh dari tempatnya.

“Semoga saja perempuan itu benar benar pergi,” bisik Mang Jaja dalam hati karena Mang Jaja yakin gitar itu tempat bersemayamnya makhluk astral itu.

Indra yang melihat gitar itu tergeletak langsung mengambilnya.

“Coba nak Indra mainkan!” pinta Mang Jaja dengan wajah penasaran.

Perlahan Indra memetik gitar itu,terdengar begitu damai, tak ada angin yang berembus atau Elsa yang menangis atau suara benda yang terjatuh, melainkan hati yang tersentuh dan terenyuh. Apalagi ketika Dimas kembali menuntun Indra kehadapan Elsa.

“Jangan pernah cemburu lagi padaku,” ujar Dimas pada Indra sambil tersenyum.

“Aku juga titip dia padamu.” Kembali Dimas membuat haru yang menyaksikan.

Saat itu juga Indra memeluk Dimas dengan rasa terharu dan bahagia.

“Aku bangga punya sahabat seperti kamu,” bisik Indra sambil menepuk nepuk bahu Dimas.

Air mata dan senyum bahagia turut menghiasi wajah Elsa dan Indri. Begitupun Mang Jaja, dirinya baru tahu dan menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, dahsyatnya cinta sejati dan indahnya sebuah persahabatan, serta tulusnya sebuah pengorbanan.

***

Pagi yang cerah, Indra, Indri, dan Elsa serta Mang Jaja yang menginap malam tadi, berkumpul di teras depan.hanya Dimas yang belum terlihat saat itu.

“Aku harus balik ke Bogor dulu teman teman,ibuku masuk rumah sakit,” ujar Dimas yang sudah berpakaian rapi dengan tas gendong di punggungnya.

“Beneran Dim?” tanya Indra dengan nada tak percaya.

“Tadi malam ayah meneleponku,maaf aku baru ngasih tahu sekarang,” jawab Dimas sambil menyalami Mang Jaja dan teman-temannya.

Elsa menghampiri Dimas dengan wajah yang tak percaya dan mata yang berkaca-kaca.

“Apakah ini adalah salah satu alasan untuk bisa menghindariku Dim?” tanya Elsa sambil menghalangi langkah Dimas.

Dimas hanya tersenyum, tanpa menjawab pertanyaan yang dilontarkan Elsa.

“Maafkan aku Dim.”Elsa menangis dipelukan Dimas,gadis itu merasa senyuman Dimas isyaratkan masih ada cinta di hatinya hingga gadis itu merasa bersalah dan menangis dalam pelukan Dimas.

“Jangan takut,secepatnya aku akan kesini lagi,” jawab Dimas meyakinkan Elsa juga Indri yang tiba-tiba ikut memeluknya.

“kamu akan tetap jadi sahabatku selamanya,jaga dirimu baik baik,” pesan Dimas sambil menatap Elsa.

“Dan kamu … yang merasa lebih cantik dari Elsa,suatu saat kamu bisa jadi pacar aku,atahu akan tetap menjadi adikku selamanya,” ujar Dimas sambil tersenyum,seraya mengusap kepala Indri yang sudah dianggap adiknya itu.

Indra dan Mang Jaja pun ikut tertawa sembari kembali bersalaman.

Dengan perasaan berat, Elsa dan Indripun perlahan melepaskan pelukannya dan ikhlas melepas kepergian Dimas.

Entah mengapa perasaan kedua gadis itu seakan mengatakan kalau Dimas tak akan pernah kembali padanya.

“Semoga ibumu cepat sembuh, hati-hati dijalan,jangan lupa kembali ke sini,” ujar Indra melepas kepergian Dimas, diikuti lambaian dari semuanya.

***

Sampai kepulangan mereka ke kota Bogor, ternyata Dimas tak pernah menemui mereka lagi.terdengar kabar pemuda itu telah pindah entah ke mana,tanpa pesan atahu menelpon sekalipun. Tak ada seorang pun yang tahu tentang keberadaannya,namun yang pasti setiap Indra memetik gitarnya yang sengaja dibawanya dari lembang,seiring hembusan angin, Dimas akan muncul, tanpa memperlihatkan wajahnya,dan setelah itu dia akan menghilang ,ketika Indra selesai memainkan dawai gitarnya.

Misteri itu masih Indra rahasiakan Sampai kini,tak pernah ada yang tahu, sekalipun Elsa,Indri,Mang Jaja atau siapa pun.Namun yang pasti, dalam gitar tua itu ada persahabatan sejati antara Dimas dan Indra.

Telah pergi ataupun belum,Indra tak pernah kehilangan sosoknya karena dia selalu menemaninya setiap saat,dikala senang atahupun sedih,suka maupun duka.

Dimas aku rindu kamu.

Hanya kata kata itu yang selalu diucapkan Indra,saat sosok Dimas muncul, walau tanpa suara, diam tanpa kata. Namun, air mata Indra akan jatuh dipipinya,saat Dimas hilang dari pandangannya.

Indra hanya paham bahwa sahabatnya takkan pernah kembali lagi seperti dulu.

Indra memeluk gitar tuanya,sambil menangis dan berteriak mengucap maaf pada sahabatnya itu. Selamat jalan Dimas, selamat jalan sahabatku … maafkan aku ….

Tetaplah diam dalam gitar tuaku,agar aku bisa memanggilmu di kala rindu, sahabatku ….

(TAMAT)

*****

Judul: Misteri Gitar Tua (Bagian 2 dari 2 – Tamat)
Penulis: Heni Anggraeni
Editor: AN

Profil penulis:

Heni Anggraeni saat ini bekerja sebagai karyawan di PT. Perdana Firsta Garment. Sudah lama dia memiliki keinginan kuat untuk menjadi seorang pengarang. Meskipun usianya sudah bukan remaja, tetapi semangat berkaryanya luar biasa. Sudah beberapa cerita pendek lahir dari tangan dinginnya.

Artikel Berkaitan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button