
Cita-cita Mulia Seorang Suhada
Sebuah Cerpen Karya Heni Anggraeni
Cita-cita Mulia Seorang Suhada – Sempat ingin menahan langkahnya, begitulah, sisi kemanusiaan Pak Suhada saat ditindih ego hingga kepalanya pusing seakan tengah dilanda vertigo.
Bapak pendiri Taman Bacaan Masyarakat (TBM) ini terlihat memijit-mijit keningnya sambil menyandarkan tubuhnya di kursi yang hampir seluruh tempat duduknya itu terisi penuh oleh tubuhnya yang subur.
Mungkin pundakku ini, sengaja Allah pilih untuk menahan beban atas ujian yang diberikanNYA, karena mungkin orang lain takkan sanggup untuk memikulnya dan mungkin pula, kegagalan ini adalah cara Allah untuk mengangkat derajatku. Pikir Pak Suhada dalam hatinya, ketika kegagalannya menjadi kepala desa, kembali mengganggu pikirannya.
Kandasnya harapan menjadikan desanya harum, pupus sudah.
“Kopinya Pak!” tawar Bu Susi sambil duduk di samping suaminya dan membuyarkan lamunan Pak Suhada.
Ditepuk-tepuknya kursi yang didudukinya.
“Sudah berapa kali, kursi ini berpindah tempat Pak?” tanya Bu Susi mengingat kursi yang didudukinya itu sudah berkali-kali pindah posisi.
Pak Suhada pun hanya tersenyum membalas celotehan istrinya itu. Bagaimanapun, dirinya menyadari tak ada barang mewah di rumahnya atau beberapa kursi yang empuk untuk menerima para tamunya. Padahal, untuk membeli barang-barang tersebut, bukanlah hal yang susah bagi pasangan suami-istri itu.
Rumah besarnya sudah disulap menjadi tempat majelis ta’lim yang diadakan setiap hari Sabtu khusus untuk pengajian ibu-ibu. Bahkan, seluruh ruangan kamarnya dijadikan ruangan kelas untuk siswa-siswi sekolah dasar yang sudah hampir dua tahun didirikannya.
Sungguh, tak banyak yang tahu, seorang Pak Suhada yang juga guru besar di sebuah perguruan tinggi ini memiliki segudang cita-cita dan keinginan yang mulia.
“Mungkin saat ini, tempat istirahat kita tak lagi luas bahkan, untuk tidur pun tempat kita begitu terbatas, tetapi ibu ikhlas kan?” tanya Pak Suhada pada istrinya yang seakan merajuk.
Terlihat senyum kecil tersungging dari bibir istrinya. Entah apa arti senyumannya, tetapi sebagai manusia biasa, ibu yang berprofesi sebagai guru ini terkadang merindukan kemewahan. Rumah luas dengan segudang perabotan yang serba luks juga bisa beristirahat dengan tenang atau bisa mempunyai quality time setiap week end bersama keluarga kecilnya. Namun, sudah menjadi konsekuensinya sebagai istri dari seorang Pak Suhada yang mempunyai cita-cita besar. Siapa lagi kalau bukan dirinya sebagai orang pertama yang harus memberikan dukungan penuh kepada suaminya.
“Kenapa bapak seperti ragu, ibu ikhlas menjalani semua ini bersama-sama.” ujar Bu Susi sambil memeluk putri kecilnya yang datang menghampirinya.
Geisya, putri kedua dari Pak Suhada dan Bu Susi ini, sudah mulai terbiasa tanpa kakaknya yang sudah beberapa bulan ini mondok di pesantren.
“Syukurlah kalau begitu.” Terlihat wajah Pak Suhada begitu sumringah tanda senang.
“Sebanyak apa pun kebaikan yang kita miliki, jika tanpa keikhlasan, apalah artinya,” ujar Pak Suhada .
Dirinya sangat merasa bersyukur dan beruntung memiliki istri yang seirama seperti Bu Susi, yang mungkin tak dimiliki oleh para istri di luar sana.
***
Jalanilah kehidupan di dunia ini, tanpa membiarkan dunia masuk kedalam dirimu, karena ketika perahu berada di atas air, ia mampu berlayar dengan sempurna, tetapi ketika air masuk ke dalamnya, perahu itu tenggelam. (Ali bin Abi Thalib).
Kutipan nasihat dari Ali bin Abi Thalib di atas adalah bagian dari ceramah Ustaz Cep Rizal yang sudah biasa mengisi materi di majelis ta’lim yang ddirikan Pak Suhada, Majelis Ta’lim Al Husna namanya, setelah sebelumnya diisi dengan acara doa oleh Ustaz Rudi yang juga sebagai pengisi materi bersama Ustaz Cep Rizal.
Pak Suhada mengangguk-anggukkan kepalanya sambil menatap Ustaz Cep Rizal.
Mungkin kegagalanku selama ini adalah bentuk kasih sayang Allah atas diriku agar tidak mencintai dunia dan tetap fokus pada tujuan utamaku. Pikir Pak Suhada dalam hatinya setelah mendengar kajian dari Ustaz cep Rizal, Cukup Allah menegurnya dengan dua kali kegagalan, yakni saat mencalonkan menjadi anggota legislative dan juga kepala desa yang belum lama ini diadakan di tempat kelahirannya.
Dengan segala kegagalannya itu, Pak Suhada ingin membuktikan bahwa dengan prestasi, serta kereativitas juga mencetak dan melahirkan para generasi muda menjadi muslimin dan muslimat yang sejati, bisa membuat desanya menjadi harum.
Bukan hanya itu, cita-citanya membuat rumah tempat tinggalnya ramai oleh suara orang berdoa, suara orang mengaji merupakan impiannya sejak dulu.
Bersama para ustaz pengisi materi di majelis ta’limnya juga para pengurusnya, Pak Suhada yakin segala niat baiknya akan menjadi berkah, bukan hanya di dunia, melainkan juga di akhirat kelak.
***
Alfi dan Icha berlari-lari kecil di tengah gerimis pagi. Kedua gadis kecil itu setiap hari berjalan kaki. Kebetulan jarak rumah dan sekolahnya tidaklah jauh. SDIT Cahaya Qur’ani yang mereka tuju.
“Ayo Cha! Cepetan!” seru Alfi sambil mengangkat rok sekolahnya karena takut terkena genangan air.
“Wah, Salat Duhanya sudah mau selesai Cha!” teriak Alfi pada Icha sesampainya di sekolah, sambil membuka ikatan tali sepatunya.
Icha hanya melirik sahabatnya itu sembari berusaha membuka sepatunya dan meletakkannya di samping sepatu milik teman-temannya yang lain. Begitu pun dengan Alfi, keduanya sudah mengerti bahwa aturan yang diajarkan oleh bapak-ibu gurunya merupakan aturan yang harus ditaatinya.
“Ayo masuk!” ujar Pak Sholeh.
Guru muda dan ganteng itu kemudian memapah keduanya untuk mengikuti barisan murid-murid yang lainnya.
Sudah menjadi kebiasaan sekolah yang didirikan Pak Suhada ini, mengharuskan anak didiknya, sebelum memulai aktivitas belajar, terlebih dahulu melakukan Salat Duha. Setelah itu muraja’ah, menghafal surat-surat pendek dari ayat suci alquran yang sudah diajarkan.
“Alfi, Icha, kenapa datangnya telat Nak?” tanya Pak Shaleh setelah menunaikan Salat Duha.
Alfi dan Icha yang pemalu hanya tersenyum menatap Pak Shaleh .
“Lain kali, jangan diulangi lagi ya!” ujar Pak Shaleh mengingatkan Alfi dan Icha.
“Juga untuk kalian semua, jangan sampai kesiangan ya!” ulang Pak Shaleh yang dijawab serentak, iya, oleh anak didiknya.
“Iya Pak Guru.” Ara yang sepertinya mengantuk dan menjawab belakangan dari teman-temannya yang sontak saja membuat suasana kelas menjadi gaduh.
“Ha … ha … ha!” Budiman dan keempat rekannya terlihat begitu senang melihat Ara yang terlihat malu.
Pak Shaleh kemudian mendekati Budiman sambil menempelkan jari telunjuk di bibirnya sebagai isyarat untuk diam.
Sementara di pojok ruangan terlihat Mika memisahkan diri dengan muka cemberut.
“Kenapa Mika? Ayo ikut gabung Nak!” ajak Pak Shaleh sambil menghampirinya.
“Asep tadi mendorongku Pak!” jawab Mika sambil menunjuk Asep.
“Oh rupa-rupanya si cantik Mika ini lagi kesal sama Asep,” ujar Pak Shaleh sambil tertawa.
“Asep .., ayo minta maaf nak,” ujar Pak Shaleh sambil melambai ke arah Asep.
“Gak apa-apa Pak, aku maafkan, tetapi jangan gitu lagi nanti sama aku ya, Sep.” jawab Mika dengan mata mendelik ke arah Asep.
Tepuk tangan pun riuh terdengar, Pak Shaleh pun memuji sikap Mika yang sudah bisa memaafkan tanpa harus dibujuknya.
Seru dan cerianya siswa siswi SDIT Cahaya Qur’ani membuat Pak Suhada dan para guru pembimbingnya terlihat bangga dan bahagia, terlebih ketika semua membacakan ayat-ayat suci alquran serta lantunan doa secara serempak sehingga membawa kebahagian dan kebanggaan tersendiri bagi Pak Suhada. Cita-citanya perlahan-lahan mulai terealisasikan, bapak yang tak pernah kehilangan semangat ini mengucap syukur kepada Allah SWT.
Kini rumahnya tak pernah sepi dari lantunan ayat-ayat suci alquran serta doa-doa dari anak-anak yang belum berdosa, pahalanya bukan hanya mengalir untuk kedua orang tua mereka, tetapi juga untuk keluarga Pak Suhada .
Sungguh, tidak sia-sia orang tua Pak Suhada yang telah mendidik dirinya karena ternyata dari kesalehannya tanpa Pak Suhada sadari akan mengalir terus pahala bagi kedua orang tuanya.
Semoga cita-cita mulianya tidak akan tergerus zaman, benar-benar mencetak anak-anak berprestasi juga berakhlak mulia seperti apa yang diharapkannya.
Semoga satu atau dua tahun ke depan, apa yang dicita-citakan Pak Suhada bukan hanya mengharumkan desanya, melainkan juga mengharumkan bangsa dan negaranya. Amin, Yaa Robbal ‘Alamin ….
TAMAT
*****
Judul: Cita-cita Mulia Seorang Suhada ….
Penulis: Heni Anggraeni
Editor: AN
Profil penulis:
Heni Anggraeni saat ini bekerja sebagai karyawan di PT Perdana Firsta Garment. Sudah lama dia memiliki keinginan kuat untuk menjadi seorang pengarang. Meskipun usianya sudah bukan remaja, tetapi semangat berkaryanya luar biasa. Sudah beberapa cerita pendek lahir dari tangan dinginnya.








