Daster Emak
Sebuah cerpen karya Sarkoro Doso Budiatmoko, alumni Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Iowa State University, Amerika Serikat
Pratama Media News, cerita pendek (cerpen) berjudul “Daster Emak” ini merupakan karya Sarkoro Doso Budiatmoko, alumni Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Iowa State University, Amerika Serikat.
Sudah beberapa hari ini istriku terus menerus memakai baju rumah, sekaligus baju santai milik emaknya, daster. Siang dan malam, ia terus memakainya untuk berbagai kegiatan, seperti masak, nyuci, bersih-bersih rumah dan belanja sayur. Baju berlatar warna hitam dengan corak hiasan gambar bunga-bunga kecil kombinasi merah, kuning, dan hijau itu selalu melekat di badannya.
Daster tua itu menggelayut begitu pas di tubuh istriku. Tidak tampak kekecilan dan tidak pula kelihatan kegedean. Pas sekali, seukuran dengan badannya.
Dasternya memang bagus dan tampak bertambah indah ketika dipakai berjalan. Bunga-bunga itu layaknya berayun kesana-kemari saat kainnya melambai-lambai mengikuti irama gerak tubuh. Demikian juga saat angin nakal menghembusnya ke sana kemari.
Tidak aneh, karena tubuh istriku memang seukuran dengan tubuh emaknya. Banyak pakaian istriku yang juga pas dipakai emaknya. Bagi anak dan emak ini, saling tukeran baju itu menjadi wujud keakraban.
Namun, indah kayak apapun, kalau melihatnya setiap hari, setiap saat, di sembarang tempat dan di setiap sudut rumah, tentu muncul rasa bosan juga. Mata ini seperti dipaksa menikmati pemandangan yang sama dalam waktu yang lama. Bukan hanya mata jadi pegal, hati pun bisa menjadi kesal.
Sempat hati ini merasa lega ketika pagi, beberapa hari lalu aku melihat istriku melepas dasternya, lalu berganti dengan kaos dan celana training ̶ pakaian kerja kalau lagi di rumah. Rasanya bertambah lega ketika pagi yang sejuk itu dasternya dicuci. Setidaknya akan ada jeda beberapa waktu untuk istirahat mata dari melihat pakaian yang sama, apalagi kalau ini dicuci memakai tangan karena lebih lama keringnya daripada dicuci dengan mesin. Jeda waktunya menjadi bertambah lama. Lumayan.
Basa-basi aku tanya, “Kok nyucinya pakai tangan, Bu?”
“Iya, pakai tangan Pak, takut kainnya rusak kalau ikut digiling bareng pakaian lain di mesin cuci,” jawab istriku.
“Ooh begitu yaa,” ujarku seolah-olah bego.
“Lagian juga gak kotor-kotor amat kok Pak, sekedar membuang keringat,” timpal istriku lagi.
Istriku terlihat begitu hati-hati saat ia mencuci daster yang satu itu, seolah-olah takut melukai, merobek atau khawatir benang jahitan dan kancingnya lepas. Sangat beda kalau ia mencuci pakaian lain.
Cara menjemurnya juga tidak biasa. Daster itu dijemur tidak langsung di bawah sengatan panas matahari. Jenis pakaian kegemaran emak-emak itu digantung dengan hanger dan diangin-angin di emperan rumah.
“Biar lebih awet dan warnanya tidak semakin mbladus (pudar) Pak, maklum pakaian edisi lama,” ujar istriku lagi.
Daster itu akhirnya kering menyusul pakaian lain. Angin sepoi-poi dan hawa panas hari itu membantu proses keringnya.
Lagi, di sini terlihat lagi kehati-hatian istriku saat mengangkatnya dari jemuran. Daster itu diangkatnya dan langsung disetrika mendahului pakaian lainnya yang lebih dulu kering. Aku pikir daster itu setelah licin disetrika, dilipat, lalu masuk lemari untuk disimpan dan dipakai di lain hari.
Ternyata dugaanku meleset. Begitu selesai dan licin, istriku langsung memakainya kembali.
Sesaat sempat muncul sebersit perasaan iri di hati ini. Iri karena pakaian kerjaku saja tidak sebegitunya perlakuannya, padahal dengan pakaian kerja itulah aku mencari uang menghidupi keluarga. Kerja siang, lembur malam untuk beli bensin dan juga bayar plesiran.
Aku mulai merasa kesal. Aku mengira tidak akan melihat baju itu lagi, paling tidak untuk beberapa hari. Bayangkan, ini entah hari ke berapa, dia siang dan malam memakai daster yang sama. Mirisnya lagi, ternyata tidak harus menunggu besok, daster itu langsung dipakainya lagi.
“Lo, kok dipakai lagi Bu, kayak enggak ada pakaian lain aja,” ujarku heran.
“Oaalaa Paaak, daster Emak ini enak sekali dipakai. Kainnya katun halus, rasanya dingin dan enteng di badan. Beda banget dengan daster-daster yang lain Pak,” jawab istriku memberikan alasannya.
Aku tahu, sebenarnya bukan itu alasannya, “Daster dari Jogja atau Pekalongan kan banyak Bu. Ya gonta-gantilah, masak sudah beberapa hari ini pakainya daster itu melulu.”
“Bosan lihat aku pakai daster Emak ya Pak?”
“Ya bosanlah, sudah berapa hari Ibu pakai itu.”
Dia masih beralasan, “Soalnya kalau daster Emak ini, meskipun hari lagi panas terik, rasanya tetap adem. Baju ini kayak ada AC-nya di dalam Pak.”
“Halaah bisa aja.”
“Apa kata orang kalau melihat Ibu memakai daster tua yang sama itu berhari-hari. Nanti dikira aku enggak bisa beliin Ibu pakaian.”
“Wiiss, enggak usah mikirin omongan orang Pak, yang penting aku kalau memakai baju yang satu ini jadi merasa dekat sekali dengan Emak,” jawab istriku ngeyel, “Emak terasa ada di sini mendampingiku Pak.”
Mata istriku mulai tampak merebak merah. Itu rupanya alasan utamanya .Ini membuatku seketika menunda omongan yang sudah di ujung bibir. Tadinya aku sebenarnya mau ngomong bahwa rasa adem itu muncul karena lubang lengan daster itu cukup lebar sehingga angin leluasa keluar-masuk mendinginkan badan, tetapi aku tak tega mengucapkannya.
Aku merasakan rasa dukanya masih sangat dalam setelah Emaknya wafat beberapa hari lalu. Ibu mertuaku wafat dengan daster itu di tubuh Emak, persis pada saat-saat terakhir sebelum menghembuskan nafasnya. Oleh karena itu pada masa duka seperti sekarang ini hanya daster itu rupanya yang bisa menggantikan kehadiran Emaknya.
Namun, kita kan harus move on.
“Ya, Ibu harus ikhlas dong,” ujarku setengah menghiburnya, “Yakinlah Bu, Emak di sana sudah enak, sudah tidak merasakan sakit lagi. Janan diganduli dong Bu.”
“Siapa yang tidak ikhlas Pak! Aku hanya pengen merasa dekat saja sama emak.”
Namun, rasa ingin dekatnya itu memang sudah keterlaluan. Tidak hanya dipakai, daster itu pun sesekali diolesi minyak angin yang biasa emaknya pakai menjelang tidur. Jadi baunya pun bau Emaknya. Bau tajam itu sering mengagetkanku saat nglilir bangun malam.
Duka mendalam yang masih istriku rasakan itu sangat aku maklumi. Itu yang membuatku tidak sampai hati untuk melarangnya memakai daster itu.
Emaknya meninggal setelah sakit yang membuatnya tidak berdaya. Tidak bisa bergerak. Tidak bisa menelan makanan. Tidak bisa minum dan sulit berkomunikasi. Emaknya hanya bisa berbaring terlentang di atas tempat tidur.
Sekitar dua bulan sakit, beberapa kali Emak pulang-pergi rawat inap di rumah sakit umum. Meski begitu, kondisinya tidak kunjung membaik. Makanan, minuman, dan obat-obatan masuk ke tubuhnya dibantu alat yang disebut sonde. Alat inilah yang menyalurkan semua kebutuhan nutrisi tubuh Emak melalui lubang hidung langsung ke lambung. Emak tidak mampu lagi merasakan manis, asin, dan pedasnya makanan.
Nelangsa. Itu yang pasti istriku rasakan melihat ketidak berdayaan emaknya. Dia anak nomor tiga dari delapan bersaudara, tetapi kedekatannya lebih dari yang lain. Kedekatannya terjaga erat saat bersama anak-anak sering pergi ke mana-mana seputar Pulau Jawa, dari Ujung Kulon hingga wilayah Jawa Timur.
Hanya satu tempat yang Emaknya ingin kunjungi tetapi tidak kesampaian, pergi melintasi jembatan Suaramadu ̶ Jembatan penghubung Surabaya dengan Madura. Istriku hanya bisa merespon dengan megatakan, “Semoga nanti ada kelonggaran waktu dan dana ya Mak.”
Emak tinggal di rumahnya sendiri ditemani anak bungsu dan anak istrinya. Jaraknya hanya sekitar 150 meter dari rumah kami. Selama sakit ini istriku kebagian merawat pagi dan sore. Setiap pagi, usai Subuh, aku meluncur mengantar istriku ke rumah Emaknya untuk menunaikan gilirannya. Aktivitas paginya selalu diawali dengan menyampaikan salam.
“Assalamualaikum Bu. Bagaimana tidurnya semalam? Nyenak? Mimpi apa Bu? Pagi ini Ibu ingin medang (bahasa Jawa artinya “minum”) apa? Aku siapin dulu ya.”
Apapun sapaan istriku, tidak pernah mendapat jawaban dari Emak sebagaimana biasa. Suara yang keluar hanya oohhh, hhheeehhh dan lambaian telapak tangan kanannya. Namun, istriku yakin Emaknya mendengar salamnya.
Mulailah perawatan pagi, mulai dari menyiapkan air hangat untuk menyeka, menyiapkan baju ganti, membolak-balik tubuh Emaknya supaya tidak kaku. Juga memijit-mijit ringan kaki dan lengan, serta kepala dan melulurnya dengan minyak angin. Kegiatan serupa diulanginya ketika sore tiba.
Belakangan istriku cerita bahwa membersihkan kotoran Emaknya setiap pagi dan sore adalah kesempatan yang paling ia syukuri. Ketika yang lain tampak enggan melakukannya, istriku malah suka. Ia menganggapnya itu sebagai bentuk bakti kepada Emak yang paling hakiki.
Pagi menjelang wafat, Emaknya tumben memberi isyarat kepada istri minta dipakaikan daster kesukaannya ̶ daster yang kemudian dipakai istri pada hari-hari belakangan ini. Pagi itu, seperti biasa istri merawat, menyeka, memijit, sarapan, dan medang. Lalu sedikit berkomunikasi dengan cara terbatas.
Tidak ada yang tahu bahwa itu adalah pagi terakhir Emak. Didahului dengan nafas sesak dan tersengal-sengal. Istriku yang sedang menunggu berusaha semampunya memberi bantuan pernafasan, termasuk memanggil dokter dari klinik sebelah, tetapi Tuhan berkehendak lain.
Beruntung, istriku berkesempatan mendampingi Emak pada saat-saat terakhirnya. Dia juga yang menuntunnya mengucapkan kalimat tauhid. Emaknya meninggal dengan memakai daster yang dipakai istriku sekarang ini.
Tak ada tangis dan air mata dari mata istri. Kadang kesedihan mendalam memang tidak diikuti tetesan air mata.
Rasa duka kehilangan orang tercinta belum juga hilang sampai hari ini. Tarikan urat wajahnya masih belum pulih kembali ceria seperti semula. Ketawanya dalam sehari berubah menjadi sangat jarang.
Tengah malam beberapa hari ini membangunkan aku untuk salat malam dan dilanjutkan mendoakan almarhumah Emaknya. Sementara daster emak masih setia menempel di tubuh istriku. Hanya daster itu juga yang diambilnya dari peninggalan emaknya. Ketika saudara yang lain sibuk memilih pakaian dan peninggalan lainnya, istriku memilih daster itu.
Aku khawatir daster emak akan mengurangi rasa ikhlasnya maka dalam hatiku berharap daster itu menjadi barang simpanan saja seperti pusaka atau dibuang karena tidak bisa dipakai lagi.
Aku senang sekali melihat istriku membungkus daster istimewa dengan kantong kresek warna hitam. Aku siap-siap saja membuangnya ke tempat yang jauh. Jauh sekali.
Pagi-pagi saat siap-siap berangkat kerja, istriku memberiku bungkusan tersebut sambil berkata, “Pak, nanti pulangnya tolong sempatkan mampir ke tukang permak jahitan di Kebon Dalem ya. Itu daster Emak kancingnya pada lepas.”
***
Judul: Daster Emak
Penulis: Sarkoro Doso Budiatmoko
Editor: JHK
Tentang Pengarang:
Sarkoro Doso Budiatmoko, lahir di Purbalingga, Jawa Tengah dari pasangan almarhum Bapak Pranoto dan almarhumah Ibu Fari’ah. Pendidikan hingga SLTA dijalaninya di kota kelahirannya ini, sedangkan pendidikan tinggi ditempuhnya di IPB (1984), Bogor dan pascasarjana di Iowa State University (1996), Amerika Serikat.

Pengalamannya menjalani berbagai penugasan di Perum Perhutani memperkaya wawasan dan pemikirannya yang sering dituangkan di media massa. Topik tulisannya tidak terbatas pada latar belakang pendidikan dan pekerjaannya saja, tetapi juga menyangkut bidang ekonomi, sosial, budaya, dan sumberdaya manusia. Aktifitasnya menulis tidak surut meski sudah purna-tugas beberapa tahun lalu.
Penikmat buku dan bacaan ini juga dipercaya mengasuh rubrik Kolom di Majalah “Bina Media Berita Kehutanan & Lingkungan” yang diterbitkan oleh Perum Perhutani Unit II Jawa Timur. Tulisan Sarkoro Doso berjudul “Setelah PHL, Lalu?” pernah terbit di Majalah Duta Rimba Edisi 42 (Mar-April 2012) – Penerbit Perum Perhutani, Jakarta, Indonesia.
Kini rimbawan berpengalaman yang berasal dari Perum Perhutani Unit II Jawa Timur aktif menulis blog di Kompasiana. Beberapa tulisannya di platform asuhan Kompas online tersebut di antaranya artikel berjudl “Bijak Memilih: Orang, Pasangan, dan Pemimpin” yang terbit pada 20 Mei 2021 dan artikel berjudul “Hidup Akal Sehat” yang terbit pada 31 Mei 2021.
Penulis dikaruniai tiga orang anak. Saat ini dia menetap di Purwokerto dengan kesibukan menulis dan menjadi staf pengajar di Language Development Center (LDC), Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP).
***








