PSPI Suarakan Pemilu 2024 Kondusif melalui Seminar Kebangsaan
Ratusan pendeta menghadiri seminar kebangsaan menjelang Pemilu 2024 bersama Mayjen TNI Ruddy Prasemilsa Mahks. M. Han dan Dr.iur. Liona Nanang Supriatna, SH. M. Hum di Blessing Room L6 d’Botanica Bandung Mall
Pratama Media News, Kota Bandung, Senin (06/11/2023) – Perkumpulan Seluruh Pendeta Indonesia (PSPI) sukses mengadakan Seminar Kebangsaan bertema “Menciptakan Suasana Kondusif Bagi Bangsa dan Negara Menjelang Tahun Politik dan Pileg 2024” pada Senin (06/11/2023) siang di Blessing Room, d’Botanica Bandung Mall, Jln. Dr. Djunjunan No. 143-149, Kelurahan Pajajaran, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung, , Jawa Barat.
Lebih dari 100 pendeta dan pengurus gereja di Kota Bandung menghadiri Seminar Kebangsaan PSPI. Seminar ini dibagi menjadi dua sesi dengan menghadiran dua pemateri yaitu Kepala Badan Intelejen Negara Daerah Jawa Barat (Kabinda Jabar) Mayjen TNI Ruddy Prasemilsa Mahks. M. Han dan Pakar Hukum dan HAM Universitas Katolik Parahyangan Dr.iur. Liona Nanang Supriatna, SH. M. Hum.
Tahapan Pemilihan Umum (Pemilu) 2024 kini sudah memasuki proses pencalonan Presiden dan Wakil Presiden yaitu pada 19 Oktober 2023 – 25 November 2023. Sesudah proses ini mulailah masa kampanye Pemilu Presiden dan Wakil Presiden serta Pemilu Legislatif (Pileg) 28 November 2023 – 10 Februari 2024 mendatang.

Tahapan kampanye ini pernah tercatat sebagai masa yang sulit karena masifnya berita menyimpang, politik uang, dan ujaran kebencian pada Pemilu 2019. Pusat Kajian Ilmu Politik Universitas Indonesia (Puskapol UI) menjelaskan bahwa masa kampanye Pilpres 17 April 2019 lalu sarat kampanye isu-isu suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA), politik identitas, konten hoaks, ujaran kebencian, dan olok-olokan politik pada masing-masing calon. Pada tahun ini, Komisi Pemilihan Umum (KPU) maupun berbagai lembaga pengawas dan penegak hukum lainnya menegaskan Pemilu 2024 diharapkan berlangsung kondusif.
Mayjen TNI Ruddy Prasemilsa Mahks. M. Han sebagai Kabinda Jabar menjelaskan bahwa pihaknya bekerja sama dengan segenap Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) dan lain-lain untuk pengawalan Pemilu yang kondusif. Ada beberapa poin penting yang dijabarkan oleh Mayjen Ruddy Prasemilsa dalam paparanya, salah satunya adalah keamanan Jawa Barat.

Menurut Mayjen Ruddy, pemilih di Jawa Barat menempati tingkat kepadatan nomor dua di Indonesia dengan jumlah pemilih tetap hingga 35,7 juta jiwa, melampaui jumlah pemilih di luar daerah Jawa Barat. Posisi ini mengakibatkan Jawa Barat menjadi pusat pemenangan suara dalam Pemilu 2024 mendatang.
“Sangat perlu kita berdiskusi terkait kondusifitas wilayah karena kalau kita lihat memang terjadi eskalasi peningkatan, di antaranya peningkatan kegiatan partai, pembentukan relawan, dan lain sebagainya. Nah, ini juga ada peningkatan media sosial. Saya merasa perlu untuk berkerjasama dengan PSPI dalam rangka membangun ketahanan informasi bagi jemaat sehingga mereka itu tidak terpengaruh oleh hoaks, ujaran kebencian dan berita bohong, “ papar Mayjen Ruddy.

Kabinda Jabar berharap para pendeta-pendeta inilah nanti yang akan meluruskan irisan situasi yang tidak kondusif. Ia juga berharap PSPI di Jawa Barat membantu terselenggaranya situasi yang kondusif.
Ada beberapa cara yang disampaikan oleh Mayjen Ruddy, yaitu dengan upaya deteksi dini dan cegah dini potensi konflik.
“Potensi konflik pemilu ini muncul di aspek proses penyelegaraan pemilu (bencana alam dan kampanye hitam), keadaan massa relawan dan pendukung (terorisme), dan kabar media sosial (berita bohong dan ujaran kebencian),” pungkas Mayjen Ruddy.
Selaras dengan paparan Kabinda Jabar, Pakar Hukum dan Hak Asasi Manusia Universitas Katolik Parahyangan Dr.iur. Liona Nanang Supriatna, SH. M. Hum, menegaskan rumah ibadah dan pendeta untuk menyebarkan kebaikan dalam proses Pemilu 2024 ini.

“Pemilu ini diharapkan mempersatukan bangsa dan dapat mewujudkan Negara Indonesia yang maju. Selain itu adanya perbedaan ini tidaklah mengurangi rasa persatuan kita sebagai Bangsa Indonesia menjelang tahun politik 2024,” ujar Liona pada peserta seminar.
Lebih lanjut Liona menegaskan hadirin yang datang untuk sadar dalam politik dan keadilan dalam undang-undang hukum terutama dalam pendirian rumah ibadah dan hak beribadah.
“Masalah ini memang masih sering dijumpai di waktu-waktu tidak kondusif seperti Pemilu,” pungkas Pakar Hukum dan Hak Asasi Manusia dari Universitas Katolik Parahyangan tersebut.

Seminar sepanjang tiga jam ini berlangsung kondusif dan sukses. Ketua Umum Pendeta Yohanes Handri dan Ketua Panitia Pendeta Fenius Gulo, M. Th menyampaikan apresiasinya untuk peserta acara ini. Pendeta Fenius Gulo menyampaikan agar para pendeta berperan aktif dalam menciptakan suasana kondusif bagi bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) menjelang tahun politik 2024 nanti.
“Saya menghimbai para jemaat jangan termakan isue hoaks dan menyelidiki sumber kebenaran informasi yang diterima,” pugkas Pendeta Fenius Gulo, M. Th. (RMD/PMN).
***
Judul: PSPI Suarakan Pemilu 2024 Kondusif melalui Seminar Kebangsaan
Jurnalis: Rose Mariadewi
Editor: JHK








