Terpuruknya Ekonomi Masyarakat Desa Burnai Jaya sebagai Dampak Perubahan Ekonomi Global
Studi Kasus Desa Burnai Jaya, Kecamatan Semendawai Timur, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Timur, Provinsi Sumatera Selatan
Pratama Media News – Tulisan berjudul “Terpuruknya Ekonomi Masyarakat Desa Burnai Jaya sebagai Dampak Perubahan Ekonomi Global” ini merupakan buah karya Dewi Lusiana, S.E., yang kini sedang menempuh pendidikan pascasarjana pada Program Studi (Prodi) Magister Ekonomi Syariah di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta.
Masyarakat desa mayoritas penduduknya bekerja sebagai petani dengan cocok tanam, seperti dalam sektor perkebunan, perladangan (palawija), dan persawahan. Selain itu ada pula mereka yang bermata pencarian pada sektor perikanan, peternakan atau gabungan dari keseluruhan itu.
Dalam masyarakat pedesaan masih memiliki sifat yang homogen yaitu terdiri dari orang-orang yang memiliki etnis atau ras, bahasa, dan tradisi (kultur) yang sama. Hal ini bisa kita lihat dari pelapisan masyarakat atau stratifikasi sosialnya di mana perbedaan penduduk atau masyarakat dalam kelas-kelas sosial tersusun begitu jelas, amat rapi, dan bertingkat.

Perwujudan stratifikasi sosial dalam masyarakat dikenal sebagai tingkatan kelas, yaitu kelas atas, kelas menengah, dan kelas bawah. Pelapisan sosial yang terdapat pada masyarakat desa umumnya berdasarkan pada kriteria-kriteria, terkhusus pada kriteria pendidikan dan kekayaan. Atas dasar pendidikan dan kekayaan tersebut maka selanjutnya timbullah berbagai macam keahlian atau bisa kita katakan dengan pembagian kerja.
Opini ini ditulis berdasarkan pristiwa yang terjadi di desa penulis yaitu Burnai Jaya, Kecamatan Semendawai Timur, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Timur, Provinsi Sumatera Selatan. Desa Burnai Jaya didominasi oleh tingkat sosial berdasarkan kekayaan sehingga muncullah perbedaan-perbedaan kelas, khusus pada sektor pertanian.
Pada sektor pertanian, biasanya terdapat petani (pemilik lahan) dan buruh tani (pekerja). Petani ini yang memiliki lahan dan kemudian buruh tani yang akan dipekerjakan atau yang akan mengelola lahan tersebut sehingga para buruh ini tadi akan sangat menghargai dan menghormati tuan tanah atau pemilik lahan tanah yang dikelolanya.
Para buruh khususnya di Desa Burnai Jaya masih tergolong kelas menengah ke bawah. Sangat jelas hal ini tercipta karena pendapatan mereka yang minim. Disamping itu juga pekerjaan yang tidak menentu sehingga para buruh harus terus bekerja demi memenuhi kebutuhan perekonomian keluarganya.
Selain itu pula dengan anjloknya harga getah karet pada musim lalu, membuat mereka dituntut untuk tidak hanya bekerja sebagai buruh dalam bidang tertentu saja (misalnya tani dan karet), melainkan mereka juga menambah lini perkerjaan sebagai buruh tani (penebangan tebu) di PT Laju Perdana Indah (LPI).
Setelah banyaknya masyarakat yang bekerja sebagai buruh tani diperkebunan karet dan PT LPI, apakah mereka sudah mampu untuk memenuhi kebutuhan pokok hidupnya? Ternyata masih belum cukup dan belum bisa untuk memenuhi kebutuhannya karena penghasilan mereka rendah dan semakin meningkatnya harga bahan pangan.
Penulis berpendapat perlu sekali adanya peran pemerintah untuk ikut andil dalam membantu masyarakat. Tindakan pemerintah tersebut nantinya tentu akan sangat dibutuhkan dalam menunjang perekonomian mereka, khususnya masyarakat golongan kelas menengah ke bawah, seperti halnya para buruh dan juga para pengangguran.
Tanpa kita sadari pengangguran akan terus bertambah jika hal ini dibiarkan terjadi. Mengapa hal ini bisa terjadi? Karena para orang tua yang bekerja sebagai buruh atau pengangguran sekalipun tidak bisa memenuhi biaya pendidikan anaknya. Tidak heran kalau banyak kita temukan anak-anak yang putus sekolah dan tidak dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi lagi.
Kemudian anak-anak yang putus sekolah tersebut mereka akan membantu orang tuanya dalam hal pemenuhan perekonomian keluarga, baik sebagai buruh petani karet, sebagai buruh di PT LPI, merantau diluar kota, atau hanya menunggu belas kasih orang lain.
Tentu hal ini tidak boleh dibiarkan begitu saja bukan? Oleh karena itu, semua pihak harus turun tangan ikut andil dalam membantu para generasi penerus bangsa ini dalam menempuh pendidikan yang lebih tinggi lagi guna menggapai cita-citanya.
Pendidikan yang tinggi tentu mampu memberikan kecerahan, penerangan bagaikan sinar bagi kehidupan mereka kelak dimasa yang akan datang. Mengapa demikian? Karena dengan pendidikan mereka yang baik pengetahuan dan pengalaman yang mempuni akan mudah bagi mereka untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik lagi dibanding orang tuanya. Pekerjaan dengan tingkat pendidikan yang tinggi tentu akan menghasilkan pendapatan yang lebih tinggi pula yang lebih besar nominalnya dari pada bekerja sebagai buruh di lahan tetangga.
Adapun demikian tidak bisa dipungkiri bahwa tingkat pendidikan dan juga kekayaan sangat berpengaruh disuatu tempat atau wilayah terkhusus di desa Burnai Jaya. Dengan pendidikan yang baik akan berdampak pada penghasilan mereka. Penghasilan itu lah yang mampu memperbaiki tarap kehidupan dan status sosial yang menjadi suatu acuan untuk dihormati, dihargai, dan disegani. (Dewi Lusiana).
Referensi
Essai ini dikutip dari https:// www.kompasiana.com pada hari Jum’at, 15 Desember 2023, jam 19.32 WIB dan disesuaikan kembali dengan desa penulis, Desa Burnai Jaya Kec. Semendawai Timur Kab. OKU Timur Provinsi Sumatera Selatan.
Pengertian Masyarakat dikutip dari https://eprints.uny.ac.id pada hari Jum’at, 15 Desember 2023, jam 19. 07 WIB.
Pengertian Masyarakat Homogen dikutip dari https://www.bulaksumurugm.com pada hari Jum’at , 15 Desember 2023, jam 19. 09 WIB.
***
Sekilas tentang penulis
Dewi Lusiana, S.E dilahirkan di Tugu Mulyo, Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan pada Jum’at, 17 Februari 2001. Penulis adalah anak pertama dari dua bersaudara, dari bapak Lukman dan Ibu Marlena.

Penulis adalah alumni Institut Agama Islam (IAI) Nusantara Ash-Shiddiqiyah, lulus pada 2023. Saat ini ia tinggal di Yogyakarta dan sedang melanjutkan pendidikan Strata 2 (S2) di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta pada Program Studi (Prodi) Magister Ekonomi Syariah di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam.
Selama menempuh pendidikan, Dewi aktif dalam berbagai kegiatan organisasi termasuk organisasi internal maupun eksternal kampus. Organisasi internal yang diikuti adalah kepengurusan DEMA IAI Nusantara Ash-Shiddiqiyah dan Himpunan Mahasiswa (HIMA) Prodi. Sementara organisasi eksternal yang diikuti Dewi adalah Persatuan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).
Penulis pernah menerima Beasiswa Peningkatan Prestasi Akademik (BPPA) dari Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI) pada 2021 dan menjadi wisudawan terbaik di IAI Nusantara Ash-Shiddiqiyah pada 2023.
***
Judul: Terpuruknya Ekonomi Masyarakat Desa Burnai Jaya sebagai Dampak Perubahan Ekonomi Global
Penulis: Dewi Lusiana
Editor: JHK








