Ilmu dan Hati
Sebuah refleksi tentang pendidikan dan ilmu pengetahuan
Ilmu dan hati – “Ilmu adalah paham. Otak menjadi alat penangkap sedangkan hati adalah pencernanya. Hal pertama yang harus dilakukan penuntut ilmu adalah membersihkan hatinya”. (Sebuah hikmah).
Berbeda dengan zaman dahulu, ketika orang masih susah bersekolah. Memiliki ijazah sarjana sudah merupakan kebanggaan yang luar biasa. Berbekal ijazah S1 begitu mudah mendapatkan pekerjaan. Bahkan, menduduki jabatan penting di sebuah perusahaan atau lembaga di bawah kementerian.
Kini yang berijazah sarjana sudah ditemukan di mana-mana. Sekolah dan kuliah sudah merupakan tuntutan. Jika tidak melanjutkan sekolah maka habislah sudah. Tuntutan zaman sudah tidak bisa lagi diajak kompromi. Akhirnya berbagai kalangan mulai terbuka pikirannya untuk menyekolahkan anak-anaknya ke jenjang yang lebih tinggi, semampu yang dia bisa agar tidak terinjak dan tergerus roda dunia.

Namun, ketika sekolah tinggi mulai jadi trend, kini semakin jarang menemukan orang bijak. Dulu, sarjana adalah orang yang paling bijak, dewasa, luas wawasan dan pemikiran. Kini, tidak jarang orang yang sekolah tinggi malah memanfaatkan panjangnya gelar di depan dan belakang nama untuk memenuhi kepentingan pribadi. Bahkan, tidak jarang yang ternyata panjangnya gelar dalam nama menyebabkan manusia malah bertindak semena-mena.
Ada yang mengaku berilmu tetapi tidak pandai bersikap. Ketika bicara masih sembarangan tanpa pertimbangan. Lisannya sering bercanda tentang sesuatu yang bukan pada tempatnya. Orang miskin dihardik dan direndahkan. Orang yang tidak bersekolah dianggapnya bodoh dan tidak berpendidikan. Padahal belum tentu mereka benar-benar bodoh. Barangkali hanya masalah kesempatan. Tidak makan bangku sekolah hanya karena tidak ada biaya. Miris!
Padahal, sejatinya sekolah tinggi harusnya mampu menempa pribadinya untuk lebih berkarakter. Semasa sekolah dan kuliah banyak pelajaran dan pendidikan dari guru dan dosen yang seharusnya membuat mentalnya semakin bulat. Ketika menyusun tugas akhir, melakukan kuliah kerja lapangan, seharusnya mahasiswa belajar tentang kehidupan sesungguhnya. Mempelajari banyak hal yang seharusnya menyerap di kepalanya. Membentuk buah pikirnya, karena sejatinya tujuan dari pendidikan adalah memanusiakan manusia.

Rupanya, orang-orang “gagal pendidikan” itu datang dari orang yang mendapatkan kesuksesan dengan sangat mudah. Jalan yang ia tempuh begitu mulus. Terlahir di lingkungan yang subur dengan uang dengan pola didikan yang salah. Menjadikan uang segalanya. Semua masalah dibeli dan diselesaikannya dengan uang. Bukan dengan sikap dan pola pikirnya. Maka dari itu, apa yang ia inginkan tinggal tunjuk, tinggal minta, merajuk, atau marah sedikit saja, lalu terkabullah dengan lancar apa yang diinginkannya.
Namun, di tempat lain ada pula yang begitu berwibawa. Pendidikan tinggi dapat meresap dalam perilakunya. Setiap tindakannya ditimbang terlebih dahulu hingga matang. Lisannya lebih terjaga. Apa yang dilakukan begitu penuh kehati-hatian. Sikapnya santun kepada siapapun, tidak peduli tahta dan hartanya seberapa.
Semua orang ia hargai dan hormati. Rupanya ia dibesarkan dari himpitan kesulitan. Bahkan, ketiadaan. Di dalam keluarganya didik dengan tantangan. Kehidupannya penuh dengan kepedihan. Kesuksesan yang ia rasakan adalah hasil usaha dan jerih payah sehingga hati nuraninya lebih peka mempelajari segala sesuatu. Semua orang dianggap berjasa. Semua orang dianggap berharga. Lingkungan telah mendidiknya menjadi seorang yang arif.
Sekolah disiapkan untuk membentuk muridnya menjadi manusia yang cakap dan siap terjun menjadi anggota masyarakat yang baik dan bijak. Jika ternyata selesai sekolah lisan dan tindakannya masih belum bisa dikendalikan maka apa gunanya sekolah?
Di sini muncul pertanyaan. Ketika sekolah sudah menyediakan SDM yang andal untuk mendidik, menyediakan fasilitas dan lingkungan yang mumpuni, untuk keefektifan belajar manusia, tetapi lulusannya masih ada yang salah kaprah. Maka masalahnya tidak lagi pada sekolah, melainkan pada SDM yang masuk ke sekolah itu sendiri.
Pendidikan dan sistemnya tidak bisa disalahkan. Karena nyatanya sehebat apapun sekolahnya semua tergantung siapa yang bersekolah. Siapkah ia ditempa? Sudah siapkan ia dididik dengan hati yang terbuka?
Karena hati adalah gerbang masuknya pembaharuan. Gerbang masuknya sebuah pengetahuan. Jika hati tertutup maka seseorang akan selalu menolak hal-hal baru. Hati yang tertutup rasa sombong, merasa sudah tahu, merasa tidak perlu, merasa sesuatu tidak lagi penting untuk dirinya maka seseorang akan bersikap masa bodoh. Tidak akan mau mendapatkan saran, dan kritik. Bahkan, masukan ilmu baru yang bisa saja justru sangat bermanfaat untuk dirinya.

Dari sini kita bisa belajar bahwa setinggi apapun jenjang pendidikan yang ditempuh, jika masih ada sekeping kesombongan dalam hati maka ilmu tidak akan mendarat dengan selamat dalam jiwa. Ia hanya sampai di kepala. Tidak diresapi dengan hati. Karena sejatinya ilmu masuk ketika hati merasa kosong, merasa rendah, merasa bodoh, dan merasa bukan apa-apa.
Orang yang pandai merasa inilah yang akan menjelma menjadi setangkai padi. Semakin berisi semakin merunduk. Kosongkan gelas hatimu ketika sedang menuntut ilmu agar apa yang didapat tidak hanya mendarat di kepala, tetapi juga meresap ke dalam jiwa. Juga membuahkan sifat dan tabiat yang pantas sebagai “seseorang yang bersekolah”.
Semoga bermanfaat.
***
Penulis: Diantika IE (Penulis, guru, dan Ketua KPKers Indonesia)
Editor: JHK








