CerpenHiburanPratama Media NewsSastra

Hore, Emak Pulang

Sebuah cerpen karya Sarkoro Doso Budiatmoko, alumni Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Lowa State University, Amerika Serikat

Pratama Media News, cerita pendek (cerpen) berjudul “Hore, Emak Pulang”  ini merupakan karya Sarkoro Doso Budiatmoko,  alumni Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Iowa State University, Amerika Serikat.

Darman dan Barto ingat sekali kegembiraan yang mereka alami saat kecil, yaitu menunggu Emak pulang belanja dari pasar. Berdua, mereka menunggu di depan pintu rumah sambil bermain gundu. Itu sungguh suasana seru untuk dirindu.

Mereka berdua biasanya bersicepat melihat Emak. Siapa yang lebih dulu melihat akan lari meraih tangan emak lalu menyalami dan mencium tangannya. Kadang muncul canda, entah siapa wanita yang datang, salah satu dari mereka berteriak “Emaaak…” sambil lari. Ketika tahu yang datang bukan Emak, gantian mereka berdua lari-lari berkejaran.

Waktu itu, setiap kali Emak pulang belanja selalu membawa jajanan pasar kesukaan mereka berdua. Kadang onde-onde, apem, klepon, bakwan, mendoan atau bolu kukus. Mereka tidak perlu berebut karena jumlahnya selalu cukup untuk berdua.

Pasar tradisional
Ilustrasi: Emak suka belanja di pasar tradisional – (Sumber: Pexels.com)

Selain jajan, mereka juga suka dengan perlakuan sayang Emak, seperti mengelus rambut, menggendong meski cuma sekejap atau mencium pipi dan ubun-ubun. Kalau malam tiba, gantian mereka yang memijat kaki dan tangan Emak. Seringkali sambil dipijat, Emak mendongeng tentang cerita-cerita yang menarik.

Begitulah, Emak selalu memberi warna ceria dalam kehidupan mereka pada waktu kecil. Di mata Darman dan Barto, Emak itu sosok yang bisa membawa suasana gembira menjadi lebih gembira. Namun, tidak ada yang abadi di dunia ini. Demikian juga dengan Emak.

Emak, wanita yang sabar dan jarang marah itu, entah mulai kapan, mereka lupa persisnya, menjadi semakin jarang belanja ke pasar. Dengan begitu, menjadi semakin jarang pula mereka makan jajanan. Emak juga tampak menjadi lebih pendiam dari biasanya.

Perbedaan itu membuat mereka berdua bertanya-tanya dalam hati, apa yang terjadi pada Emak? Apalagi – entah apa sebabnya – sepasang orang tua mereka juga menjadi sering bertengkar. Dua anak ini hanya bisa sedih menyaksikan dan mendengar pertengkaran lalu menduga-duga penyebabnya.

Darman mengira, pertengkaran itu dipicu oleh masalah ekonomi. Itu terungkap saat suatu pagi, Emak melempar sebutir jambu biji ke pintu dan menimbulkan bunyi benturan yang mengagetkan.

Abah yang lagi siap-siap pergi kerja juga kaget, lalu berujar, “Jangan gitulah Mak. Harus berapa kali aku ngomong. Semua sudah aku kasihkan, memang segitu adanya. Tidak usah berpikir aneh-aneh, merokok sudah aku stop, BBM sudah aku batasi. Judi dan main perempuan juga aku gak pernah.”

Emak tidak menjawab dengan kata-kata, tetapi bahasa tubuh dan wajahnya jelas terbaca, dia memang lagi kesal dan marah. Kemarahan akibat kemauan dan keinginannya tidak dipenuhi.

Abah meneruskan, “Perbanyak rasa syukur saja Mak. Banyak orang yang lebih susah dari kita kok,” ditambahkan pula oleh Abah, “Lihat saja pak Salamun, apa yang dia punya? Tetapi tampak bahagia dan ceria kan?”

Lantas, seperti sedang khotbah, panjang lebar Abah berusaha menjelaskan kondisi tempat kerjanya yang sedang kembang kempis akibat krisis. Beberapa karyawan dirumahkan, tidak ada lagi lembur, uang makan hanya diberikan separo. Banyak lagi keadaan yang kurang menggembirakan dia alami di tempat kerjanya dan dia sampaikan semuanya ke Emak.

Tidak lupa Abah menyampaikan bahwa meskipun kantong lagi bokek, tetapi kerja di kampung sendiri jauh lebih enak dari pada jadi TKW. Kesempitan ini hanya sementara, tidak lama lagi kondisi ekonomi juga akan membaik.

Darman dan Barto agak bingung, sebenarnya sejelek apa sih keadaan ekonomi mereka? Kok orang tua bertengkar separah itu? Rasanya mereka makan, berpakaian dan bermain biasa saja tanpa masalah yang luar biasa.

***

Malam berganti pagi, siang berganti sore. Namun, rupanya pertengkaran itu belum berhenti, masih bersambung dan cenderung semakin panas.

Suatu malam, sepulang dari musala, Darman mendengar lagi pertengkaran orang tuanya. Dia kaget bercampur heran. Emak yang sabar bisa berubah sejengkel itu dan Abah yang biasa diam bisa semarah itu.

Kemarahan suami istri itu tidak mendapatkan titik temu. Niat kuat Emak menjadi TKW untuk memperbaiki ekonomi rumah tangga tidak ketemu dengan kemauan keras Abah agar Emak tetap di kampung apapun kondisinya. Menurut Abah rezeki sudah diatur dan yang diperlukan cuma menambah rasa syukur.

Abah mencurigai, istrinya menjadi keras dan tidak nurut karena dipengaruhi oleh Badriyah, wanita yang di matanya memiliki reputasi kurang baik. Begitu kerasnya Emak, apapun kata dan nasihat Abah, tidak didengarkan dan bersikukuh melanjutkan rencananya menjadi TKW.

Merasa kewalahan, akhirnya Abah malam itu memberi ultimatum dengan suara gemetaran, “Ya kalau begitu maumu, terserah kamu saja maunya apa, yang penting dua anak itu ikut aku.”

Pada saat menjelang tengah malam, Abah dengan menahan amarah mengeluarkan kata-kata penuh getaran untuk memperjelas ultimatumnya, “Kalau memang mau pergi, silahkan, tetapi jangan pulang selagi aku masih hidup.”

Puncaknya ketika pagi harinya Darman dan Barto tidak ketemu Emaknya. Dia yang biasa menyediakan makan pagi, tidak tampak kelebat dasternya. Semenjak itulah mereka tidak melihat Emak. Sampai Abah meninggal, Emak belum juga pulang.

***

Malam ini adalah tepat seratus hari Abah pergi ke alam baka, meninggalkan dua anak laki-laki di dunia yang fana ini. Sebagaimana tradisi, Darman dan Barto mengundang tetangga dan kerabat dekat menghadiri pengajian. Membaca ayat-ayat suci, mendengarkan tausyiah dan bersama-sama memanjatkan doa untuk almarhum Abah.

Pengajian dipimpin oleh Pak Kayim yang juga Imam Mushola dekat rumah. Pak Kayim menyampaikan tausyiah bertopik “birul walidain” atau kewajiban anak untuk menunjukkan akhlak yang mulia kepada orang tuanya.

Contoh birul walidain adalah menuruti perintah baiknya, memuliakannya dan mendoakan mereka. Jika orang tua sudah meninggal, amalannya terputus kecuali amal jariyahnya, ilmu yang bermanfaat yang ditinggalkannya dan doa anaknya yang saleh.

Kata Pak Kayim, “Pengajian ini adalah wujud dari doa anak sholeh. Ingat, bagaimana pun keadaan orang tuamu, hormati mereka, tidak boleh menghina, merendahkan, membenci, dan menaruh dendam.”

Sebelum pengajian ditutup, Pak Kayim memimpin doa bersama memohon ampunan untuk almarhum Abah dan mendoakan untuk keselamatan Emak. Para hadirin mengikuti dengan khusuk dan kompak mengaminkan doa-doanya.

Pada saat semua Pak Kayim dan semua hadirin tengah berdoa dengan khusuk sambil sesekali diiringi ucapan “amin”, tiba-tiba muncul berdiri di depan pintu seorang wanita setengah baya mengucap salam. Setengah kaget orang-orang membalas salam tersebut dengan mulut setengah ternganga.

Barto dan Darman tidak kuasa membalas salam. Mereka terpaku duduk dengan mata terbelalak setengah tidak percaya. Beberapa saat semua terdiam, doa terhenti dan ucapan “amin” pun tidak sempurna dilafalkan.

Pak Kayim kemudian memecahkan kebekuan suasana itu dengan menyebut nama tamunya, “Looh, Tinil, silakan masuk, silakan duduk.”

Darman dan Barto hampir bersamaan berdiri dari duduknya dengan sikap agak kikuk, tidak tahu harus berbuat apa. Mata mereka tertuju pada Pak Kayim dan tamu bergantian. Baru kemudian terkesima ketika Pak Kayim memanggil namanya.

Pak Kayim, “Darman, Barto, ini Emakmu. Allahuakbar!”

Sontak suasana di rumah itu menjadi gaduh. Bertebaranlah kata tanya dan kata pernyataan antar hadirin terkait si Emak. Mereka saling tanya, siapa dia, dari mana, kerjanya apa, kok baru muncul dan lain-lain pertanyaan penuh rasa ingin tahu.

Pak Kayim rupanya dulu teman bermain Emak waktu kecil. Dia sibuk mengenalkannya ke hadirin, “Bapak-bapak, maaf perkenalkan, ini adalah Emaknya Darman dan Barto. Nama kecilnya Tinil, kebetulan dulu teman bermain saya waktu kecil. Banyak di antara bapak-bapak belum lahir atau belum tinggal di sini.”

Emak Tinil sama sekali tidak canggung. Dia merasa seperti pulang ke rumahnya sendiri. Rumah yang sudah lama sekali dia tinggalkan, tetapi juga rumah yang tidak banyak perubahan. Susunan ruang kamar tidur, ruang tamu, dapur dan teras juga tidak banyak berubah. Bahkan, motif dan bentuk pintu teras depan rumahnya tidak berubah, sama persis seperti saat dia tinggalkan dulu.

Emak masih ingat dulu pernah melempar jambu biji ke pintu. Lemparan itu mengagetkan seluruh penghuni rumah. Itulah puncak kemarahannya pada suaminya dulu. Suami yang di matanya baik hati, berperasaan halus, romantis, dan berpikiran luas. Namun, dia juga lelaki yang kurang mau bekerja keras dan cenderung menerima nasib apa adanya.

Abah juga suami yang keras hati dan bergengsi tinggi, tetapi di lain sisi dia adalah lelaki yang greget untuk berubah dan juga lelaki yang kurang menyukai tantangan.

Emak masih menemui tanda-tanda suaminya tidak berubah dari keadaan rumahnya sekarang ini yang tidak banyak berubah. Walaupun begitu, ada yang Emak sukai, dia menjadi tidak kaget dan seperti masuk ke rumahnya yang dulu.

Rupanya Emak pulang tidak sendirian, dia ditemani dan didampingi Badriyah yang setia berdiri di belakangnya. Pada kesempatan itu Emak juga memperkenalkan Badriyah ke seluruh hadirin sebagai teman yang membantunya menemukan jalan perbaikan hidupnya.

Terjadi kecanggungan antara Emak dan anak-anaknya. Maklum, mereka telah lama tidak ketemu. Namun, hanya dalam beberapa saat saja, rasa kangen dan rindu berat telah mencairkan semuanya.

Akhirnya, tahlilan keseratus wafatnya Abah itu menjadi malam kangen-kangenan antar dua anak dengan emaknya. Malam itu menjadi semakin hangat karena Badriyah juga membawa jajanan pasar persis seperti dulu selalu dibawa Emak sehabis belanja di pasar.

Malam itu Emak juga bercerita kenangannya tentang apa yang diteriakkan Darman dan Barto saat kecil setiap kali melihat dia pulang belanja, “Hore, Emak pulang……”

Purwokerto, 27 September 2023.

Sarkoro Doso Budiatmoko

***

Judul: Hore, Emak Pulang
Penulis: Sarkoro Doso Budiatmoko
Editor: JHK

Tentang Pengarang:

Sarkoro Doso Budiatmoko lahir di Purbalingga, Jawa Tengah dari pasangan almarhum Bapak dan Ibu Pranoto. Pendidikan formal hingga tingkat SLTA dijalaninya di kota kelahirannya ini, sedangkan pendidikan tinggi ditempuhnya di IPB, Bogor dan Iowa State University, Ames, Iowa, Amerika Serikat.

Sarkoro Doso Budiatmoko
Sarkoro Doso Budiatmoko – (Sumber: koleksi pribadi)

Pengalamannya menjalani berbagai penugasan selama bekerja di Perum Perhutani memperkaya wawasan dan pemikirannya yang sering dituangkan dalam tulisan. Topik tulisannya tidak terbatas pada latar belakang pendidikan dan pekerjaannya saja, tetapi juga menyangkut bidang ekonomi, sosial, politik, budaya, dan humaniora.

Atas dorongan Jumari Haryadi, Pemimpin Redaksi Pratama Media News, penulis pada 2023 mulai menulis cerita pendek (cerpen). Belasan cerpen sudah ditulis, antara lain berjudul: “Samsuri, Muazin yang Menghilang” lalu  “Fadhil, Dunia ini Tak Seindah Rembulan” dan “Bram Terbelenggu Rasa”.

Sebagian dari tulisan-tulisannya telah dibukukan dengan judul: “NAH…mengambil makna dari hal-hal kecil”, diterbitkan oleh SIP Publishing, Purwokerto, 2021. Tulisan-tulisan lainnya juga sedang disiapkan untuk dibukukan, termasuk kumpulan cerita pendeknya.

Pengalaman, pergaulan, dan wawasannya bertambah luas semenjak menjalani profesi sebagai staf pengajar dari 2016 di Language Development Center (LDC), Universitas Muhammadiyah Purwokerto, UMP.

Penulis dikaruniai tiga orang anak dan beberapa cucu saat ini menetap di Purwokerto. Aktivitasnya, selain menulis dan mengajar, juga mengikuti berbagai seminar dan webinar, serta memenuhi undangan sebagai narasumber di beberapa event, termasuk dari RRI Pro-satu Purwokerto 14 Juli 2023 lalu.

***

Artikel Berkaitan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button