Corona Pergi, Solusi untuk Negeri
Semoga kita terhindar dari bencana dan bisa kembali bangkit untuk menata kembali kehidupan yang sudah terpuruk. Kita berharap Indonesia kembali menjadi negeri yang aman, damai, dan sejahtera.
Corona Pergi, Solusi untuk Negeri – Ayo kita pikirkan dan renungkan bersama tentang wabah virus corona yang sedang melanda dunia dan negeri kita, Indonesia. Bencana tersebut telah menyebar dan menyerang siapa saja, mulai dari pejabat tinggi hingga rakyat jelata, orang kaya atau orang tak punya, dan orang tua atau anak muda, serta anak-anak atau orang dewasa.
Sudah dua kali Idul Fitri dan Idul Adha, sanak saudara yang dirantau tak kunjung tiba. Bang Toyib yang tak pulang-pulang. Ini bukan karena mereka tak rindu kampung halaman. Bukan pula karena mereka melupakannya. Namun, ini semua akibat corona yang tak kunjung hilang.
Satu setengah tahun sudah virus corona menguasai bumi, menjadi pandemi yang tak terkendali sehingga membuat panik seisi bumi. Tak heran jika corona menjadi trending topik yang membahana. Namanya merajalela, tak luput dari berita, padahal dia cuma makhluk kecil yang tak kasatmata, tetapi kemampuan merusaknya sungguh luar biasa.
Hal ini membuktikan bahwa Allah SWT sedang menunjukkan kekuasaan-Nya kepada kita semua. Walau pun wujud corona tak menampakkan dirinya, tetapi akibat dari perbuatannya mampu menimbulkan bencana yang luar biasa bagi umat manusia.
Momen mendekatkan diri kepada Tuhan
Akibat wabah pandemi yang melanda Indonesia, kedamaian masyarakat pun ikut sirna. Perekonomian dilumpuhkan dan tempat tempat ibadah pun disunyikan. Berbagai kebijakan dikeluarkan oleh pemerintah kita, mulai dari 3M sampai 5M, mulai dari PSBB sampai PPKM.

Apakah PPKM mampu mengerem kehadiran virus corona? Apakah PPKM akan menjadi kebijakan terakhir yang akan membuat pandemi berakhir? Atau malah pandemi ini justru terus bergulir, seakan-akan tanpa akhir?
Dampak kebijakan PPKM telah membuat masyarakat banyak yang sengsara. Mereka bingung harus makan apa, sementara semua lini usaha lumpuh dan kucar-kacir tak terkira. Lalu siapa yang harus disalahkan?
Tak perlu kita mencari kambing hitam. Tak perlu kita saling menyalahkan. Semua ini sudah menjadi ketentuan Tuhan, sang Pemilik Kehidupan. Karena sebaik apapun rencana dan aturan yang dibuat manusia, tetaplah tidak ada artinya tanpa seizin-Nya. Hanya Allah SWT yang Maha Tahu dan Maha Sempurna yang mampu mengetahui segalanya.
Jika upaya yang diterapkan negeri kita adalah bagian dari rencana Allah SWT maka kita harus selalu berikhtiar, berdoa, dan memohon perlindungan, serta ampunan-Nya. Semoga Allah segera menjauhkan corona dari negeri kita yang tercinta.
Semoga kita terhindar dari bencana dan bisa kembali bangkit untuk menata kembali kehidupan yang sudah terpuruk. Kita berharap Indonesia kembali menjadi negeri yang aman, damai, dan sejahtera.
Selalu ada solusi untuk atasi pandemi
Kita berharap kebijakan PPKM yang telah dibuat oleh pemerintah sampai di sini saja. PPKM telah membuat kita semua jadi tersekat. Mimpi-mimpi kita untuk meraih masa depan yang lebih baik telah terpenjara karena tersekat aturan yang terus mengikat. Kita tentu tak ingin semua rencana jadi tertunda sehingga membuat ekonomi keluarga menjadi porak poranda.

Cukup sudah hati yang terpukul karena tak bisa merangkul ketika ada orang-orang tercinta yang diterpa corona, terisolasi sebatang kara. Bahkan, ketika napas mereka berada di ujung batas, kami hanya bisa menghela napas, saat sesak begitu mendesak, kami hanya bisa terisak.
Saat sakaratul maut datang menjemput, kami tak bisa mendekap, apalagi membisik zikir sebagai pengantar kata terakhir. Hanya air mata yang melebur duka, mengantar kepergian orang orang tercinta, menuju pembaringan terakhir ke alam baka. Do’a terbaik dari kami untuk mereka yang telah pergi, semoga diwafatkan dalam keadaan husnulkhatimah.

Ketika malaikat maut datang menjembut, bukan berarti karena corona yang mencabut, tetapi karena semua ini adalah takdir yang sudah menjadi ketetapan Allah, seperti yang telah dituliskan di lauhulmahfuz. Di sana sudah ada ketetapan terhadap takdir kematian setiap insan, seperti kapan, dimana, sedang apa, dan dalam keadaan apa. Ketika waktunya ajal tiba, tak ada seorang pun yang mampu menunda atau mengubahnya.
Seperti yang telah dikatakan sebelumnya bahwa negeri ini sedang berupaya untuk menyelamatkan diri dari ganasnya virus corona yang semakin merajalela. Oleh karena itu kita berharap kepada Allah, sang Penguasa Alam Semesta untuk membantu kita memberikan jalan keluarnya agar corona pergi dan pandemi segera berhenti.
Ayo kita bersama-sama komponen anak bangsa lainnya untuk segera bangkit. Mari kita gerakkan kembali ekonomi yang sedang sulit dan lumpuh dengan selalu berikhtiar dan berdoa sepanjang masa. Tidak lupa juga untuk selalu menjalankan Protokol Kesehatan (Prokes) dalam setiap aktivitas sehingga kesehatan terjaga, imun tetap kuat, dan kita tetap semangat.

Semoga iman kita semakin kuat sehingga tak tergelincir dari musibah yang membuat manusia tak bisa berpikir. Semoga kita tetap Istiqomah menjaga wudu dengan mencuci tangan dan wajah kita setiap waktu untuk menjalankan salat sesuai perintah-Nya.
Mari kita jadikan pandemi ini sebagai celah untuk berbagi, menginspirasi para donatur untuk berbagi rezeki kepada saudara-saudara kita yang terdampak pandemi. Kita semua sudah rindu kedamaian dan rindu kebebasan, tanpa syarat. Kita rindu berkumpul dengan orang-orang terdekat, kerabat, dan sahabat.
Semoga kita semua bisa kembali meraih mimpi, tanpa sekat dan durasi. Semoga tempat-tempat ibadah kembali riuh dan mengagungkan asma-Nya. Mari kita kibarkan bendera kemenangan, tak ada lagi bendera putih sebagai tanda letih, lelah, dan menyerah.
Semoga virus corona segera pergi dan angkat kaki dari negeri kita tercinta, Indonesia.
***
Penulis: Heni Anggraeni
Profil penulis:
Heni Anggraeni saat ini bekerja sebagai karyawan di PT Perdana Firsta Garment. Sudah lama dia memiliki keinginan kuat untuk menjadi seorang pengarang. Meskipun usianya tidak lagi remaja, tetapi semangat berkaryanya luar biasa. Sudah beberapa cerita pendek dan artikel lahir dari tangan dinginnya.
Editor: JHK








