Ceu Popong Hadir Meriahkan Acara Diskusi di D’Botanica Pasteur
Terungkap bahwa dulu Ceu Popong pernah menjadi panitia paling favorit saat berlangsungnya Konferensi Asia-Afrika di Bandung pada 1955
Pratama Media News, Kota Bandung, Kamis (27/07/2023) – Popong Otje Djundjunan atau akrab disapa Ceu Popong hadir memeriahkan acara diskusi yang mengupas seputar perjalanan ekonomi dan Sosial Kota Bandung. Kegiatan yang digagas Paguyuban Bandung Ngariung Rék Kumaha ini berlangsung pada Rabu, 26 Juli 2023 di D’Botanica Pasteur, Jalan Dr. Djunjunan No.143-149, Kelurahan Pajajaran, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung, Provinsi Jawa Barat.
Ceu Popong merupakan salah satu tokoh penting dan paling dihormati oleh masyarakat Jawa Barat. Bahkan, saking hebatnya, kisah tentang Ceu Popong yang kehilangan palu saat memimpin sidang DPR pun sempat heboh dan menjadi viral di media sosial beberapa tahun lalu.
Seperti dikutip dari news.detik.com yang rilis pada 3 Oktober 2014, dalam sebuah sidang DPR terjadi situasi ricuh dan saling dorong antar anggota dewan. Saat itu Ceu Popong yang sedang menjadi pimpinan sidang sementara tiba-tiba berteriak “paluna euweuh” (bahasa Sunda yang artinya “palunya tidak ada”). Pernyataan anggota DPR dari partai Golkar itu pun sontak heboh, terutama di dunia maya.

Warga Bandung kembali diajak kumpul nih Riungers di Paguyuban Bandung Ngariung Rék Kumaha? Rék Kamana? Rék Kusaha? Gak kaleng-kaleng, kali ini yang diundang adalah Popong Otje Djundjunan alias Ceu Popong. Ceu Popong sempat viral beberapa tahun lalu soal kehilangan palu saking hebatnya beliau memimpin sidang DPR silam.
Namun, Rabu (26/07/2023) kemarin, Ceu Popong tidak lagi mencari palu yang hilang, melainkan mencari anak muda yang mau mencintai dan melestasikan budaya Sunda. Tokoh wanita yang selalu tampil enerjik ini ingin budaya Sunda tetap lestari dan tak luntur ditelan zaman.


Ceu Popong bersama beberapa tokoh lainnya, seperti Folmer Siswanto Silalahi (anggota DPRD Kota Bandung dari PDIP), Erick Darmadjaya, B.Sc., M.K.P. (Sekretaris Komisi A DPRD Kota Bandung) dan Christian Julianto Budiman (anggota DPRD Kota Bandung dari PSI), serta pemerhati budaya Tionghoa, Jeremy Huang Wijaya mengajak warga Bandung ikut terlibat dalam diskusi seru seputar perjalanan ekonomi dan sosial Kota Bandung.
Dalam diskusi tersebut Ceu Popong menjelaskan bahwa etnis Sunda itu cantik, berharga, dan dinamis, serta bersikap terbuka dan mau menerima semua kelompok yang ada.

Pada event Konferensi Asia-Afrika (KAA) di Bandung tahun 1955, Ceu Popong pernah bertugas sebagai penterjemah dan menjelaskan aneka jenis makanan yang disajikan kepada para tamu undangan, sedangkan Abah Landung saat itu berperan sebagai team akomodasi dan transportasi. Menurut Abah Landung, dalam event KAA di Bandung tersebut Ceu Popong menjadi tokoh panitia favorit yang disukai peserta.


Dalam acara disusi yang menarik tersebut Ceu Popong mengungkapkan rasa keprihatinannya terhadap ulah sejumlah oknum pejabat yang harusnya dijadikan panutan dan teladan, malah melanggar aturan yang ada. Banyak oknum-oknum pejabat yang melanggar aturan, misalnya parkir di sembarang tempat sehingga membuat kemacetan lalu lintas.

“Harus ada pembagian waktu bagi para pedagang UMKM di tempat tertentu supaya tidak timbul kemacetan. Tahun 1970 di Jalan Merdeka ada pembagian jam berjualan sehingga menghindarkan kemacetan,” ungkap Ceu Popong.
Dikusi ini berjalan seru dengan ide ingin memunculkan kembali budaya Sunda yang dikenal sangat ramah, memiliki keindahan, dan toleransi yang amat besar bagi semua kelompok. (RM/PMN).
***
Judul: Ceu Popong Hadir Meriahkan Acara Diskusi di D’Botanica Pasteur
Jurnalis: Ramanda Melawati
Editor: JHK








