Bingkisan Amanah Itu akan Kujaga
Yusuf Iskandar, ”Ah, rupanya info tentang keputusanku itu sudah bocor diam-diam. Jadilah acara ketemuan sore itu semacam acara perpisahan, walaupun sebenarnya tak ingin kusebut begitu.”
Pratama Media News, Artikel: “Bingkisan Amanah Itu Akan Kujaga” oleh: Yusuf Iskandar – Belum sempat aku bercerita kepada teman-teman kerjaku tentang keputusanku untuk tidak memperpanjang kontrak kerja. Namun karena aku berencana mengakhiri pekerjaanku dengan pergi ke lokasi tambang, maka kusempatkan untuk berkumpul sekedar menikmati hidangan ala kadarnya.
Ah, rupanya info tentang keputusanku itu sudah bocor diam-diam. Jadilah acara ketemuan sore itu semacam acara perpisahan, walaupun sebenarnya tak ingin kusebut begitu.
Berada di tengah rekan kerja yang tangguh dan hebat sore itu, terselip rasa bangga dan bahagia. Sebab telanjur selama ini kami telah bekerjasama dan saling mendukung dalam sebuah tim kerja yang solid.

Sebagai “advisor” bagi teman-teman muda di group perusahaan yang sama, peran itu telah kujalani hampir empat tahun. Menjalankan peran professional sebagai ‘advisor’ memang diperlukan integritas. Sebab aku tak terikat dengan jam kerja dan hari kerja sebagaimana umumnya, melainkan mengatur sendiri sesuai tuntutan kebutuhan. Namun tentu saja tetap harus ada hak dan kewajiban di kedua belah pihak sebagai konsekuensi dari sebuah kesepakatan. Selama itu pula pelan-pelan aku turut membantu membangun dan mengembangkan tim untuk mendukung operasi perusahaan. Masih banyak hal perlu disempurnakan, itu pasti.
Aku bukan mau pensiun atau berhenti bekerja. Aku hanya tidak memperpanjang kontrak kerja di perusahaan itu. Mendadak aku ingat sebuah pengalaman. Tahun 2001, suatu pagi aku berjumpa dengan seorang sopir taksi di New Orleans. Saat itu umurnya sudah 75 tahun. Namun spirit kerjanya luar biasa. Dia menjawab pertanyaanku tentang hari tua dan rencana pensiunnya dengan santai: “Saya akan pensiun ketika saya mati”.
***
Ada hal yang membuat aku merasa surprise dan terharu. Sepulang dari mengunjungi tambang, teman-teman kerjaku datang memberiku sebuah kenang-kenangan. Tak pernah terlintas di pikiranku tentang kenang-kenangan itu. Bingkisan kenang-kenangan itu berisi seperangkat alat sholat dan Al-Qur’an.

Duh, aku dibuat tak mampu berkata-kata karenanya. Seperti menerima mahar. Tapi tentu saja bukan itu maksudnya, melainkan sebagai pengingat akan kewajibanku terhadap Tuhan. Bingkisan kenang-kenangan yang kuterjemahkan sebagai sebuah amanah dalam melanjutkan perjalanan ibadah. Semoga bukan dengan pertimbangan usiaku lalu jenis kenang-kenangan itu dipilih. Sedang sebenarnya banyak yang usianya lebih muda dariku barangkali lebih membutuhkan pengingatan.


Aku terima bingkisan itu dengan penuh rasa syukur. Masih ada orang-orang baik yang mengingatkanku. Kutimang-timang bingkisan itu. Bingkisan dalam kemasan rapi dan bagus. Lalu kufoto untuk kukabarkan kepada keluargaku. Sebab kemudian bingkisan itu akan kubuka dari kemasananya. Karena kalau begitu saja kubawa pulang ke Jogja masih dalam kemasan aslinya, aku khawatir sampai Jogja tetap hanya menjadi kenang-kenangan penghias lemari di ruang tamu, padahal tentu bukan itu tujuannya. Melainkan agar kugunakan sebagai piranti ibadah. Maka pahala atau balasan kebaikan atas ibadahku tak hanya bagiku tapi juga bagi teman-temanku yang memfasilitasi dengan pemberian itu. Aamiin…
Aah, tak hanya itu rupanya. Aku makin dibuat speechless. Ada sebuah jam tangan “Eiger tropical adventure” menyusul dihadiahkan. Kenapa ini kuceritakan? Karena hadiah ini membuatku bingung untuk memakainya. Hampir 30 tahun aku tak pernah mengenakan alroji alias jam tangan. Kalau pemberian ini kupakai, akan mengganggu tradisiku hidup tanpa jam tangan. Atau barangkali akan kupakai saja kalau lagi blusukan (adventure)? Barangkali begitu maksudnya, agar aku tak lupa waktu sholat di tengah hobiku ber-‘adventure‘…
Bagaimanapun juga, sesungguhnya semua itu hanya simbol. Empat tahun aku telah bersama dengan orang-orang yang baik dan hebat. Dalam tim kerja yang tangguh. Siapapun bisa datang dan pergi. Namun spirit untuk maju bersama menggapai tujuan, semoga tak padam. Spirit yang akan terus terjaga sebagaimana aku juga akan menjaga bingkisan amanah yang kuterima.



Apresiasi dan ungkapan terima kasih setinggi-tingginya bagi segenap rekan kerjaku yang baik dan penuh semangat mendedikasikan kemampuan dan tenaganya untuk mencapai tujuan yang ditetapkan. Semoga keberkahan Tuhan senantiasa menyertai. (Yusuf Iskandar).
***
Judul: Bingkisan Amanah Itu akan Kujaga
Penulis: Yusuf Iskandar
Editor: JHK
Profil penulis:
Yusuf Iskandar adalah seorang Independent Mining Consultant yang pernah bekerja di Mining Company dan Minimarket. Alumni SMA Negeri 1 Kendal ini tinggal di Yogyakarya dan mempunyai hobi traveling, blusukan, petualangan, dan menulis apa saja yang bermanfaat. Dalam tagline halaman akun Facebook-nya, dia menulis “Selalu ada cerita dan inspirasi tiap hari”.









