ArtikelPratama Media News

Bermimpi Menghilangkan Korupsi

Siapa tahu negeri ini tidak memerlukan lagi lembaga apapun namanya untuk memberantas korupsi. Bukan karena koruptor menang, tetapi karena tidak ada lagi yang melakukan tindak pidana korupsi.

Bermimpi Menghilangkan Korupsi Bagi sebagian orang, berita yang sering membuat kesal, sedih, dan campur aduk tidak karuan adalah berita tentang korupsi. Korupsi seolah tidak ada mati dan hebatnya. Angka nominal yang dikorupsipun bukan semakin tipis, tetapi malah kian hari kian membesar. Fantastis, diduga sudah mencapai bilangan T.

Berita tentang korupsi disemua jenis media seperti menyajikan laporan pandangan mata pertandingan seru antara kecanggihan koruptor dengan keuletan lembaga anti rasuah (KPK). Pertandingan yang seperti tak kunjung selesai.

Tentu ini bukan “prestasi” yang bikin bangga. Ini adalah sinyal kuat untuk diwaspadai bahwa apapun dan berapa lama pun ancaman hukuman atas tindak pidana korupsi, tidak cukup menimbulkan rasa takut dan efek jera. Apalagi media pun sering mempertontonkan para tersangka, tertuduh, terdakwa, dan terpidana korupsi yang masih bisa tersenyum, tertawa, dan tidak tampak wajah sesal atau sedih. Oleh karena itu wajar disamping kesal dan sedih, juga muncul kekhawatiran, jangan-jangan orang sudah tidak memiliki lagi rasa malu, rasa bersalah dan rasa takut dosa karena perbuatan buruknya.

Ilustrasi praktik korupsi
Ilustrasi Praktik Korupsi (Sumber: assetsearchblog.com)

Hilangnya rasa malu, takut berbuat salah dan dosa tentu tidak datang dengan tiba-tiba. Perasaan semacam itu biasa dimiliki oleh orang yang sudah berulang kali menjalani dan menikmati apa yang dilakukannya.

Pekerjaan seperti penggali kubur, pemulasaraan jenazah dan perkerja malam adalah jenis pekerjaan yang perlu keberanian. Mereka tentu mengawali pekerjaan tersebut dengan penuh rasa takut. Pencopet, pencuri, penjambret, dan perampok sebelum menjadi biasa dan semakin ahli, awalnya tentu gemetaran khawatir ketahuan, serta merasa bersalah dan takut dosa.

Bisa jadi korupsi pun begitu. Diawali ketika bermain di masa kanak-kanak, sudah biasa curang. Ketika jajan bakwan di sekolah, makan lima biji bayar tiga. Ketika ulangan di kelas, sudah biasa nyontek.

Gedung KPK RI (Sumber: liputan6.com)
Gedung KPK RI (Sumber: liputan6.com)

Semakin tambah umur, berbuat curang bukan lagi dianggap aib dan tabu.Alih-alih merasa malu dan merasa bersalah, tetapi malah seperti saling berlomba “how high can you go” (seberapa banyak bisa Anda sikat?) Adapun ancaman hukuman dianggap sebagai risiko dan tantangan. Risiko untuk dihadapi dan tantangan untuk dihindari, kalau bisa ditaklukkan.

Sungguh miris, kalau perbuatan korupsi sudah menjelma menjadi perlombaan. Terbayang bagaimana seseorang mempersiapkan diri. Dia dengan maksimal akan menggunakan waktu dan sumberdaya miliknya demi kemenangan. Kemenangan yang tidak layak memperoleh penghormatan. Kemenangan yang bisa berujung nista. Sebuah anomali, bukan hanya di sinetron, dalam kehidupan nyata pun ada dunia terbalik.

Stop Korupsi
Ilustrasi Stop Korupsi (Sumber: pngtree.com)

Terbalik karena umumnya sebuah perlombaan dilakukan untuk meraih kemenangan dan kehormatan. Dalam skala besar. Bahkan, bentuk penghormatannya berupa pengibaran bendera yang diiringi lagu kebangsaan dan tetesan air mata haru. Tidak usahlah sebuah lomba. Bahkan, “sekadar” hobi pun didasari oleh dipegangnya kehormatan diri.

Banyak sekali hobi yang menghargai kejujuran, kebanggaan, dan berbuah kehormatan. Penghobi kuliner misalnya, ketulusan dan kejujuran atas rasa adalah penting. Karena lidah tidak bisa bohong. Jangan heran kalau ada tempat makanan yang enak, di lubang semut pun akan dikejarnya.

Demikian pun pendaki gunung. Mencapai puncak gunung adalah kebanggaan dan kehormatan yang tidak bisa ditukar dengan yang lain. Gunung-gunung tinggi menjulang seakan mengundang tantangan. Jangankan bukit Duri, bukit Dago, Gunung Sahari, atau Gunung Jati, tidak tanggung-tanggung. Bahkan, Gunung Himalaya yang tertinggidi dunia pun akan didakinya demi kebanggaan dan kehormatan diri.

Untuk penghobi olahraga, banyak cabang olahraga yang menjunjung tinggi kehormatan. Salah satu jenis olahraga. Bahkan, memiliki etika cukup ketat. Para pemainnya harus mampu menahan diri, jujur, dan hanya bicara pada waktu yang tepat, tidak bersiul, menjaga sikap perilaku, mampu menjaga penampilan, dan menghargai waktu. Tidak semua orang bisa menjalaninya.

Di sisi lain, perhatikan permainan domino atau “gaple”. Permainan ini bisa dilakukan di mana saja, kapan saja, dan bisa dilakukan sambil bertelanjang dada, di tengah keramaian gemuruh suara musik, sambil minum, makan dan ngobrol. Gaple adalah sebuah permainan dengan etika tatakrama yang sangat longgar. Namun, jangan salah sangka, gaple juga menjunjung tinggi kejujuran dan menabukan perilaku curang. Sekali saja anda berbuat curang, lari menjauh semua teman bermain Anda .

Tidak korupsi
Ilustrasi Himbauan untuk tidak korupsi (Sumber: oeghautoliners.com)

Begitulah umumnya hobi, menjunjung tinggi kejujuran dan kehormatan. Kalau sekadar ingin menikmati ikan, seorang penghobi mancing bisa beli ikan di pasar. Demikian pun pendaki gunung. Kalau hanya ingin melihat pemandangan puncak gunung, tidak harus naik ke puncak. Cukup lihat foto atau video.

Memiliki hobi bisa menjadi media membangun sikap perilaku bersedia mengakui keunggulan lawan atau kekalahan sendiri. Sebuah sikap yang berpangkal dari menjunjung tinggi kejujuran dan kehormatan.

Seandainya semua memiliki hobi kemudian memahami, menghayati, dan menerapkan nilai-nilai kejujuran dan kehormatan dalam kehidupan sehari-hari, siapa tahu bisa mengembalikan rasa malu dan takut dosa yang sudah kabur entah ke mana. Sebuah rasa yang paling mendasar yang berpeluang mencegah orang tidak mau lagi melakukan korupsi, penyakit besar bangsa.

Maka tidak keliru kalau digelorakan dari anak-anak, remaja, pemuda, dan orang yang sudah tua sekalipun agar memiliki hobi dan hayati etikanya. Siapa tahu negeri ini tidak memerlukan lagi lembaga apapun namanya untuk memberantas korupsi. Bukan karena koruptor menang, tetapi karena tidak ada lagi yang melakukan tindak pidana korupsi.

Mungkin saat ini itu hanya dianggap mimpi, tetapi jangan lupa, di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin. Banyak hal-hal besar yang terjadi diawali dengan mimpi.

Purwokerto, 9 Juni 2021

**

Penulis: Sarkoro Doso Budiatmoko

Tentang Penulis:

Sarkosro Doso
Sarkoro Doso Budiatmoko (Sumber: Pratama Media News)

Sarkoro Doso Budiatmoko, lahir di Purbalingga, Jawa Tengah dari pasangan almarhum Pranoto dan almarhumah Fari’ah. Pendidikan hingga SLTA dijalaninya di kota kelahirannya ini, sedangkan pendidikan tinggi ditempuhnya di IPB (1984), Bogor dan pasca sarjana di Iowa State University (1996), di Amerika Serikat.

Pengalamannya menjalani berbagai penugasan di Perum Perhutani memperkaya wawasan dan pemikirannya yang sering dituangkan di media massa. Topik tulisannya tidak terbatas pada latar belakang pendidikan dan pekerjaannya saja, tetapi juga menyangkut bidang ekonomi, sosial, budaya, dan sumberdaya manusia. Aktifitasnya menulis tidak surut meski sudah purna-tugas beberapa tahun lalu.

Penkmat buku dan bacaan ini juga dipercaya mengasuh rubrik Kolom di Majalah “Bina Media Berita Kehutanan & Lingkungan” yang diterbitkan oleh Perum Perhutani Unit II Jawa Timur. Tulisan Sarkoro Doso berjudul “Setelah PHL, Lalu?” pernah terbit di Majalah Duta Rimba Edisi 42 (Mar-April 2012) – Penerbit Perum Perhutani, Jakarta, Indonesia.

Kini rimbawan berpengalaman yang berasal dari Perum Perhutani Unit II Jawa Timur aktif menulis blog di Kompasiana. Beberapa tulisannya di palform asuhan Kompas online tersesut di antaranya artikel berjudl “Bijak Memilih: Orang, Pasangan, dan Pemimpin” yang terbit pada 20 Mei 2021 dan artikel berjudul “Hidup Akal Sehat” yang terbit pada 31 Mei 2021.

Menikah dengan Noor Triageng Pakarti, penulis dikaruniai tiga orang anak, Andita Setiarini, Reza Krishnawardana dan Anakiowa Padmandaru. Saat ini dia menetap di Purwokerto dengan kesibukan menjadi staf pengajar di Language Development Center (LDC), Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP).

Artikel Berkaitan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button