FeaturesKulinerPratama Media NewsWisata

Bubur Ayam Pak Dekong Kini Hadir di Cihanjuang

Bubur Ayam Pak Dekong ini merupakan cabang yang ketiga dari Bubur Ayam Pak Dekong yang mangkal di depan Rumah Sakit Cibabat Cimahi.

Bubur Ayam Pak Dekong Kini Hadir di Cihanjuang  – Bagi para pecinta kuliner, bubur ayam merupakan salah satu makanan favorit. Sarapan pagi memang cocok dengan makanan yang satu ini. Apalagi kalau weekend,  menu yang paling pas untuk mengganjal menemani kita sebelum beraktivitas jalan-jalan atau lari pagi.

Salah satu bubur ayam di Kota Cimahi yang namanya sudah cukup dikenal adalah Bubur Ayam Pak Dekong. Kalau dilihat dari namanya, pasti kita berpikiran bahwa nama bubur ini berasal dari nama pemiliknya.

Pendapat tersebut ternyata benar. Setidaknya itu yang dilontarkan oleh Sinta Wulan, salah seorang pengusaha bubur ayam yang kini baru buka cabang di pertigaan Jalan Cihanjuang, Cibaligo, persis di pinggir jalan menuju Kompleks Cibaligo Permai, Desa Cihanjuang, Kabupaten Bandung Barat.

Bubur Ayam Pak Dekong
Kios Bubur Ayam Pak Dekong Cabang Cihanjuang (Sumber: J.Haryadi)

“Usaha bubur ini awalnya turun temurun dari kakek saya, Pak Dekong. Makanya oleh saya diberi nama Bubur Pak Dekong,” ujar Sinta Wulan, saat saya wawancarai pada Sabtu (4/9/2021) kemarin setelah menikmati bubur ayam tersebut.

Menurut penuturan Sinta, usaha yang ditekuninya ini merupakan usaha keluarga. Sebelum buka cabang di Desa Cihanjuang, ayahnya, Asep Suryana sudah terlebih dahulu membuka usaha Bubur Ayam Pak Dekong di sebelah pintu masuk Rumah Sakit Cibabat, Kota Cimahi. Usaha tersebut mulai dirintis ayahnya pada 1983 atau sekitar 38 tahun silam.

Bubur ayam Pak Dekong
Suasana dalam kios Bubur Ayam Pak Dekong Cabang Cihanjuang (Sumber: J.Haryadi)

“Ayah saya membuka usaha Bubur Ayam Pak Dekong sejak 1983 di depan pintu masuk Rumah Sakit Cibabat. Alhamdulillah usaha ayah maju pesat sehingga akhirnya bisa buka cabang di Cidahu dan di Cihanjuang,” ungkap Sinta.

Bubur Ayam Pak Dekong yang di Cidahu merupakan cabang yang kedua, sedangkan cabang yang ketiga yaitu di Cihanjuang baru dibuka pada Sabtu, 28 Agustus 2021.  Lokasinya persis di depan rumah saya (saling berseberangan) sehingga terlihat jelas dan membuat saya penasaran untuk mencobanya.

Sinta menambahkan bahwa usaha bubur ayam tersebut menjadi berkah bagi keluarga besar mereka. Perjuangan kakeknya, Pak Dekong  yang dulu bersusah payah merintis usaha bubur ayam, kini sudah bisa dinikmati oleh anak cucunya. Sebagian anak Pak Dekong dan cucunya sudah mengikuti jejaknya berjualan bubur ayam.

bubur ayam
Penulis saat mencicipi Bubur Ayam Pak Dekong cabang Cihanjuang (Sumber: J.Haryadi)

“Almarhum Kakek saya, Pak Dekong merintis usaha bubur ayam ini sejak 1971 di Terminal Pasar Atas, Cimahi. Waktu itu berjualannya masih menggunakan gerobak dengan cara didorong berkeliling. Kakek memang tinggalnya di daerah Citeureup,” ungkap Sinta.

Sinta menjelaskan bahwa membuka usaha bubur ayam tersebut membutuhkan modal yang tidak begitu besar. Pertama dia harus merogoh koceknya sebesar Rp 15 juta untuk biaya kontrak sewa tempat selama satu tahun. Kemudian dia juga mengeluarkan modal awal sekitar Rp 10 juta untuk peralatan dan bahan bakunya.

“Alhamdulillah saat kami baru buka, pembelinya sudah langsung ramai. Mungkin karena mereka sudah mengenal. Kalau sebelumnya mereka harus beli ke Cibabat, tetapi karena rumahnya di Cihanjuang, ya mereka jadi belinya di sini saja karena jaraknya lebih dekat,” ujar Sinta dengan antusias.

hati ampela dan telur puyuh
Cemilan hati ampela dan telur puyuh yang dijual seharga Rp 3000 pertusuk (Sumber: J.Haryadi)

Bicara soal rasa, bubur ayam ini memang layak dicoba. Selain tempatnya bersih, takarannya pun pas. Harganya juga tidak bikin kantong jadi jebol.

“Kalau di Cibabat harganya Rp 10 ribu per mangkuk. Beda dengan harga jualan di cabang Alfamart Cidahu dan di sini (Red: Cihanjuang), harganya diturunkan menjadi Rp 8000 per mangkuk. Soalnya daya beli masyarakatnya tidak sama, jadi harganya kami sesuaikan saja,” ujar Sinta.

Sinta mengungkapkan keunggulan bubur ayam produknya dibandingkan para pesaingnya. Misalnya kecap, dia menggunakan kecap bermerk yang berkualitas, bukan kecap asal-asalan. Begitu juga bawang goreng, dia bikin sendiri dengan menggunakan bawang Sumenep.

“Seperti bawang goreng, saya tidak beli. Saya goreng sendiri. Ini bawang Sumenep. Juga cemilan hati ampela dan telor puyuh. Saya bumbuin dulu biar tambah enak. Jadi sudah ada rasanya. Pokoknya, saya mengutamakan kualitas,” ujar Sinta.

Begitu juga sambal. Kalau tukang bubur ayam umumnya membuat sambal menggunakan cabe bubuk yang harganya lebih murah. Namun, Sinta justru menggunakan cabe rawit yang masih segar sehingga rasanya pun lebih enak.

Selain bubur ayam, Sinta juga menyediakan cemilan tambahan berupa hati ampela dan telor puyuh. Keduanya dijualnya dengan harga Rp 3000 per tusuk. Jika pelanggan berminat, tinggal mengambilnya dan dimakan bersama bubur ayam.

Rencana ke depannya, Bubur Ayam Pak Dekong ini akan dikembangkan lagi dalam bentuk franchise. Oeh karena itu Sinta sedang mempelajari sistemnya.

“Mungkin saya akan pelajari dulu sistemnya. Kalau sudah saya kuasai, baru akan saya terapkan,” pungkas Sinta.

***

Editor: JHK

“Bubur Ayam Pak Dekong Kini Hadir di Cihanjuang” oleh J.Haryadi

Profil penulis:

J. Haryadi adalah nama pena dari Jumari Haryadi. Pria kelahiran Kotabumi, Lampung Utara yang akrab disapa Edi Kohar atau Arie. Dia memiliki darah Jawa dari ayahnya yaitu Kediri, Jawa Timur, sedangkan darah Ogan dari ibunya yang berasal dari Baturaja, Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatera Selatan.

Pria yang sering memakai iket di kepalanya ini mulai serius menekuni dunia tulis menulis sejak 2007.  Selain sebagai penulis, jurnalis, dan blogger, J. Haryadi juga sedang menekuni dunia fotografi, serta aktif sebagai pegiat wisata, seni, dan budaya.

Artikel Berkaitan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button