Wabah Buru-Buru
Tanpa disadari, banyak orang dihinggapi “penyakit” buru-buru. Semua ingin serba cepat, ingin serba mudah, dan ingin serba segera selesai.
Wabah Buru-Buru – Seorang penulis artikel suatu hari dibuat pusing gara-gara komentar salah satu pembacanya. Komentar itu agak pedas, tapi keluar dari konteks dan pesan utama artikel. Rupanya pembaca ini walaupun hanya membaca judul dan sebagian kecil saja dari keseluruhan isi tulisan, tapi sudah berani ambil kesimpulan dan memberi komentar.
Untuk menghindari munculnya kegaduhan, komentar itu tidak dibalas. Cukup dimaklumi saja. Mungkin si pembaca ini saat menulis komentar sedang buru-buru mengejar sesuatu.
Agaknya tanpa disadari, banyak orang dihinggapi “penyakit” buru-buru. Semua ingin serba cepat, ingin serba mudah, dan ingin serba segera selesai. Dalam hal makanan, lihat saja banyaknya persediaan ragam barang-barang makanan siap saji atau makanan instant di toko-toko, minimarket atau bahkan mall dan supermarket. Banyaknya stok itu disiapkan karena banyaknya peminat. Semua tampak serba mau buru-buru.

Buru-buru kadang memang membuat sesuatu selesai lebih cepat, tapi bisa saja terjadi, bermaksud lebih cepat, tetapi malah mendatangkan mudharat dan menjadi jauh lebih lambat. Memang ada benarnya adagium yang berbunyi: lebih cepat lebih baik, tetapi tentu dengan syarat dan ketentuan tertentu. Syarat itu misalnya kenyamanan orang juga diperhitungkan, disamping keselamatan diri sendiri.
Soal buru-buru, bukan hanya menyangkut makanan. Lihat bagaimana para pengemudi sepeda motor dan kendaraan roda empat atau lebih berlalu lintas di jalan raya. Tepatnya lagi di persimpangan lampu merah.
Pada saat menunggu lampu hijau menyala, para pelalu-lintas tampak tidak satu sentimeter pun menyisakan ruang kosong. Semua ingin mengisi sela-sela ruang sesempit apapun dengan maksud mencari posisi paling depan untuk bisa paling dulu dan paling cepat melesat. Memang akan lebih cepat sampai ke tujuan, tetapi jika mengabaikan keselamatan diri dan orang lain bisa mendatangkan celaka.
Lihat juga di perlintasan kereta api. Tidak sedikit pengendara sepeda motor yang melewati palang pintu pengaman lintasan dan menempatkan kendaraan yang dinaikinya persis di pinggir rel KA. Tanpa peduli rambu keselamatan, dia langgar zona aman dan masuk zona penuh risiko demi ingin serba cepat.

Seketika kereta lewat, langsung tancap gas dan secepat kilat melintasi rel. Bila salah perhitungan dan nasib lagi apes bisa membuat nyawa melesat. Apatah lagi di perlintasan kereta yang tidak memiliki pintu pengaman.
Rupanya “penyakit” buru-buru itu memang sudah dibawa orang sedari menjadi murid sekolah. Amati saat murid sekolah menempuh ujian, mereka cenderung tergesa-gesa mengerjakan soal ujian karena ingin cepat selesai. Entah karena tidak mau kepala pusing, atau dipikirnya lebih cepat selesai itu akan dianggap lebih pandai.
Guru tahu persis bahwa anggapan cepat selesai itu berarti pandai sama sekali tidak benar. Biasanya murid pandai justru mengerjakan soal dengan hati-hati, diperiksa ulang, dan tidak begitu peduli dengan anggapan bahwa lebih lambat mengerjakan soal ujian dari yang lain itu artinya lebih bodoh.
Guru pun sering menasehati “kerjakan soal dengan tenang, tidak usah buru-buru, waktunya cukup, kerjakan mulai dari yang dianggap mudah terlebih dahulu. Periksa ulang pekerjaan sebelum ditumpuk”. Pesan bijak dari guru yang sarat pengalaman. Dia tidak ingin ingin muridnya melewatkan kesempatan ujian yang hanya berlangsung singkat, tapi menentukan keberhasilan proses belajar yang jauh lebih lama.
Namun agaknya perilaku buru-buru itu tidak hanya di sekolah, tetapi sudah menyebar dalam kehidupan sehari-hari maupun urusan pekerjaan. Lihat di kantor. Berapa banyak pejabat atau bos yang meluangkan waktunya menyempatkan diri untuk membaca dengan seksama, mengerti, dan memahami isi surat atau seberkas perjanjian yang akan ditandatangani. Belum lagi setumpuk peraturan dan surat-surat penting lainnya.
Lebih sering terjadi, bos sangat sibuk sehingga tidak memiliki cukup waktu, lalu percaya sepenuhnya kepada staf. Asalkan staf sudah membaca dan membubuhkan paraf, sebagai tanda paham dan mengerti, banyak bos tanpa membaca lagi, langsung membubuhkan tanda tangan.
Demikian pun dalam urusan transaksi bisnis, berapa banyak pihak-pihak yang memadu ikatan janji itu dengan telaten dan hati-hati membaca seutuhnya isi perjanjian secara detil sebelum tanda tangan? Sepertiya tidak banyak. Para pihak cenderung enggan dan malas untuk membacanya. Adapun soal risiko, itu soal nanti persis seperti kelakuan penerabas pintu lintasan KA.
Kalau dalam hal penting saja main buru-buru, apalagi menghadapi hal-hal kecil seperti membaca artikel, buku atau pesan-pesan di media sosial. Dalam hal ini orang seringkali merasa sudah memahami isinya walaupun baru membaca judul dan nama penulisnya.
Tujuan utama pembuatan sebuah judul tulisan adalah untuk memberi gambaran awal dari isi bacaan. Tujuan berikutnya agar calon pembaca menjadi tertarik untuk membaca isinya secara utuh.
Membaca boleh saja dilakukan dengan cepat, tetapi sungguh sayang jika sampai karena cepatnya, lalu kehilangan nikmatnya bacaan apalagi kehilangan pesan pentingnya. Oleh karena itu, apapun jenis kegiatannya, sebaiknya jangan dilakukan secara buru-buru. Lebih baik hati-hati dan waspada, siapa tahu ada “betmen” yang pasang jebakan di balik “buru-buru”.
Purwokerto, 15 Ramadhan 1443 H
***
Judul: Wabah Buru-Buru
Penulis: Sarkoro Doso Budiatmoko
Editor: JHK
Tentang Penulis:
Sarkoro Doso Budiatmoko, lahir di Purbalingga, Jawa Tengah dari pasangan almarhum Bapak Pranoto dan almarhumah Ibu Fari’ah. Pendidikan hingga SLTA dijalaninya di kota kelahirannya ini, sedangkan pendidikan tinggi ditempuhnya di IPB (1984), Bogor dan pascasarjana di Iowa State University (1996), Amerika Serikat.

Pengalamannya menjalani berbagai penugasan di Perum Perhutani memperkaya wawasan dan pemikirannya yang sering dituangkan di media massa. Topik tulisannya tidak terbatas pada latar belakang pendidikan dan pekerjaannya saja, tetapi juga menyangkut bidang ekonomi, sosial, budaya, dan sumberdaya manusia. Aktifitasnya menulis tidak surut meski sudah purna-tugas beberapa tahun lalu.
Penikmat buku dan bacaan ini juga dipercaya mengasuh rubrik Kolom di Majalah “Bina Media Berita Kehutanan & Lingkungan” yang diterbitkan oleh Perum Perhutani Unit II Jawa Timur. Tulisan Sarkoro Doso berjudul “Setelah PHL, Lalu?” pernah terbit di Majalah Duta Rimba Edisi 42 (Mar-April 2012) – Penerbit Perum Perhutani, Jakarta, Indonesia.
Kini rimbawan berpengalaman yang berasal dari Perum Perhutani Unit II Jawa Timur aktif menulis blog di Kompasiana. Beberapa tulisannya di platform asuhan Kompas online tersebut di antaranya artikel berjudl “Bijak Memilih: Orang, Pasangan, dan Pemimpin” yang terbit pada 20 Mei 2021 dan artikel berjudul “Hidup Akal Sehat” yang terbit pada 31 Mei 2021.
Penulis dikaruniai tiga orang anak. Saat ini dia menetap di Purwokerto dengan kesibukan menulis dan menjadi staf pengajar di Language Development Center (LDC), Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP).








