Di Lorong Gang Bajat: Pertemuan dengan Bahar Malaka
Artikel ini ditulis oleh: Didin Kamayana Tulus
PRATAMA MEDIA NEWS (PMN) – Kolom OPINI, Minggu (20/10/2024) – Artikel berjudul “Di Lorong Gang Bajat: Pertemuan dengan Bahar Malaka” ini adalah sebuah esai karya Didin Kamayana Tulus yang merupakan seorang penulis produktif dan penggiat perbukuan yang sarat pengalaman. Kini ia tinggal di Kota Cimahi, Provinsi Jawa Barat.
Di tengah kesibukan kota, di lorong Gang Bajat, Kelurahan Cibabat, Kecamatan Cimahi Utara, Kota Cimahi, saya berpapasan dengan seorang lelaki berambut gimbal yang sedang berjalan menuju jalan raya. Dengan langkah tenang dan penuh percaya diri, sosoknya menarik perhatian saya.
Ternyata, sosok itu adalah Bahar Malaka atau lebih akrab disapa Kang Bahar, seorang seniman eksentrik yang namanya belakangan ini mulai terdengar di telinga saya. Saya sudah janjian dengan seorang wartawan media online untuk bertemu di rumahnya dan rasa ingin tahu saya semakin memuncak.

Sebelum pertemuan ini, saya hanya pernah membaca sekali tentang Kang Bahar di PRATAMA MEDIA NEWS, sebuah artikel yang ditulis oleh Jumari Haryadi (J. Haryadi) atau biasa disapa Pak Arie. Selebihnya, saya tidak terlalu mengenal sosoknya.
Dalam benak saya, ada ungkapan yang sering saya dengar: “moal bogoh lamun teu wanoh” (tak kenal maka tak sayang). Saya sadar, untuk menghargai seseorang, kita perlu mengenalnya terlebih dahulu. Jadi, sore itu, saya bertekad untuk membuka lembaran baru dalam pengalaman saya berkenalan dengan dunia seni yang dipenuhi warna dan makna.
Ketika saya tiba di rumah Kang Bahar, suasana sudah hangat. Pak Arie sudah lebih dahulu hadir dan menyambut saya dengan senyuman.

Rumah Kang Bahar sederhana. Namun, penuh dengan karya seni yang menggugah rasa. Dinding-dindingnya dipenuhi lukisan-lukisan yang mencolok, menunjukkan karakter dan kepribadian sang pemilik. Dalam hati, saya mulai menggambarkan sosok Kang Bahar sebagai seorang seniman yang memiliki jiwa bebas, berani mengekspresikan dirinya melalui karya.
Ketika Kang Bahar muncul, saya terpesona dengan aura yang dipancarkannya. Rambut gimbalnya yang panjang dan berombak mencerminkan kebebasan berkreasi, sementara senyumnya yang ramah membuat suasana semakin akrab.
“Selamat datang, teman-teman!” Sapa sang seniman dengan nada ceria.
Ketenangan dan keramahan yang ditunjukkan Kang Bahar membuat saya merasa nyaman berada di sana.
Kami mulai mengobrol, saling bertukar cerita tentang seni, budaya, dan kehidupan. Kang Bahar memiliki cara berbicara yang menawan. Ia mampu menyelipkan filosofi dalam setiap kata yang diucapkannya, membuat percakapan kami menjadi lebih bermakna.
Kang Bahar juga bercerita tentang perjalanan hidupnya sebagai seniman, bagaimana ia menemukan inspirasi dari lingkungan sekitarnya, dan tantangan yang dihadapi dalam dunia seni.
“Seni itu seperti jendela,” kata Kang Bahar, “Ia memberi kita pandangan baru tentang dunia. Melalui seni, kita bisa berbagi cerita, menyentuh hati orang lain, dan bahkan mengubah cara pandang mereka.”
Saya terkesima mendengar pemikirannya yang dalam dan penuh wawasan. Di tengah obrolan, kami juga berdebat ringan tentang definisi seni. Kang Bahar percaya bahwa seni tidak selalu harus indah; yang terpenting adalah makna yang terkandung di dalamnya.

Sore itu, waktu seakan terhenti. Kami larut dalam diskusi yang tak kunjung usai. Dari seni lukis, patung, hingga musik, semua saling berkaitan dan menciptakan harmoni yang indah dalam kehidupan. Satu hal yang jelas, semangat Kang Bahar menular kepada saya. Ia adalah sosok yang mengajarkan bahwa seni bisa ditemukan di mana saja. Bahkan, dalam hal-hal sederhana sekalipun.
Setelah beberapa waktu, kami memutuskan untuk berfoto bersama. Dengan latar belakang lukisan-lukisan yang memukau, saya merasa beruntung dapat berdiri di samping seorang seniman yang sangat dihargai di Kota Cimahi. Dalam momen itu, saya menyadari bahwa pertemuan ini lebih dari sekadar mengenal seseorang; ini adalah tentang menghargai seni dan kebudayaan yang mengelilingi kita.
Ketika senja mulai menyapa, saya merasa puas dengan pengalaman yang saya dapatkan sore itu. Saya datang dengan ketidaktahuan. Namun, pulang dengan banyak pemahaman baru tentang seni dan kehidupan.
Kang Bahar dan Pak Arie telah membuka mata saya tentang pentingnya mengenal orang-orang di sekitar kita bahwa di balik setiap karya seni, ada cerita yang menunggu untuk diceritakan.
Di lorong Gang Bajat, saya tidak hanya menemukan seorang seniman berambut gimbal, tetapi juga seorang guru kehidupan. Pertemuan ini menjadi salah satu momen berharga yang akan saya ingat selamanya, mengingatkan saya akan kekuatan seni dalam menyentuh jiwa manusia. (Didin Tulus/PMN)
***
Judul: Di Lorong Gang Bajat: Pertemuan dengan Bahar Malaka
Penulis: Didin Kamayana Tulus, Penggiat Buku tinggal di Kota Cimahi.
Editor: JHK








