KesehatanPratama Media News
Tren

Waspada, Indonesia Peringkat Ketiga Penderita TBC di Dunia

Pratamamedia.com – Penyakit Tuberculosis atau biasa disebut TBC adalah penyakit yang diakibatkan oleh kuman atau bakteri Mycobacterium Tuberculosis. TBC termasuk penyakit serius yang cukup berbahaya karena dapat menyerang organ hati, paru-paru, dan jantung. Bakteri ini bersifat menular dan dapat menyebar melalui batuk atau bersin yang bisa menginfeksi orang di dekatnya.

Umumnya orang yang terinfeksi bakteri penyebab TBC tidak memiliki gejala. Saat gejalanya muncul biasanya berupa batuk yang terkadang disertai bercak darah, terjadinya penurunan berat badan, sering berkeringat di malam hari, dan demam.

Penyakit TBC ini ternyata paling sering menginfeksi orang berusia produktif, yaitu 15-50 tahun. Bahkan berdasarkan hasil riset para peneliti di Universitas Padjajaran, tak sedikit remaja yang meninggal dunia akibat penyakit ini.

Pandemi Tuberculosis (Sumber: https://www.healtheuropa.eu)
Pandemi Tuberculosis (Sumber: https://www.healtheuropa.eu)

Menurut informasi yang dilansir dari kompas.com, Indonesia ternyata menempati peringkat ke-3 penderita TBC di dunia setelah India dan China. Diperkirakan penderita TBC di Indonesia berjumlah 845.000 orang penderita dan 93.000 jiwa di antaranya meninggal dunia akibat penyakit ini. Oleh sebab itu kita tidak boleh lengah dan harus selalu waspada dalam beraktivitas, terutama saat ini yang sedang terjadi wabah pandemi covid-19.

Pada dasarnya semua penyakit bisa dicegah asal kita mau menjalankannya. Hal ini senada dengan apa yang dikatakan oleh Menteri Kesehatan (Menkes) Republik Indonesia, Nila Moeloek, pada puncak Peringatan Hari Tuberkulosis Sedunia Tahun 2019 yang diselenggarakan pada 27 Maret 2019 di Pondok Pesantren Cipasung, Tasikmalaya, Jawa Barat.

Menurut Nila Moeloek, cara pencegahan TBC bisa dilakukan melalui Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), yaitu: 1) makan – makanan yang bergizi untuk meningkatkan daya tahan tubuh; 2) membuka jendela agar rumah mendapatkan cukup sinar matahari dan udara segar; 3) menjemur alas tidur agar tidak lembab; 4) mendapatkan suntikan vaksin BCG bagi anak usia di bawah lima tahun untuk menghindari TBC berat (meningitis dan milier); 5) olahraga teratur, dan; 6) tidak merokok.

Pada kesempatan tersebut Menkes memberikan arahan untuk melakukan TOSS (Temukan Tuberkulosis  Obati Sampai Sembuh). Salah satu pendekatan ini berguna untuk menemukan, mendiagnosis, mengobati, dan menyembuhkan pasien TBC, serta bermanfaat untuk menghentikan penularan TBC di masyarakat.

Bakteri Tuberculosis (sumber: https://www.news-medical.net)
Bakteri Tuberculosis (sumber: https://www.news-medical.net)

Adapun langkah-langkah TOSS TBC adalah: 1) temukan gejala TBC di masyarakat. Gejala TBC seperti batuk selama tiga minggu berturut-turut atau lebih, batuk darah, nyeri dada saat bernapas atau batuk, penurunan berat badan, kelelahan, demam, berkeringat di malam hari, panas dingin, atau kehilangan selera makan. Bila hal tersebut terjadi segara sampaikan ke petugas kesehatan di Fasilitas Kesehatan terdekat;

2) obati TBC dengan tepat. Diagnosis TBC dapat dilakukan di Fasiilitas Kesehatan secara gratis. Lakukan pemeriksaan dahak sesuai anjuran petugas agar mendapatkan hasil yang optimal. Obat TBC yang berkualitas tersedia gratis di Fasilitas Kesehatan;

3) pantau Pengobatan TBC sampai sembuh. Pengobatan TBC menggunakan jenis obat dan dosis yang tepat yang telah disediakan oleh Fasilitas Kesehatan. Obat harus diminum secara teratur sampai pengobatan tuntas dan sembuh. Pengawas Menelan Obat (PMO) dari petugas kesehatan dan atau orang terdekat. Lakukan pemeriksaan di bukan kedua, kelima, dan keenam diakhir pengobatan (sumber: p2p.kemkes.go.id).

Tiga langkah tersebut sepertinya baik dilakukan mulai dari sekarang demi menekan jumlah penderita tuberkulosis yang semakin meningkat tajam di tengah pandemi virus corona. Kita juga wajib menjalankan protokol kesehatan dalam pergaulan sehari-hari dengan melakukan hal-hal berikut: 1) gunakan masker; 2) saat batuk, tutup hidung dan mulut dengan menggunakan lengan; 3) tutup hidung dan mulut dengan sapu tangan; 4) segera buang tisu yang sudah terpakai, dan; 5) cuci tangan dengan menggunakan air mengalir dan sabun.

Selain melakukan langkah-langkah di atas, kita juga perlu menjaga stamina dengan mengonsumsi makanan sehat atau suplemen produk herbal yang legal dan memenuhi standar kesehatan. Salah satu produk herbal yang sudah dikenal luas masyarakat dan telah terbukti khasiatnya adalah Chang Sheuw Tian Ran Ling Yao (CSTRLY) yang diproduksi oleh PT Daun Teratai.

Chang Sheuw Tian Ran Ling Yao terbukti membantu meningkatkan kualitas hidup orang yang mengunsumsinya sejak 1986. Obat herbal ini merupakan racikan ramuan tradisional Cina kuno dari tumbuh-tumbuhan langka yang berasal dari Provinsi Yunan, Cina.

Menurut Yopimesa Yudi, salah seorang praktisi pengobatan tradisional Cina, “Berdasarkan sistem pengobatan tradisional Cina kuno, ilmu pengobatan yang terbaik adalah obat yang dapat menjaga keseimbangan fungsi organ tubuh atau dikenal dengan Yin Yang Wu Xing. Sekarang diakui oleh ilmu kedokteran di dunia sebagai sistem adaptogen.”

Sementara itu berdasarkan informasi yang dikutip dari Time, adaptogen merupakan jenis tanaman yang tidak beracun yang dipasarkan karena membantu tubuh menahan stres dari segala jenis, baik fisik, kimiawi maupun biologis. Ramuan dan akar ini telah digunakan selama berabad-abad dalam tradisi penyembuhan Cina. Bahkan, tanaman ini bisa dimakan bersama makanan lain tanpa efek samping. Bahkan, bisa dikonsumsi sebagai suplemen.

Yudi menambahkan bahwa adaptogen adalah bahan tidak berbahaya yang mendorong peningkatan ketahanan tubuh untuk melawan racun, “Jadi simplisia yang dapat berfungsi menormalisasi fungsi organ tubuh, enzim, serta sel dalam tubuh tanpa memberikan efek samping, walau dimakan dalam jumlah banyak. Itu adalah simplisia-simplisia terbaik yang digunakan dalam pengobatan tradisional Cina sejak ribuan tahun lalu sampai saat ini.”

Mengapa obat herbal yang memiliki sistem adaptogen dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit?

“Menurut ilmu kedokteran dan secara logika tidak masuk akal. Simplisia yang memiliki sistem adaptogen harus mengandung kandungan mineral germanium dan polisakarida. Germanium berfungsi untuk menormalisi fungsi organ organ tubuh serta keseimbangan seluruh enzim dalam tubuh dan polisakarida berfungsi untuk menormalisasi sel dalam tubuh. Keseimbangan fungsi organ, enzim, dan sel maka imun tubuh akan meningkat dan dapat menyembuhkan penyakit atau menangkal penyakit. Adaptogen sampai saat ini masih terus dalam penelitian ilmuwan di dunia untuk melawan penyakit,” pungkas Yudi.

***

Penulis: JHK

Artikel Berkaitan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button