Pilih Benar atau Selamat (Bagian 1)
Sebuah kisah menarik dan inspiratif dari Manjaro Pai
Pilih Benar atau Selamat – Roy adalah seorang pria muda berperawakan tegap. Tinggi badannya sekitar 170 Cm sedangkan beratnya 60 Kg. Rambutnya yang panjangnya dan berjuntai segera dipotongnya agar terlihat rapi, setelah dia mendapatkan surat panggilan kerja.
Sudah enam bulan ini Roy menganggur sejak ia menyelesaikan sidang sarjananya. Selama duduk di bangku kuliah, ia dikenal sebagai seorang aktivis kampus. Ia kerap disibukkan dengan berbagai aksi mahasiswa. Bahkan, setelah menyelesaikan kuliah pun ia masih sering melakukannya demi membantu adik-adik mahasiswa di almamater kampusnya.
Pria yang dulu menjadi idola para mahasiswi di kampusnya ini girang bukan kepalang karena apa yang ia nantikan selama ini akhirnya tiba. Ia mendapat panggilan bekerja pada semua perusahaan besar di luar kota.

Secepatnya Roy mempersiapkan segala sesuatunya karena tiket pesawat sudah di kirim oleh pihak perusahaan untuk dua hari ke depan. Selama dua hari ini ia sibuk menyiapkan segala perlengkapannya, serta berusaha menjumpai beberapa orang sekadar pamitan, terutama kepada kedua orang tuanya.
Pada pamitan, Roy meminta restu dari ayah dan ibunya. Keduanya berpesan agar ia mampu menjaga integritasnya.
“Roy anakku, hebat kalau Kamu bisa jadi orang penting, tetapi lebih penting jika Kamu bisa jadi orang benar,” tutur ibunya dengan suara serak menahan haru.
Sementara sang ayah berpesan dengan nada ekstrim, “Lebih baik Kamu bodoh dan tidak tahu apa-apa daripada Kamu pintar dan berkuasa, tapi hidup dan pikiranmu jauh dari kebenaran.”
Intinya, menjadi orang benar adalah pesan dari kedua orang tua Roy.
Akhirnya pada Minggu pagi Roy berangkat dengan pesawat pertama. Meskipun ia mengantuk karena selama dua hari ini kurang tidur, tetapi selama perjalanan ia berusaha membuka mata dan menikmati pemandangan yang baru dilihat dan dirasakannya.
Sesampainya di bandara kota tujuan, Roy langsung disambut oleh Pak Rustam. Pria tua ini merupakan seorang sopir di kantornya dan juga warga asli kota itu. Sejak lahir sampai sekarang berumur hampir 60 tahun, ia tinggal di kota tersebut.
Pak Rustam menyambut Roy dengan baik dan sopan. Sejak pertemuan pertama tersebut Roy bisa merasakan kalau Pak Rustam adalah orang yang sangat baik.
“Maaf Mas Roy, untuk sementara saya ditugaskan menemani Mas Roy. Perusahaan sudah menyediakan tempat sementara, tetapi letaknya agak jauh dari kantor. Untuk itu saya ditugaskan untuk antar jemput Mas Roy, ” tutur Pak Rustam dengan nada ramah.
Roy hanya menjawab dengan ucapan terima kasih.
“Kalo Mas Roy lelah, silakan Mas Roy tidur dulu. Perjalanan kita agak lama, apalagi ini hari Minggu, jalanan penuh oleh wisatawan. Mungkin sekitar satu jam baru kita sampai Mas,” sambung Pak Rustam.
“Iya Pak, maaf ya kalau nanti saya ketiduran. Saya lumayan agak mengantuk,” jawab Roy sambil sedikit menguap, lalu mendorong senderan kursi mobil sedikit agak ke belakang.

Tidak lama berselang, rasa kantuk Roy semakin meninggi. Ia semakin tak sanggup melawannya. Namun, ketika kendaraan yang mereka tumpangi sudah berada di luar gerbang bandara, persis di persimpangan jalan ia melihat lampu lalu lintas berwarna merah, tetapi Pak Rustam tetap melajukan kendaraan dengan santai. Hal ini sedikit mengganggu piķirannya, tapi rasa kantuk sudah mengisi 90% badannya. Tidak terasa Roy terlelap tidur hingga lebih dari 30 menit.
Ketika Roy terbangun, posisi kendaraan sudah berada tepat di persimpangan terakhir menuju rumah peristirahatan sementaranya. Kembali Roy melihat Pak Rustam menyeberangi persimpangan tersebut dengan santainya, padahal saat itu lampu merah masih menyala.
“Hati-hati Pak, itu lampu merah,” teriak Roy kaget.
Pak Rustam menjawab dengan ramah, “Eh Mas Roy sudah bangun. Pas sekali. Itu di depan tempat tinggal kita sementara. Beberapa hari ke depan saya ditugaskan kantor tinggal di sini menemani Mas Roy.”
Sambil melambatkan laju mobil yang dikendarainya, Pak Rustam membelokkan mobil tersebut ke sebuah rumah yang di depannya tertera tulisan “Mess Karyawan”.
Mereka berdua turun dan masuk ke rumah tersebut untuk mengemas kamar masing-masing. Lalu Roy meminta Pak Rustam untuk mengantarnya keluar mencari tempat makan. Sepanjang perjalanan, kembali terlihat Pak Rustam beberapa kali melanggar lampu merah di persimpangan jalan. Anehnya, justru ketika lampu hijau, Pak Rustam malah menghentikan mobilnya.
Sampai akhirnya Roy bertanya kepada Pak Rustam tentang lampu merah yang selaku dilanggarnya, ”Maaf Pak, kenapa Bapak selalu menerobos lampu merah dan malah berhenti saat lampu hijau menyala?”
Pak Rustam menjawab sambil tetap memandang ke depan jalan, “Santai saja Mas, di sini memang seperti itu. Kalau hijau berhenti dulu, merah bisa lanjut saja. Orang yang baru datang ke kota ini pasti heran. Nanti saya ceritakan di rumah. Sekarang kita makan dulu Mas. Ini tempat makan murah meriah yang teŕdekat.”

Mobil yang ditumpangi Roy pun berhenti persis di depan sebuah rumah makan yang sangat ramai dengan gaya prasmanan.
Setelah selesai mengambil makanan, lalu mereka duduk di sebuah meja kecil yang terlihat cukup untuk dua orang, Mereka duduk saling berhadapan. Saat makan Roy tidak kuasa menahan rasa penasarannya dan meminta Pak Rustam menjelaskan tentang aturan lampu merah di kota tersebut. Pak Rustam pun bersedia diganggu makannya untuk menjawab pertanyaan Roy.
“Dulu saat kota ini dibangun, semuanya sama dengan kota-kota lainnya di Indonesia. Lampu merah untuk berhenti, kuning penanda hati-hati, dan lampu hijau artinya boleh jalan. Tetapi sekitar 15 tahun lalu, saat kota ini meningkat taraf hidupnya, anak-anak yang tinggal di kota ini mulai tumbuh remaja dengan tingkat ekonomi yang lumayan bagus,” jelas Pak Rustam sambil meneguk segelas es teh manisnya.
Sementara Roy terlihat asik mengunyah makanannya sembari wajahnya terlihat penasaran. Ia masih menanti kelanjutan kisah yang diceritakan Pak Rustam.
“Dengan ekonomi yang bagus anak-anak tumbuh tanpa pengawasan dan mereka memiliki kendaraan pribadi untuk bepergian ke sana ke mari. Mereka mengendarai kendaraan dengan ugal-ugalan dan selalu menerobos lampu merah sehingga kita selalu berhati-hati ketika lampu hijau menyala,” sambung Pa Rustam sambil mengunyah makanannya.
“Lah, bukannya itu salah Pak? Kenapa dibiarkan?” Timpal Roy tak habis pikir.
“Ya, memang awalnya polisi sering menegur mereka, tetapi anak-anak muda itu malah semakin sering melakukannya. Kebiasaaan menerobos lampu itu terus berlanjut hingga mereka dewasa. Bahkan, sebagian dari mereka sekarang sudah ada yang menjadi polisi. Akhirnya orang yang di sisi lampu hijau juga sudah terbiasa untuk berhenti,” ujar Pak Rustam.
“Apakah tidak ada yang berusaha melakukan hal yang benar Pak?” Roy kembali bertanya.
“Tentu ada. Dulu masih sering orang yang merasa benar melajukan kendaraan pada saat lampu hijau, tetapi beberapa kali terjadi kecelakaan,” jawab Pak Rustam.
“Pasti karena di sisi lain yang sedang menyala lampu merah ada kendaraan yang melaju,” Roy menimpali pernyataan Pak Rustam.
“Betul sekali Mas. Bahkan, beberapa kali terjadi kecelakaan fatal. Korbannya sampai meninggal dunia. Maka sejak saat itu orang-orang memilih selamat daripada benar, tapi harus mengorbankan keselamatan. Bukankah peraturan diciptakan untuk menjaga keselamatan kita?” Ujar Pak Rustam menjelaskan dengan diakhiri sebuah pertanyaan.
“Wah Pak, tetap saja di mata hukum itu salah. Saat kejadian tabrakan pun dia yang melanggar lampu merah yang dipersalahkan dan harus bertanggung jawab,” tutur Roy dengan yakin menjawab pernyataan Pak Rustam.
“Apakah hukum bisa menghidupkan kembali orang yang mati?” Pak Rustam menimpali dengan cepat.
“Adik saya meninggal seketika karena mengantar turis yang memaksanya melaju di lampu hijau karena alasan bahwa kita benar dan berhak melaju. Bahkan, setelah proses hukum selesai pun adik saya tetap meninggal. Padahal usia dia masih 35 tahun waktu itu. Anaknya dua masih usia sekolah dasar. Kalau sudah begitu, apakah hukum bisa membiayai anaknya sekolah?” Sambung Pak Rustam sedikit emosional.
Mendengar nada bicara Pak Rustam, Roy memutuskan untuk tidak melanjutkan perdebatan dan menerima penjelasan Pak Rustam apa adanya. Lalu Roy dengan pelan mengalihkan pembicaraan untuk membahas tempat wisata di kota tersebut. Akan tetapi penjelasan Pak Rustam tadi masih terngiang-ngiang di telinganya dan menari-nari dalam pikirannya.
Setelah selesai makan dan pulang ke rumah, mereka langsung masuk ke kamar masing-masing. Roy segera merebahkan badan dan menepuk-nepuk perutnya yang kekenyangan. Ia masih segar, belum mengantuk.
Roy berusaha mengingat kembali penjelasan Pak Rustam tentang sebuah kesalahan yang dilakukan terus menerus akhirnya menjadi sesuatu hal yang biasa. Bahkan, pada akhirnya kesalahan tersebut berubah menjadi sesuatu yang dianggap benar.
Kini Roy jadi teringat pesan orang tuanya untuk selalu memegang teguh hal yang benar. Namun, jika mengingat kisah adik Pak Rustam yang meninggal karena melaju di lampu hijau yang artinya saat itu dia memegang teguh hal yang benar. Bahwa hijau maju dan merah harus berhenti. Roy merasa hidup terlalu murah untuk ditukar dengan kebenaran lampu hijau dan merah.
Sebelum tidur Roy kembali mengingat beberapa kawan seperjuangan saat aksi mahasiswa, setelah lulus mereka dibantu orang tua mereka melakukan segala cara untuk bisa masuk menjadi karyawan di pemerintahan dengan jaminan status sebagai Aparatus Sipil Negara (ASN) dan jaminan hari tua sebagai pensiunan.
Apakah itu juga yang terjadi dengan mereka? Menukar kebenaran dengan jaminan hidup. Ah, terlalu jauh aku berpikir, gumam Roy dalam hati.
(BERSAMBUNG)
***
Penulis: Manjaro Pai
Profil penulis:
Manjaro Pai adalah nama pena dari seseorang yang belum mau disebut nama aslinya. Mantan manajer di sebuah perusahaan internasional ternama ini lebih memilih resign dari tempatnya bekerja daripada terlibat dengan permainan curang yang dilakukan kantor tempatnya bekerja. Bagi pria murah senyum ini, nilai spiritual lebih penting dari sekedaar lembaran dolar. Dalam kondisi pandemi ini, ia lebih memilih jadi driver ojek online daripada bekerja di tempat yang diragukan kehalalannya.
Editor: JHK








