Pratamamedia.com, Kota Cimahi, Jawa Barat – Hujan es disertai angin kencang melanda Kota Cimahi. Kejadian tersebut terjadi Rabu siang (23/09/2020) sekitar pukul 14.45 WIB selama hampir 20 menit. Akibat dari kejadian ini beberapa pohon tumbang.
Menurut Lukman Nul Hakim (46) warga Komplek Nata Endah, Kecamatan Cimahi Utara, saat itu dirinya sedang ada di rumah. Dia merasa kaget saat turun hujan, bunyi kucuran air hujan di atas genting atap rumahnya terdengar cukup keras.
“Saya langsung mengecek ke lantai atas. Ternyata ada hujan es. Anginnya juga terasa kencang sekali, tidak seperti biasanya,” ungkap Lukman kepada awak Pratama Media News.

Lain lagi kesaksian John Sumule (58), juga warga Komplek Nata Endah, Kecamatan Cimahi Utara yang lokasinya berdekatan dengan Lukman. Dia ikut merasakan adanya fenomena aneh di wilayahnya. Bahkan, pria pensiunan sebuah bank ternama di Kota Cimahi ini ikut memegang butiran es sebesar biji jagung dan agak lama mencairnya.

“Ada bunyi platak pletek di atap garasi rumah saya. Ternyata itu bunyi butiran es yang jatuh dari langit. Cukup besar juga, kira-kira sebesar biji jagung. Esnya tidak langsung mencair. Mungkin ini yang disebut efek rumah kaca. Terjadi kondensasi sehingga esnya tidak sempat cair dan turun ke bumi,” ujar John dengan mimik serius.
Saksi lainnya, Pak Oleh yang bekerja sebagai petugas lapangan di Dinas Kebersihan dan Pertanaman Pemerintah Kota (Pemkot) Cimahi mengatakan bahwa pihaknya mendapat laporan adanya hujan es dan angin kencang di beberapa lokasi seperti di Pasar Atas, seputaran Jalan Gatot Subroto, Pasar Antri, Cipageran, Toko Busana Rabani, Jalan Raya Cibabat, dan Jalan Nanjung. Beberapa pohon di pinggir jalan dilaporkan tumbang sehingga mengganggu lalu lintas.
Video viral hujan es dan angin kencang di Cimahi
Sementara itu beredar pula sebuah tayangan video di media sosial yang memperlihatkan kesaksian salah seorang warga yang merekam langsung kejadian hujan es dan membagikannya di WA Grup sehingga dalam waktu singkat menjadi viral. Dalam tayangan video berdurasi delapan detik tersebut terlihat atap sebuah bangunan warga yang diguyur hujan desar disertai serpihan es sehingga menimbulkan bunyi gemuruh.

Seperti dilansir dari kumparan.com, Kepala BMKG Bandung Tony Agus Wijaya mengatakan bahwa hujan es batu itu disebabkan karena memasuki masa pancaroba atau peralihan dari musim kemarau ke musim hujan. Tony menambahkan, musim pancaroba berlangsung dari September hingga Oktober 2020.
“Saat ini di masa pancaroba, meningkat potensi terbentuknya awan Cumulonimbus (awan gelap berlapis), yang menyebabkan terjadi cuaca ekstrem, hujan lebat, dan hujan es,” ujar Tony kepada kumparan, Rabu (23/9).
***
Reporter: JHK








