Perjalanan Musim Dingin ke Negeri Kincir Angin
Kisah berseri tentang kehidupan Lineke Uktolseja, seorang nenek yang selalu semangat dalam menjalani kehidupannya
Perjalanan Musim Dingin ke Negeri Kincir Angin – Para pembaca yang budiman, kenalkan namaku Lineke Uktolseja. Tempat tinggalku di Kompleks Cibaligo Permai – sebuah pemukiman penduduk yang terletak di Kampung Cibaligo, Desa Cihanjuang, Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat. Aku adalah seorang nenek yang berumur lebih dari setengah abad.
Melalui Pratama Media News ini aku ingin berbagi cerita dengan para pembaca. Aku ingin sekali bercerita tentang banyak hal, seperti kegiatanku sehari-hari, pemikiranku, atau tentang pengalaman hidupku. Tujuan tulisanku ini tidak lain hanya sekedar ingin memberi inspirasi dan memberi hiburan ringan, siapa tahu nanti ada manfaatnya bagi pembaca.
Baiklah, pada tulisan perdana ini aku akan berkisah tentang perjalanan liburan ke luar negeri tahun lalu (2021) yaitu ke Negeri Kincir Angin, Belanda – sebuah negeri yang mempunyai ikatan sejarah dengan negara kita, Indonesia.
Aku berangkat melalui Bandara Internasional Sukarno-Hatta langsung menuju Belanda. Keberangkatanku ditemani oleh adik dan keponakan dengan menumpang Garuda Indonesia Airlines. Pesawat yang seharusny bisa diisi ratusan orang, saat itu hanya terisi 36 orang. Semua ini akibat dari terjadinya wabah pandemi covid-19.


Pesawat Garuda yang kami tumpangi akhirnya mendarat dengan mulus di Bandara Udara Internasional Schiphol. Ini adalah Bandara utama di Belanda yang terletak di kawasan bagian Selatan Amsterdam, persisnya di Gemeente Haarlemmermeer.
Alhamdulillah perjalanan kami terhitung lancar. Kami lolos dari pemeriksaan kesehatan di bagian imigrasi. Biasanya pemeriksaan di tempat ini ketat sekali, tetapi kali ini terbilang cepat dan tidak ada masalah.

Aku bersyukur sampai ke rumah anak dan menantuku di Amsterdam, Belanda. Betapa bahagianya aku bisa bertemu dengan mereka. Apalagi bisa bertemu cucu dan sanak saudara lainnya.
Oh ya, saat aku tiba di Amsterdam, wabah covid-19 sedang berada di puncaknya. Jadi, hampir semua toko tutup, kecuali toko-toko tertentu yang diperbolehkan oleh pemerintah, misalnya supermarket. Pelayanan masyarakat umum masih boleh buka seperti rumah sakit, apotik, dan fasilitas kesehatan lainnya.
Setelah cukup beristirahat, aku mencoba jalan-jalan di seputar Amsterdam bersama keluarga. Namun, suasananya saat itu sepi, tidak ramai seperti biasanya. Saat perut sudah mulai lapar, kami mencari tempat makan. Untungnya masih ada restoran yang buka. Kami akhirnya memilih makanan Indonesia (masakan Padang) dan makanan China untuk menu makan siang.
Aku memiliki tiga orang adik yang semuanya tinggal di Belanda. Satu adik tinggal di Helmond – Suatu gemeente (kotamadya) yang berada di bagian Tenggara Belanda. Adik yang satu lagi tinggal di Tilburg – Sebuah gemeente (kotamadya) di Belanda yang terletak di Provinsi Noord Brabant, dan satu lagi aku lupa nama kotanya.
Pembaca budiman, karena saat itu di Belanda sedang tinggi-tingginya orang terjangkit virus Omicron sehingga kami di rumah membatasi diri terhadap tamu yang ingin berkunjung. Kami hanya menerima tamu secara terbatas yaitu 2-4 orang saja. Maklum kami takut tertular penyakit tersebut.
Aku akan menceritakan suasana tahun baru di Belanda. Saat itu pas malam tahun, kondisi di jalanan tidak terlalu ramaia karena ada peraturan dari pemerintah yang tidak memperbolehkan berkumpul.
Selama 2-3 hari di Belanda, boleh dibilang aku tidak jalan kemana-mana, hanya jalan di sekitar rumah saja. Sementara itu anakku belanja bahan masakan dari Indonesia di toko yang khusus menjual berbermacam-macam barang dari indonesia. Uniknya, kita bisa membeli apa saja yang biasa dimakan oleh orang Indonesia, seperti pete, daun singkong, aneka bumbu dapur. Pokoknya cukup komplit deh!

Lucunya, pas aku di Belanda, aku diminta oleh adik untuk masak rendang. Mungkin dia kengen dengan masakahan khas Indonesia tersebut. Tidak tanggung-tanggung, adikku membeli 14 kg daging sapi. Untungnya aku sudah membawa banyak bumbu rendang dari Indonesia sehingga permintaannya tidak kutolak.
Selanjutnya aku pulang ke rumah anak di Praha. Perjalanan dari Belanda ke Praha menggunakan mobil memakan waktu sekitar delapan jam. Anak perempuanku menyetir mobil sendiri karena suaminya sudah terbang pulang duluan penggunakan pesawat terbang.

Perjalanan dari Belanda ke Praha melewati Jerman. Jadi, aku harus melakukan tes PCR dulu di Jerman – PCR adalah singkatan dari Polymerase Chain Reaction dan merupakan metode pemeriksaan virus SARS Co-2 dengan mendeteksi DNA virus. Alhamdulillah negatif.

Perjalananku dari Belanda ke Praha sangat berkesan. Sepanjang perjalanan hujan terus membasahi bumi. Ini baru pertama kalinya aku menjenguk anak pada musim dingin – biasanya berlangsung sejak Desember sampai Maret. Biasanya aku menjenguk mereka pada Juni saat musim semi. Akhirnya kami tiba di rumah anak pada malam hari.
Bersambung …
***
Judul: Perjalanan Musim Dingin ke Negeri Kincir Angin
Penulis: Lineke Uktolseja
Editor: JHK








