KPKers Timor Leste Gotong Royong Bantu Korban Banjir di Asrama Yatim Dominikana
Kegiatan ini merupakan wujud kepeduian KPKers Timor Leste terhadap warga yang sedang dilanda musibah.
Pratama Media News, Dili, Timor Leste – KPKers Timor Leste bantu korban banjir dengan mengerahkan para anggotanya. Senin kemarin (05/04/2021), puluhan anggota Komunitas Penulis Kreatif Timor Leste atau biasa disebut KPKers Timor Leste bergerak dengan berjalan kaki dari kantor mereka menuju ke Asrama Yatim Dominikana yang berada di Desa Bidau Santana, Dili. Mereka bahu membahu membersihkan sampah dan kotoran bekas banjir di asrama tersebut.
Sehari sebelumnya, Minggu (04/04/2021) lalu, musibah banjir bandang telah terjadi di Bumi Lorosae. Musibah yang terjadi bertepatan dengan perayaan paskah tersebut telah menewaskan 21 orang. Banjir tersebut ditenggarai sebagai dampak curah hujan yang tinggi sejak pagi hingga sore sehingga menyebabkan air meluap dan menyebabkan terjadinya longsor, pohon tumbang, dan banjir bandang.


Kehadiran komunitas penulis yang dipimpin oleh Devinarti Seixas ini merupakan wujud kepeduian mereka terhadap warga yang sedang dilanda musibah. Mereka dengan suka rela dan tanpa pamrih membantu suster serta penghuni Asrama Yatim Dominikana untuk membersihkan lingkungan mereka.
“Sebagai generasi muda, rasa kepedulian terhadap sesama tentu penting. Kami membantu dengan tulu dan ikhlas tanpa harus mengharapkan imbalan. Selain Tim KPKers, ada juga beberapa pemuda yang ikut tergabung dalam kegiatan Gotong royong tersebut. Intinya Generasi muda perlu ditanamkan rasa kepedulian sosialnya di negeri ini,” ujar Devinarti kepada awak Pratama Media News.

Devinarti menjelaskan bahwa Tim KPKers Timor Leste dan para pemuda yang tergabung dalam kegiatan peduli sesama tersebut disambut hangat oleh para suster dan para penghuni Asrama Dominikan.
“Tujuan kegiatan ini, selain ingin membantu korban bencana banjir, juga untuk melakukan revolusi bagi mental dan daya pikir generasi muda Timor Leste di era Kemerdekaan,” pungkas penulis novel “Bara dan Luka” ini menutup pembicaraan.

Salah seorang korban bencana yang berasal dari Bidau Masau, Manuel J.P. Soares mengatakan dirinya merupakan salah satu korban banjir Bandang. Ketika terjadi bencana alam, semua masyarakat menjadi sedih, takut, dan trauma. Apalagi banyak saudaranya yang kehilangan rumah, serta barang berharga lainnya, baik sandang maupun pangan.
“Sebagai umat manusia yang sama-sama ciptaan Tuhan, tentu kita merasa saling peduli. Saya pribadi ikut sedih ketika menyaksikan sendiri dampak dari bencana alam tersebut. Apalagi warga bukan hanya kehilangan barang-barang berharga yang diperoleh dari hasil kerja keras mereka selama bertahun-tahun, tetapi juga sampai ada yang kehilangan nyawa,” ungkap manuel dengan nada haru.
Manuel menambahkan, bencana alam itu terjadi secara tiba-tiba. Tak ada seorang pun yang bakal menduga akan terjadi musibah sehingga ada warga yang ikut hanyut terbawa arus air yang begitu deras.
“Sebagai generasi muda saya berharap agar pemerintah bisa menciptakan kondisi yang baik bagi masyarkatnya. Meskipun sebelumnya pemerintah sudah melarang masyarakat agar tidak membuat rumah dekat sungai, tapi warga masyarakat sendiri tidak pilihan untuk pindah ke tempat lain. Semua itu bukan salah pemerintah atau warga masyarakat, tetapi murni karena bencana alam yang kita sandiri tidak bisa memperkirakan kapan akan terjadi,” ujar Manuel.

Menurut Manuel, ada baiknya dibalik peristiwa bencana alam yang sudah terjadi berkali-kali tersebut sehingga bisa membuka mata hati masyarakat. Sebagai manusia agar bisa melakukan refleksi diri agar ke depannya bisa menjaga alam dan lingkungannya sehingga tidak terjadi lagi bencana yang jauh lebih dahsyat dari tahun kemarin dan tahun ini.
***
Reporter: D.S.
Editor: JHK








