Pengalaman Pertama Menuju Puncak Gunung Marapi – Sewaktu masih bersekolah di SMA Negeri 3 Bukittinggi, saya mengikuti salah satu organisasi siswa pecinta alam yaitu STIGPALA (SMA Tiga Pecinta Alam). Pada organisasi tersebut, ada salah satu kegiatan yang wajib diikuti oleh semua anggotanya yaitu ekspedisi gunung. Kegiatan ini menjadi salah satu syarat jika kita ingin menjadi anggota tetap dari organisasi tersebut.
Pada suatu hari kami merencanakan untuk mengikuti kegiatan ekspedisi tersebut. Kami rapat untuk menentukan waktu dan gunung mana yang akan kami daki. Saya dan teman-teman pun saling mengajukan pendapat, tetapi ada salah satu teman saya yang tidak diperbolehkan oleh orang tuanya untuk mendaki gunung. Alasannya karena dia seorang perempuan dan juga karena pendakian tersebut merupakan pengalaman pertama kami untuk mendaki gunung.
Akhirnya kami menemui orang tua teman kami tersebut untuk meminta izin. Setelah berunding lama dan juga memastikan keamanan dari teman kami tersebut, akhirnya dia diperbolehkan untuk ikut rombongan kami mendaki gunung. Selanjutnya kelompok kami yang terdiri dari sepuluh orang memutuskan untuk melakukan pendakian tersebut demi memenuhi persyaratan menjadi anggota tetap STIGPALA.
Setelah itu kami memutuskan melakukan pendakian ke Gunung Marapi yang ada di Bukittinggi. Kami mendaki Gunung Marapi dikarenakan jalur pendakiannya tidak terlalu sulit. Selain itu karena ada relawan yang selalu siap membantu kami jika ada sesuatu hal yang tidak diinginkan.

Sehari sebelum melakukan pendakian, kami mengumpulkan alat-alat yang dibutuhkan untuk mendaki gunung. Kami bersama-sama meminjam peralatan yang kurang ke senior-senior kami. Setelah itu kami menyusun list perbekalan yang ingin kami bawa sambil menyusun manajemen waktu pendakian.
Keesokan paginya kami berkumpul di rumah salah seorang teman kami, Adrian, untuk bersiap melakukan pendakian. Namun, ada seorang teman kami yaitu Dani datang terlambat sehingga jadwal pendakian kami tertunda dari waktu yang telah disepakati bersama.
Setelah semua anggota kelompok lengkap, kami mencarter mobil angkot untuk mengantar kami ke jalur pendakian. Sesampainya di pos pendakian, kami semua melakukan registrasi dan di situ kami dimintai data pribadi, nomor handphone (HP) penanggung jawab, dan nomor HP orang tua kami.
Kemudian kami melanjutkan pendakian. Perjalanan dari pos pendaftaran menuju Pos Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), kami tidak ada kendala sama sekali. Kami beristirahat sebentar di sini, lalu melanjutkan lagi ke pos satu. Pada saat perjalanan menuju pos tersebut, teman kami, Dani mulai kelelahan. Mungkin dikarenakan badannya yang gemuk sehingga mudah lelah, padahal pos satu tersebut masih sangat jauh menuju puncak.

Tiba di pos satu, kami beristirahat lagi sekitar lima menit, lalu melanjutkan perjalanan ke pos dua. Pada saat menuju pos dua ini pun teman kami Dani sesekali berhenti. Namun, kami selalu mengajak dia tetap berjalan agar perjalanan menuju puncak tidak terlalu malam.
Sampai di pos dua, kami kembali beristirahat dan menambah persediaan minum. Sembari beristirahat, teman kami Rachel dan Fajar memutuskan mencari sumber air untuk menambah persediaan minum kami.
Dani pun sudah tidak lelah lagi dan terlihat lebih segar. Setelah Rachel dan Fajar kembali, kami melanjutkan perjalanan menuju pos pintu angina. Jarak dari pos satu menuju pos pintu angina ini lumayan jauh. Beberapa kali Dani beristirahat yang menyebabkan waktu tempuh kami menjadi molor.
Saya, Adrian, dan Farhan memutuskan berjalan terlebih dahulu untuk mencari tempat mendirikan tenda. Kami mengumpulkan barang-barang berat seperti tenda, kompor, dan nasting untuk dimasukkan ke tas kami bertiga agar teman-teman saya yang di belakang tidak keberatan sehingga jika dapat tempat untuk mendirikan tenda, kami bisa langsung mendirikannya.

Lalu saya dan kedua teman saya langsung melanjutkan perjalanan. Pada saat menuju pos pintu angina tersebut, kami berjalan nonstop tanpa istirahat untuk mengejar waktu karena hari sudah semakin sore.
Usai berjalan cukup jauh meninggalkan rombongan di belakang, kami bertiga baru sadar di dalam tas kami tidak ada alat penerangan, sedangkan waktu telah semakin malam. Untungnya Adrian memegang HP sehingga kami menggunakan senter HP Adrian sebagai alat penerangan. Dengan cahaya lampu senter HP yang sangat minim, kami bertiga berjalan dengan hati- hati. Namun, tetap cepat karena mengejar waktu yang semakin malam agar mendapat tempat mendirikan tenda.
Akhirnya kami bertiga sampai di pos pintu angina. Namun, di tempat itu sudah ada pendaki lain yang mendirikan tenda. Kami pun mencoba berunding dengan orang yeng telah terlebih dahulu mendirikan tenda agar bersedia berbagi tempat untuk mendirikan tenda. Mereka pun bersedia berbagi tempat. Namun masalahnya, hanya satu tenda yang bisa kami dirikan sedangkan anggota kelompok kami berjumlah dua belas orang.
Setelah menunggu lama, sekitar pukul dua malam, anggota kelompok kami datang. Kami memutuskan untuk beristirahat di pos pintu angina ini. Rencananya besok kami melanjutkan perjalanan menuju puncaknya.
Berhubung hanya satu tenda yang bisa kami dirikan sehingga anggota pendaki laki-laki terpaksa harus tidur di luar tenda sedangkan perempuan di dalam tenda. Kami pun mencari tempat datar yang bisa digunakan untuk membentangkan karpet sebagai alas tidur.
Keesokan paginya sekitar pukul delapan pagi, kami berkemas untuk melanjutkan perjalanan menuju puncak. Seperti biasanya Dani sering sekali berhenti karena kelelahan. Sambil berhenti, kami mengeluarkan perbekalan, lalu sarapan pagi untuk mengisi tenaga. Setelah itu kami melanjutka perjalanan kembali.
Sampai di pos terakhir, sebelum memasuki cadas dan puncak, kami memutuskan beristirahat dan mengisi lagi persedian minum yang sudah semakin menipis. Teman kami, Rayhan dan Gifari memutuskan mencari sumber air. Namun, ternyata sumber air tampak tercemar bekas orang mencuci peralatan masak. Terpaksa kami harus menghemat air yang tersisa agar tetap tahan hingga kami sampai puncak nanti.
Sesampainya di cadas, kami beristirahat sejenak sambil memasak beberapa mie instan dan nasi. Di sini teman kami, Sinta, Retno, Keni, dan Nanda – empat wanita di kelompok kami – kebagian tugas memasak sedangkan para laki-laki beristirahat mengumpulkan tenaga untuk menempus perjalanan berbatu dan terjal agar bisa sampai ke puncak.
Makanan pun telah siap. Kami makan bersama. Kemudian kami mengumpulkan sampah bekas makanan dan masukkannya ke plastik untuk dibawa kembali ke pos pendaftaran agar bisa dibuang ke tempat sampah.

Kami melanjutkan perjalanan menuju puncak yang cukup menguras tenaga kami semua. Hal ini cukup beralasan karena jalan yang kami tempuh tidak lagi tanah, melainkan bebatuan yang sangat terjal sehingga membuat kami sering beristirahat.
Sekitar jam lima sore kami sampai di puncak. Kami merasa sangat puas sekali. Berasa semua lelah terbayar lunas karena pemandangan di puncak itu begitu indah. Seluruh daerah di Kota Bukittinggi dan sekitarnya terlihat jelas. Juga jajaran bukit barisan yang terlihat sangat menawan. Sungguh ini merupakan sebuah pengalaman yang tak terlupakan.
***
Judul: Pengalaman Pertama Menuju Puncak Gunung Marapi
Penulis: Ade Putra Yogi
Editor: JHK
Sekilas tentang Penulis
Ade Putra Yogi lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat pada 10 Juli 1998. Anak kedua dari dua bersaudara ini sekarang sedang menempuh pendidikan di Jurusan Desain Grafis, Fakultas Desain Komunikasi Visual, Universitas Widyatama Bandung.
Sejak kecil, laki-laki yang akrab disapa Yogi ini suka bermain bola kaki. Namun, kini dia juga suka bermain game, dan beberapa hobi lainnya seperti camping, berenang, motoran, dan hiking (naik gunung). Sudah empat gunung yang pernah dia daki, mulai dari Gunung Talang di Solok (Sumatera Barat) , Gunung Singgalang (Bukittinggi), Gunung Marapi (Bukittinggi), dan Gunung Guntur (Jawa Barat).
Kini, putra dari Riswanto dan Siti Komariah ini tinggal di Bandung. Hanya saat liburan kuliah dia kembali ke rumah orang tuanya yang beralamat di Jalan Bukit Sungkut, Bukittinggi, Sumatera Barat.
Catatan:
Tulisan ini merupakan hasil praktik mahasiswa magang yang mengikuti program pelatihan menulis Creative Writing yang diselenggarakan oleh Fakultas Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Widyatama Bandung bekerja sama dengan media online Pratama Media News.








