Oleh: Nurdin Qusyaeri
Anak adalah anugerah terindah yang Allah titipkan kepada setiap orang tua. Ia memiliki fitrah (potensi baik) yang dibawanya sedari lahir. Adapun nanti yang akan memberikan pengaruh anak tersebut mau menjadi apa, semua bergantung kepada orang tuanya. Apakah seorang anak akan menjadi baik atau berperangai buruk, sungguh itu kewajiban orang tua yang mengarahkannya.
Orang tua sebaiknya mengenal fitrahnya sendiri agar tidak salah dan tergelincir dalam mengarahkan potensi anak-anaknya sehingga kelak anaknya bisa tumbuh sesuai fitrahnya. Jika kita merasa bahwa fitrah kita tidak sesuai maka kita dapat mengambil langkah preventif dalam mendampingi tumbuh kembang anak-anak kita.
Menurut penulis buku “Fitrah Based Education”, Harry Hasan Santosa, ada delapan fitrah yang dianugrahkan Allah dalam diri manusia. Pertama, Fitrah Keimanan. Setiap anak lahir dalam keadaan telah terinstal potensi fitrah keimanan. Bahkan setiap kita ketika di alam rahim, pernah bersaksi bahwa Allah sebagai Robb (kholiqon, roziqon, malikan) – Quran Surat Al-A’raf:172. Tidak ada anak yang tidak cinta Tuhan dan Kebenaran kecuali disimpangkan dan dikubur oleh pendidikan yang salah dan gegabah. Ini meliputi moral, spiritual, keagamaan dan yang lainnya.

Fitrah keimanan tumbuh baik dalam usia 0-6 tahun, masa usia yang disebut sebagai Golden age. Fitrah ini berinteraksi dengan Life System (Fitrah Munazalah/Kitabullah) sehingga dicapai peran menyeru kepada tauhid dan menyempurnakan semua akhlak. Buah dari adalah akhlak/adab terhadap Allah dan melingkupi semua akhlak lainnya.
Sementara itu, dalam mendidik anak, terkadang banyak hadir keluhan seperti jengkel, galau, cemas, mudah letih dan panik, tidak nyaman. Banyak orang tua yang ingin mendampingi anak, tetapi sering tidak sabaran, gampang men-judge, kalap, sumbu amarah yang pendek, serta emosi yang sukar dikendalikan.

Jika kerap merasakan hal tersebut, maka sebaiknya jangan tergesa-gesa dalam mencari solusi dan mengambil keputusan. Mari kita identifikasi fitrah kita satu persatu terlebih dahulu.
Bagaimana cara mengetahuinya? Mungkin pertanyaan di bawah ini bisa membantu Anda mengenalinya.
- Apakah selama ini Anda merasa kurang dekat kepada Allah?
- Apakah Anda kerap kurang merasa tenang dalam beribadah?
- Apakah Anda kurang yakin bahwa Allah sebetulnya aktif dan memiliki peran berintervensi dalam mendidik?
- Apakah Anda tidak merasa bahwa mendidik adalah bagian dari kewajiban keimanan?
- Apakah Anda merasa tidak punya misi besar dalam keluarga? Atau punya misi keluarga tetapi tidak menempatkan pendidikan anak sebagai bagian utama dari misi itu?
- Apakah Anda tidak ada nilai nilai luhur yang menjadi core value di keluarga?
- Apakah Anda tidak ada atmosfir/aroma keshalihan dan suasana surgawi di dalam rumah?
- Tidak punya tokoh idola yang bisa jadi teladan dalam semangat keimanan?
- Tidak punya Murobby atau pendamping spiritual yang mengayomi?
Jika lebih banyak jawaban “ya”, kemungkinan penyebab Anda sering galau, cepat letih, panik, dan lain-lain itu disebabkan karena fitrah keimanan Anda tidak tumbuh atau kehidupan spiritual Anda tidak terpuaskan.
Kedua, Fitrah Bakat Kepemimpinan. Potensi fitrah bakat adalah potensi keunikan berupa sifat bawaan yang telah Allah tanamkan pada setiap anak sejak pertama kali diciptakan. Bila fitrah bakat ini tumbuh dengan sempurna maka seseorang dapat menemukan perannya di muka bumi dan bisa menemukan jalannya menuju kesuksesan.
Sebagai contoh, jika anak cerewet (senang bicara) maka pada usia 10 tahun pertemukanlah ia dengan profesi guru, presenter atau profesi serupa yang bisa membuat potensinya tersalurkan dengan baik. Pada usia 0-6 tahun amati sifat unik anak (kesukaannya). Pada usia 7-10 tahun berikan aktivitas yang relevan dengan potensi dan keunikannya. Pada usia 10 tahun berikan guru untuk menjaga keimanannya dan maestro sebagai penjaga bakatnya.
Seseorang bisa dikatakan hebat hebat jika orang tersebut fokus pada keunikan bakatnya lalu dilengkapi dengan skill dan knowledge pendukung yang relevan. Oleh karena itu mengenali bakat anak dengan baik sejak dini akan membantunya di masa depan untuk menemukan peran hidupnya.
Pertanyaan-pertanyaan di bawah ini bisa membantu Anda untuk mengetahui apakah fitrah ini benar-benar berkembang maksimal dalam diri Anda.
- Apakah sering merasa jika bakat Anda tidak tersalurkan dengan baik?
- Apakah Anda seorang wanita karir, yang dulu rindu ingin membersamai anak, kemudian resign, lalu sekarang setelah beberapa waktu bersama anak gelisah ingin kembali bekerja?
- Apakah Anda bingung bakatnya apa?
- Apakah Anda merasa semakin banyak waktu berbisnis atau berkarir tetapi semakin stres?
- Apakah suami Anda melarang menyalurkan bakat?
- Apakah Anda merasa jika salah jurusan kuliah? Lalu bekerja merasa salah karir?
- Apakah Anda merasa hanya mencari uang dan mengejar jabatan semata?
Jika lebih banyak jawaban “Ya”, kemungkinan penyebab Anda sering galau, cepat letih, panik karena fitrah bakat Anda tidak tumbuh atau tidak berkembang baik atau kehidupan profesi atau karir Anda tidak bahagia.
Ketiga, Fitrah Belajar dan Bernalar. Setiap bayi dilahirkan adalah pembelajar yang tangguh. Tidak ada bayi yang ingin menghabiskan hidupnya dengan merangkak saja, mereka belajar untuk berdiri, berjalan hingga kemudian bisa melompat dan berlari. Para bayi merupakan penjelajah. Lihatlah setiap sudut rumah yang tak luput dari jangkauannya. Mereka suka bereksplorasi dengan rasa penasaran dan keberanian yang tinggi. Begitupun dengan kreativitas yang dimiliki bayi ketika dia dilahirkan. Lihatlah bagimana dia menumpahkan banyak warna di dinding rumah agar dinding terlihat lebih menarik
Para orang tua dan pendidik tidak perlu panik dan tergesa menggagas kemampuan belajar anak. Anak-anak hanya memerlukan sebuah ruang terbuka di alam dan hati bagi imajinasi kreatifnya, menumbuhkan gairah belajarnya agar kelak belajar menjadi passion/gairahnya, karyanya akan terus dibuat sepanjang hidupnya tak berhenti pada skripsi, tesis, disertasi atau segala bentuk hasil pelaporan demi memperoleh gelar saja. Anak yang fitrah belajarnya tumbuh dengan baik, akan terus membuat karya yang akan bermanfaat untuk lingkungannya
Apakah fitrah Anda berkembang dnegan baik? Mari kita cari jawabannya lewat bantuan pertanyaan berikut.
- Apakah kadar otak/intelektualitas Anda beku/anjlok setelah menikah?
- Apakah Anda tidak punya waktu untuk belajar baik formal maupun informal?
- Apakah Anda tidak punya gairah belajar ilmu mendidik anak?
- Apakah Anda menganggap mendidik anak itu menghambat intelektualitas dan kecerdasan?
- Apakah suami banyak melarang Anda untuk banyak belajar?
- Apakah Anda jarang berdiskusi mendalam dengan pasangan tentang satu topik pengetahuan?
- Apakah keluarga Anda tidak punya agenda dan budget mendalami pengetahuan yang dibutuhkan keluarga terkait dengan perencanaan keluarga (selain karir) dimasa depan?
- Apakah Anda merasa jika belajar itu membosankan?
Jika lebih banyak jawaban “Ya”, kemungkinan penyebab Anda sering galau, cepat letih, panik, ddan lain-lain. Itu disebabkan karena fitrah belajar Anda tidak tumbuh atau kehidupan pembelajaran Anda tak terprnuhi.
Keempat, Fitrah Perkembangan. Segala yang ada di muka bumi memiliki sunnatullah tahapan pertumbuhannya masing-masing yang berkorelasi dengan dimensi waktu dan dimensi kehidupan. Dalam sunnatullah perkembangan atau pertumbuhan ini maka tidak berlaku “kaidah makin cepat makin baik”, juga jangan terlalu terlambat untuk tiap tahapannya. Segala sesuatu akan indah bila tumbuh pada waktu yang tepat
Mulailah merancang pendidikan fitrah keimanan, fitrah belajar, fitrah bakat anak anak kita pada tahap usia 0-6 tahun, lalu pada tahap usia 7-10 tahun, lalu pada tahap usia 11-14 tahun (pre aqil baligh), lalu tahap usia di atas 15 tahun (post aqil baligh).
Pelajari bagaimana fitrah Belajar ditumbuhkan pada tiap tahapan itu. Juga bagaimana fitrah Bakat diamati, dikenali, dikembangkan pada tiap tahap. Susunlah semuanya menjadi framework dan roadmap pendidikan putra-putri kita.
Pertanyaan-pertanyaan berikut bisa membantu Anda untuk mengidentifikasi apakah fitrah ini berkembang dnegan baik?
- Apakah sejak menikah Anda merasa tidak berkembang dalam banyak hal?
- Apakah musibah terus menerus datang dan membuat Anda tidak bersemangat bangkit?
- Apakah Anda merasa sudah hebat?
- Apakah mindset Anda tentang kehidupan bahwa semuanya mengalir saja tanpa perancangan?
- Apakah Anda merasa banyak belenggu masa lalu seperti inner child, trauma yang membuat Anda susah maju?
- Apakah Anda merasa kerdil dan tidak dewasa?
- Apakah Anda suka menghindar dari tanggungjawab yang sebenarnya Anda mampu?
- Apakah Anda sering merasa bahwa anak itu beban yang menghambat bukan karunia yang menumbuhkan?
- Apakah Anda frustasi dengan perkembangan diri Anda?
Jika lebih banyak jawaban “Ya”, kemungkinan penyebab Anda sering galau, cepat letih, panik, ddan lain-lain, karena fitrah perkembangan Anda tidak tumbuh atau kehidupan pengembangan kedewasaan Anda tidak terpenuhi.
Kelima, Fitrah Seksualitas dan Cinta. Fitrah seksualitas adalah bagaimana seseorang berpikir, merasa dan bersikap sesuai dengan fitrahnya sebagai lelaki sejati atau sebagai perempuan sejati. Tujuan pendidikan fitrah seksualitas ini adalah membuat anak mengetahui identitas seksualnya, anak mampu berperan sesuai dengan identitasnya dan membuat anak mampu melindungi dirinya dari kejahatan seksual.
Mari kita merenung dengan pertanyaan-pertanyaan berikut agar bisa menyikapi perkembangan fitrah anak.
- Apakah Anda sering tidak nyaman bersama anak?
- Apakah Anda lebih galak daripada pasangan?
- Apakah lingkungan kerja atau budaya di rumah, kurang lembut, kaku serta keras?
- Apakah dahulu ketika anak atau gadis, kurang mendapat sosok ibu yang lembut?
- Apakah pasangan Anda “garing”, sulit memahami perasaan?
- Apakah pasangan Anda tidak suka mendengarkan curhat?
- Apakah Anda terlalu lama bersekolah yang penuh suasana rasional dan sangat formal?
- Apakah Anda mengambil peran ganda karena pasangan pasif dan tidak peduli?
- Apakah Anda wanita setia, tetapi sering merasa rapuh?
Jika lebih banyak jawaban “Ya”, kemungkinan penyebab Anda sering galau, cepat letih, panik, dan lain-lain karena fitrah seksualitas dan cinta Anda tidak tumbuh atau kehidupan keluarga Anda tidak bahagia.
Keenam, Fitrah Individualitas dan Sosialitas. Anak yang masih berumur di bawah 7 tahun belum memiliki tanggung jawab moral dan sosial. Maka bila kita sering menemukan anak di bawah usia 7 tahun yang tampak tidak mau berbagi, tampak pemalu dan tampak cengeng. Tidaklah mengapa, itu semua adalah bagian dari fitrah individualitasnya. Puaskan saja egonya atau fitrah individualitasnya untuk menjadi pemalu, untuk tidak mau berbagi, dan sebagainya. Jangan dibenturkan dengan akhlak atau adab karena belum waktunya dia mengerti arti berbagi dan bersosialisasi.
Adab tetap disampaikan agar santun. Namun, sekali lagi tidak dalam suasana menekan. Allah Maha Tahu, orang tua boleh memerintahkan salat pada anak mulai dari usia 7 tahun bukan sejak kecil. Tidak ada anak di bawah 7 tahun yang suka dengan gerakan salat yang sangat formal dan tertib. Namun demikian membangkitnya gairah salat dengan meneladankan tentang indahnya salat tetap dilakukan. Tujuannya agar anak-anak mempunyai pemikiran positif tentang salat dan kelak bisa melakukannya dengan ikhlas dan khusyuk. Semua ada masanya, tidak perlu terburu-buru.
Pertanyaan berikut akan mengajak Anda merenung, apakah fitrah individualitas dan sosialitas Anda berkembang dengan semestinya atau tidak?
- Apakah Anda lebih banyak merasa tidak percaya diri dan ragu melangkah?
- Apakah Anda tidak punya komunitas atau takut berkomunitas?
- Apakah Anda punya komunitas, tetapi hanya silent reader, dan malas berbagi. Namun, mengambil sebanyak-banyaknya?
- Apakah Anda merasa kurang tangguh dan rapuh?
- Apakah Anda merasa tidak eksis di lingkungan dan masyarakat?
- Apakah Anda kerap merasa malas untuk bersilaturahmi?
- Apakah sering merasa benar sendiri, menang sendiri, dan tidak peduli dengan pendidikan anak teman atau anak tetangga?
- Apakah Anda merasa, anak menjadi penghambat kehidupan sosial?
- Apakah nilai-nilai di keluarga Anda banyak mengekang atau terlalu kaku?
- Apakah pasangan melarang Anda bersosial padahal Anda sangat ingin melakukannya?
Jika lebih banyak jawaban “Ya”, kemungkinan penyebab Anda sering galau, cepat letih, panik, dan lain-lain karena fitrah indivualitas dan sosialitas Anda tidak tumbuh indah atau kehidupan sosial Anda cukup buruk.
Ketujuh, Fitrah Estetika dan Bahasa. Setiap anak memiliki selera keindahan dan menyukai keindahan termasuk kesenian, keharmonisan, kesusastreraan, dan seterusnya. Setiap anak sudah dikaruniai kemampuan berbahasa, dari saat lahir anak berbahasa dengan cara menangis ketika dia merasa lapar, merasa haus merasa takut atau merasa tidak nyaman.
Keindahan memiliki tingkatan dari inderawi, imaji, nazhori (nalar) dan ruhani kemudian bermuara pada Allah SAW. Setiap anak juga diberi kemampuan berbahasa sebagai alat ekspresi keindahan kemudian diaktualisasi oleh bahasa ibu oleh kedua orang tuanya.
Mari simak pertanyaan-pertanyaan berikut ini untuk bahan renungan.
- Apakah Anda jarang piknik atau travelling yang seru?
- Apakah Anda jarang melakukan hobby yang berhubungan dengan keindahan?
- Apakah hati Anda tidak merasa tersentuh melihat anak jalanan atau anak menderita?
- Apakah di rumah Anda, tidak dijumpai bunga setangkai pun atau hiasan dekorasi sedikit pun?
- Apakah menu makanan atau seprei kamar sudah lama tak ada variasi keindahan?
- Apakah suasana di rumah terlalu formal, atau dominan nilai nilai yang sangat rasional dan kaku?
- Apakah Anda tidak terlibat dalam kegiatan kelestarian alam?
- Apakah tutur kata dan dialog Anda kurang indah dan tidak enak didengar?
- Apakah Anda susah menangis ketika membaca puisi atau karya sastra yang orang lain umumnya menangis?
- Apakah Anda sering merasa gagal menyampaikan perasaan atau fikiran dengan jelas dan tuntas, alias gagal berkomunikasi?
Jika lebih banyak jawaban YA, kemungkinan penyebab Anda sering galau, cepat letih, panik dll karena fitrah estetika dan bahasa Anda tak berkembang baik atau kehidupan terkait keindahan tak terpuaskan.
Kedelapan, Fitrah Fisik Inda/Jasmani. Setiap anak lahir yang membawa fisik yang suka bergerak aktif dan panca indera yang berinteraksi dengan bumi dan kehidupan. Setiap anak suka kesehatan dan asupan yang sehat, bersih dan baik. Setiap indera juga suka menerima input yang membahagiakan dan menenangkan.
Dalam praktiknya tugas orang tua sebenarnya cukup sederhana, tetapi tidak mudah. Sederhana karena para ayah dan ibu hanya perlu menjaga fitrah anak. Biarkan mereka tumbuh dengan fitrah yang sudah Allah instal ke dalam diri anak dari sebelum mereka lahir, tidak mudah karena konsistensi orang tua diuji untuk menerapkan pendidikan berbasis fitrah yang tidak didapat pada pendidikan formal. Semoga kita menjadi orang tua yang selalu berproses menjadi lebih baik.
Mari merenungkan pertanyaan-pertanyaan berikut ini.
- Apakah pola tidur Anda kacau dan tidak cukup istirahat?
- Apakah pola makan Anda tidak terjaga, banyak jajan diluar, dan lebih banyak mengkonsumsi makanan yang tidak sehat?
- Apakah tidak punya aktifitas gerak yang rutin dan bahagia bersama keluarga?
- Apakah sanitasi dan lingkungan kebersihan di sekitar rumah cukup buruk?
- Apakah sering merasa letih dan sakit kepala yang tidak tertahankan?
- Apakah makan menjadi pelarian stres?
- Apakah Anda sering makan nasi dan juga mie tengah malam?
- Apakah berat badan Anda mengganggu ketika membersamai anak?
- Apakah tradisi sehat alami tidak ada di rumah Anda?
- Apakah Anda tidak punya olahraga favorit yang rutin dilakukan?
- Apakah selalu tidur larut atau tidur tapi tak nyenyak?
Jika lebih banyak jawaban “Ya”, kemungkinan penyebab Anda sering galau, cepat letih, panik, dan lain-lain karena fisik dan indera/jasmani Anda tidak tumbuh, kehidupan kesehatan Anda tak terpenuhi atau tak bahagia.
Banyak hal penting yang bisa kita ambil dari apa yang telah dibahas di atas sebagai bahan renungan bagi para orang tua bahwa sesungguhnya hanya kedua orang tualah yang paling mengenali potensi keunikan anak-anaknya. Selain Allah, kedua orang tuanya lah yang paling mencintai anak-anaknya dengan tulus. Orang tua sejati adalah mereka yang menginginkan kebahagiaan anak-anaknya lebih dari apapun di muka bumi ini.
Dunia persekolahan adalah dunia yang tidak pernah mengandung anak-anak kita. Tidak pernah melahirkan mereka. Bahkan, tidak pernah diberi amanah oleh Allah sesaat pun juga. Oleh karena itu, sekolah bukanlah dunia yang sungguh-sungguh mampu mengenal dan mencintai anak-anak kita dengan tulus dan ikhlas.
Bukankah anak kita adalah alasan terbesar dan terpenting mengapa kita ada di muka bumi ini? Merekalah sebagai amanah mendidik generasi peradaban bagi dunia yang lebih damai dan sebagai amanah yang akan membanggakan umat Muhammad di hari akhir kelak.
Membangun “home education” bukanlah pilihan tetapi kewajiban setiap orang tua, porsi kuantitas waktu dan kualitas perhatiannya harus jauh lebih banyak. Bahkan, meniadakan porsi persekolahan.
Sayangnya banyak orang tua yang menganggap kewajiban mendidik telah selesai ketika anak-anak berada sepenuh waktu di sekolah dan di lembaga-lembaga kursus. Obrolan tentang pendidikan adalah obrolan seputar ranking, ijazah, prestasi-prestasi akademis dan tugas-tugas sekolah yang dibawa ke rumah, bukan tentang mengembangkan karunia fitrah yang anak-anak kita miliki.
Mari kita kembalikan fitrah kesejatian peran orang tua, kesejatian fungsi rumah, kesejatian pendidikan, dan kesejatian anak-anak kita. Jangan sekali-kali mengubah fitrah kesejatian itu semua karena itulah sesungguhnya penyebab berbagai krisis dan kerusakan di muka bumi.
***
Editor: J. Haryadi








