Darmadi Rela Putus Sekolah Demi Menghidupi Ibu dan Adik-adiknya
Kisah nyata: Tubuh Darmadi yang kecil merasa kesulitan mengangkut beras yang beratnya sekitar 50 Kg. Kadang Darmadi merasa sangat letih dan tidak kuat mengangkatnya. Namun, dia terus berusaha memaksakan tenaganya, demi mengejar upah yang nilainya tidak seberapa.
Darmadi Rela Putus Sekolah Demi Menghidupi Ibu dan Adik-adiknya – Kisah Inspiratif, diangkat dari Kisah nyata karya J.Haryadi.
Perjalanan hidup seseorang terkadang penuh liku, berat, dan sangat melelahkan. Tidak jarang akhirnya ada orang yang mencari jalan pintas, meskipun salah dan melanggar norma agama. Namun, hal itu tidak terjadi pada Darmadi. Pria ramah ini tetap tegar menjalaninya. Dia merusaha mencari jalan keluar dengan cara yang halal sehingga kini jalan terang menyertai kehidupannya.
Setiap pagi buta, Darmadi berangkat ke masjid untuk melaksanakan salat Subuh berjamaah. Kebetulan jarak masjid tidak jauh dari rumahnya. Tak lupa dia berdoa untuk almarhum ayahnya yang sudah lama tiada, juga buat kesembuhan ibunya yang saat itu sakit-sakitan dan tidak berdaya.
Usai beribadah, Darmadi bersiap-siap berangkat ke pasar tradisional untuk berdagang di Desa Candi Mas, Kecamatan Abung Selatan, Kabupaten Lampung Utara. Pelanggannya setiap hari semakin bertambah sehingga dagangannya laris. Berkat usahanya tersebut, dia mampu menafkahi istri, anak-anak, dan ibunya yang sudah renta.

Bagi Darmadi, keluarga adalah segala-galanya. Apapun akan dilakukannya demi membela keluarga. Hal itu sudah dibuktikannya dulu, ketika dulu ayahnya yang bekerja sebagai sopir truk meninggal dunia. Terpaksa dia yang saat itu masih duduk di kelas 3 SMP harus rela meninggalkan sekolahnya demi bekerja untuk memenuhi kehidupan keluarganya.
Saat itu pria berdarah Jawa tersebut sedih sekali. Betapa tidak, ayahnya meninggal ketika usianya masih remaja. Darmadi bingung harus berbuat apa, sementara ibunya tidak bekerja dan ketiga adik-adiknya juga masih kecil. Mereka semua tentu memerlukan biaya.
Sepeninggal ayahnya, Darmadi bekerja serabutan. Salah satu pekerjaannya adalah menjadi kuli panggul mobil kanvas beras. Setiap hari kerjanya menaikkan dan menurunkan beras dari mobil.

Sedihnya, kalau kebetulan lokasi konsumennya agak jauh. Tubuhnya yang kecil merasa kesulitan mengangkut beras yang beratnya sekitar 50 Kg. Kadang Darmadi merasa sangat letih dan tidak kuat mengangkatnya. Namun, dia terus berusaha memaksakan tenaganya, demi mengejar upah yang nilainya tidak seberapa.
Kondisi ekonomi keluarga Darmadi saat itu benar-benar susah. Penghasilannya sedikit sehingga untuk makan sehari-hari saja tidak cukup. Tidak jarang dia dan keluarganya cuma makan sekali sehari dengan lauk ala kadarnya.
“Pernah suatu hari, karena tidak ada bahan untuk dimasak, saya mengambil sisa-sisa beras kotor yang terbuang. Beras itu saya bawa pulang untuk dibersihkan, dimasak, dan dimakan oleh keluarga saya,” ujar Darmadi sambil matanya berkaca-kaca mengingat masa lalunya yang getir.
Suatu sore menjelang petang, hujan turun deras sekali. Petir dan guruh saling bersahut-sahutan. Darmadi, ibu, dan adik-adiknya yang masih kecil ada di rumah.Tak ada satu pun bahan makanan yang bisa dimasak. Mereka semua cuma bisa diam menahan lapar. Sementara itu, minyak tanah juga habis sehingga tidak bisa menyalakan lampu. Kebetulan saat itu di rumah keluarga Darmadi belum memakai listrik. Bisa dibayangkan malamnya mereka akan bergelap-gelapan.
“Dar, besok kita tidak punya apa-apa lagi. Beras sudah habis. Minyak tanah juga habis,” rintih ibunya dengan nada pilu.
Mendengar keluhan ibunya, hati Darmadi bagai tersayat sembilu. Dia tak ingin ibu dan adik-adiknya mati kelaparan. Apapun akan dilakukannya demi membela mereka. Dia akan berusaha mencari makanan untuk orang-orang yang disayanginya.
Dalam suasana hujan deras, tanpa pikir panjang, Darmadi pergi keluar. Dia menuju ke rumah salah seorang tetangganya yang memiliki mobil truk. Mudah-mudahan ada barang yang perlu diangkut, pikirnya. Dia siap menjadi kuli angkut untuk menaikkan barang ke truk tersebut.

Alhamdulilah, usaha pria baik hati ini tidak sia-sia. Kebetulan malam itu truk tetangganya akan menaikkan barang karena akan dikirim ke pelanggannya. Darmadi pun menawarkan diri untuk menjadi kuli angkutnya.
“Waktu itu saya dapat upah lima ribu. Uang itu saya belikan sedikit beras, minyak tanah, dan obat nyamuk. Yang penting keluarga kami bisa makan dulu,” kenang Darmadi.
Kejadian semacam ini selalu terjadi hampir setiap hari. Seolah-olah kemiskinan dan nasib buruk selalu menyertai kehidupan keluarga Darmadi. Bahkan saking miskinnya, dia pernah terpaksa mencuri singkong tetangganya demi mengisi perut dan untuk bertahan hidup bagi keluarganya.
Ya Allah, bila perbuatan saya ini adalah dosa, biarlah saya saja yang menanggungnya, ujar Darmadi dalam hati sebelum mencabut singkong tetangga rumahnya. Namun, dia selalu punya cara untuk mengatasinya. Pria tangguh ini yakin Tuhan pasti selalu mau membantu hamba-Nya yang mau berusaha.
Makanan yang identik dengan orang miskin itu akhirnya dibawa Darmadi pulang, lalu direbus, dan diiris kecil-kecil. Supaya enak, singkong rebus itu diberi parutan kelapa dan garam. Malam itu Darmadi dan keluarganya berhasil mengatasi rasa lapar mereka dari makanan yang tidak halal.
Setelah bekerja sebagai kuli dan pekerjaan serabutan lainnya, Darmadi mencoba kerja sebagai kenek mobil truk diesel dan fuso. Dia bekerja ikut pamannya yang berprofesi sebagai sopir. Kerjanya menaikkan dan menurunkan barang angkutan. Tidak jarang dia ikut keluar kota. Bahkan, sampai ke kota-kota di Pulau Jawa.
Saat sedang istirahat, Darmadi memanfaatkan waktunya belajar menyetir mobil. Berkat ketekunannya, akhirnya dia bisa membawa mobil truk fuso. Bahkan, kalau sedang ngenek, dia sering diminta sopir untuk menggantikannya. Tentu saja Darmadi senang, saat itu dia belum memiliki SIM dan upahnya tetap sama. Baginya, dipercaya menyupir saja sudah senang.
Setelah merasa mampu membawa truk sendiri, Darmadi mencoba melamar bekerja sebagai sopir. Dia pun diterima bekerja disebuah perusahaan kayu dengan gaji Rp 60.000 sebulan. Kemudian gajinya dinaikkan menjadi Rp 75.000. Meskipun gajinya tidak besar, tapi dia bersyukur bisa menjadi sopir.
Setelah berjalan sekitar tujuh bulan, Darmadi mundur. Maklum gajinya masih belum mencukupi kehidupannya. Lalu dia pindah bekerja sebagai sopir truk fuso di tempat lain dengan gaji yang lebih besar.
Profesi sebagai sopir truk fuso dilakoni Darmadi selama 26 tahun, yaitu sejak 1990-2016. Selama itu pula dia mampu menghidupi ibu dan adik-adiknya. Semua saudara kandungnya tersebut kini sudah menikah dan hidup mandiri. Darmadi bersyukur bisa membesarkan adik-adiknya dan berhasil mengatasi masa sulit dalam kehidupannya. (J.Haryadi)
***
Editor: JHK








