Melamun di Bandara Kuala Lumpur: Memoar Refleksi Diri
Penulis: Didin Tulus
PRATAMA MEDIA NEWS (PMN), Rubrik OPINI, Kamis (13/03/2025) – Esai berjudul “Melamun di Bandara Kuala Lumpur: Memoar Refleksi Diri” ini adalah sebuah esai karya Didin Kamayana Tulus yang merupakan seorang penulis, penggiat buku, dan kini tinggal di Kota Cimahi, Provinsi Jawa Barat.
Bandara Kuala Lumpur (KUL) tidak pernah sepi dari hiruk-pikuk. Setiap sudutnya selalu ramai oleh para penumpang yang berlalu-lalang, petugas bandara yang sibuk, dan pengumuman penerbangan yang tidak pernah berhenti menggelegar. Di tengah keramaian ini, saya berada di salah satu kursi menunggu, tanpa ponsel yang aktif, terjebak dalam akting kesendirian.

Duduk di sana, saya memperhatikan orang-orang di sekitar saya yang asyik dengan ponsel mereka. Jempol mereka bergerak lincah di atas layar, tenggelam dalam dunia virtual yang begitu jauh dari kenyataan di depan mata mereka. Di sisi lain, saya hanya bisa melamun, membiarkan pikiran saya berkelana bebas tanpa batas. Mungkin ini adalah kesempatan langka bagi saya untuk benar-benar berinteraksi dengan dunia nyata, tanpa gangguan teknologi.
Sementara itu, saya mengambil buku ringan yang telah saya bawa. Saya membacanya dengan saksama, menikmati setiap kata yang tertulis. Rasanya seperti menemukan oase di tengah gurun kesibukan. Bab demi bab saya lalui, dan tanpa disadari, saya telah menyelesaikan satu buku penuh. Ada kepuasan tersendiri yang muncul dari pencapaian sederhana ini, seolah-olah saya telah menyelam lebih dalam ke dalam diri saya sendiri.
Namun, melamun di bandara ini tidak hanya tentang menyelesaikan buku. Ini juga tentang refleksi diri. Dalam keheningan yang kontras dengan keramaian di sekitar saya, saya mulai mempertanyakan banyak hal. Apa makna dari kesibukan yang terus menerus ini? Mengapa kita selalu merasa harus terhubung dengan dunia maya, sementara sering kali melupakan keajaiban sederhana dari momen-momen nyata?
Dalam keheningan ini, saya menemukan kembali nilai-nilai yang mungkin telah saya lupakan. Keheningan membawa ketenangan, dan ketenangan membawa kebijaksanaan. Di tengah gegap gempita bandara, saya merasa telah menemukan sepotong ketenangan yang membawa saya lebih dekat pada diri saya sendiri. Mungkin, melamun di bandara KUL ini bukan sekadar melamun biasa, melainkan sebuah perjalanan refleksi yang memberi makna baru pada setiap langkah yang saya ambil.
Esai ini bukan hanya tentang pengalaman menunggu di bandara, tetapi juga tentang bagaimana kita bisa menemukan kedamaian di tengah keramaian, dan bagaimana kita bisa menemukan diri kita sendiri dalam momen-momen paling sederhana. Dengan ponsel yang mati, saya justru merasa lebih hidup dari sebelumnya. (Didin Tulus).
***
Judul: Melamun di Bandara Kuala Lumpur: Memoar Refleksi Diri
Penulis: Didin Tulus, sang Petualang Pameran Buku
Editor: Jumari Haryadi








