ArtikelPratama Media NewsReligiSeni dan BudayaSosial

Belajar dari Seniman: Seni dalam Hidup Sederhana

Balchi Bara: "Sederhana itu tidak ada beban. Sederhana itu sehat. Sederhana itu harmoni dan sederhana itu indah."

Belajar dari Seniman: Seni dalam Hidup Sederhana  (Oleh: Yuda Suhada)  ̶  Hampir semua orang bercita-cita ingin hidup bahagia, kaya, dan serba berkecukupan. Namun, bahagia dan kekayaan itu adalah sebuah pilihan.

Banyak juga orang kaya yang memiliki harta benda berlimpah, tetapi tidak menemukan kebahagiaan, baik jasmani maupun rohaninya. Ia memiliki segalanya, tapi tidurnya tidak pulas. Kehidupan kesehariannya selalu dirundung rasa takut dan gelisah karena memikirkan hartanya takut dibawa kabur orang lain.Hal ini membuktikan bahwa kekayaan belum tentu bisa membuat orang bahagia.

Tidak sedikit juga orang kaya yang makannya hanya 15 gram nasi, tanpa ikan atau daging. Semua itu dilakukannya karena penyakit ditubuhnya yang sedang menggerogoti tubuhnya sehingga makanan enak tersebut dilarang dokter untuk disantapnya. Sesungguhnya mereka kaya, tetapi tersiksa dengan kekayaannya.

Ilustrasi orang kaya
Ilustrasi: Orang kaya yang memiliki harta berlimpah tampak bahagia, tetapi hatinya belum tentu bahagia (Sumber: mobile.facebook.com)

Bagaimana kalau harta dan kekayaan yang dimiliki oleh orang kaya tersebut merupakan hasil korupsi? Tentu batinnya tidak tenang. Jiwanya resah dan gelisah. Ia akan selalu dihantui dengan perasaan waswas dan cemas karena takut ketahuan pihak berwajib. Jiwanya sudah terpenjara walau secara fisik ia  tampak bebas bisa berkeliaran ke mana-mana.

Sebagian orang berjibaku mencari kekayaan dengan menghalalkan segara cara. Ia sikut kiri dan sikut kanan dengan menyakiti perasaan orang lain. Apa yang ada dalam pikirannya hanya untuk mendapatkan harta sebanyak-banyaknya, padahal kekayaan yang didapatkannya tersebut belum tentu dapat dinikmatinya dan bisa memberinya kebahagiaan. Bahkan, justru terkadang hanya anak dan cucunya saja yang bisa menikmatinya. Itu pun hanya sesaat karena biasanya mereka akan bertengkar memperebutkan harta warisan orang tuanya.

Hal tersebut tentu sangat miris dan membuat kita semua prihatin. Jangan sampai kisah tragis tersebut menimpa diri kita. Semoga Allah menjauhkan kita dari sifat serakah yang bisa mendekatkan kita ke jurang kehancuran.

Mungkin kita bisa intropeksi diri dan sambil sedikit menundukkan kepala kita. Merenung atas dosa-dosa apa saja yang sudah kita lakukan selama ini. Apakah hidup kita udah berada di jalan yang benar? Apakah harta yang kita dapatkan selama ini diperoleh dengan cara yang halal?

Coba kita belajar dari prinsip hidup salah seorang seniman yang pernah saya temui beberapa tahun lalu, saat saya menghadiri acara pameran lukisan di Kota Cimahi. Saat itu saya sempat berkenalan secara tidak sengaja dengannya dan sempat mengobrol tentang kehidupan.

Yuda Suhada dan Balchi Bara
Ilustrasi: Penulis ketika mengobrol dengan pelukis asal Tegal, Balchi Bara beberapa tahun lalu di Kota Cimahi (Sumber: Koleksi pribadi)

Setelah perkenalan, obrolan dilanjutkan ke dalam masalah seni dan kehidupan pribadinya. Suasana yang terjadi saat itu begitu seru dan akrab.

Nama seniman tersebut adalah Mas Balchi Bara. Ia seorang pelukis asal tegal yang berpenampilan nyentrik dan sederhana. Pelukis realis tersebut banyak bercerita seputar kejadian yang pernah dialami sepanjang hidupnya.

Lukisan Mas Balchi Bara sudah banyak laku terjual, baik yang dijualnya secara langsung, melalui ajang pameran, maupun dijual secara online. Karya-karyanya bisa di-searching via mesin pencari Google dengan key word “ruang rupa”. Harga lukisannya bervariasi, mulai dari ratusan ribu rupiah sampai puluhan juta rupiah. Bahkan, kalau dia berkenan, tak segan untuk memberikannya secara gratis.

Lukisan karya Balchi Bara
Ilustrasi: Salah sebuah lukisan karya Balchi Bara yang dipamerkan dalam sebuah ajang pameran lukisan di Kota Cimahi (Sumber: Koleksi Pribadi)

Hal paling menarik dalam obrolan saya dengan Mas Balchi Bara adalah saat ngobrol tentang kesederhanaan. Menurut pelukis asal Tegal tersebut, sederhana itu nikmat. Sederhana itu tidak ada beban. Sederhana itu sehat. Sederhana itu harmoni dan sederhana itu indah.

Mas Balchi Bara memberikan contoh ketika ada orang kaya yang tidurnya di springbed empuk dengan AC yang super dingin, serta fasilitas mewah yang ada di kamarnya, tapi tidak bisa tertidur dengan nyenyak karena jiwanya resah. Hidupnya penuh ketakutan dan kekhawatiran terhadap hartanya, dirinya, dan keluarganya.

Kehidupan si orang kaya tersebut sangat berbeda jauh dengan kehidupan seorang pria sederhana yang tak memiliki banyak harta. Bahkan, terkadang tidurnya hanya beralas tikar, tidur di luar rumah hanya memakai kaos dalam dan ditemani semilir angin nan sejuk. Pikirannya melayang bebas tanpa beban. Tidurnya pun terlelap.

Hidup sederhana
Ilustrasi: Seorang tukang becak bisa tertidur lelap di atas becaknya setelah seharian lelah mencari nafkah (Sumber: antarafoto.com)

Setiap hari perasaan pria sederhana itu selalu bahagia, walau makannya hanya dengan sepiring nasi panas yang ditemani sambal terasi atau hanya dengan kerupuk.

Itulah hidup. Kaya atau miskin itu adalah pilihan. Hal terpenting dalam hidup ini adalah kita meminta kebahagiaan kepada Allah SWT yang telah menciptakan kita karena Allah itu Maha Adil, Maha Pengasih, Maha Rohman dan Rohim.

Allah SWT tidak membeda-bedakan perasaan orang miskin dan kaya. Rasa bahagia itu dikasihkan kepada semua orang. Ingat, hidup kita ini hanya sementara. Jangan terlalu terbuai dengan masalah duniawi yang suka menipu kita. Semoga kita selalu bahagia dan terhindar dari perbuatan yang dimurkai-Nya.

***

Penulis: Yuda Suhada

Editor: JHK

Artikel Berkaitan

One Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button