Titik Koordinat Alamat Rezeki
Siloka: "Rezeki elang tak akan tertukar dan dapat dimakan oleh musang"
Titik Koordinat Alamat Rezeki – Kesadaran untuk menjadikan patron, imajinasi, dan sugesti bahwa “rezeki elang tak akan tertukar dan dapat dimakan oleh musang“, dialektika dan dinamikanya belumlah usai hingga kini. Buktinya, berbalahan dan rebutan lahan rezeki masih saja terus terjadi antara kita sesama manusia.
Saya dan mungkin juga Anda dalam setiap kelindan pikiran, masih saja mengalami rasa cemas dan takut apabila kekurangan rezeki, utamanya menyangkut kebutuhan primer keluarga. Paling tidak dua tiga kali istri saya mengingatkan, apabila pembayaran sekolah dan kuliah buah hati kami tenggat waktunya sudah mendekat dan uang belum tersedia. Ini contoh kasus yang sering kali saya alami.
Ketahanan dan kedaulatan keuangan rumah tangga yang belum tangguh dan kuat-kuat amat, seperti yang terjadi pada keluarga cemara kami, mengalami rasa cemas dan takut sepertinya suatu keniscayaan. Dugaan saya, mungkin saja pengalaman ini juga dialami oleh ratusan juta kepala keluarga di Indonesia. Bagaimana dengan Anda?
Dalam skala yang lebih besar, para pemangku kekuasaan dalam hal ini pemerintah dan negara juga menakuti akan situasi dan kondisi devisit keuangan negara. Apalagi dengan keadan krisis keuangan dan krisis ekonomi. Intinya sama saja, cemas dan takut akan kekurangan rezeki.

Apalagi dua tahun sejak badai pendemi virus corona terjadi di Indonesia. Sebagian besar kita pernah mengalami kelindan pikiran cemas dan takut akan kekurangan rezeki apalagi kelaparan. Rasa ini manusiawi dan given dimiliki oleh setiap orang. Hanya saja yang membedakan antara satu dengan yang lainnya, soal intensitas dan kadar rasa cemas dan takutnya saja. Ada yang besar, sedang, dan kecil.
***
Menurut saya, paling tidak ada tiga cara rezeki itu kita dapatkan atau peroleh. Pertama, rezeki itu mengetahui dengan pasti titik koordinat alamat keberadaan kita. Untuk proses sebab akibatnya, rezeki selalu saja mempunyai cara yang tepat dan akurat sampai ke alamat kita. Selalu tepat waktu, tepat sasaran, dan tepat jumlah sehingga rezeki itu kita dapatkan dan peroleh. Kalau boleh jujur, jenis rezeki ini tanpa kita niatkan, usahakan, dan doakan. Secara tak terduga ada kekuatan semesta yang menggerakkan kehadirannya.
Jenis kehadiran rezeki yang kedua, wujudnya hadir menghampiri kita dengan sebab akibat oleh niat, ikhtiar, dan doa-doa yang kita pohonkan. Rezeki jenis ini proses kehadirannya melalui perjuangan, kerja cerdas dan kerja keras, kegigihan, dan keuletan. Dengan cara ini rezeki kita dapatkan. Lagi-lagi kehadiran rezeki tetaplah dengan kadar dan jumlah yang proporsional sesuai hak kita.
Cara ketiga adalah terjadi hubungan dua arah, antara kita dengan wujud rezeki itu sendiri. Antara kita dengan wujud rezeki yang akan kita peroleh sama-sama saling mendekat menuju kesatu alamat titik koordinat pertemuan yang telah ditentukan oleh energi nirbatas. Kita menuju mendekati keberadaan alamat rezeki, begitupun sebaliknya rezeki menuju ke titik koordinat keberadaan kita dan terjadilah ijab kabul sampai akhirnya rezeki itu kita terima secara sempurna.
Dalam contoh kasus yang saya alami dengan rekan kerja. Kami sama-sama berangkat dari titik start yang sama. Memulai dari titik nol, dengan pangkat dan jabatan yang sama. Dengan latar belakang pendidikan yang setara. Umur pun saya lebih tua satu tahun darinya. Juga dengan gaji pokok dan tunjangan penghasilan yang sama pula. Namun, dalam rentang waktu delapan belas tahun kemudian. Kawan saya ini, dalam perolehan penghasilan rezeki, apabila dibandingkan dengan perolehan dan penghasilan saya, berbeda signifikan. Kawan saya tergolong orang kaya harta.
Dalam kasus yang lain, saya perhatikan dengan teliti dan seksama. Saya menanam dua pohon, satu pohon durian dan satu pohon rambutan. Pada lokasi kebun dan area tanah yang sama. Dengan perawatan, penyiraman, penyiangan, dan pemupukkan yang proporsional. Lima tahun kemudian, apa yang terjadi? Untuk pohon rambutan, puji Tuhan berbuah lebat dengan hasil panen buah rambutan yang ranum dan manis, sedangkan untuk pohon durian motong yang saya tanam, sudah memasuki tahun kedelapan belum juga berbuah. Padahal menurut penjual bibit pohon rambutan dan durian, saat saya membelinya merupakan bibit unggul.
Kang Ujang penjual bibit berkata, “bibit pohon ini adalah unggulan dan pilihan, dalam usia empat tahun sudah berbuah.”
Paling tidak terdapat tujuh arti kata rezeki di KBBI yang masuk ke dalam kelas kata nomina (kata benda), yaitu segala sesuatu yang dipakai untuk memelihara kehidupan (yang diberikan oleh Tuhan), makanan (sehari-hari), nafkah, penghidupan, pendapatan (uang dan sebagainya untuk memelihara kehidupan), keuntungan, dan kesempatan mendapat makan.
Saya dan Anda mungkin saja mempunyai harapan dan cita-cita yang sama. Hidup dengan harta yang melimpah, penuh berkah, hidup dalam derma, bermanfaat untuk sesama, dan matinya masuk surga. Namun, realitasnya rezeki yang kita dapatkan tak berbanding lurus dengan niat, usaha, dan doa kita.
Ada orang yang lapang rezekinya dan ada pula orang yang sempit rezekinya. Inilah sistem sunatullah Tuhan dalam hal pengaturan distribusi pembagian rezeki kepada mahkluk ciptaan-Nya. Sepertinya relete dengan siloka “rezeki elang tak akan tertukar dan dapat dimakan oleh musang.”
Kembangan, 23 Mei 2021
***
Penulis: Umar Usman
Sekilas Penulis:
Umar Usman dilahirkan di Lampung Selatan, 28 Januari 1969, anak ke 6 dari 7 bersaudara. Pasangan dari Hasan Basri dan Siti Zalamah (Almarhum) sudah tertarik menulis sejak duduk dibangku Sekolah Dasar Negeri (SDN) Batanghari Ogan, Lampung Selatan.
Setelah menamatkan Sekolah Menengah Teknologi Pertanian Negeri Metro, Lampung Tengah, selanjutnya Umar meneruskan pendidikan Sekolah Bintara Polisi di SPN Batua Ujung Pandang. Selain menulis buku, ia juga sebagai konsultan hukum, mentor, dan pengajar pada komunitas Masyarakat Spiritual Indonesia (RASI).
Editor: JHK








