ArtikelOpiniPratama Media News

Jembatan Putus dan Pertanda Zaman

Sarkoro Doso, "Pada Era Sekarang Ketika Semua Dipaksa Bergerak Sigap dan Semakin Cepat, jembatan putus menjadi hambatan yang sangat terasa sekali efeknya."

Pratama Media News – Jembatan Putus dan Pertanda Zaman – Di salah satu kabupaten di Jawa beberapa waktu lalu ada sebuah jembatan putus akibat arus sungai yang sangat deras. Jembatan yang menghubungkan daerah pinggiran ke kota itu kini tidak bisa dilewati lagi.

Nama tempat sengaja tidak disebut karena peristiwa jembatan putus seperti itu bisa terjadi kapan saja dan di mana saja. Apalagi pada musim penghujan, bencana serupa biasanya sering terjadi.

Jembatan putus yang ada di ruas jalan lumayan sibuk itu seketika membuat lalu lintas menjadi sepi. Keramaian pindah ke jalan lain. Tidak ada pilihan lain, anak sekolah, guru, mahasiswa, dosen, karyawan, dan pedagang yang biasa lewat terpaksa harus mencari jalan lain menuju tempat tujuannya masing-masing.

Ilustrasi: suasan macet akibat jembatan putus
Ilustrasi: suasan macet akibat jembatan putus – (Sumber: illustrative-maps.com)

Akibatnya, muncul ketidaknyamanan yang dirasakan banyak pihak, yaitu kemacetan di ruas-ruas jalan di sekitarnya. Kemacetan parah yang ditimbulkan pada jam sibuk pagi dan sore sempat mengundang celetukan “kemacetan Jakarta telah menular ke sini”.

Kemacetan semakin menjadi dan tambah ruwet karena semua orang ingin cepat sampai tujuan.  Setiap pagi anak sekolah, guru, mahasiswa, dan dosen ingin segera sampai ke tempat belajar, pegawai dan pedagang juga ingin segera sampai tempat lapaknya. Begitu juga setiap sore, mereka semua ingin cepat tiba di rumah untuk bercengkerama dengan keluarga, istirahat atau keperluan lain.

Pada era sekarang ini, era ketika semua dipaksa dan terpaksa bergerak sigap dan semakin cepat, jembatan putus memang menjadi hambatan yang sangat terasa efeknya. Misalnya, jarak tempuh menjadi bertambah jauh dari biasanya. Waktu tempuh bertambah lama. Belum lagi harus bangun lebih pagi dan pulang bertambah sore. Mau tidak mau, pemakai jalan perlu merancang ulang tata waktu untuk aktivitas keseharian mereka.

Untungnya, penguasa setempat tampaknya juga tidak berleha-leha. Jembatan dengan sigap dan trengginas berusaha segera diatasi dan dibangun kembali agar segera bisa dipakai lagi.

Tuntutan keadaan dan kebutuhan orang sekarang ini memang ingin semua serba cepat. Mulai dari soal perjalanan hingga soal makanan, baik orang lokal maupun penduduk global.

Silahkan amati. Kemanapun orang pergi, dia ingin segera sampai. Apapun makanannya, ingin serba enak dan cepat tersaji. Apapun pekerjaannya, ingin segera melihat hasilnya. Apapun kerjanya ingin segera terima upahnya.

Sarana dan prasarana hidup pun seperti sudah dirancang agar segala urusan bisa berlangsung cepat dan segera tuntas. Jalan-jalan dari desa hingga antar kota antar provinsi hampir semuanya mulus.

Pesawat udara dan kereta api saat ini siap mengantar penumpang dari berbagai kota besar dengan pelayanan lebih cepat dan jauh lebih nyaman. Demikian juga bus angkutan umum. Tidak perlu lagi membuang waktu antri mengular membeli tiket di depan loket. Anda bisa membayar dari tempat berdiri karena teknologi sudah tersedia.

Bukan hanya tiket, belanja kebutuhan apapun sudah sangat jamak dilakukan secara online. Kurir akan segera mengantarnya hingga ke depan pintu rumah Anda.

Ilustrasi: Kemajuan teknologi komunikasi
Ilustrasi: Kemajuan teknologi komunikasi – (Sumber: instituteforpr.org)

Ketika semua serba cepat maka suatu yang lambat akan menjadi ganjalan. Barang pesanan datang terlambat, meski hanya beberapa menit akan segera dikomplain.

Lebih-lebih lagi untuk urusan sensitif, seperti bayar-membayar. Misalnya keterlambatan membayar gaji, bisa menjadi bahan gunjingan dan pertanda  ketidakmampuan bayar atau keburukan kelola. Bagi sebuah usaha, komplain dan gunjingan itu sebuah demosi yang sedapat mungkin dihindari dan dijaga jangan sampai terjadi.

Termasuk kehidupan di jalan raya. Sekarang ini berlaku aturan, jika ketahuan polisi, berkendara terlalu pelan pun akan dikategorikan melanggar aturan dan perlu ditilang. Berkendara terlalu pelan di jalan raya dianggap berbahaya dan memancing timbulnya kecelakaan.

Alam sekitar kita pun menghendaki serba cepat. Kerusakan alam yang terjadi dengan laju tinggi, juga harus ditangani dengan laju lebih tinggi. Hutan yang dijarah, kebakaran, gundul, longsor, dan dirambah harus segera dihijaukan sebelum datang bencana yang lebih dahsyat. Menunggu lahan hutan menghijau sendiri lama dan itu pekerjaan orang lamban.

Begitulah, hampir semua aspek kehidupan telah berubah menjadi berlangsung semakin cepat. Moto hidup dalam bahasa Jawa yang berbunyi: “alon-alon waton kelakon” pun sudah lama ditinggalkan maka jembatan yang putus harus segera diperbaiki. Kalau tidak, pejabatnya bisa dipinggirkan.

Tidak ada lagi tempat untuk orang lelet dan lamban. Apalagi dungu, lebih baik minggir sebelum disingkirkan. Persis seperti kendaraan melaju lambat di jalan raya atau jalan tol.  (Sarkoro Doso Budiatmoko).

Purwokerto, 16 Februari 2023

***

Judul: Jembatan Putus dan Pertanda Zaman
Penulis: Sarkoro Doso Budiatmoko
Editor: JHK

Tentang Penulis:

Sarkoro Doso Budiatmoko, lahir di Purbalingga, Jawa Tengah dari pasangan almarhum Bapak Pranoto dan almarhumah Ibu Fari’ah. Pendidikan hingga SLTA dijalaninya di kota kelahirannya ini,  sedangkan pendidikan tinggi ditempuhnya di IPB (1984), Bogor dan pascasarjana di Iowa State University (1996),  Amerika Serikat.

Sarkosro Doso
Sarkoro Doso Budiatmoko (Sumber: Pratama Media News)

Pengalamannya menjalani berbagai penugasan di Perum Perhutani memperkaya wawasan dan pemikirannya yang sering dituangkan di media massa. Topik tulisannya tidak terbatas pada latar belakang pendidikan dan pekerjaannya saja, tetapi juga menyangkut bidang ekonomi, sosial, budaya, dan sumberdaya manusia. Aktifitasnya menulis tidak surut meski sudah purna-tugas beberapa tahun lalu.

Penikmat buku dan bacaan ini juga dipercaya mengasuh rubrik Kolom di Majalah “Bina Media Berita Kehutanan & Lingkungan” yang diterbitkan oleh Perum Perhutani Unit II Jawa Timur. Tulisan Sarkoro Doso berjudul “Setelah PHL, Lalu?” pernah terbit di Majalah Duta Rimba Edisi 42 (Mar-April 2012) – Penerbit Perum Perhutani, Jakarta, Indonesia.

Kini rimbawan berpengalaman yang berasal dari Perum Perhutani Unit II Jawa Timur aktif menulis blog di Kompasiana. Beberapa tulisannya di platform asuhan Kompas online tersebut di antaranya artikel berjudl “Bijak Memilih: Orang, Pasangan, dan Pemimpin” yang terbit pada 20 Mei 2021 dan artikel berjudul “Hidup Akal Sehat” yang terbit pada 31 Mei 2021.

Penulis dikaruniai tiga orang anak. Saat ini dia menetap di Purwokerto dengan kesibukan menulis dan menjadi staf pengajar di Language Development Center (LDC), Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP).

———————————————————————————————————————————————

MUSDA DKKC
Iklan layanan masyarakat acara Musyawarah Daerah Dewan Kebudayaan Kota CImahi (Musda DKKC) ini dipersembahkan oleh Pratama Media News.

Artikel Berkaitan

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button