Rucita (4), Perupa Cilik Termuda di Ajang Pameran 10 Perupa Cilik Bandung
Pameran berlangsung di Galeri Pusat Kebudayaan (GPK), Jalan Naripan 9, Kota Bandung
Pratama Media News, Kota Bandung, Senin (25/07/2022) – Shafela Maharani Rucita (4) merupakan perupa cilik termuda yang menjadi peserta di ajang Pameran 10 Perupa Cilik Bandung bertajuk “Anak Indonesia Berani Kreatif” yang dibuka pada Minggu (24/07/2022) kemarin di Galeri Pusat Kebudayaan (GPK), Jalan Naripan 9, Kota Bandung.
Dunia anak selalu menarik, jujur, dan ekspresif. Beragam tema seperti kegiatan keseharian anak, keluarga, binatang, atau monster mewarnai pameran yang digelar dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional.
Pameran ini diikuti oleh 10 perupa cilik, yaitu Alvicko Gusfi Aruna Fadly (10), Alya Radisti (7), Arfara N. Raeesa (7), Arimbi Ketya Anaya (7), Bima Raidara Adisakti (7), Mahesa Damar Sakti (13), Rarasakti Laksmi Adisapitro (9), Shafela Maharani Rucita (4), Shaqee Giezha Agassi (6), dan Sri Jago Asoka Rama (6).

Menariknya, dari 10 perupa cilik tersebut terdapat salah satu peserta termuda yaitu Shafela Maharani Rucita atau akrab dipanggil Rucita. Gadis cilik dari pasangan Yoppy Yohana, S.Pd., M.Pd. dan Titing Kartika, S.Pd., M.M.Par., M.B.A. Tourism ini baru saja genap berusia empat tahun pada 19 Mei 2022.
Rucita merasa senang ketika hasil goresannya lolos dikurasi oleh Andi Yudha Asfandiyar, sang kurator pameran sehingga dapat dipamerkan bersama hasil karya perupa lainnya. Gadis cilik berbakat ini menggunakan marker di Kanvas ukuran 30 Cm X 30 cm sebagai medianya berekspresi.

Andi mengapresiasi karya Rucita. Menurut alumni Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung (FSRD ITB) Angkatan 1985 tersebut, walau usia Rucita baru empat tahun, tetapi sudah berani menuangkan ekspresinya melalui gambar di atas kanvas.

Ketegasan goresan Rucita muncul dalam delapan tema gambar yang dibuatnya. Beberapa karyanya tersebut diberi judul “Singa dan Hantu”, “Bunda, Teteh, dan Ruci Waktu Kecil”, “Bunda dan Ruci saat Nangis”, “Semut dan Kumbang”, “Aku dibedong, Bobo dengan Bunda”, “Ayah Bunda”, “Keluargaku dan Keluarga Semut”, dan “Ayah, Bunda dan Semut”.
“Setiap gores dari anak itu menarik, karena setiap anak memiliki imajinasi yang berbeda. Mereka tidak hanya menggambar, namun menggambarkan,” jelas Andi.
Tentu saja hal ini sangat sangat penting bagi orang tua, sekolah, dan dunia pendidikan bagaimana melihat visual karya para perupa cilik.
Menurut penuturan sang ayah, Yoppy Yohana, sejak usia dua tahun Rucita sudah mulai senang menggores di berbagai media, baik di atas kertas, papan tulis, maupun kanvas. Dalam kesehariannya, gadis ciliknya tersebut sering melakukan kegiatan menggambar bersama dirinya dan kedua kakaknya.



“Saya selalu memberikan ruang kebebasan kepada ketiga putri kami, terutama dalam mengembangkan minat seninya,” ujar Yoppy yang kebetulan berprofesi sebagai seorang guru seni budaya di sebuah sekolah negeri di Kota Bandung.
Hal senada dituturkan oleh sang Ibunda, Titing kartika. Dosen yang mengajar di sebuah perguruan tinggi ternama di Kota Bandung tersebut memberikan dukungan kepada putrinya dengan tidak memaksakan putrinya dalam berkarya.

“Membiarkan mereka menggores maupun menggambar adalah bagian dari imajinasinya yang tidak perlu dipaksakan,” ungkap Titing yang selalu mendampingi gadis kecilnya tersebut dengan penuh kasih sayang.
Acara pembukaan Pameran 10 Perupa Cilik Bandung tersebut diawali dengan sambutan dari Dinas Kebudayaan dan PariwisataKota Bandung yang diwakili oleh Sri Susiagawati, S.E., M.M., kemudian sambutan dari Ketua Pelaksana Isa Perkasa (Kurator GPK dan Ketua Institut Drawing Bandung).


“Acara ini adalah bagian dari apresiasi terhadap karya anak-anak, dimana setiap anak memiliki karya yang unik. Dengan kegiatan ini diharapkan akan menghasilkan para perupa potensial di masa mendatang,” ujar Isa dalam sambutannya.
Salah satu pengunjung, Kepala Sekolah MI Al-Inayah Kota Bandung, Sari Nurhayati, S.Pd., M.M.Pd., yang turut hadir bersama perwakilan siswa dan orang tua merasa terharu dengan karya-karya para 10 perupa cilik. Sari berharap Rucita bisa terus berkarya, seperti dua kakaknya yang juga bersekolah di MI Al-Inayah (Queenaya Delima Nuri 6B dan Glory Mirfat Arumsari kelas 3B).
Para pengunjung lainnya memberikan apresiasi terhadap karya-karya 10 perupa cilik yang baru saja dibuka. Bagi masyarakat yang sempat belum hadir dan ingin menyaksikan hasil karya para perupa cilik berbakat tersebut bisa datang ke Gedung GPK yang sudah dibuka sejak 24 Juli 2022 dan akan berakhir pada 31 Juli 2022. Waktu buka pameran mulai pukul 10.00-16.00 WIB. (TK).
***
Editor: JHK








