ArtikelOpiniPratama Media NewsSastra

Dunia Fiksi Tercipta dari Aspirasikah atau Ekstasi Patah Hati?

Dunia fiksi adalah dunia terbaik bagi orang-orang mengungkapkan perasaannya, apalagi yang lagi patah hati tapi tidak berniat bunuh diri.

Dunia Fiksi Tercipta dari Aspirasikah atau Ekstasi Patah Hati? – Kamu pasti sedang mengerutkan dahi saat membaca judul di atas, sebuah kata yang mungkin agak lain masuk di otakmu. Namun, tak masalah, toh otakmu sudah di-recharge dengan kekuatan baterai alami berupa liburan panjang. Jadi kalau sekarang dibuat rusuh, sepertinya tak masalah. Otak akan kembali tegak dan tak mengalami keterlanjuran runtuh.

Pada Dunia Nyata. Saat seseorang melihat salah satu bentuk dari fiksi, contohnya puisi. Orang akan melihatnya sebagai dunia lain yang sengaja dibuat agar bisa melarikan diri dari kenyataan. Sebuah cara melarikan diri tanpa harus meninggalkan dan merusak suasana hati. Walaupun saat seseorang membaca puisi itu terkadang sanggup mengobrak-abrik kelenjar air mata dan hati dengan kesannya. Kadang juga akan mengeluarkan pertanyaan berduri; ini apa sih maksudnya? Gila apa?

Kita memang hidup di dunia nyata, menuntut kejelasan dan kepastian. Dunia nyata yang sering kali menumbuhkan tanda tanya besar di kepala kita dari segala sisinya. Interaksi sesama manusia, intervensi manusia terhadap alam, fraksinasi di lingkungan rumah dan dunia kerja, serta tentu saja yang paling utama adalah kala kita mencoba bersosialisasi dengan Sang Pencipta.

Interaksi sesama manusia banyak digaduh dengan persoalan psikologis bagaimana mengikuti tata cara untuk kemudian divalidasi sebagai kebenaran atau kekeliruan. Sekecil apa pun melencengnya kita dari normatifitas yang ada, segera saja kita menjadi terdakwa.

Intervensi manusia terhadap alam harus diakui sangat mengerikan. Seumpama bumi ini bisa dijungkirbalikkan agar semua benda berharga yang dibutuhkan manusia keluar dan jatuh berceceran maka itu akan dilakukan. Tidak ada yang namanya keseimbangan. Peradaban hanyalah sebuah Instrumen yang sebenarnya tidak bisa disebut beradab. Terlalu banyak pembenaran di dalam hukum adab yang banyak beralasan bahwa semua demi kebutuhan dan kesejahteraan manusia.

Kemudian kita selalu dihadapkan pada banyaknya fraksi atau kelompok yang muncul di lingkungan rumah dan juga dunia kerja. Sesuatu yang dapat kita hindarkan karena memang punya kadar kepentingan yang beragam. Selalu kita temui berbagai bentuk kelompok kecil maupun besar.

Kita harus masuk di salah satunya atau kita akan dianggap sebagai outsider yang mesti menyingkir jauh-jauh. Kita juga tak mungkin hidup sendiri dengan cara dan aturan yang kita buat sendiri atau mungkin kita pergi mengasingkan diri ke pulau terpencil. Jika seperti itu antara gila atau sudah terlalu kaya raya.

Hubungan kita dengan Pencipta terkadang tidak pernah menemukan kemulusan atau sama sekali tidak pernah baik-baik saja. Ada saja kesalahan yang disengaja atau mungkin salah yang memang coba direka. Semua atas nama bertahan hidup. Padahal kitab-kitab dari agama apa pun selalu mengatakan; Tuhan akan selalu memberikan jalan. Apa yang dirasa tidak tepat adalah ujian. Lalui, lari atau mati.

Pilihan paling mudah tentu saja lari. Lari dari peraturan Tuhan. Itu paling sering dilakukan dan kadang justru membuat senang.

Pada Dunia Fiksi. Dengan kondisi dunia nyata yang sedemikian lebatnya dibandingkan hutan rimba mana pun di semesta ini maka akhirnya manusia mengenal banyak cara agar bisa terus hidup di dalamnya. Dunia fiksi adalah salah satunya.

Semenjak dahulu kala, tidak sedikit orang yang melarikan perasaannya, entah itu rasa senang, kecewa, gagal, kesal, marah, putus asa, dan lainnya dengan memasuki labirin rumit ruang-ruang puisi, drama-drama di panggung teater, visualisasi tari, cerita pendek maupun panjang yang meliarkan imajinasi dan tidak dibatasi oleh normatifitas.

Berbagai contoh dapat kita temukan tentang bagaimana dunia fiksi membawa pengaruh baik kecil maupun besar dari setiap algoritme peradaban, seperti liarnya pikiran Socrates, Plato, dan Leonardo Da Vinci yang memberontak pemikir-pemikir ulung di zamannya. Semua itu bermula dari tulisan yang semula dianggap fiksi.

Bagaimana juga Galileo Galilei menentang pendapat kebanyakan tentang bumi ini bulat dan bukan datar seperti pendapat yang sudah lebih dulu beredar dan disahkan oleh institusi yang ada. Tidak ada pengetahuan yang cukup kala itu untuk membenarkan pendapat fiksi Galileo Galilei. Toh pada akhirnya terbukti bahwa fiksi itu benar-benar terjadi.

Ketidaksesuaian dan ketidaksukaan terhadap aturan dan norma  yang ada membuahkan sebuah perlawanan hal itu tentunya tidak harus dilakukan dengan kekerasan fisik. Tulisan-tulisan berupa puisi, novel dan esai mampu menggedor dengan dahsyat melebihi moncong meriam maupun teriakan gaduh para politisi.

Seperti halnya sebagian berhasil menggulingkan kekuasaan yang ada, sebagian lagi terguling isi kepalanya

Akhirnya. Jadi kesimpulannya kita permudah supaya tulisan ini tidak membuat pembaca muntah-muntah. Dunia fiksi memang sengaja dibuat sebagai tempat aspirasi dari pikiran dan pemikiran bagi setiap orang yang merasa tidak terpuaskan. Oleh apa saja, dengan alasan apa pun juga.

Dunia fiksi adalah dunia terbaik bagi orang-orang mengungkapkan perasaannya, apalagi yang lagi patah hati tapi tidak berniat bunuh diri. Oleh siapa saja, apa saja, dan sampai kapan pun juga.

Judul tulisan ini ternyata sudah tepat. Kerusuhan sudah didapat. Bagi yang tak sependapat, saya tak mau berdebat. Bagaimana pun juga kita berada di fraksi yang sama-sama menunggu kiamat.

***

Judul: Dunia Fiksi Tercipta dari Aspirasikah atau Ekstasi Patah Hati?
Penulis: Jiebon Swadjiwa 
Editor: JHK

Profil penulis:

Jiebon Swadjiwa
Suwaji (Sumber: Pratama Media News)

Pemilik nama pena Jiebon Swadjiwa sering kali mendapatkan inspirasi menulisnya dari mendengarkan suara yang bangkit dari dalam jiwa. Suara itu adalah suara kematian (dengan semua firasat), suara cinta, dan suara seni. Mulai menyukai dunia literasi sejak di bangku sekolah dasar. Beberapa tulisannya yang pernah dimuat di media cetak berjudul, “Tertinggalnya Aku” dan “Tik Tak Tik Tak Irama Rinduku” yang terbit di Koran Pikiran Rakyat pada 2018.

Editor: JHK

Artikel Berkaitan

20 Comments

  1. Tulisan yang sangat menghibur, sebuah ilmu yang disampaikan dengan santai. Setiap baca karya penulisnya selalu dapat hal baru. Karya-karya fiksinya juga sangat keren. Semangat terus untuk menulis yah.

  2. Seandainya saja semua tulisan ilmiah disajikan seperti ini, pasti bacanya mengasyikan. Gak bikin otak tegang..

  3. Keren artikelnya,ringan tapi sangat berbobot disajikan seperti ingin berulang-ulang kali membacanya. Ijin share ya thor karena sangat bermanfaat…

  4. Authornya selalu menginspirasi….. Lagilagilagi aqquu dibikin kaguummm dari setiap karyanya… Loveee banget sama authorrrnyaaa…

  5. Hahaha…., ternyata memang sama2 orang gila yang lagi nunggu kiamat. Kereeenn bro.
    Salam kenal ya, semoga suatu hari nanti bisa ketemu langsung buat share ilmunya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button