ArtikelBukuFeaturesLiterasiPratama Media News

Semalam di Sudut Kota Bandung yang Basah

Acara itu tidak hanya sekadar bedah buku, tetapi juga sebuah pengingat bahwa literasi adalah cahaya kecil yang mampu menerangi kegelapan.

PRATAMA MEDIA NEWS (PMN), Rubrik OPINI/ARTIKEL/FEATURE, Kamis (28/11/2024) – Tulisan esai berjudul “Semalam di Sudut Kota Bandung yang Basah” ini ditulis oleh Didin Kamayana Tulus yang merupakan seorang penulis produktif dan penggiat perbukuan yang sarat pengalaman. Kini ia  tinggal di Kota Cimahi, Provinsi Jawa Barat.

Hujan turun sejak siang di Cimahi, merayap perlahan membasahi jalanan dan menciptakan genangan-genangan kecil di pinggir trotoar. Saya menunggu dengan sabar, berharap hujan reda sebelum sore. Namun, waktu terus berjalan, jarum jam melesat hingga angka 17.25, dan tetes hujan belum juga menunjukkan tanda-tanda kelelahan.

Akhirnya, dengan sedikit berat hati, saya berpamitan kepada anak dan istri. Ada sebuah acara penting yang sudah saya niatkan untuk hadiri: bedah buku “…dan Janda Itu Ibuku” karya Kang Maman Suherman.

Flayer acara bedah buku berjudul “...dan Janda Itu Ibuku” karya Kang Maman Suherman - (Sumber: PMN)
Flayer acara bedah buku berjudul “…dan Janda Itu Ibuku” karya Kang Maman Suherman – (Sumber: PMN)

Kang Maman, seorang penulis sekaligus penggerak literasi, memiliki daya pikat tersendiri dalam caranya menuturkan kisah-kisah yang penuh empati. Acara ini adalah kesempatan yang langka, dan saya tidak ingin melewatkannya meskipun harus menembus derasnya hujan dan menghadapi dingin yang menusuk.

Berbekal alamat Jln. Matraman No. 15, Turangga, Kota Bandung, saya memulai perjalanan. Namun, malam yang gelap, jalanan yang licin, dan minimnya penerangan membuat saya beberapa kali tersesat.

Kegelapan seperti bersekongkol dengan lelah, menyisakan rasa putus asa yang perlahan merayap ke dalam hati. Apalagi, waktu sudah menunjukkan Magrib dan suasana di luar semakin senyap. Namun, sebuah tekad kecil—untuk hadir, belajar, dan bertemu dengan orang-orang yang berbagi semangat literasi—mendorong saya terus melangkah.

Suasana acara diskusi dan bedah buku "...dan Janda itu Ibuku" karya Kang Maman yang berlangsung di Alissha coffee, Kota Bandung - (Sumber: Didin/PMN)
Suasana acara diskusi dan bedah buku “…dan Janda itu Ibuku” karya Kang Maman yang berlangsung di Alissha coffee, Kota Bandung – (Sumber: Didin/PMN)

Akhirnya, setelah berputar-putar, saya tiba di lokasi. Hujan masih mengguyur lembut, menyelimuti kota Bandung dengan aroma khas tanah basah. Ruangan tempat acara berlangsung tampak sederhana, tetapi dipenuhi wajah-wajah yang antusias. Pegiat literasi, pengelola perpustakaan, penulis, dan penikmat buku berkumpul di satu tempat, berbagi kecintaan yang sama terhadap dunia literasi.

Ketika Kang Maman mulai berbicara, suasana menjadi hangat. Ia berbagi tentang perjalanan emosionalnya dalam menulis buku ini—kisah tentang ibu, seorang janda yang menjalani hidup penuh perjuangan dengan keberanian yang menginspirasi. Kata-katanya menyentuh, membuat banyak dari kami termenung dalam keheningan. Ada keindahan dalam cara Kang Maman merajut cerita, membangkitkan kenangan-kenangan pribadi yang tersembunyi di sudut hati.

Di tengah acara, hadir pula Kang Herman Suryatman, Sekretaris Daerah Jawa Barat yang datang meski jadwalnya begitu padat. Kehadiran beliau menjadi bukti bahwa literasi bukan hanya milik segelintir orang, tetapi sebuah gerakan bersama.

Ucapan terima kasih yang dilontarkan Kang Maman kepada semua yang hadir, mulai dari pegiat literasi hingga para pecinta buku, membuat saya merasa bahwa kehadiran saya malam itu tidak sia-sia.

Saya sempat berbincang singkat dengan beberapa peserta. Ada pengelola taman bacaan yang datang dari pelosok desa, membawa semangat untuk memperkenalkan buku kepada anak-anak. Ada pula seorang penulis muda yang berbagi perjuangannya menerbitkan karya pertama.

Suasana acara diskusi dan bedah buku "...dan Janda itu Ibuku" karya Kang Maman yang berlangsung di Alissha coffee, Kota Bandung - (Sumber: Didin/PMN)
Suasana acara diskusi dan bedah buku “…dan Janda itu Ibuku” karya Kang Maman yang berlangsung di Alissha coffee, Kota Bandung – (Sumber: Didin/PMN)

Percakapan itu membuka mata saya tentang betapa luasnya perjuangan literasi di Indonesia dan betapa banyak tangan yang bekerja keras di balik layar untuk menyebarkan ilmu dan harapan.

Hujan yang tak kunjung reda malam itu seperti melengkapi kesan yang mendalam. Setelah acara usai, saya berjalan keluar, menatap Kota Bandung yang masih basah.

Dinginnya malam terasa lebih hangat berkat semangat yang saya rasakan di ruangan tadi. Acara itu tidak hanya sekadar bedah buku, tetapi juga sebuah pengingat bahwa literasi adalah cahaya kecil yang mampu menerangi kegelapan.

Keputusan saya untuk memperpanjang waktu di Kota Bandung hingga tiga hari ke depan bukan tanpa alasan. Ada “tantangan literasi” lain yang menanti, sebuah misi yang membuat saya merasa bagian dari sesuatu yang lebih besar.

Didin Tulus
Foto bersama : Penulis (jongkok di depan), Sekda Jabar, Kang Herman Suryatman (berdiri paling depan sambil memegang buku, dan Kang Maman Suherman (duduk di samping Sekda jabar), serta seluruh peserta bedah buku – (Sumber: Didin/PMN)

Dalam perjalanan pulang, saya teringat ucapan Kang Maman, “Terima kasih atas kehadiran sahabat-sahabat semua. Salam literasi.”

Kalimat itu menggaung di dalam pikiran saya, membawa semangat baru untuk terus bergerak, berbagi, dan membaca.

Semalam di Kota Bandung yang basah, saya menemukan lebih dari sekadar acara. Saya menemukan harapan, persahabatan, dan semangat yang tak pernah padam. Salam literasi. (Didin Tulus/PMN).

***

Judul: Semalam di Sudut Kota Bandung yang Basah
Reporter: Didin Kamayana Tulus
Editor: JHK

Artikel Berkaitan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button